AirAsia – 2014

Tragedi itu bernama AirAsia AIRASIA0404e

| Leave a comment

Pudarnya Pelangi Destina | Bagian Lima

# Lanjutan Bagian Kelima —————–

“Dulu sewaktu kamu masih kecil, paman sering membawamu kesini ?”
“Oh ya ?”, tanya Tania sambil mengingat.
“Sudah lupa ?”
“Sedikit yang bisa Tania ingat paman”, jawabnya. Sang pamanpun tersenyum.
“Paman suka sekali kesini karena tempat ini terasa lebih sejuk dan nyaman”, ujar pamannya bercerita. Tatapannya menerawang ke halaman parkir dibawah rimasjid-cut-mutia-225x300ndangnya pohon mahoni.
“Tania…”
“Ya paman ?”, jawab Tania.
“Alhamdulillah, akhirnya paman masih diberikan kesempatan mengunjungi tempat ini”
“Ya paman.” ,timpalnya sambil tersenyum.
“Iya ….hehehe. Paman juga teringat dua orang sahabat ketika kami ngobrol diberanda mesjid ini”
“Siapa mereka paman ?”
“Wagimin sang marbot masjid ini dan Arman seorang wartawan harian ibu kota”, kenangnya.
“Oh ya ?”
“Wagimin orangnya sangat lucu tapi kejujurannya sangat luar biasa. Cara berpikirnya yang sederhana kadang membuat kami tertawa. Sedangkan Arman seorang yang dermawan dan mudah bergaul dengan siapapun”
“Oh ya. mereka sekarang tinggal dimana ?”
“Entahlah. Paman ingin sekali bertemu dengan keduanya”, ucapnya sambil tersenyum.
“Kalau memang ditakdirkan bertemu, insha Allah bertemu”
“Ya. mudah-mudahan”, harapnya sambil tersenyum.
Ketika keduanya asyik mengobrol, tiba-tiba pandangan Sudarto tertuju kepada sesorang yang baru saja keluar dari mobil yang parkir di halaman mesjid itu. Seorang lelaki berumur dengan tongkat digenggam meraih tangan seorang lelaki yang menuntunnya.
“Terimakasih mas. Ayo kita shalat dzuhur dulu”, ajak lelaki berkacamata tebal dan baju koko putih yang dilengkapi peci haji itu. Lelaki yang diajaknya itupun mengangguk.

Tania memperhatikan tatapan pamannya yang mengarah kepada orang itu.
“Paman kenal ?”
“Hmm…rasa-rasanya seperti tak asing”, ucapnya kecil sambil terus memperhatikan kedua lelaki yang berjalan menuju tempat wudhu disamping kanan bangunan mesjid itu.

“Maaf, apakah kita pernah berjumpa ?”, tanya orang itu.
“Wagimin…??”, tebak Sudarto.
“….Ss…ssampean Ssu….ssudarto…yyaang merantau ke Kalimantan ?”
“…Betul min, isun Sudarto!”
“Sudarto wong Cirebon?”
“Iya min. Ini aku!”
“Subhanallah!”
“Alhamdulillah!”
“Apa kabar min ?”, tanya Sudarto sambil memeluknya.
“Alhamdulillah baik to, aku pikir kamu sudah hilang waktu kerusuhan sampit”
“Alhamdulillah, Allah masih melindungiku min”
“Syukurlah. Sampean sudah sholat ?”, tanyanya.
”Alhamdulillah sudah, silakan sholat dulu. Nanti kita teruskan ngobrolnya”, ujar Sudarto sambil mempersilakan keduanya masuk ke ruangan mesjid. Keduanya mengangguk.
”Wah, ternyata firasat paman benar juga. Akhirnya bisa bertemu salahsatu sahabat lama”, ujar Tania.
”Iya. Alhamdulillah masih bertemu dengannya, meski sudah banyak perubahan”
Lima belas menit berlalu. Tak lama, Wagimin dan lelaki itu menghampiri Sudarto dan Tania yang masih masih mengobrol di teras.
”Bagaimana ceritanya sampean bisa kembali lagi ke Jakarta ?”, tanya Wagimin.
”Panjang ceritanya”,
”Oh ya ?, hehehehe”
”Ini siapa min ?”
”Ini sopirku. Aku tak bisa membawa kendaraan sendiri”
”Wah, hebat sekali min. Kau sekarang sudah jadi juragan”
”Ya Alhamdulillah. Anakku yang membelikan”, jelasnya.
“Syukurlah min”
“Oh ya ini siapa ?”
“Oh, ini keponakanku. Tania namanya”, Sudarto memperkenalkan. Taniapun tersenyum.
“Oh ya. Gimana kabar Arman sang wartawan kota itu ?
“Maksudmu Arman yang tinggal di Bogor itu ?”
“Iya!”
“Sayang sekali sampean to. dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu”
“Meninggal ?”
“Iya. Meninggal karena kecelakaan”
“Innalilahi wa inna ilayhi rajiunn. Kecelakaan apa ?”, Sudarto tersentak mendengar berita itu.
“Sampean tidak dengar kabarnya ?”
“Aku tidak pernah mendengar kabar apapun tentangnya”, ucapnya dengan mata erkaca-kaca.
“Mobilnya tabrakan. Itulah usia to, meski ia lebih muda dari kita berdua, Tapi kalau masalah umur tidak ada yang bisa memperkirakan kapan akan berakhir”
“Betul min. Untuk itulah kita harus selalu bersyukur atas kesempatan yang masih diberikan kepada kita”
“Betul to”, balasnya. Tania hanya menyimak pembicaraan kedua orang itu.
“Sampean pernah bertemu anak-anaknya ?”
“Tidak pernah to. Aku

“Oh ya. bicara soal anaknya, aku jadi teringat waktu kejadian dulu. Masih ingat tidak waktu anaknya jatuh dari pohon mahoni kecil di halaman mesjid ini ?”
“Sebentar min”, potong sudarto sambil mengingat. Matanya menerawang menembus masa lalu.
“Iya min. Aku ingat!”, tegas Sudarto
“Kalau tidak salah kamupun membawa seorang anak perempuan yang juga keponakanmu”, urai Sugimin mengingatkan.
“Iya min! aku ingat”, ucapnya.
“Nah lho”
“Iya..iya. anak lelakinya itu memang agak aktif sampai keponakankupun dijahilinnya hingga menangis”
“Ya..ya…ya. Karena dia takut dicubit sama bapaknya, lalu dia manjat pohon kecil dihalaman itu”
“Betul min. Aku ingat!”
“Berarti keponakanmu yang kecil itu pasti sudah besar ya ?”, tanyanya.
“Ini dia min…sekarang sudah menjadi seorang gadis cantik”, jawab sudarto sambil menunjuk Tania. Orang yang ditunjuk tersipu malu.
“Jadi ini keponakan kecilmu itu ?”
“Betul min!”
“Subhanallah…ternyata dunia berputar begitu cepatnya. Sudah menikah ?”, ujar Wagimin. Tania hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Wong dia masih gadis koq min”, timpal Sudarto.
“Tapi sudah punya calon ?”, tanyanya lagi.
“Calon apaan paman ?”, Tania bingung. Orang yang ditanya balik lebih bingung.
“Yaaa…calon pendamping, hehehehe”
“Belum paman”, jawabnya jujur.
“Oalaaa…masa gadis secantik adik ini belum punya calon atau pacar sih ?”
“Saya ga mau pacaran paman”, jawabnya tegas.
“Waah, bagus sekali itu. Paman dukung prinsip adik”
“Begitulah min hebanya keponakanku ini”, timpal Sudarto yang bangga dengan keponakannya itu.
“Hehehehe…iya to, Sampean beruntung punya keponakan sebaik…..hmmm…siapa namamu tadi ?”
“Tania paman”
“Ya betul, Sebaik Tania”, jawabnya lagi.
“Seandainya Arman masih bisa berkumpul disini bersama kita ya min”, ujar Sudarto berandai-andai.
“Maksudmu to ?”, tanyanya heran.
“Seandainya hari ini kita bertiga masih bisa bercanda disini, tentu lebih komplit ya min”, ungkapnya.
“Sudahlah, jangan berandai-andai to”
“Astagfirullahaladziim. Iya to”
“Itulah hidup hehehe. Oh ya, sampean dulu pernah berkelakar tentang anak lelakinya”, sindirnya.
“Kelakar apaan ya min ? lali aku”
“Ah masa sih kau lupa to ?”, sindirnya lagi sambil melirik kearah Tania. Gadis itu semakin heran dengan keduanya.
“Oh ya…! Aku ingat min!”, jawabnya sambil tersenyum. Tania nampak bingung.
“Ada apaan sih paman ?”, tanya Tania.
“Ah enggak!”, jawab pamannya mengelak.
“Hehehhee..”, wagiminpun tertawa.
“Wah, ada apaan nech ?”, Tania penasaran.
“Hehehe…ga ada apa-apa koq”, kelit Sudarto.
“Begini dik, dulu sewaktu Arman teman kami itu masih hidup. Pamanmu dan dia berkelakar akan menjodohkan kamu dengan anak lelakinya”,
“Ah sudahlah min, itu khan bercanda saja”, timpalnya merasa tak enak dengan keponakannya itu.
“Ya memang.., itu dulu. Hahahaha”, keduanya tertawa. Sementara Tania hanya tersenyum kecil.
“Tapi memang keduanya cocok ya to ?”
“Iya min….hahaha. Bahkan Arman sempat memotret keduanya ditangga ini khan ?”,
“Betul, waktu itu Arman memang selalu membawa kamera kemanapun dia pergi”,
“Ya..ya..ya… karena pekerjaannya dia sebagai wartawan”, imbuhnya lagi.
“..dan hasilnya itu lucu sekali to, persis potret
anak-anak belanda”
“Ya betul min, yang satu bule dan tampan, yang satu lagi cantik , hehehehe”, Sudarto menimpali.
“Cocok sekali to. Seandainya keduanya bisa ketemu lagi pasti jodoh to”, sindir Wagimin lagi.
“Nama anaknya siapa ya to ?”
“Itu dia min. Isun lali toh, duh..siapa ya ?”, decaknya sambil menepuk keningnya.
Tania tak berbicara sepatah katapun, Wajahnya tertunduk dengan kedua pipi merona. Senyum tipis tersimpul dibibirnya yang merah. Ia hanya menjadi pendengar yang baik diantara kedua lelaki tua itu.
“Bangunan mesjid ini sudah tua sekali ya paman”, cetus Tania berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Betul. Ini peninggalan jaman kolonial Belanda”, jelas Sudarto. Wagimin tersenyum.

“Baiklah, saya akan ceritakan sejarah tentang bangunan ini yang terletak di Jalan Cut Mutiah Nomor 1, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia. Betul sekali, bahwa bangunan masjid ini merupakan salah satu peninggalan sejarah dari jaman penjajahan kolonial Belanda. Masjid ini memiliki keunikan tersendiri dan kemungkinan tidak terdapat di masjid-masjid lainnya. Salah satu keunikannya, mihrab dari masjid ini diletakkan di samping kiri dari shaf salat (tidak di tengah seperti lazimnya)”, urainya.
“Oh ya ?”
“Selain itu posisi shafnya juga terletak miring terhadap bangunan masjidnya sendiri karena bangunan masjid tidak tepat mengarah kiblat”, tambahnya lagi.
“Iya betul, makanya arah sholat lebih miring ke kanan kurang lebih lima belas derajat. Betul khan pak ?”, tanya Tania. Sudarto hanya tersenyum.
“Betul sekali apa yang ade sampaikan. Saya lanjutkan, Masjid ini dulunya adalah bangunan kantor biro arsitek Naamloze vennootschap atau disebut juga Perseroan terbatas Bouwploeg, Pieter Adriaan Jacobus Moojen yang membangun wilayah Gondangdia di Menteng.
“Adrian ?”, tanya Tania refleks.
“Ya. lengkapnya Pieter Adriaan Jacobus Moojen”
“Lalu ?”, balas Tania ingin menggali lagi.
“Eeehh…sebentar min!”, sela Sudarto memotong pembicaraan.
“Kenapa to ?”
“Tadi siapa nama yang sampean sebut itu min ?”
“Pieter ?”
“Bukan!”
“Jacobus Moojen ?”
“Bukan, satu lagi !”
“Adriaan !”
“Ya itu dia!”
“Itu dia siapa ?”
“Itu dia min!”
“Itu dia apaan ?”, Wagimin semakin bingung.
“Anaknya Arman itu namanya persis yang kamu sebutkan tadi!”
“Adrian maksudmu”
“Ya, Adrian. Karena Arman pernah memanggilnya sang arsitek bangunan ini!”, urainya dengan semangat.
“Jadi bangunan ini dibuatnya tahun berapa ya paman ?”, ujar Tania lagi yang ingin mengarahkan pembicaraan pada objek bangunan saja.
“Sebelum difungsikan sebagai mesjid sebagaimana sekarang, bangunan ini pernah digunakan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda dan kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang sekitar tahun empat puluh limaan. Setelah Indonesia merdeka, tempat ini juga pernah dipergunakan sebagai kantor Urusan Perumahan, hingga Kantor Urusan Agama tahun tujuh puluhan. Hingga pada jaman pemerintahan Gubernur Ali Sadikin diresmikan sebagai masjid tingkat provinsi. Perlu juga kita ketahui bersama, awalnya masjid ini bernama Yayasan Masjid Al-Jihad. Konon pada jaman orde lama, gedung ini juga dikabarkan pernah dijadikan sebagai sekretariat MPRS”, jelasnya.
“Hmmm….banyak sekali ya jasanya gedung ini”
“Begitulah”
“Oh ya. Mengapa gedung ini tidak terlihat adanya keretakan meski sudah berumur tua sekali”
“Maksudnya ?”
“Bisa saja khan adanya gempa membuat retakan pada bangunan ini ?”
“betul sekali dik, namun kenyataanya bangunan ini masih berdiri kokoh”
“Ya itulah pintarnya seorang arsitek yang bisa memperkirakan kemungkinan daya tahan bangunan ini. Hhmm…siapa tadi arsiteknya…Jacobus Adrian..?”
“Lengkapnya Pieter Adriaan Jacobus Moojen”, koreksinya.
“Tapi khan dia tidak sendirian tentunya ?”
“Tentu saja. Asistennyapun pasti banyak”, jawabnya.
“Apalagi tukang bangunannya, pasti lebih banyak ”
“Ya. itu sudah pasti …hehehehe”, timpalnya. Ketiganya tertawa.
“Nama Bouwploeg sendiri kini masih tersisa dalam ingatan sebagai nama Pasar Boplo di barat stasiun kereta api Gondangdia”, jelasnya lagi.
“Oh ya….?, ujar Tania.

—- Bersambung ——

| 2 Comments

Pudarnya Pelangi Destina | Bagian Empat

Lanjutan Bagian IV

Enam bulan berlalu. Sore satu Muharram 1430 ditahun Hijriah, lelaki perantauan bertubuh tegap itu menginjakkan kakinya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Suara mesin jet pesawat masih mengiang ditelinganya, menderu seiring gemuruh di dadanya. Ia sangat merindukan tanah kelahirannya di kota Cirebon itu. Sebuah kota yang berada diujung Jawa Barat dan perbatasan Jawa Tengah. Sembilan belas tahun sudah ia meninggalkan kenangan yang dialaminya, pahit dan getir pernah ia rasakan di tanah wali itu. Bencana itu telah menikam kebahagiaannya karena telah
merenggut orang-orang yang dicintainya.
“Taksi pak…,mau pulang kemana ? Biar Saya yang antar”, tanya seorang sopir taksi yang menawarkan tumpangannya.

“Tidak mas, terimakasih” , jawab Sudarto secara sambil menenteng tas besar berikut dua kardus bawaan yang ia titipkan di bagasi pesawat sejak berangkat tadi. Bunyi roda-roda dari travel bag seakan mengisyaratkan bahwa hidup itu terus berputar dan tak pernah berhenti. Demikian halnya dengan semangat yang bergelora dalam hatinya bahwa ia harus melanjutkan perjuangan hidupnya di tanah Jawa. Hari itu menjadi awal dari tekad hidupnya untuk kembali ke tanah kelahiran setelah sekian lama merantau hingga ke pulau Borneo, menetap di Kalimantan Tengah hingga Timur. Sebuah propinsi yang luasnya setengah kali pulau Jawa dan Madura. Namun kali ini kepulangannya tidaklah disertai Kardiman, sahabatnya ketika pergi merantau dulu.

Kardiman lebih memilih tinggal selamanya di pulau Borneo. Sulit baginya untuk memboyong keluarganya yang memang penduduk asli Kalimantan. Cintanya telah berlabuh pada seorang perempuan keturunan dayak Basaf di kawasan Sangkulirang. Sebuah kawasan yang berada di ujung pulau Kalimantan, tepatnya wilayah Kalimantan Timur. Ia telah memiliki tiga orang anak hasil dari perkawinannya dengan seorang anak kepala dusun. Bagi Kardiman, yang ia miliki saat ini adalah bahtera kehidupan yang akan ia jalani hingga akhir hayatnya. Pun ketika Sudarto menemuinya menjelang kepulangannya ke tanah Jawa Kardiman berucap ”
Aku tetap disini bersama anak dan isteriku. Kau mungkin harus menemukan jalan hidupmu di tanah Jawa Dar”, ujarnya kala itu.

“Ya kawan, akupun setuju dengan pilihanmu. Karena memang disinilah kau ditakdirkan untuk hidup”, ujar Sudarto
sambil melemparkan sebuah batu kecil ke bibir pantai Sangkulirang yang menghadap langsung ke Selat Makassar.
“Betul. Hidup ini memang pilihan. Dan pilihan itu kita yang buat, sekaligus kita yang menjalaninya”, ujar Kardiman.
“Tapi apakah tidak ada rencanamu untuk membawanya sesekali ke pulau Jawa man ?”
“Membawanya dari sini ?”, Kardiman tersenyum lirih.
“Ya. Setidaknya mereka bisa mengetahui bagaimana kehidupan di tanah Jawa ?”
“Sesekali mungkin bisa. Tapi bila untuk menetap, hmmm…rasanya sulit. Mereka lahir dan hidup disini bersama alam yang bersahabat. Tanah, air, hutan dan cinta mereka ada disini. Aku tak yakin mereka bisa bertahan hidup tanpa ini semua”,ujar Kardiman dengan tatapan jauh kearah laut lepas. Keduanya terdiam sejenak sambil mengulum senyum dan memandang deburan ombak yang menghantam dermaga. Awan putih bergerak perlahan ditiup angin Muson timur, sementara kayuh-kayuh kecil dari sampan nelayan dusun tetap menyibakkan birunya laut. Burung-burung laut pun bernyanyi diantara sekumpulan nelayan sore itu, berharap ada secuil rezeki untuk anak-anaknya yang menanti disangkar jerami kering.

dermaga1
“Kapan kau berangkat ?”, tanyanya sambil menepuk pundak Sudarto.
“Besok pagi aku harus berangkat ke Balikpapan menemui kawanku dulu, dari bandara Sepinggan aku akan naik pesawat yang akan membawaku ke Jakarta”.

“Okelah kawan. Tolong kabari aku kalau kau sudah sampai di Cirebon”, pesannya.
“Insha Allah. Namun rencanaku sebelum berangkat ke Cirebon, aku akan mengunjungi adikku yang di Jakarta dulu man”, ujarnya.
“Oh ya. Kau masih punya famili di Jakarta ?
“Ya. “, jawabnya.
“Baguslah. Paling tidak kau masih punya Saudara yang bisa kau singgahi”, kata Kardiman. Sudartopun tersenyum.
“Kalau begitu, aku minta malam ini kau menginap di rumahku dulu. Sebelum kepulanganmu ke Jawa. Masih banyak yang ingin kubicarakan denganmu”, pinta Kardiman.
“Baiklah, kalau aku tidak merepotkan keluargamu”
“Tentu tidak. Kau sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri Dar”, timpal Kardiman. Merekapun beranjak dari dermaga itu menuju perkampungan dimana Kardiman beserta anak isterinya tinggal. Sebuah kampung dengan penduduk yang ramah dan unik. Rumah-rumah kayu yang berjejer serta jalanan kampung yang ditopang dan beralaskan kayu terbaik di pulau itu semakin menggambarkan betapa kebersamaan penduduk itu masih terjaga. Rukun dan damai. Kardiman tetap tinggal disana.

***

Ia masih belum menentukan taksi mana yang akan ia minta untuk mengantarnya, meski beberapa orang sopir telah menawarkan diri. Sejenak Tatapannya tertuju kearah dua orang yang berdiri di dekat pintu keluar. Sepertinya mereka tengah menanti kedatangan seseorang. Secarik kertas di tangan kanannya bertuliskan sebuah nama yang ” Welcome Michele from New Zealand – your G’M & F”
sementara tangan kirinya tak lepas menggenggam lengan isterinya.

Mereka adalah sepasang kakek dan nenek, Keduanya seperti tengah menanti kedatangan seorang cucunya.
Sudarto tersenyum melihat pasangan itu. Sangat menyentuh, betapa rasa cinta mereka masih dapat dipersembahkan disaat kedatangan sang cucu. Berkali-kali mereka membalas senyum dari para penumpang yang baru saja keluar dari pintu bandara. Sebuah senyum tulus yang mereka lemparkan kepada orang-orang yang baru saja tiba setelah lelah dalam perjalanan. Ringan, namun menyejukkan.

“Andaikan semua orang yang ada di Jakarta itu bisa bermurah hati dengan melemparkan senyum yang tulus, tentu langitpun akan tersenyum pula”, ujarnya dalam hati.
sudarto
Tak lama kemudian, tiba-tiba seorang sopir taksi menghampirinya dan berucap dengan logat khas Cirebon. “Sing Cirebon tah pak ?”, sapanya. Ia heran, darimana ia tahu kalau dirinya pasti akan menjawabnya dengan bahasa Cirebon pula.
“Iya”, jawab sudarto spontan.
“Arep mulih mendi pak, isun anter tah?”., tanyanya lagi.
“Lho..sampean sing endi ?” ujar Sudarto heran.
“Isun sing Cirebon”
“Weruh sing endi isun wong Cirebon ?”
“Lha, wong isun deleng tulisan ning kardus jeh..”Sing Kalimantan to Cirebon-with love”
“Oh iya. Sira bener.”, Sudarto baru menyadari bahwa kardus oleh-oleh yang diberikan kardiman bertuliskan bahasa Cirebon. Iapun tersenyum.
“Ya wis. Antar enang isun ning Jakarta Selatan, kawasan Tebet”, pinta Sudarto.
“Baik pak”, taksi itupun melaju meninggalkan terminal bandara.

Lima belas menit telah berlalu, perjalanan kala itu lumayan lama, pasalnya Jakarta baru saja diguyur hujan. Tak ayal lagi, sebagian jalan tergenang yang mengakibatkan kemacetan. Jam telah menunjukan pukul 15.30, sesaat alunan suara Adzan Ashar terdengar dari radio di mobil taksi itu. Sesekali, suara adzan menghilang berganti suara mendesis tanda kehilangan sinyal. Lalu muncul dan menghilang lagi seiring rintik-rintik hujan yang masih menemani perjalanan keduanya.
“Biarkan saja mas. Saya ingin mendengar suara adzannya”,pinta Sudarto manakala si sopir hendak memindahkan channelnya. Iapun urung melakukannya. Keduanya menyimak dengan hening, Sudartopun terdengar menjawab setiap ucapan adzan yang dilantunkan hingga menutupnya dengan doa seusai adzan itu.
“Banyak diantara kita sudah mengabaikan suara panggilan yang mulia ini. Padahal jika kita tahu keutamaan dari panggilan ini, niscaya kitapun akan segera berlomba-lomba mendatanginya, meski harus merangkak sekalipun”, ujarnya.
“Maksud sampean ?”, tanya si sopir.
“Anda seorang muslim khan ?”
“Betul”, jawabnya mantap.
“Bila kita hayati dengan sepenuh hati, suara adzan merupakan pembuka bagi lembaran kehidupan kita. Ia juga merupakan suara penutup bagi lembaran akhir hayat kita. Diantara pembuka dan penutup itulah masa hidup kita. Didalam masa kehidupan kita itulah, harus di tegakkan ajakan adzan itu, yakni Sholat”, Papar Sudarto sambil menatap gerakan wiper yang mengibaskan air hujan dikaca mobil. Sementara sopir itu tetap khusyuk dengan kemudinya.
“ Mas Martono sudah punya keluarga ?” tanyanya. .
“Sudah pak. Alhamdulillah”, ujarnya sopir yang namanya tertera pada dashboard itu.
“Alhamdulillah. Keluarga tinggal di Jakarta juga ? ”
“Tidak pak. Keluarga saya tinggal di Cirebon. Dua minggu sekali saya pulang”
“Syukurlah”, timpal Sudarto sambil tersenyum. Merekapun terdiam. Hanya alunan suara piano “L for Love”nya Richard Clayderman yang terdengar samar dari speaker kecil yang menempel disudut-sudut mobil.
“Pak?”
“Ya. Kenapa ?”
“Boleh dijelaskan lebih detail lagi maksud bapak tadi ?”
“Yang mana ?”
“Tentang makna suara panggilan adzan tadi”, tuturnya.
“Ooh”, timpalnya singkat lalu terdiam.
“Ooh bagaimana pak?” tanyanya lagi penasaran.
“Begini, panggilan adzan adalah seruan untuk mendirikan sholat fardhu berjamaah di mesjid atau surau-surau. Sedangkan sholatnya adalah perkara wajib bagi setiap orang beriman. Mengapa diwajibkan ? Karena Allah memerintahkannya melalui berbagai ayat dari Al-Quran, diantaranya dalam surat An-Nisa ayat 103 yang artinya kurang lebih begini “Maka dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
Rasulullah Salallahu Alaiyhi Wassalam juga mengabarkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, beliau bersabda “Islam dibangun diatas lima hal, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, haji ke baitullah dan puasa bulan ramadhan”. Dengan demikian wajibnya sholat dapat kita pahami melalui firman Allah dan Hadist RasulNya ini”, urai Sudarto.
“Jadi hukumnya wajib toh pak?”
“Betul. Sesuatu yang mutlak dan harus dikerjakan. Bila ditinggalkan maka akan mengakibatkan dosa besar”, jawab Sudarto.

“Lalu bagaimana hukumnya bagi orang yang meninggalkan Sholat seperti saya ini ?”, tanyanya lagi lebih serius.
“Lho, sampean memang tidak pernah sholat ?”
“Mmmm…jujur saja pak. Saya sudah lama tidak pernah melakukannya. Terakhir saya sholat ketika saya masih SD”, ucapnya jujur.
“Astagfirullahaladziim…,Masya Allah!”, Sudarto heran. Martono jauh lebih heran.
”Mas, sholat itu diwajibkan oleh Allah kepada setiap orang beriman karena Allah memerintahkannya melalui berbagai ayat dari Quran, seperti yang tertuang dalam surat An-nisa ayat ke seratus tiga yang berbunyi”…maka dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan atas orang-orang yang beriman”.

Martono terdiam. Sudarto tetap melanjutkan.
“Selain itu juga, sholat merupakan sarana untuk mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar. Hal ini tercantum dalam surat Al-Ankabut surat ke empat puluh lima yang berbunyi ”…dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”.
“Selama ini saya tidak tahu pak, kalau perintahnya seperti itu”
“Untuk bisa tahu, ya harus rajin mengikuti pengajian, membaca buku-buku keislaman dan kegiatan positif lainnya”.
“Lalu bagaimana saya bisa menutupi kewajiban Saya yang sudah berlalu ?
“Lakukan taubatannasuha untuk meminta ampun kepada Allah SWT. Dia maha pengampun, selanjutnya jaga baik-baik kewajiban kita yang lima waktu itu. selebihnya lakukan sholat-sholat sunnah, seperti sholat tahajud, dhuha, hajjat dan lainya”, urai Sudarto. Martonopun menyimak dengan khusyuk.

***
Taksipun telah tiba dikawasan Tebet, Jakarta Selatan. Bebrapa kelokan lagi, Sudarto tiba di rumah familinya. Meski sempat membingungkan, karena banyak perubahan yang terjadi sepeninggal Sudarto. Beberapa kali ia mesti menanyakannya kepada orang-orang yang ada dipinggir jalan. Untung saja, ia masih mencatat alamat yang diberikan keponakannya dulu. Akhirnya iapun tiba di gang yang menuju rumah familinya itu. Tak lama, nomor rumah yang dicarinyapun nampak dihadapannya.

“Ini rumah nomor delapan belas pak”, seru sopir taksi itu.
“Mudah-mudahan ini benar rumahnya”
“Semoga tidak salah pak!”
“Mampir dulu mas ke rumah saudara saya mas?” tawarnya kepada Martono, sopir taksi itu.
“Terimakasih pak. Saya mau langsung saja”
“Ini ongkosnya pak”, ujar Sudarto sambil melihat argo.
“Oh ya pak. Tunggu sebentar pak”, balasnya sambil merogoh kantong celananya.
“Ambil saja kembaliannya”
“Waduh, matur nuwun pak”
Terimakasih ya sudah mengantarkan saya”
“Sama-sama pak. Terimakasih juga pak sudah menasihati saya”
“Ya, itu sudah kewajiban kita untuk saling mengingatkan. Sampai jumpa lagi. Salamualaykum”, balas Sudarto sambil melambaikan tangan.
“Wa’alaykumsalaam”, jawabnya sambil meninggalkan lelaki perantauan itu.

Didepan rumah yang ditujunya itu, Sudartopun mencari bel yang mungkin ada disela-sela pagar. Rumah asri dan besar. Sentuhan gaya rumah minimalis nampak hingga disetiap sudut rumah itu.
“Alamatnya sudah betul, tapi rumahnya sudah jauh berbeda dengan yang dulu. Hmm…mudah-mudahan tidak salah alamat nih”, pikirnya dalam hati.

“Assalamualaykum. Permisi!”, ucapnya agak keras. Tak ada jawaban. Iapun mengulanginya. Tiga kali ia mencobanya, barulah ada seseorang yang menghampirinya.
“Maaf, Anda siapa dan mau ketemu siapa ya ?”, ujar seorang lelaki tua itu.
“Saya Sudarto. Mau bertemu dengan Pak Sumarno ada ?” ujar Sudarto.
“Ada. Tunggu sebentar saya bilang dulu sama tuan,” jawabnya sambil meninggalkan Sudarto yang masih berdiri di depan pagar.
“Baik, terimakasih”

Selang beberapa lama, lelaki tua itu kembali bersama seorang majikannya.
“Ini orangnya tuan”, tunjuk lelaki tua itu.
Majikannya itu menatap lekat wajah Sudarto. Ada keheranan yang mendalam ketika menatap erat wajah sudarto.
“Kang Darto ?”, tanyanya.
“Iya” jawab Sudarto sambil tersenyum. Lelaki itupun segera menarik pintu pagarnya.
“Masya Allah, Saya pikir bukan kang Darto”, keduanyapun saing berangkulan.
“Apa kabar kang ?”
“Alhamdulillah baik.
“Kamu sendiri gimana ?”
“Alhamdulillah baik juga kang”
“Kemana saja tidak ada kabar setelah sekian lama. Ayo masuk”, ajak sumarno kepada Sudarto.
“Tolong bantu bawakan barang bawaannya pak “, pintanya kepada lelaki yang menjadi pembantunya itu.
“Baik tuan”
“Terimakasih pak, yang ini saja”, ujar sudarto sambil menunjuk barang bawaan yang lebih riungan dikardus itu.
Merekapun akhirnya segera masuk kedalam rumah.
“Kapan kang Darto singgah di Jakarta?”
“Baru tadi sore. Maklum jalan dari bandara menuju kesini lumayan macet”
“Betul kang. apalagi kalau musim hujan seperti sekarang ini.”
“Iya, lumayan bikin jenuh berada di jalan”
“Ya begitulah kang kondisi Jakarta”, timpalnya lagi. Sementata suara adzan maghrib mulai terdengar samar-samar dari luar sana.
“Silakan duduk. Tunggu sebentar kang”
“Baik”
Sumarnopun berlalu dari ruang tamu. ia menghampiri pembantunya agar menyiapkan makan malam segera untuk menjamu kedatangan saudaranya itu.
“Baik tuan. Sebentar lagi semuanya siap”, ujar pembantu diumahnya itu. iapun kembali menghampiri sudarto yang tengah menatap foto keluarganya yang menempel didinding itu .

“Bagaimana kabarnya kang ?”
“Alhamdulillah baik”
“kenapa tidak kabari aku, kalau mau datang kesini. Setidaknya aku bisa jemput kang darto di bandara”
“Ah, tak usah. Takut merepotkan”
“Bukan begitulah kang. Aku kan masih saudaramu juga. Masa akang datang dari jauh tidak aku jemput sih”,
“Terimakasih mar”, ujar sudarto.
“Aku dengar kabar terakhir tentang akang, sekitar satu tahun yang lalu. itupun Warsito yang mengabarkanku”
“Betul. aku pernah menelepon dia sewaktu aku masih di Samarinda.
“Ya. akupun bertemu dia diacara di Bogor”
“Oh ya. Dia masih tinggal di Bogor toh”
“Iya”
“Bagaimana kabar keluargamu mar”, tanya sudarto.
“Alhamdulillah semuanya baik-baik saja”
“Oh ya. Itu siapa yang mengenakan toga wisuda?”, tanya Sudarto sambil menunjuk sebuah foto di dinding.
“Oh itu Tania, puteriku sulungku”
“Tania Larasati. Gadis kecil yang dulu sering mimisan itu ?”, tegas sudarto.
“Betul kang. Itu Tania. Dulu akang sering menyarankan aku untuk menutupnya dengan daun sirih kalau dia sedang keluar darah dari hidungnya”.
“Hahahha..iya…iya.. aku ingat. Sekarang dia sudah menjadi seorang gadis yang cantik”, puji sudarto.

Tak lama, seorang pembantu membawakan minuman dan kue-kue kecil untuk tamu tuannya itu.
“Silakan tuan”, tawarnya.
“Terimakasih mbok. Ayo kang diminum dulu”, tawar Sumarno.
“Terimakasih”
“Usia Tania sekarang sudah dua puluh tiga tahun kang. Tapi saya sendiri belum pernah melihat ada teman prianya yang mampir kesini”,
“Maksudmu?”
“Layaknya anak muda jaman sekarang. Biasanya khan seusia mereka sudah punya kawan dekat atau bisa disebut pacarlah kang”
“Ya, tapi mungkin Tania lebih memilih untuk tidak pacaran. Itu kan lebih baik. Dia bisa menjaga diri dengan baik”, ujar Sudarto sambil memegang gelas berisikan jus jambu.
“Alhamdulilah…segarnya”, ucap Sudarto. Sumarnopun tersenyum melihat saudaranya itu.
“Koq dari tadi aku tak melihat anak-anak dan isterimu?” tanya Sudarto.
“Oh mereka bertiga sedang pergi jalan-jalan ke Plaza Semanggi. Tania minta diantar mama dan adiknya untuk beli buku. Mungkin sebentar lagi juga tiba”
“Oh”.

Tak beberapa lama kemudian, sebuah mobil memasuki halaman rumahnya.
“Nah sepertinya mereka sudah datang. Sebentar ya kang “, iapun bergegas memberitahukannya kepada Riani Larasati, isterinya.
Sesaat kemudian, keempatnya menuju ruang tamu.

“Wah ada tamu jauh nih”, sapa Riani yang sudah diberitahu suaminya
“Eh, apa kabarnya dik ?”
“Alhamdulillah baik. Sebaliknya bagaimana kang ?
“Alhamdulillah baik juga”
“Ini Tania ?” ujar Sudarto.
“Betul”, wajahnya menampakkan keheranan karena tak kenal siapa lelaki tua didepannya itu.
“Kamu masih ingat siapa beliau ?”
“Hmm…siapa ya…duhh maaf ya pah, aku ga inget”, ucap Tania sambil melirik ke mamanya.
“Dia paman Darto dari Cirebon. Dulu pernah tinggal disini sewaktu kamu masih kecil. Kalo ga salah waktu itu kamu masih usia lima tahun”, ujar Mamanya.
“Oo, Apa kabar paman?”, sapa Tania sambil mencium tangannya. Begitupun adiknya.
“Ini anakmu juga ?”
“Iya kang. Ryan namanya”,
“Wah. Sudah besar sekali’
“Waktu itu adikmu juga belum ada. Oh ya, sekarang sekolah dimana ?
“Aku baru saja lulus SMU. Sebentar lagi masuk kuliah.
“Oh ya , kuliah dimana ?
“Di IPB”
“Fakultas apa ?
“Aku mengambil MIPA”, jelas Ryan.
“Oh, baguslah”
“Paman tinggal disini saja ” , pintanya.
“Hehehe…”, Sudarto hanya tersenyum sambil mengelus kepala Ryan.

“Gimana kabarnya Kang ?” tanya Mama Tania.
“Alhamdulillah sehat dik”
“Kalian sendiri gimana kabarnya ?”
“Alhamdulillah kami baik-baik saja.”
“Paman kemana saja ? kami sudah lama tidak dengar kabarnya ?”, Tanya Tania.
“Saya selama ini tinggal di Kalimantan. Waktu itu kalian masih kecil”
“Oh, jauh sekali. Sekarang tinggalah bersama kami paman?”
“Ya kang. tinggalah bersama kami lagi”, pinta Sumarno.
“Terimakasih atas tawaran kalian. mungkin untuk beberapa hari bisa, tapi saya akan pergi ke Cirebon”
“Akang mau pergi ke Cirebon lagi?”
“Betul. Saya ingin menata hidup lagi di Cirebon.”

Malam itu mereka larut dalam kebersamaan. Sudarto merasa bahagia bertemu dengan familinya yang begitu hangat. Suasana menjadi lebih hidup dengan berbagai cerita dan pengalaman Sudarto selama merantau di luar pulau Jawa itu. Tak terasa malam semakin larut.
“Oke, Ryan, Tania. Pamanmu perlu istirahat, kasihan harus bercerita terus”
“Tidak apa-apa mar, batrenya masih penuh koq”, kelakarnya.
“Hahahaha….”

——- Bersambung ——-

| Leave a comment

Pudarnya Pelangi Destina | Bagian Tiga

Lanjutan Bagian Ketiga

”Aku tidak mau menikah dengan lelaki itu. Dia tak pantas buatku, dan Aku tak mencintainya”, seru Destina.
”Tidak bisa!. Papa tidak memberi kamu pilihan. Kamu harus menuruti
perintah Papa”, hardik Papanya.
”Aku tidak mau pah!, Aku sudah punya pilihan sendiri”
”Harus!”
”Kenapa aku yang harus menuruti Papa?”
”Aku sudah membesarkanmu dengan kecukupan. Semua keinginanmu, Papa penuhi. Sekarang giliranmu untuk menuruti perintah Papa”.
”Tapi untuk permintaan ini aku tidak bisa pah!”
”Papa tidak memberikan kamu pilihan. Buat apa kamu pacaran sama Adrian, yang masa depannyapun belum jelas!”
”Mamaaaa…..Aku tidak mau maaaah!”, Destina menubruk mamahnya dan memeluk erat diiringi tangisannya yang pecah hingga kesudut-sudut ruangan.

”Sabar sayang. Mama akan bilang sama Papamu. Mama juga tak setuju..tapi sabar ya sayang, Papamu sangat keras”.
”Tapi aku mau menikahnya sama Adrian. Aku tidak mau menikah dengan lelaki itu. Tolong maaah”, Destina semakin erat memeluk ibunya. Isak tangis ibunya menambah keharuan dua gadis itu.
”Pah, kenapa harus memaksakan sih ? biarkan Neng memilih jodohnya sendiri. Dia khan sudah dewasa”, ujar Mamanya.

”Pokoknya tidak ada yang boleh menentang perintahku. Sekalipun mama!”, bentak Hendratmo sambil membanting pintu dengan keras. Tinggal mereka berdua yang menangis tersedu-sedu.

***
Hendratmo Subagja, Ayah Destina. Adalah seorang sosok yang keras dalam memimpin keluarganya. Dulu ia adalah seorang pengusaha sukses yang banyak memiliki kekuasaan atas perusahaan yang dipimpinnya. Sikap otoriter yang dijalankan dalam perusahaannya bias kedalam aturan rumah tangga. Meski hidup berkecukupan bahkan berlebih, akan tetapi Destina merasakan kekurangan dalam hidupnya. Seperti ada yang tak lengkap dalam hidupnya. Hendratmo menikahi Desi Soesilawati sejak tiga puluh lima tahun yang silam. Pertemuannya berawal ketika ia menjadi seorang kepala cabang sebuah perusahaan untuk wilayah Kota Bogor.

Singkat cerita, siang itu Hendratmo harus melakukan presentasi mengenai prospek pasar kota Bogor dalam rangka launching produk otomotif terbaru. Ia harus bisa memaparkan strateginya dalam meningkatkan kuantitas penjualan mobil produk Jepang. Hendratmo telah mempersiapkan materinya dengan baik, bahkan dua hari sebelumnya materi tersebut telah rampung dikerjakannya. Segala kemampuan dikerahkannya untuk menganalisis segala persoalan yang berkaitan dengan pemasaran produk otomotif. Komponen bauran pemasaran (marketing mix) dianalisis dan dikombinasikan seperti aspek produk, harga, sistem distribusi dan promosi sejalan dengan karakter kota hujan sebagai sebuah kota kecil metropolitan. Hendratmo merasa optimis dengan strategi yang akan dijalankannya. Hingga menjelang tiba saatnya ia harus melakukan presentasi didepan para pimpinan dari kantor pusat. Beruntung sekali, Hendratmo mampu meyakinkan pimpinan dengan persentasinya yang luar biasa. Kepercayaan perusahaan tumbuh kepada Hendratmo. Iapun mulai menjalani karirnya dengan gemilang. Kesuksesan demi kesuksean diraihnya dengan cepat. Ia mampu menaikkan omzet penjualan dengan baik. Tak segan-segan, perusahaanpun banyak memberikan apresiasi kepadanya. Hendratmo semakin sukses di dunia karirnya. Kesuksesan karirnya itulah yang mempertemukan ia dengan salah seorang anak gadis pimpinannya itu.

Apa pasal sehingga Hendratmo begitu ngotot memaksa putri semata wayangnya untuk dikawinkan dengan lelaki yang dijodohkannya, Baskoro. Ya, Baskoro, seorang anak pengusaha kaya raya yang hidup penuh kemewahan. Usianya sudah menginjak kepala tiga, tepatnya tiga puluh tujuh tahun. Sebuah perbedaan usia yang cukup jauh untuk disandingkan dengan Destina yang cantik jelita dan masih berusia dua puluh tiga tahun. Baskoro bertubuh gempal, kulitnya tidaklah seterang Adrian. Rambutnya selalu klimis dan disisir rapi menghadap kekiri. Perutnya terlihat lebih subur dan buncit dari pria kebanyakan, mungkin efek dari nafsu makannya yang tinggi .

Warna baju kesukaannya adalah ungu dan kancing atas selalu dibiarkan terbuka. Pakaiannya selalu ia padukan dengan stelan celana warna hijau. Batu akik warna merah hati seukuran biji mata kerbau selalu setia di jari telunjuk kanannya. Untaian kalung emas duapuluh empat karat dengan bandul hati bertuliskan Mr. Juragan selalu tergantung dilehernya. Kalung warna kuning terang itu kontras sekali dengan warna latar kulitnya yang agak gelap. Gaya bicaranya khas, yakni selalu diiringi dehem-dehem yang sebetulnya tidak perlu. Bibir kirinya terkadang mengerenyit berulang, persis anak kerbau yang hidungnya diklitikin gembala iseng. Duh, musibah apa yang akan dialami Destina andaikata ia jadi dipersunting dan menjadi permaisurinya. Hendratmo tidak peduli dengan semua itu, yang ia lihat hanyalah harta kekayaan orang tuanya yang berlimpah dan bisa menjamin hidup. Apalagi hidup dijaman seperti ini, materi adalah segalanya.

Basko, begitu nama panggilannya. Ia selalu ditemani dua orang bodyguardnya. Satu orang sebagai sopirnya dan satu lagi sebagai ajudan khususnya. Keduanya bertampang sangar. Badannya besar dan berotot kekar. Satu orang yang selalu dipanggil Jack Gempur memiliki tato kalajengking di lengan kanannya dan bertuliskan “Kill” di dadanya. Kawan satunya lagi memiliki panggilan Black Man. Ia selalu berkacamata hitam dan memiliki tato gambar laba-laba merayap di lehernya. Selain itu di dadanya terpampang tato yang bertuliskan “Jagal”. Ia selalu patuh mengantar Baskoro dengan Jaguar seri XF hitam metalixnya kemanapun majikannya mau.

***

8

Suatu ketika, Hendratmo kedatangan tamu penting bagi perusahaannya. Dia adalah salah seorang pengusaha kaya. sebagai seorang mitra sekaligus pelanggan penting, dia termasuk pelanggan prioritas karena pengusaha itu pernah membeli empat belas unit mobil kepada dealernya. Tentu saja penjualan yang lumayan banyak dalam satu waktu menjadi prestasi Hendratmo sebagai seorang kepala Cabang. Hubungan itu berlanjut lebih akrab.

Ketika itu Hendratmo tengah memberikan pengarahan terhadap para manajer sales dan salesman yang baru direkrutnya itu. Tiba-tiba, Riska sekretarisnya mengetuk pintu ruang training dan meminta waktu Hendratmo sejenak.

“Maaf pak, mengganggu sebentar. Ada telpon dari pak Baskoro. Beliau masih menunggu”, ujar gadis asal Yogyakarta itu.
“Pak Baskoro ?”
” Iya pak”, jawab Riska. Seketika, tanpa dikomando tatapan peserta training tertuju pada sekretaris yang berparas cantik itu, Riska Ayu Selasih.
hendratmo memang berpesan pada sekretarisnya itu bila ada customer prioritas harus diutamakan. Sekalipun dia sedang meeting, pokoknya harus dikonfirmasikan kepada dirinya.

Hendratmo mencoba mengingat kembali dari sekian banyak klien potensial yang pernah dikunjunginya. Ya, baskoro adalah salahsatu klien yang dikunjunginya minggu lalu. ia adalah seorang pengusaha yang memiliki jaringan yang luas. Dengan segera ia langsung menuju ruang kerjanya. Riska mengikutinya.

“Halo. Selamat siang Pak baskoro. Apa kabar ?”, jawabnya ramah.
“Baik pak!” jawab Baskoro diujung telepon.
“Pak Hendratmo, saya perlu empat belas unit kendaraan pick up seri terbaru yang bapak tawarkan kemarin” ujar seorang lelaki diujung telepon.
“Oh ya?” Hendratmo kaget.
Saya butuhkan untuk usaha Saya yang baru. Mohon segera dikirim Kamis besok”
“Empat belas ? Kamis besok ?” hendratmo hampir tak percaya mendengarnya.
“Iya. Empat belas unit. Kenapa pak ? bisa ? ”
” Tttentu..saja bisa pak !. sebentar pak, saya catat dulu”, jawab hendratmo sambil memberikan isyarat agar Riska siap mencatat pembicaraannya. Riskapun tanggap.
“Warnanya pak ?”
” Hitam”
“Baik pak, Saya akan urus secepatnya” ujar Hendratmo.
“Pembayarannya akan diurus oleh sekretaris saya. Termasuk surat-surat kendaraan dan lainnya. Saya minta dipastikan sudah bisa beroperasi dalam waktu singkat”
“Siap pak. Akan saya urus segera”, Janji Hendratmo.
Untung saja, pak Baskoro meminta warna hitam. Kalau warna lain tentu perlu waktu lebih” ujarnya kepada Riska.
Riskapun tersenyum.
“Yes!” Hendratmo mengepalkan tangannya tanda sebagai simbol kegembiraan.
“Ris, Untuk kebersamaan, kalian aku traktir makan siang. Kamu cek restoran jepang dan booking segera”
“Oke pak”, Riskapun mengontak sebuah resto jepang yang ada di jalan Pajajaran.
***
Disebuah resto jepang.
“Ayo donk sikat lagi, kalian kutraktir sampai puas”,ujar Hendratmo kepada anak buahnya.
“Iya bos. pengennya sih, tapi udah ga bisa nampung lagi nich”, ujar Pramono yang tak kuat lagi berdiri karena perutnya semakin buncit.
“Hahahaha….baru saja mulai masa sudah KO. Payah nich..” ledek Hendratmo.
” Iya bos, lihat aza mukanya dia..dari mulai wajah berwibawa, lalu jadi bloon, berwibawa lagi..lalu jadi terlihat tambah bloon seperti sekarang. Saking kenyangnya”, ledek Sudarso, pria tambun asal Surabaya ini yang disambut gelak tawa rekan-rekannya.
“Dasar wong edan..”, balas Pramono.
“Kamu juga ris, makannya imut banget”, ledek Sudarso lagi kepada Riska.
“Maklum harus jaga penampilan. Takut menggelembung badannya”, sindir Hendratmo.
“Hihihi..Bapak bisa aza”, kilahnya sambil tersipu malu. Hampir saja ia keselek jus jeruk.
“Hehehe..bener bos, kalo menggelembung nanti disangka ikan mas koki. Cantik tapi gemesin, alias geboy sana geboy sini, Kalo lewat di depan euleuh-euleuh…eta meni gubal-gabel”, celetuk Eman Sulaeman, bujang lapuk asal Ciwidey Bandung itu.
“Hahahaha..kekekekeke..xixixixixixi..”, Semuanya terbahak-bahak saking gelinya melihat tingkah polah eman yang memperagakan gaya sicepot, rahang naik turun dan mata membelalak.
“Husss…itu sih pacar loe man. Kalo Riska sih tetap seksi, cantik dan imut”, bela Hasan Marbun, pemuda kelahiran tanah batak yang pernah tiga kali menyatakan cintaya, namun Riska telah menolaknya hingga empat kali. Walhasil, Hasan merasa mati langkah untuk menyatakan sekali lagi. Skak mati.

Lain hal bila yang merayu itu Hendratmo, Riska hanya mampu mesem-mesem sambil tersipu malu, kadang salah tingkah. Pernah suatu hari ia dirayu ketika diminta lembur hingga pukul sembilan malam untuk membuat satu laporan oleh Hendratmo. Saat itu kantor terlihat sepi karena sebagian karyawan sudah pulang, tinggal mereka berdua di ruangan. Hendratmo memanfaatkan kesempatan itu untuk lebih dekat dengan sekretaris kesayangannya itu.
“Ris, biaya promosi kita bulan ini berapa persen ya kenaikannya dibandingkan dengan bulan lalu?”, sambil wajahnya didekatkan dengan kuping riska, kurang lebih sepuluh sentimeter. Pasalnya Hendratmo mengambil kesempatan itu sekalian memandang layar monitor yang dioperasikan Sekretrisnya itu. Riskapun merasa kikuk dengan sikap bosnya itu, namun ia bingung harus bagaimana. Karuan saja, Riska mencium aroma bau rokok setiap kali Hendratmo berbisik. Sedangkan Hendratmo merasa beruntung dengan situasi ini karena bisa mencium aroma wangi tubuh Riska, Hendratmo mulai menjadi bajingan kecil.

beauty secretary
“Saya print kan saja ya pak. Maaf saya nyalakan dulu printernya”, ujarnya sambil beranjak karena mulai merasa risih dengan tatapan nakal bosnya itu. Pasalnya berkali-kali ia harus menurunkan roknya yang semakin naik kala ia duduk di kursi kerjanya.
“Kamu cantik sekali Ris”, bisik Hendratmo melancarkan serangan saat ia menyerahkan hasil print outnya.
“Ah Bapak. Laporan kita belum selesai lho pak”, tukas Riska mengalihkan pembicaraan secara halus, karena bagaimana mungkin ia bersikap keras kepada bosnya itu. Hendratmo sangat memperhatikan Riska, gaji yang lumayanpun didapatinya atas kebaikan Hendratmo. Tentu bukan tanpa alasan Hendratmo memberikan kenyamanan bagi Riska untuk tetap menjadi sekretarisnya. Baginya, sayang sekali bila gadis secantik dan seseksi riska harus pindah ke tempat yang lain. Paling tidak, setiap pagi Hendratmo bisa memandang kecantikan Riska yang aduhai. Sebagai seorang lelaki normal tentu wajar bila ada ketertarikan dari dirinya kepada seorang wanita cantik sekelas Riska. Tapi untuk seorang Hendratmo, tentu terlihat janggal karena bagaikan Bapak dan anak. Pasalnya, usia Riska tak jauh berbeda dengan Destina, anak semata wayang Hendratmo.

6

Sore itu, sekira pukul tigaan disaat mentari mulai beranjak ke barat jauh dan meninggalkan jejaknya dihamparan kota Palangkaraya, Adrian baru saja terjaga dari tidurnya disebuah hotel kecil. Ia merasa capek sekali hari itu, badannya terasa tak bertenaga, otot-otot terasa pegal dan ngilu.

Memang, tugas pertama survei dari perusahaan yang dilakukannya kemarin sangat menguras energi. Bayangkan saja, setibanya dari Jakarta dan mendarat di bandara kecil Tjilik Luwut kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, ia harus langsung mendatangi kantor Bapeda untuk mendapatkan data pendukung seperti kecamatan dalam angka, peta lokasi dan lainnya.

Sejak Adrian tiba di pulau kayu itu langsung disambut guyuran hujan yang cukup meriah sehingga membuat Adrian kerepotan ketika pintu pesawat Merpati Nusantara Airlines Fokker F-28 yang ditumpanginya landing di bandara kecil itu.

Minggu ini Adrian ditugaskan untuk melakukan pendataan di tiga wilayah Kalimantan. Ia ditugaskan untuk mendatangi daerah di Kalimantan Tengah tepatnya di Sampit kecamatan Parenggean untuk kemudian meneruskan ke Kalimantan Selatan dan Timur. Entah, belum terbayang sedikitpun keadaan disana. Tapi yang pasti, saat ini Adrian telah menginjakkan kakinya dipunggung pulau Borneo, pulau yang kaya raya dengan kandungan bumi dan kayunya. Sekaligus wilayah yang pernah menuai bara dan konflik antar etnis. Menyedihkan. Adrian bersama dua orang rekannya melakukan pendataan di pulau Borneo itu, namun ketiganya berbeda lokasi. Kedua kawannya itu meneliti mengenai kondisi tanah dan air, sedangkan ia lebih fokus pada masalah-masalah sosial, budaya dan ekonomi.

Kala itu, handphonenya berdering.
“Cause you are not alone
i’m always there with you
and we’ll get lost together
until the light comes pouring through”.

Klik!
”Hallooo ?”, sapanya
”Halloo Ad ?”, balas seseorang.
”Halo juga say…!”
”Sudah ada dimana nech ? ”
”Sekarang masih di penginapan”
”Hotel bintang berapa ? hehehe..”
”Bintang berkedip…hahaha…”
”Hahaayy….!”
”Jam berapa berangkat ke Sampit ?”
”Mungkin lebih pagi”
”Ooo. Oh ya gimana keadaaan kota Palangka…..tuuuuuuuutttttt!”, pembicaraan terputus.
”Halo…halo ? yaa putus dech!”
Tak lama kemudian. Handphonenya kembali berdering.

“Cause you are not alone
i’m always there with you
and we’ll… Klik!.

”Halo, ya say!. Koq bisa putus ya ?”, sapa Adrian
”Ya nech. Aku pikir hapemu low bat”
”Oh ya, aku pikir juga hapemu yang low bat …hehehe”
”Kamu dah makan ?”
”Sudah!”
”Jangan sampe telat ya. Ntar kamu sakit kalo telat makan. Jaga kondisi badan kamu ya! ”
”Baiklah tuan puteri”
”Yeeeeee…dikasih tau malah ngeledek!”
”Iya say. Makasih ya, kamu perhatian banget sama aku”
”Ya dong. Aku khan sayang sama kamu Ad”
”Iya. Makasih ya!”
”Kamu jaga diri baik-baik ya Ad!”
”Ya non…, kamu juga ya!”
”Ok Ad, eh…jangan lupa ya oleh-olehnya…hihihihi”
”Tentu dong say!. Nanti aku bawa kejutan buat kamu hehehe”
”Thanks ya Ad. Okay, take care yourself. I miss you Ad!”
”Thanks honey. Me too!
”Bye Ad!”
”Bye Destina!”

Beberapa quesioner sudah ia siapkan untuk diberikan sebagai sampel penelitian besok hari. Untuk menuju lokasi, mereka harus melalui perjalanan darat. Palangkaraya-Sampit kurang lebih ditempuh selama enam jam perjalanan darat dengan bus atau sejenis mobil carteran. Kota Sampit diapit oleh Palangkaraya dan Pangkalan Bun. Memang, secara geografis Sampit akan lebih dekat dicapai dari Palangkaraya.
”Berapa ongkos untuk carter sampai ke Sampit pak ?”, tanya Adrian.
”Kenalin dulu pak, Saya Sudarto”, ujarnya sebelum menjawab tentang tarif. Pak Sudarto, sopir taksi yang sepertinya sudah terbiasa melalui jalur tersebut.
”Oh ya, Saya Adrian. Jadi berapa tarifnya pak ?”, tanya Adrian lagi.
”Empat ratus ribu mas ?”, ujar pak sopir.
“Bisa kurang pak ?”, tawar Adrian
“Maaf mas, itu juga sudah murah. Maklum perjalanannya jauh”, terangnya.
”Okelah pak. Ayo kita berangkat”, ajak Adrian.
“Ayo mas!”, sahutnya.
“Berapa lama kita bisa sampai di lokasi pak ?”
“Bisa sampai lima atau enam jam ?”
“Selama itukah ?”, Adrian termenung.
”Ya begitulah”
“Apa nama lokasi yang akan dituju mas ?”, tanya pak Sudarto.
”Kawasan perkebunan kelapa sawit pak”
”Berapa lama ?”
”Paling lama satu minggu pak “
”Selanjutnya kemana lagi ?”
”Banjarmasin”,
“Berarti pulangnya bisa saya jemput minggu depan?”, tanya pak Darto
“Iya pak. Berapa nomor handphone Bapak ?”
“Ini mas”, pak Darto meyerahkan secarik kertas yang berisi nomor handphonenya.
”Rencana perjalananan ke Banjarmasinnya bagaimana ?” tanyanya lagi.
Mudah-mudahan ada ada maskapai yang menuju Banjarmasin”, jawab Adrian.
”Dari Tjilik Ruwut ada mas!”.
“Oh ya. Baguslah kalau begitu “, Adrian senang.
”Mari kita berangkat sekarang!”, ajak pak Darto.
”Ayo pak”. Keduanyapun berangkat.

***
Kurang lebih empat puluh lima menit perjalanan berlangsung, ketika sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba mobil terasa oleng karena jalanan yang kurang bagus.
”Duk!”…aduuuh….”, kepala Adrian terbentur mobil.
”Maaf mas, Saya tidak lihat ada lobang”
”Hati-hati pak”,
”Iya mas!”

Jalanan semakin tidak bersahabat. Berkali-kali mobil dibuat oleng. Jalanan yang belum tersentuh aspal itu dipenuhi kubangan air sisa hujan semalam. Perjalanan sudah ditempuh kurang lebih enampuluh kilometer. Mereka sudah memasuki kawasan hutan lindung.

Tiba-tiba,“Ciiittttt…ciiiittt…Bruuukk!!”. “Astaggfirulllaahaladziimm…,Allahu Akbar…!, pak Darto berteriak refleks
“Aaaahhhhhhhh”, teriak Adrian.
Mobil pak Darto terjerembab kedalam lubang. Keduanya terombang-ambing gerakan mobil.

Adrian terpental kedepan, nyaris mencium dashboard mobil. Sedangkan sang sopir membentur stir mobil. Mesin Toyota kijang warna merah maroon itupun langsung mati seketika. Tangan Adrian terasa sakit karena menahan badannya yang terpental kedepan.
“Mas tidak apa-apa ?” Tanya pak Darto.
“Tidak apa-apa pak. Cuma tangan saya terasa sakit, sepertinya terkilir. Bapak sendiri gimana ?”
“Saya tidak apa-apa. Mari saya periksa tangan mas”, mereka segera turun.
“Yang ini terasa sakit pak, aduuuhhh..”, ujar Adrian meringis.
“Tahan mas!”, pak Darto langsung menarik membetulkan siku Adrian yang terasa sakit.
“Aaaaahhhhhh…….” Adrian mengerang keras karena kesakitan.
“Nanti juga baikan mas. Maafin Saya ya, tadi lubangnya tidak kelihatan”, ujar lelaki itu karena merasa bersalah.
“Tidak apa-apa pak”
Pak Darto masih memijit tangan Adrian. Perlahan rasa sakitnya berangsur hilang.
“Bapak pintar memijat juga”
“Mengobati yang keselo atau kecengklak, saya bisa mas”
“Oh ya”, ujar Adrian sambil menahan rasa sakitnya.
“Mas istirahat dulu saja. Saya mau cek mobilnya.

***
Pak Darto mencoba untuk memperbaiki mobilnya. Kap mesin dibukanya disusul gumpalan asap yang keluar dari karburator mobil. Berjam-jam ia mencoba memperbaikinya, namun tak kunjung usai.
“Wah,..sepertinya ada kerusakan mesin. Kita harus menunggu sampai besok pagi, sekarang sudah mulai gelap sekali”, ujar pak Darto.
“Jadi gimana dong pak ?”
“Untuk sementara kita istirahat disini dulu”
“Maksud Bapak, kita bermalam ditengah hutan begini?”, tanya Adrian bingung.
“Maaf Mas. Besok pagi mudah-mudahan bisa selesai”
“Bapak pernah mengalami hal seperti ini ?”
“Pernah. Alhamdulillah aman-aman saja. Mas Adrian takut ?”, Tanya pak Darto sambil tersenyum.
“Sedikit pak. Hmm..apa tidak ada binatang buas yang berkeliaran pak ?”
“Hehehe, tenang saja mas, paling-paling babi atau orang utan. Oh ya, sudah jam 18.40 kita belum sholat maghrib”, ujar pak Darto.
“Bagaimana mau sholat pak, air untuk berwudhu saja tidak ada”, sela Adrian,
“Lho, kita kan bisa bertayamum. Disini ada tanah, Insya Allah bisa mensucikan”
“Oh ya”
“Bagaimana kalau kita sholat bareng saja ?”, ajak pak Darto.
“Baik pak. Tapi ajari Saya bertayamum pak, saya lupa lagi caranya”, pinta Adrian
”Mas sudah lupa ?”, Adrian hanya tersenyum tak menjawab
“Begini caranya, pertama kita baca basmallah, lalu niatkan dalam hati agar boleh mengerjakan sesuatu karena tayamum. Lalu, kita letakkan kedua telapak tangan bagian dalam diatas tanah atau batu, tanah pasir dan sebagainya. Selanjutnya mengusap muka sekali dengan kedua telapak bagian dalam. Mudah khan ?”, jelasnya. Adrianpun mengangguk.
Merekapun meneruskan dengan sholat berjamaah. Pak Darto yang menjadi imamnya.

***

Usai sholat dan berdoa keduanya lantas duduk lalu mengobrol.
Untung sekali cuaca malam ini sejuk dan cerah” ujar pak Darto.
“Iya pak, langit terlihat lebih terang meskipun kita ditengah hutan begini”
“Ya, Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan terangnya bulan dan gemerlapnya bintang-bintang” puji pak Darto. Adrian tersenyum.
“Waduh, ga dapet sinyal nih”
“Hehehehe. iya mas, kita agak jauh kedalam sih posisinya”.
“Mungkin”
“Oh ya, kebetulan saya masih punya perbekalan di jok belakang mobil. Sebentar, saya ambilkan dulu”, ujarnya sambil menuju kebagian belakang mobil.
“Brukk”!
Pak Darto menutup pintu bagasi mobil. Seketika tangannya menjinjing satu kantong plastik berisi sesuatu.
“Mas, ini ada roti dan kue kering, lumayan buat ganjal perut. Ini air aquanya”, tawar pak Darto.
“Terimakasih pak”
“ Ayo sambil ngobrol kita makan apa yang ada”
“Iya pak”
Merekapun larut dalam kebersamaan dan keheningan malam itu.
“Pak Darto, boleh saya Tanya sesuatu ?’
“Silakan”
“Bapak sudah lama bekerja sebagai sopir taksi disini ?”
“Sudah dua belas tahun. Saya merantau sejak lima belas tahun yang lalu”
“Oh ya. Sudah lama sekali pak”
“Dulu sebelum saya ke Kaltim ini. Saya pernah menjadi petani di Cirebon. Namun karena satu hal, saya terpaksa mencari pekerjaan lain hingga kesini. Sebelum jadi sopir, dulu saya pernah bekerja di perusahaan kayu”
“Bapak sendiri kesini ?”
“Tidak. Saya justeru diajak teman. Sekarang dia menjadi sopir pribadi seorang bos pengusaha kayu. Namanya Kardiman”,
“Oh ya. Bagaimana dengan isteri Bapak ?”
“Hmmm. Pak Darto terdiam tak menjawab. Tiba-tiba ia berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Mas, ayo rotinya dimakan lagi”, tawar Pak Darto. Ada sesuatu yang tak ingin pak Darto ceritakan. Adrian cukup mengerti untuk tidak menanyakan lagi tentang isterinya.
“Ok pak. Terimakasih”
“Mas sendiri bagaimana. Sudah berkeluarga ?“tanyanya.
“Saat ini masih sendiri pak..hehehe, “ gurau Adrian.
“Ah, mas Adrian ini bisa-bisanya bercanda. Wong mas ini ganteng. Mana mungkin gadis-gadis tidak jatuh hati “, timpal pak Darto.
“Hehehe..,”
“Tipe seperti apa yang mas Adrian cari ?”
“Akh…bisa saja pak Darto ini “
“Lho, saya kan pernah muda juga lho mas. Jadi tahulah apa yang saya pikirkan seusia mas ini”,
“Mas Adrian tinggal di Jakarta ?”
“Tidak pak. Saya tinggal di Bogor. Kenapa pak ?”
“Akh…tidak. Saya dulu punya kawan dekat. Menurut kabar terakhir sekarang ia tinggal di Bogor juga. Tapi Saya tidak tahu di kawasan mana”
“Sayang sekali, Bogor kota kecil koq pak, jadi mudah saja mencari seseorang kalau ada alamatnya”
“Iya. Seandainya…”, pak Darto tarik napas panjang sambil menatap kelangit.
“Kenapa pak ?”
“Kawan saya punya anak gadis. Mungkin usianya tidak berbeda jauh dengan mas Adrian”
“Maksud Bapak ?” , Adrian penasaran.
“Hehehe…siapa tahu bisa saya kenalkan”
“Hahaha…bisa saja pak Darto ini”
“Kali aza mas, jodoh bisa saja datang dari arah yang tidak disangka-sangka”
“Iya sih pak. Terimakasih, tapi sebetulnya Saya sudah dekat dengan seseorang koq”, jelas Adrian.
“Oooh…baguslah, jangan lama-lama. Cepat aza dilamar”
“Hahaha…iya pak, kalo waktunya sudah tepat!”
Tak terasa hari sudah memasuki waktu Isya, keduanya segera menunaikan sholat Isya bersama-sama. Usai sholat Isya, keduanya langsung istirahat untuk tidur sebisanya di dalam mobil.
“Kita pasang penerangan kecil ya pak ?”, tanya Adrian yang kala itu membawa senter kecil recharge.
“Sebaiknya jangan mas!”
“Kenapa pak ?”
“Kita ditengah hutan dan malam pula. Bila ada cahaya, maka akan mudah menarik perhatian hewan disekitar”
“Oh ya ?”
“Begitulah mas”, jawab lelaki itu sambil tersenyum.
“Baiklah pak. Saya tidur ditengah ya pak”
“Ya mas. Saya didepan saja”
Sementara rembulan menampakkan senyumnya diatas langit yang cerah. Suara-suara binatang malam mulai terdengar saling bersahutan. Nyanyian alam semesta tengah dimainkan seiring suara pepohonan yang dibelai angin. Lukisan pepohonan semakin nyata diujung pandangan. Hutan belantara yang sepi berselimutkan kegelapan dan dingin perlahan menembus waktu malam yang semakin kelam.
Adrian tertidur pulas dibagian tengah, begitupun pak sang sopir yang terlelap dibelakang kemudi. Sementara itu jarum jam tangan pak Darto telah menunjukan pukul tiga pagi, namun tiba-tiba ia terjaga karena mendengar lolongan segerombolan anjing hutan dari kejauhan. Lolongan itu muncul lalu tenggelam ditelan hening. Tak lama muncul lagi dan semakin jelas.
Suara-suara itu semakin mendekati posisi kendaraan yang mereka tumpangi. Pak Sudarto siap siaga dengan sebilah kunci inggris diamond ukuran besar.
Adrian terperanjat karena suara lolongan anjing hutan itu semakin ramai. Sepertinya sekelompok anjing hutan itu berjumlah lebih dari dua belas ekor.
“Ada apa pak ?”
“Anjing hutan mas”
“Membahayakan kita ga pak ?
“Kalau masih komplotan anjing tidak apa-apa mas, selama kita didalam mobil. Tapi kalo komplotan orang utan, saya agak khawatir”, jelasnya.
Tak lama kemudian.
“Grrrrrrrrrrr…….grrrrr….auuuuuuuuu…..auuuuuu…guk….guk…guk…!”
Tiba-tiba sesuatu menyeruak dari semak-semak tepi jalan.
“Grussaaakk…..Grookk…groookk….Bruuukkk!”, grookk…grook….grookk….!, sesuatu menabrak pintu depan mobil. Adrian semakin kaget.
“Guk…gukk…gukk….gukk…kaing….kaing…”Grrrrrrrrrrrrrr………….Grrrrrrrr….!
“Sshhh……Grrrrrr….Grrrrrr….guuukk…guuukk….Grooook….grookk…groookk….”
“Tenang mas!”
“Sepertinya anjing-anjing itu sedang berburu ya pak ?”
“Iya mas. Mereka sedang berburu babi hutan”
“Dibawah mobil kita pak?”
“Iya!”
Suasana perburuan semakin tegang. Berkali-kali benturan tubuh babi hutan mengenai bagian bawah mobil yang memang bersembunyi di bawah mesin. Sementara sekawanan anjing pemburu itu terus menyerang seekor babi hutan yang terpengkap dalam kepungan hewan pemburu liar itu. Sebagian lagi masih mengitari sekeliling mobil. Perburuan berlangsung lama karena sang babi hutan melawan untuk mempertahankan diri.
“Dua jenis hewan haram sedang beraksi mas !”
“Iya pak”
“Hmmm..semoga bukan pertanda yang buruk buat kita”
“Mudah-mudahan pak!”
Hampir setengah jam drama perburuan itu terjadi. Namun karena tak seimbang jumlah yang dihadapinya itu, akhirnya sang babi hutan itu tak berkutik dan menyerah disantap sekawanan pemangsa liar itu.
“Grrrrrr…….grrrrrrrr……..guuuk….guukkk…guukk….aauuuuuuu…..Grrrrr…grrrr…”
grookk…groookk……!
Suara riuh pesta pembantaian pagi buta sangat mengganggu penghuni mobil naas itu. Sekawanan itu tengah berpestapora berebut tubuh hewan buruannya.
“Sialan!”
“Kenapa pak ?”
“Anjing-anjing itu memangsanya dibawah mobil kita. Kita harus usir mereka supaya membawanya pergi dari sini!”
“Gimana caranya pak?”
Sudarto tak menjawab namun ia langsung membuka kaca jendela mobilnya dan menepuk pintu sekerasnya.
“Woooooiii dasar anjing kalian! Pergiii jauh sana!!! bruukk…brukkk…bruuk…husssh…husssshh…”, teriak pak Darto. Adrianpun tertawa kecil.
Walhasil sekawanan pemburu liar itu kaget mendengar suara yang ditimbulkan pak Darto. Sebagian lari tunggang langgang karena kaget, namun sebagian lagi langsung menyeret daging buruannya itu kesemak-semak. Sementara dua ekor betina anjing liar itu enggan pergi bahkan malah menatap ke arah suara, seolah ia merasa diganggu kenyamanannya saat santap makan malam bersama komplotannya.
“Guukkk…guuukk…guukkk…grrrrrrrr…grrrrrr….”
“Eehh nantangin…hussshh…husssh….brruukk..bruukkk…!”
Adrian langsung mengambil senternya menyorotkan kearah anjing-anjing. Spontan kedua anjing liar itu merasa silau dan perlahan mengikuti komplotannya diantara semak-semak gelap.
“Fiiiiuuuhh….banyak juga ya pak…!”, ujar Adrian sambil menarik nafas dalam.
“Ya begitulah mas, namanya juga dihutan!”
“Hehehe…betul pak”
“Itu sudah menjadi hukum alam. Artinya rantai makanan tetap berjalan dan keseimbangan alam tetap terjaga”, tuturnya menggali pembicaraan.
”Betul pak!”
”Perlu mas tahu, letak geografis Indonesia yang unik membuat hutan kita menjadi rumah bagi satwa endemis atau tidak ditemukan di belahan dunia lainnya. Bila kita rinci, mulai dari mamalia karnivora, herbivora hingga jenis burung ada di hutan kita. Namun sayang mas. Alam kita tidak selamanya menjadi surga bagi para satwa itu. Mereka terancam eksistensinya dari berbagai sudut, seperti interaksi dengan manusia serta kondisi habitat dan genetika yang makin menurun. Selain itu tingginya rasio perburuan liar, degradasi hutan, penambangan liar, dan pembanguna infrastruktur yang merambah habitat satwa hutan kerap menjadi ancaman mematikan. Pada akhirnya bila keadaan sudah tidak seimbang lagi, maka aktivitas babi hutan itu merambah perkebunan warga”, urainya dengan cerdas.
”Maksudnya merusak tanaman ?”, tanya Adrian yang semakin kagum dengan kecerdasan seorang sopir.
”Betul mas. Ada beberapa kawasan perkebunan yang pernah diserang hama babi hutan”, ujarnya.
”Banyak babi hutannya ?”
”Banyak mas, maka dari itu dinamakan hama. Kalau hanya satu dua mungkin belum bisa dikatakan hama…hehehe”, ujarnya lagi.
”Hehehehe, terus bagaimana menanggulanginya pak ?”
”Masyarakat belajar dari pengalaman. Tidak mungkin mereka berdiam diri dengan gangguan hewan babi itu”
”Caranya ?”
”Waduh, pagi-pagi buta pembicaraan kita sudah serius sekali..hahaha…”
”Hahaha…iya pak. Tapi ga apa-apalah pak, toh Sayapun sudah tidak mengantuk lagi”, timpal Adrian.
”Hehehe. Begini, ada beberapa cara yang digunakan warga dalam melindungi serangan hama babi. Pertama, menggunakan jerat kawat. Caranya kawat ukuran kecil dibuat jadi melingkar lalu dipasang disekeliling kebun. Jika si babi itu lewat maka akan terkait dan jerat lubang bakalan mengecil hingga mencekik leher babi. Kalo bahasa kita, mungkin bisa dibilang jerat ini simpul nelayan atau simpul ala koboi Amerika untuk menangkap anak sapi, rodeo atau sejenisnyalah”, jelasnya.
”Hahaha, cerdik juga ya pak”
”Cara kedua dengan memberikan umpan. Biasanya umpannya jagung, singkong, ubi atau yang lainnya. Tentu setelah diberi racun dulu. Bila babi itu datang tengah malam dan memakannya, maka besok pagi pasti sudah menggelepar”, jelasnya. Adrian semakin tertarik mendengar cerita pak Darto.
”Cara ketiga dengan perangkap. Misalnya dibuat sebuah lubang atau kotak jebakan di jalur yang biasa dilewati. Nah disinilah uniknya babi, kebiasaannya adalah selalu melewati rute yang sama untuk pulang dan pergi. Jadi sangat mudah untuk membuat jebakan”
”Cara keempat ?”, balas Adrian sambil manggut-manggut.
”Keempat adalah dengan memberi bahan-bahan halus seperti potongan rambut atau bulu-bulu binatang disekitar pagar tanaman. Karena babi selalu mengendus tanah maka bahan halus yang ditaruh itu akan masuk kehidungnya dan membuatnya tidak nyaman sehngga tidak jadi merusak tanaman”
”Hahaha…lucu juga ya pak”!
”Betul mas!”
”Hehehe”
”Yang terakhir, biasanya warga membuat jaring-jaring dari benang nylon disekitar kebun. Dengan begitu babi akan merasa ketakutan karena dikira itu adalah perangkap”
”Hahahaha….”, keduanyapun tertawa ditengah kegelapan pagi itu.
***

Pagi berangsur tiba, suara suara adzan shubuh terdengar sayup sayup dari kejauhan. Entah dari mana suara itu berasal. Bisa jadi puluhan kilometer suara adzan shubuh itu di kumandangkan, jauh dari lokasinya ditengah hutan.
“Jangan heran mas, biarpun kita ditengah hutan begini, suara adzan tetap terdengar”, ucap pak Darto. Pukul empat pagi waktu Indonesia bagian tengah saat itu, sekelilingnya masih nampak gelap.
“Sehabis shalat shubuh, saya akan coba lihat kembali kondisi mobilnya”
“Iya pak. Mudah mudahan tak masalah.
“Semoga mas”
Lantas keduanya menunaikan shalat shubuh berjamaah di area yang lebih bersih karena khawatir dengan najis yang ditimbulkan oleh kejadian beberapa jam yang lalu.

***
Setelah hari mulai terang keduanya mulai memperbaiki mobilnya.
“Tolong bantu saya mas, saya akan coba pasang dongkrak ini”
“Oke pak”, ujar Adrian.
Pak Darto mengecek keadaan mesin yang ada dibawahnya. Hampir satu jam mereka berusaha memperbaiki mobilnya yang mogok.
“Ok kita coba nyalakan, tapi tolong bantu dorong dulu sedikit ya mas, ” pinta pak Darto.
“Siiip pak, tenang aza, hup…satu..dua..tigaaa…”, Adrian memberikan komando.
“Ulang lagi mas!”, seru pak Darto demi melihat mobilnya yang tak bergerak sedkitpun.
” Ayo kita dorong lagi pak, …satuu…duaaa…tigaaaa….!” , mobilpun bergerak.
“Alhamdulillah…”,ucap pak Darto. Dirinya lantas mulai menstarter mobil itu. Tak berapa lama setelah mencobanya akhirnya mesin mobil itupun menyala. keduanya tersenyum.
“Alhamdulillah”
“Iya pak. Akhrinya nyala juga”
“Jam berapa sekarang mas ?”
“Tujuh empat lima pak”
“Ok, berarti kita ada waktu tiga jam perjalanan lagi, sebelum dzuhur tiba”
“Ayo pak kita lanjutkan” ajak Adrian setelah mengecek semuanya.
***

7

Satu jam perjalanan telah berlalu. Keduanya tengah asyik mengobrol ngalor-ngidul.
“Bapak lahir dan besar di Cirebon, berarti tahu dong tentang sejarah Sunan Gunung Djati ?”, ucap Adrian memulai topik pembicaraan baru.
“Sedikit”
“Bisa diceritakan pak ?”
“Hehehe…Saya bukan sejarawan mas”
“Tapi paling tidak Bapak pasti tahulah”
“Sedikit mas”, jawabnya sambil tersenyum kecil.
“Ga apa-apa pak”, pinta Adrian.
”Yang saya ingat begini ringkasan ceritanya, Sunan Gunung Djati memiliki nama Syarif Hidayatullah. Beliau adalah putra dari Maulana Sultan Muhammad atau yang dikenal dengan Syarif Abdullah. Kakek beliau merupakan keturunan dari Banu Hasyim putra Nurul Alim. Bila dilihat dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Syarif Hidayatullah ini adalah Wali Sanga yang menduduki generasi ke duapuluh dua keturunan dari Nabi Muhammad SAW.
”Lalu ?”, jawab Adrian nampak serius.
”Sedangkan ibunda beliau bernama Nyai Lara Santang atau dikenal dengan Syarifah Murdain. Kakek dan nenek beliau dari garis keturunan ibunya memiliki hubungan dengan para tokoh pewayangan. Kakeknya bernama Raden Pamanah Rasa yang merupakan putra dari Prabu Anggolarang. Sedangkan neneknya bernama Nyai Subang Larang. Garis keturunan Sunan Gunung Djati bila dilihat dari sisi ayah merupakan silsilah dari para alim ulama di Timur Tengah”
“Oohhh, lalu ?”
“Suatu perpaduan yang unik pada sosok Sunan Gunung Djati ini. Beliau menyebarkan ajaran Islam di tataran Sunda, Cirebon hingga Banten. Tentu dengan penuh hikmah dan cara-cara yang sangat lembut, sehingga masyarakat yang pada saat itu belum mengenal Islam mampu menerimanya dengan baik. Padahal kondisi pada saat itu masih kental dengan budaya animisme”, urai pak Darto.
“Ooo begitu ceritanya “, Adrian mengangguk. Pak Sudarto tersenyum.
“Saya pernah berkunjung ke lokasi pemakaman Sunan Gunung Djati di Cirebon lho pak”
“Oh ya ?”
“Waktu itu sekedar berkunjung aza pak”, ujar Adrian.
“Lalu apa yang mas Adrian peroleh dari kunjungan itu ?
“Terus terang saya juga bingung pak”, ujarnya.
“Bingung kenapa ?”
“Karena sewaktu saya kesana, koq area pemakamannya seperti lokasi wisata, bahkan ada yang menetap disana. Maksudnya tinggal dan tidur disana “, heran Adrian.
Pak Darto tersenyum sambil sesekali membunyikan klakson, khawatir kalau ada pejalan kaki yang tidak melihat mobilnya melintas.
“Bahkan pada saat masuk saja harus daftar dulu dan sempat ditawari biaya sejenis infaq”, jelas Adrian.
“Uang masuk ?”
“Begitulah”
“Hehehe…betul sekali mas. Mungkin kondisi serupa juga terjadi di lokasi pemakaman tokoh lainnya. “, tutur pak Darto sambil tersenyum.
“Lalu pendapat Bapak gimana ?”
“Begini, kita kembalikan dulu kepada esensi dari ziarah. apa sih yang disebut ziarah? untuk apa dan ziarah seperti apa yang diperbolehkan ?
“Betul pak. itu yang saya maksud”, Adrian mengiyakan
“Ziarah kubur adalah suatu perbuatan yang dianjurkan oleh nabi. Tujuannya adalah untuk mengingat mati”, jelas pak Darto.
“Lalu bagaimana dengan praktek yang terjadi disana ?”,tanya Adrian.
“Tugas kita bersama untuk meluruskan penyimpangan yang ada. Tentu saja dengan cara-cara yang hikmah, namun tegas.”
“Tegas bagaimana ?”
“Sampaikan yang haq dengan baik dan benar. Dalam hal ini juga Pemda setempat beserta kaum ulama harus berperan lebih aktif lagi dan konsisten”, urai pak Darto sambil sesekali menyeka keringat dikeningnya.
“Bila masih belum berubah ?”
“Pembinaan tetap harus dilakukan. Seperti yang saya bilang tadi, ya harus konsisten. Berikan pemahaman terhadap masyarakat, bahwa tata cara berziarah harus dikembalikan pada apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Itu saja , mudah khan ?”
“Betul pak!”, Adrian mengiyakan.
“Kembali lagi kepada esensi sesungguhnya bahwa ziarah itu mengingatkan kita pada kematian”, jelas pak Darto.
“‘Apakah kita harus selalu ingat pada kematian itu pak ?”, pancing Adrian.
“Ya secara positif”,
“Maksudnya ?”, Adrian ingin lebih menggali lagi.
“Mengingat dalam artian untuk membangkitkan semangat hidup. Justeru dengan mengingat kematian itulah setiap kita dapat menghargai hidup dengan sebenarnya ”
“Maksud Bapak ?
“Ada nasihat yang mengatakan “Bekerjalah sebaik-baiknya seolah-olah engkau akan hidup selama-lamanya. Namun beribadalah seolah-olah engkau akan mati besok pagi!”
“Artinya ?”
“Itu adalah sebuah pesan cinta dari seorang rasul. Paling tidak bisa kita pahami dengan permikiran kita bahwa dalam hidup kita harus bekerja sebaik mungkin dengan cara sungguh-sungguh. Begitupula dengan beribadah. Lakukanlah amal kebajikan secara baik dan benar disertai kesungguhan atau mujahadah. Dua hal ini tidak bisa kita pisahkan karena di alam dunia inilah kita hidup dan kealam akhiratlah kita akan kembali menuju sang kholik yang telah menciptakan kita. Itu adalah suatu ketetapan yang mutlak dan pasti”, urai Pak Darto. Adrianpun mengangguk.
“Mas Adrian, boleh minta tolong ?
“Boleh, kenapa pak ?”
“Saya haus sekali. Maaf ya mas, tolong bukain tutup botol minum saya. Maaf ya mas”, pintanya.
“Tidak apa-apa pak. Ini pak, silakan”, ujar Adrian sambil memberikannya kepada pak Darto. Sementara tangan kanan pak Darto tetap pada kemudi.
“Terimakasih mas”, Adrian tersenyum. Butiran keringat sebesar biji jagung nampak di kening pak Darto.
“Lanjutkan lagi pak”, pinta Adrian.
Oh ya, sampai dimana tadi ?
kembalinya kita pada sang kholik,” tukas Adrian.
“Ya, sejatinya kita semua memang harus sadar bahwa kita berasal dariNya, lalu menjalani kehidupan yang memang menjadi milikNya dan pada akhirnya akan kembali kepadaNya. Tiga hal itulah yang harus dijawab oleh kita semua”, ujar pak Darto. Adrian bertambah khusyu mendengarkan penjelasan demi penjelasan yang disampaikan oleh pak Darto. Seorang sopir biasa yang memiliki konsep hidup yang luar biasa. Pak Darto melanjutkan
” Kehidupan ini adalah fana. Segala sesuatu yang ada dalam dunia ini akan berakhir pada satu titik, yaitu kematian. Seluruh manusia, hewan, tumbuhan dan segala sesuatunya akan musnah”, jelas pak Darto. Boleh tanya sesuatu mas ?”, pak Darto balik bertanya.
“Boleh pak, silakan ?”
“Apa tujuan hidup mas ?
Adrian merenung sejenak. Ia mulai merangkai kata demi kata dalam pikirannya sehingga menjadi kalimat yang akan ia sampaikan. Pak Darto tersenyum melihat Adrian yang tengah berpikir.
“Hmm…pertanyaan Bapak mudah dan sederhana, tapi susah jawabannya”.
“Jadi ?”
“Begini pak, setelah banyak mendengarkan uraian Bapak tadi, pikiran saya mulai terbuka.
“Lalu?” timpal pak Darto.
“Jika tujuan hidup saya hanya untuk sebatas mencapai kesenangan semata atau materi saja, rasanya belum lengkap”.
”Betul, lalu ?”
“Maaf pak Saya potong”, timpal Adrian.
“Ya?”
“Wawasan Bapak sangat luas. Dulu Bapak pernah nyantri juga ?, tanya Adrian.
“Hehehe…, tidak. Saya tidak pernah nyantri. Tapi punya beberapa guru yang mengajari saya sejak kecil. Setelah remaja saya banyak merantau. Dari perantauan itulah saya bertemu seorang yang alim”
“Ohhh”
“Jadi tujuan hidup mas itu apa ?”, tanyanya lagi.
“Hidup bahagia pak…hehehe”
“Bahagia yang bagaimana ?”
“Dunia akhirat lah pak”
“Hehehhe…amiin”
“Oh ya, orang alim itu siapa pak ?”
“Seorang yang memiliki ilmu agama yang cukup mendalam.”
“Lalu ?, tanya Adrian.
“Saya diminta tinggal bersamanya. Kurang lebih tujuh tahun saya ikut dengannya. Saat itu saya masih berusia dua belas tahun.
”Kedua orang tua Bapak dimana ?
“Bencana yang memisahkan kami. Kedua orang tua saya meinggal pada saat musibah menimpa keluarga Saya.
“Bapak punya saudara ?”
“Saya masih punya adik laki-laki. Sekarang dia tinggal di Jakarta bersama keluarganya”, urai pak Darto nyaris berkaca-kaca.
“Maaf pak. Saya jadi membuat Bapak sedih”, sesal Adrian.
“Ga apa-apa koq mas”, ujar pak Darto sambil mengedipkan matanya karena tak kuasa menahan air mata.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang.
“Kita istirahat dulu saja pak “, ajak Adrian.
“Oke mas”
“Kita sudah sampai mana nich pak ”
“Sudah mendekati Sampit”
Oh ya. kawasan ini dikenal dengan apanya pak ?
“Kabarnya terkenal dengan buayanya mas”
“Buaya ?
”Betul mas”, sahut pak Darto sambil tersenyum. Keduanyapun singgah disebuah kedai ditepi jalan.

***

Selepas dzuhur perjalanan dilanjutkan. Hampir dua jam telah berlalu. Pak Darto menancap gasnya melewati jalanan yang terlihat sepi. Hanya beberapa rumah panggung dari kayu milik suku pedalaman yang nampak dari jalan, itupun jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya cukup berjauhan. Ditengah perjalanan pak Darto melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang dibelakangnya. Nampak dari kaca spion, mobil jenis land rover itu memberikan kode dengan cara menyalakan lampu yang dikedip-kedipkan dan klakson yang berulang-ulang.

“Kenapa mereka pak?”, tanya Adrian heran.
“Tidak tahu mas, sepertinya mereka ingin mendahului kita. Tapi bagaimana mungkin, jalanan ini setapak. Kita kasih kesempatan di depan sana saja mas”, ujar pak Darto
“Ya pak, mereka kelihatannya sudah tak sabaran pak”
“Biarkan saja mas”
“Tiba-tiba salah seorang dari mereka nongol dari jendela mobil sambil berteriak kasar.
“Hey, bangsat…minggir kalian!. Mau mampus ya…!”,teriak seorang yang berambut cepak sambil mengepalkan tangannya.
Pak Darto tetap melaju dengan tenangnya.
“Bagaimana mungkin kita meminggir dengan jalan sekecil ini. Dasar berandalan!
“Berandalan ?”, Adrian langsung menoleh kepada pak Darto.
“Mereka seperti anak buah seorang cukong di kawasan ini”
“Bapak tahu siapa mereka?”
“Tahu mas”
“Siapa sebenarnya mereka ?”
“Mereka-merka inilah yang melakukan kegiatan illegal logging”
“Maksud Bapak?”Adrian makin penasaran.
“Mereka melakukan penebangan hutan secara liar, alias tanpa izin”, ujar pak Darto.
“Oh ya ?”
“Hasil hutan yang mereka jarah diselundupkan melalui kapal”
”Mengapa tidak ditangkap saja mereka ?” tanya Adrian.
“Sulit mas, banyak pihak yang terlibat dalam praktek illegal ini”, pak Darto terdengar sinis.
“Bagaimana dengan aparat yang ada disekitar sini ?” , tanya Adrian
“Aparat ?”
“Iya!. Bukankah mereka bisa bertindak tegas ?”
“Kalau itu dilakukan, mengapa sampai saat ini masih banyak penebangan liar ?”
“Betul juga pak”, Adrian mengiyakan.
“Mas bisa bayangkan, berapa besar kerusakan yang terjadi akibat penebangan hutan secara membabi buta. Kerusakan ekosistem yang tentunya secara langsung akan merusak habitat yang ada disana. Belum lagi dampak negatif lainnya terhadap pemanasan global! parah khan ?”, urainya.
Adrian cukup salut dengan kekesalan yang ditumpahkan pak Darto. Meski hanya seorang sopir, namun analisisnya sangat tepat sesuai dengan keadaan yang terjadi.

Belum usai pak Darto bercerita, klakson mobil yang berada dibelakangya berbunyi berulang-ulang lagi.
Tiba-tiba.
“ Praaaannnkkkkk….!brruuukkk….”
“Astagfirullahaladziim…, apaan tuh ??, Pak Darto dan Adrian terperanjat. Dilihatnya kaca mobil bagasi telah pecah.
“Bagaimana ini pak ?”, Adrian tak mengira mereka akan berbuat kasar seperti itu.
Kaca mobil Toyota Kijang Super Commando yang dikendarai pak Darto pecah. Sebuah botol minuman dilemparkan kearah mobil pak Darto. Serpihan kaca bertebaran didalam jok mobil. Sebagian mengenai kepala keduanya. Adrian merasa takut, khawatir mereka berbuat lebih dari itu.
“ Kurang ajar!!…, mereka pikir Saya takut apa ?? ”, pak Darto geram dan menginjak rem dengan segera.
“Cciiiiiiiitttt……..!!”, Mobilnya terhenti mendadak, nyaris ditabrak land rover hitam dibelakangnya.
“Bapak mau melayani mereka ?? “ Adrian ketakutan. Pasalnya ia tidak tahu berapa orang yang ada didalam mobil mereka. Satu lawan satupun belum tentu ia menang. Apalagi satu lawan dua.
“Kali ini Saya akan beri mereka pelajaran, biar nyaho!!”, matanya memerah sambil mengepalkan tangan.
“Celaka..!! Bagaimana jika mereka bergerombol?.,,!” guman Adrian.

Adrian segera mengikuti pak Darto, ia berdiri dibelakangnya. Tidak ada pilihan lain kecuali harus menghadapinya bersama-sama. Ia sudah pasrah atas apapun yang terjadi. Keberaniannya muncul. pak Darto yang membentak mereka disambut dengan tiga orang preman yang langsung berhamburan dari mobil.
“Keluar kalian ?”, tantang pak Darto.
“Huuahahahha”, mereka tertawa
“Huahahahaha……cari mampus kau”, ledek salahseorang diantara mereka.
“Hey,..kalian harus ganti atas perbuatan kalian”
“Ganti? hahahaha”
“Ganti sekarang juga atau kalau tidak…”
“Kalau tidak apa hey pak tua ?”, sela si rambut cepak itu.
“Kalian harus kuberi pelajaran!”, pak Darto bertambah geram.
“Kau berani melawan kami? hahahaha..” ledek mereka bertiga.
“Jack, Ambil uang ganti ruginya”, ujar si rambut cepak menyuruh temannya.

Teman si rambut cepak yang bertato kalajengking dilengan kirinya itu lantas mengambil sesuatu dari dalam mobilnya. Kini ia kembali dengan sebuah batang besi, mirip sebuah linggis.
“Loe mau ganti ?” ledeknya.
“Hahahahaaha…”, dua kawannya mentertawakan aksi temannya.
“Nih gua ganti…! ” praaaannkk….praaannkk..prankkk..!. tiga kaca mobil pak Darto dipecahkan.
“Kurang ajar..!” pak Darto tak bisa menahan amarahnya.
“Ciiiaattt….!”, Pak Darto menarik tangan kiri si cepak. Dia kaget, ketika melihat siapa yang menarik lengannya. Sekonyong-konyong tinjuan telak mendarat telak diwajah si cepak. “Buukk!…, si cepak terjungkal. Besi yang digenggamnya terlepas, dengan sigap pak Darto langsung meraihnya.
“Ayo kalian maju kalau berani”, tantang pak Darto.

Satu orang maju dengan pukulan keras, pak Darto mengelak. tinjuannya hanya mengenai angin.
“Buzzzz….., mampus kau!, teriaknya
“Kamu yang mampus” , timpal pak Darto.
“Buukkk….plak..plak…tinjuan dan tamparan mengenai dada dan wajah si jack. Dia terhuyung-huyung dan mukanya menubruk bemper baja land rover. Hidungnya berdarah.
“Kurang ajar loe”, sungutnya. Seketika, ia menubruk pak Darto dan mendorongnya. Keduanya berguling kesemak-semak tepi jalan.
Pak Darto menahan serangan dari posisi bawah. Pukulan keras mengenai pelipis pak Darto.
“Deezziiggh!!…rasakan nich,” sungutnya.
Ketika pukulan kedua hendak mengenai pipi kiri pak Darto, dengan cepat pak Darto menangkis dengan tangannya. Seketika kaki pak Darto berhasil menedang dengan keras punggung si Jack. “Buuukkkk…….aaaaawwwww…..”, si Jack menjerit kesakitan, wajahnya melenguh keatas. Kesempatan itu digunakan pak Darto untuk menghajar dagu si jack.

“Dezzziiigh…,aaaarrggghhhh….”, si Jack mengerang untuk kedua kalinya. “Brruuukkkk……,dia jatuh terpental ke belakang. Dua orang tak berkutik menghadapi lelaki tua itu. Tinggal satu orang kawannya lagi yang siap menyerang pak Darto.
”Heh, kurang ajar loe!”, teriaknya.
”Hey Jagal. Bunuh lelaki tua ini!…Bedebah! fuuiihhh!”, ujar si Jack yang terhuyung-huyung menahan sakit.

Adrian lebih waspada karena melihat situasi yang kurang berimbang terhadap sopir yang menjadi kawannya itu. Lelaki berbaju hitam yang dipanggil si Jagal itu langsung menyerang dengan tendangan ala Chong Li dalam film laga American Karate. Namun Adrian sigap, ia langsung memotong serangan itu dengan terjangan kilatnya. Tendangan memutar gaya Bruce Lee diperagakannya dengan menghantam wajah si Jagal. “Buuukkkk..”, si Jagal kaget dengan tendangan yang mendarat tepat dimukanya itu. Dia terpental beberapa langkah ke belakang. Tendangan keras Adrian semakin membuat si Jagal geram. Kali ini Adrian yang menjadi perhatiannya. Si Jagal berdiri sambil membuang ludah.
“Fuuuiiihhh, mati kau bedebah. Dasar keparat!”, sumpahserapahnya.
Adrian tak mau kalah dengan sumpah si Jagal.
“Verdomseh. Dasar tukan jagal dekil, bau, pencuri kayu, penjahat negara, gue ga takut. Ayo maju lagi loe!”, tantang pemuda yang pernah belajar Tae Kwon Do ini. Pak Darto tertawa mendengar ledekan Adrian yang terlihat tak gentar.

“Ciiiiaaatttt,…buukk,..plaaakkk,…plaaakkk,…deeezziigghh!”, si Jagal melayangkan pukulannya kearah dada Adrian. Tapi secepat kilat tangan Adrian menangkis dan melipat lengan si Jagal. Dia menguncinya, seketika upper cut tangan Adrian tak dapat diduga oleh si Jagal. dalam hitungan detik, kepalan keras tangan Adrian menghantam pipi kiri si Jagal. “Deezziighhh….,aaarrrrrggghhhh…,wajah si Jagal berputar terkena pukulan kerasnya. Dia terhempas dan tersungkur ke tanah dan ambruk untuk kedua kalinya. Kali ini bibirnya berdarah.

“Masih mau lagi ?”, bentak Adrian
“Aahh,..banyak bacot loe!”, si Jagal mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Adrian lebih waspada. Pak Darto siaga, takut terjadi sesuatu atas Adrian.
“Hati-hati mas”, tukas pak Darto.
“Tenang saja pak”, ujar Adrian.
“Mampuusss loe..” si Jagal menyerang dengan pisaunya kearah dada kanan. Adrian dengan cekatan langsung mengelak dan berputar kearah kiri. Tikamannya hanya mengenai angin. Kali yang kedua tikaman diarahkan ke perut Adrian. Ia langsung memotongnya dengan teknik menjatuhkan badan kebelakng disertai tendangan kaki kanan melingkar seratus delapan puluh derajat.

“Buuukkk….!”, tendangan kilat kakinya memotong tangan si Jagal. Pisau lipat dalam genggamannya terpental ke tanah. si Jagal makin geram.
“Kurang ajaarrr…!”, Dia memburu Adrian. pak Darto tetap mengawasi.
Si Jagal menyuruduk bak seeokor banteng ke arah Adrian. ia terdorong dan terpelanting ke tanah. Keduanya ambruk dan bergulingan diatas. Adrian membalikan badannya dengan sekuat tenaga. Si Jagal terdorong dan berguling ke arah kanan. Disitu ia menemukan pisau lipatnya yang terjatuh tadi. Kesempatan itu digunakan untuk meraih kembali senjatanya.
“Hehe..kali ini loe mampus ditangan gue!”, sambil memain-mainkan pisau tajamnya.
Adrian memasang kuda-kuda dengan tetap bertumpu pada kaki kanannya, memutar sedikit kekiri tubuhnya seraya menurunkan kepalan-kepalannya diagonal kekiri depan. Hal ini dilakukannya guna menyerang dan menundukan lawannya.
Si Jagal menyerang kembali. Bahkan lebih ganas. Dia mengarahkan pisaunya ke tubuh Adrian. Dengan cepat ia memutar tubuh seraya memindahkan berat badannya ke kaki kiri. Nyaris beberapa centi pisau tajam itu melukai tubuh Adrian. Posisi sudah terbuka untuk menyerang lawan. Tangan kanannya serta merta langsung mencengkram erat lengan si Jagal. Adrian langsung memitingnya disusul dengan pukulan tangan kirinya yang sangat keras. Dia langsung terhuyung. Belum sempurna si Jagal berdiri. Adrian langsung menyambarnya dengan tendangan bal chagi yang mematikan. Tendangan vertikalnya tepat mengenai bahu si Jagal. “Aaaaarrgggghhh…..!”, “Bruukkkk….!, Diapun tumbang dan mengerang kesakitan.

“Kali ini gua kalah, lain kali loe yang mampus!”, sungut si Jagal. Adrian hendak menghempaskan pukulannya lagi namun pak Darto mencegahnya.
“Cukup mas!”, larang pak Darto.
“Tapi pak,…”, sela Adrian. Pak Darto langsung memberi isyarat dengan tangannya. Adrian mengerti.
“Hey, kalian sudah pecahkan kaca mobilku dengan besi ini. Sekarang apa perlu kupecahkan kepala kalian dengan besi ini juga sebagai gantinya…?”, bentak pak Darto sambil menunjukan batang besi yang digenggamnya.
“Siapa bos kalian hah ?”, Adrian menimpali.
si Jack, si rambut cepak dan si Jagal saling bertatapan tak berani menjawab. Adrian semakin sewot.
“Ayooo jawab!”, bentaknya kembali.
Pak Darto menarik si Jagal dan memelintir tangannya hingga ia mengerang kesakitan.
“Ayooo jawab!!!. Siapa bos kalian?”, desak pak Darto.
” bb…bbb..bos besar..pak ” jawab si Jagal gemetaran.
“Siapa bos besarmu itu pengecut..?!”
“JJJ….jj..jjuragan Baskoro pak…aaaaarrgghhh..”, pak Darto memelintirkan dan mendorongnya. si Kribo tersungkur, entah untuk keberapa kalinya.
“Baskoro?”, tanya Adrian dalam hati. Serasa nama itu tak asing baginya.
“Sekarang kalian harus ganti kaca mobil saya!”, pak Darto membentak keras. Ketiganya mengeluarkan isi dompet masing-masing.
“Berapakira-kira biaya untuk mengganti kaca yang baru, wahai anak-anak manis ? ” tanya pak Darto dengan nada rendah sekaligus meledek tiga komplotan itu.
“Kira-kira dua jutaan pak” ujar si Jack.
Si Jack menguras dompetnya yang berisi tujuh ratus lima puluh ribu. Si rambut cepak enam ratus duapuluh ribu dan si Jagal lebih besar, satu juta tiga ratus enam puluh lima ribu empat ratus lima puluh rupiah.
“Nich yang lima ribu empat ratus lima puluh rupiah saya kembaliin”, si Jagal mengambilnya dengan gemetaran.
“Sekarang kalian boleh pergi” bentak pak Darto. ketiganya langsung bergegas masuk ke mobilnya. Dan pergi meninggalkan kedua lelaki itu dengan ketakutan.

Keadaan menjadi terbalik. Ketiga komplotan itu tak berkutik melawan pak Darto dan Adrian. Apa pasal ?. Ternyata pak Darto pernah menjadi seorang guru silat tradisional sekaligus pengembang ilmu tenaga dalam atau bisa disebut juga kanuragan sewaktu ia masih tinggal di Cirebon dulu.
“Bapak guru ilmu tenaga dalam juga ?”, tanya Adrian.
“Dulu, sudah lama sekali. Tapi jika dalam keadaan terdesak ilmu itu bisa muncul dengan sendirinya”
“Maksudnya ?”
“Untuk pertahanan diri dan kebaikan saja”
“Pantas saja, sewaktu mereka melawan Bapak, pukulannya seperti menghantam tembok, hahaha”, Adrian kagum.
“Hahaha. Mas Adrian juga hebat, belajar kungfu dimana ? ” , sindir pak Darto.
“Pernah belajar sedikit sama kawan saya pak”, ujarnya.
“Hehehehe…lumayan bagus”, ujar pak Darto sambil menepuk bahu Adrian. Iapun tersenyum.
“Ayo kita lanjutkan”
“Ayo pak!”. Keduanya pun menuju lokasi dimana Adrian akan melakukan penelitian di wilayah Sampit kecamatan Parenggean.

Seminggu sudah Adrian melakukan penelitian di pulau terbesar di nusantara itu bahkan di kawasan Asia tenggara. Usai
menyelesaikan tugasnya, Adrianpun sempat berpamitan kepada Pak Sudarto.
“Pak, saya akan kembali ke Jakarta. Terimakasih atas bantuan dan pengetahuan yang bapak berikan pada saya”, ujar Adrian.
“Sama-sama mas. Semoga selamat sampai tujuan. Hati-hati ya!”, balasnya sambil menjabat tangan. Keduanyapun saling berpelukan.
“Oke selamat jalan mas. Insha Allah kita dapat berjumpa lagi bila masih ada umur”
“Semoga pak. Terimakasih. Salamualaykum!”
“Wa’alaykum salam!”

| Leave a comment

coming soon.

someday ia akan hadir.cover-novel01
cover-novel02new

| Leave a comment

Pudarnya Pelangi Destina | Bagian Kedua

Bagian II (Lanjutan)
===========================

Singkat cerita Adrian berhasil mendekati sang gadis. Suatu hari.
“Ehem, maaf mbak boleh kenalan ?”
“Boleh. Selama mas orang baek-baek”, sambil tersenyum
“Dijamin. Saya Adrian”, dengan semangatnya Adrian julurkan tangannya.
“Destina Bintan”, sambil menjabat tangan Adrian.
“Bintan ??”
“Iya. Namaku Destina Bintan, boleh khan ?”citra-kirana
“Ya bolehlah. Ga ada yang larang koq”
”Panggil saja Destina”
”Kalo begitu, nama lengkapku Adrian Bulan…hehehehe”, gurau Adrian.
“Jiiiaaaahh. Maksa dech situ”, keduanya tertawa kecil.
“mba bekerja ?”
“Iya. Mas sendiri “novelremaja-ute
“Don’t call me “Mas”, Please. Panggil saja Adrian”
“Ok mas Adrian”
“Hehehe…, Whatever lah. Aku juga bekerja. mba kerja dimana ?”
“Don’t call me “mba”, Please. Cukup Destina saja”
“Ok. mba Destina”, jawabnya girang.
“Halaahh…latah dech”
“Kerja dimana? “
“Di kantor”
“Di kantor ??“, Adrian tersenyum dengan jawaban Destina
“Iya. Masa diatas pohon sih ?”, ledeknya.
“Iya dech. Kantor mana ?”
“Kantor depan jalan”
“Jalan mana ?”
“Jalan depan bisa, jalan samping juga bisa. Terserah”, Destina tertawa kecil.
“Haiiiyyaaa. Sering nonton Opera Van Java ya ?”, Adrian tertawa kecil.
“Acara tinju mas, biar jago ngeles”,
“Aihh..situ lucu juga ya…hehehe”
“Gak lah, emangnya aku badut”
“Hahaha. Bekerja di perusahaan apa ?”
“Idiihh…situ banyak tanya dech kayak tamu, hihihi”.
“Hehehe..daripada jadi musafir”, timpal Adrian yang kegirangan karena berhasil mendekati gadis itu.

Pembicaraan keduanya terhenti ketika dua orang petugas Sentinel KRL menanyakan karcis kereta. Adrian merogoh saku kemeja batiknya. Begitupun Destina.
“Ini pak”, seru Adrian sambil menyerahkan karcisnya.
”Terimakasih” ujar petugas setelah memeriksa dan melubangi karcis keduanya. Petugaspun berlalu.
“Oh ya, sampai mana tadi ya ?”
“Sampai situ mau jadi musafir”
“Yuuukk…mariii..,hehehe” keduanya tertawa dan nampak semakin akrab.

Keretapun tetap melaju menapaki lintasan yang terbentang hingga ke ujung stasiun.

***

4

”Metaaaa gilaaaaaa…..!”,teriak seseorang pagi itu yang terdengar nyaring dari pojok ruangan.
”Eh kenape tuh anak ?”, ujar Dwiena keheranan yang kebetulan baru datang juga.
”Hahahahaha……kikikikiki”, bunyi cekikikan terceguk-ceguk diantara sekat meja printer. Persis mesin diesel yang gagal starter.
”Buang ga tuh…! cepetaan !”, teriak Destina kala melihat seekor tikus-tikusan dari karet lentur yang nemplok di kursi kerjanya.
”Hihihihihihi..”
”Eh malah cekikikan, gue sulap jadi putri duyung baru tau rasa lo”
”Hehehe….loe takut ya ?”, ledeknya.
”Hiiiiiyyyyy…mit amiiiitt….cepetan enyahkan dari kursi gue!”, teriaknya lagi.
Metapun mengambil dengan entengnya.
”Niiiiiiiccchh gue kasih loe lagi hahahaha….hayooo…hayooo…nang-ning, ning-nang..”, ledeknya lagi sambil menyodorkan kearah Destina. Iapun lari dari hadapan Meta.
”Dasar loe gilaaaa”, teriaknya sambil sembunyi dibalik badan Dwiena.
”Udah akh Met, kasian tuh anak orang ampe gelagepan gitu”, seru Dwiena sambil tertawa melihat wajah Destina yang tegang. Destina emang terkenal takut dengan jenis binatang pengerat nenek moyang si Mickey itu. Walhasil, selalu ditakut teman-temannya yang usil, terlebih Meta yang paling angot-angotan menjahili Destina.
”Dasar loe gila……idih jangan deket-deket gue, cuci tangan sonoh ” sungut Destina.
”Hihihihihi….., nech lihat.gue masukin ke saku gue! Its OK khan..hahaha”, Meta masih nerusin tawanya sambil berlalu dihadapan keduanya.
”Bodo amaaaat…., loe masukin ke lobang idung loe pun gue ga peduli. Yang penting jauh dari gue!”
“Hehehe..dasar phobia”, ledek Meta.
“Biarin, daripada psikopat macem loe”, balas Destina.

***

”Wien, tumben loe dateng pagian ?”, tanya Destina setelah Meta menghilang.
”Iya, tadi gue dijemput cowok gue pagi-pagi sekalian anter dia ke bandara dulu”
”Bandara ?”
”Iya”
”Jadi beneran kalo cowok loe itu ngelanjutin kuliahnya di Netherland ?”
”Iya”
”Jadiii loe ????”
”Iya gue jomblo ngambang, gitu khan maksud loe ?”
”Hehehehe….bukan gitu, maksud gue…jadi loe bakal ditinggal beberapa tahun ini ?”
”Ya gitu dech”, jawabnya pasrah.
“Kuliah di kampus apa ? ”
“Universitas Erasmus Rotterdam”
“Fakultas ?”
“Medicine and Health Sciences”
“Wah keren tuh…bisa jadi dokter dong!”
“Hahaha…iya, biar bisa ngobatin loe yang gokil!..hahahaha”
“Sialan loe”
“Tapi gue jadi sedih”
”Kenapa sedih ?”
”Kalo gue kangen, gimana ?”
”Ga apa-apa, khan bisa komunikasi kapan aza. Ga usah takutlah, teknologi bisa bantu ngobatin rasa kangen loe”
”Tetep aza kaga ada disamping gue”
”Hehehehe..iya ya…tenang aza, masih ada pak Maman sopir koq, ”
”Sialan loe”
”Hehehe…paling tidak si Meta dah ada temennya lah”
”Sama dong kayak loe juga yang jomblo juga ?”, balasnya lagi tak mau kalah.
”Eh, sapa bilang…enak aza..,maaps ya.”, timpal Destina sambil tersenyum.
”Wah….jadi loe dah punya cowok sekarang ?”
”Hmm…maap itu rahasia cewek ya…”
”Et dah, loe pikir gue apaan ?”
”Hahaha”
”Eh, beneran nech loe dah punya cowok ?”
”Nape emang ? loe mau rebut dia dari gue ?”, ledeknya.
”Buju buneng, kadal pincang, kecoak bunting, dinosaurus demam, kuda nil pake daster, jin iprit kasmaran…loe pikir gue nenek sihir tukang ganggu rumah tangga orang ape ?”
”Hihihihihihihi…kekekekeke”, kali ini Destina yang cekikikan.
”Metaaaaa….ambil lagi tikusnya…”, teriak Dwiena nakutin Destina.
”Wuuuaaaaa……ampyuunnn….”, kali ini Dwiena yang gantian cekikikan.
“Jadi beneran loe udah punya cowok ?” selidik Dwiena.
“Hehehe…boleh khan ?”
“Ya bolehlah, eh..emang loe nemu dimana ?”, timpal gadis penyuka lobster ini.
“Taeela wien, emang loe pikir gue pacaran sama anak kucing ape ?”, timpal Destina.
“Hehehehe…barangkali aza Des”
“Barangkali….emangnya pasir”
“Hihihii…,eh tipe cowok loe gimana ? ”
“Tipe sembilan puluh, luas tanah seratus dua puluh meter”, jawabnya enteng sambil cekikikan.
“Ooowww yeaaa ?”
“Yeeeeaaa!” Ada aza, cukup gue yang tahu”, balas Destina dengan angkuhnya.
“Jiaaahh, dasar loe. Eh dah berapa lama jadian ?”, Dwiena masih tetep usaha.
“Gue ma dia baru kenal tiga bulan yang lalu. Ntar sore juga dia jemput gue lagi”
“Wooow asyik dong dijemput pacar…ganteng gak ?”
“Kalo ceweknya cakep kayak gue, so pasti cowoknya dijamin ganteng lah…kekeke”, ujar Destina tak mau kalah.
“Halaahh, narsiiiss abisss!”
“Yang penting laris manis, yang antri dah baris melewati garis”
“Udah..udah…cukup jeng ndak usyah diterusin ya”, ujar Dwiena nyerah sambil mengacungkan telunjuknya. Khawatir dengan narsisnya Destina yang makin gak ketulungan.
“Hihihihihi..”
Tak lama pembicaraan keduanya terhenti ketika seseorang lelaki setengah baya tiba diruangan.
“Selamat pagi”
“Selamat pagi pak”, jawab keduanya.

***

5

Minggu berganti dan bulanpun tiba membuka lembarannya. Lebih dari tiga bulan Adrian dan Destina menjalin persahabatan. Keduanya semakin akrab, tiada keindahan di pagi hari tanpa kehadiran Destina. Begitupun sebaliknya. Dunia keduanya terasa indah. Cupid-cupid kecil itu telah menari kian kemari memainkan panah-panah asmaranya.

“Excuse me. Is this seat empty ?”, sapa Adrian suatu hari
“Yes it is. This is for you”, jawab Destina.
“Ahaa…Thank you”
“You’re welcome”, senyum Destina mengawali pagi hari itu.
”Apa kabar ?, sapa Adrian
“Baik. Kamu sendiri ?”
“Baik. Tumben kamu duluan? ”
“Ya. Aku pengen lebih awal tiba di kereta ini. Lagian kemarin aku sudah pesan pak Mamat buat anterin aku lebih pagi”
“Lebih pagi ? Why ? “, Tanya Adrian.
“I love this train”, ucapnya enteng.
“Thank you. I love u too” , timpal Adrian.
“Idiihh…jangan ge-er dech”,
“Hehehe, ge-er sih nggak. Cuman feeling aza”
“Feeling teriak feeling kaleee”, pleset Destina.
“Oh ya De…”, belum selesai Adrian bicara Destina memotongnya.
“Ada apa Kakak….” Timpalnya cepat dengan logat seperti seorang adik kelas.
“Aiihh..geli banget dengernya. Kesannya kayak pembina pramuka aza”
“Oh ya..ada apa gerangan ?”, Destina memasang wajah serius.
“Nah gitu donk”
“Hehehe…,begini cukup ?”, sambil memiringkan kepalanya. Senyumnya dilebarkan.
“Kurang seribu”, ledek Adrian.
“Maaf. Kapitan Pattimura nya lagi ngasah pedang, yeeeee”, Destina ngocol seenaknya.
“Husssss…dia pahlawan tau!”
“Uuuppsss…maaf becanda koq. Kamu sih pake kurang seribuan segala”
“Hehehe…sorry. Ga lagi dech”
“Kamu mau ngomong apa ?”, tanya Destina.
“Sore ini kamu punya acara gak ?”, Adrian balik tanya.
“Punya. Acara pulang kerumah”, jawabnya polos.
“Haiiiyaa…serius nech…”, jelas Adrian.
“Mau ngapain ?”
“Temenin aku cari buku yuk ?”
“Buku ?”
“Iya. Buku. Baru denger ya orang ganteng macam aku cari buku ?”
“Yoooooo mariii”
”Hehehehe”
”Emang mo nyari buku apaan sih ?”
”Psychology and Communication”
”Karangan siapa ?”
”Miller, G.A”
”Siapa sih Miller G.A itu ?”
”Dia itu temennya Blumler, J.G penulis The Uses of Mass Communications”
”Nah lho, trus siapa tuh si Blumler itu ?”
”Ya itu tadi, temennya si Miller G.A”, timpal Adrian simpel.
“Adriiiaaannn…grrrrr…!!!”, cubitan keras Destina nancap diperut Adrian.
“Eee…eeeee…aduuh..aduuhh..oke…oke….sorry…sorry!”, Adrian nyerah. Destina belum mau melepas cubitannya sampai Adrian bilang ampun tujuh kali. Tiga orang penumpang tersenyum melihat keduanya.
“Dasar nyebelin”
“Siapa ?”
“Ya kamulah…masa sih cabe?”
“Nyambelin kaleee..”, timpal Adrian.
“Hehehe..tumben nyambung”
“Ngeledek nech!, eh, beneran mau temenin aku gak ”,
“Hmmm…ntar ya. Boleh aku pikir untung ruginya dulu ?”, timbang Destina sambil bola matanya dikerlingkan keatas, bibirnya dimanyunkan.
“Taelaa…,mirip pedagang Tanah Abang aza”
“Bukan gitu. Segala sesuatu harus diputuskan secara matang”
“Iya lah. Kalo masih mentah ga boleh dijual”
“Ijon kaleee”, kali ini Destina yang menimpali.
“Hehehe…tumben nyambung” balas Adrian.
“Maklum, disini ngiketnya kuat”
“Jadi gimana nech. bisa gak ?” Adrian menghiba usaha.
“Sepertinya today ga bisa dech. Gimana kalo besok?”, jelas Destina tanpa alasan.
“Hmm……ya sudah besok aza. Deal ?”, Adrian meyakinkan.
“Okay. Deal”
“Nanti kamu call aku ya!”
“Baiklah tuan puteri”
“Bagus. Telat sedikit, pengawalku akan memborgolmu”, logat Destina menirukan seorang puteri raja.
“Hohohoho…kejam sekali. Ampyun tuan puteri. Hamba mohon pamit”, ledek Adrian sambil menundukkan kepalanya.
“Loncatlah sana, Sebelum melewati kerajaan Manggarai”, timpal Destina makin ngaco.
“Hahahaha…Eh, kamu mau denger ceritaku gak ?”
“Cerita apaan ?”
”Sesuatu banget dech”
”Masa sih ?”, ia makin penasaran.
“Mau gak ?”
“Ada untungnya gak ?”
“Duile…mirip saudagar aza pake pertimbangan laba rugi”
“Hihihihi, ya dech. Apaan ?”
“Gini…ceritanya tentang mahasiswa dan mahasiswi tingkat akhir yang sedang diuji oleh professor mereka”
“Eiiit, tunggu dulu Ad. ini cerita beneran atau fiktif aza ?”, Destina protes.
“Yang penting adalah alur ceritanya. Tak masalah nyata atau tidaknya karena saat ini terkadang yang benar bisa jadi salah dan yang salah bisa menjadi benar”, Adrian ngeles.
“Maksudmu ?”
“Bahkan yang jelas-jelas salahpun masih bisa dibenarkan. Hehehehe…”
“Jiaaaahh….nyindir Gayus kaleee”
“Wakakakaka…pokoknya sekali Gayus, dua pulau terlampaui”
“Hehehe…mulai ceritanya dong!”
“Okay. Begini ceritanya satu waktu sang professor ingin menguji mereka dengan test yang menentukan layak tidaknya menjadi seorang dokter”
“Dokter ?”
“Ya”
“Apa yang diujikan professor itu?”, tanya Destina.
“Dua faktor, yakni keberanian dan ketelitian”
“Lalu ?”, Destina semakin penasaran.
Sang professor mulai berbicara. “Anda berlima Saya uji dengan dua hal penting bagi seorang dokter. Pertama keberanian dan kedua adalah ketelitian. Dua hal ini harus kalian miliki. bila tidak, maka akibatnya akan fatal. Resikonya adalah kematian. Kalian mengerti ?”, ujar professor itu. Kelimanya mengangguk, tanda menyetujui, meski antara mengerti dan pura-pura terkadang beda tipis.
“Baiklah, sekarang kita lakukan tesnya”, ajak professor itu sambil menuju kamar mayat.
“Ok. kita sudah berada di kamar mayat dan di hadapan kita terbujur kaku seorang lelaki tua yang diketahui mantan koruptor kelas kakap. Sudah tiga hari ini belum dikunjungi oleh keluarganya karena keluarganya merasa malu dan tak memiliki uang apalagi deposito untuk membayar rumah sakit. Semua harta bendanya disita negara. Menyedihkan!”, paparnya sambil menatap wajah kelima anak didiknya yang semakin tegang.
“Saya sudah memastikan bahwa ia sudah mati, jadi tak perlu khawatir dengannya, apalagi merasa sungkan. Bila ada yang ingin mundur, silakan angkat tangan dan pergi dari ruangan ini. Tapi Anda tanggung resikonya sendiri”, ucapnya dengan angkuh. Kelimanya tak berani mengangkat tangannya karena bila mundur dari tes kali itu, sama halnya menunggu dua semester kedepan.
“Ada yang mau mundur?”, tanya professor itu lagi. Kelima mahasiwa itu saling berpandangan lalu menggelengkan kepalanya bersamaan.
“Bagus. Pilihan yang cerdas!”, ujar sang professor semakin angkuh.
“Tolong perhatikan saya baik-baik. Perhatikan baik-baik saya, tolong. Saya tolong diperhatikan baik-baik!”, pinta pofessor itu dengan ketiga kalimat yang berbeda sambil mengacungkan jarinya.
”Professor saraf”, bisik salahseorang mahasiswanya.
Selanjutnya professor yang sudah berusia tujuh puluh satu tahun itu langsung menepuk-nepuk pipi kanan dan kiri lelaki yang terbujur kaku itu. Sang mayat tak bergeming.
“Lalu apa yang dilakukannya lagi?”, tanya Destina.
Professor itu mulai menunjukkan jarinya kepada kelima mahasiswa itu sambil berujar “Sekali lagi, faktor keberanian dan ketelitian akan sangat menentukan profesi kalian sebagai dokter. Karena, dimasyarakat kalian berhubungan dengan dunia nyata dan tubuh manusia yang masih bernyawa. Konsekuensinya sangat besar bila kalian gagal dalam tes kali ini. Mengerti ? ”
“Mengerti prof!”, jawab mereka dengan tegangnya.
“Bagus. Harap perhatikan saya kembali. Perhatikan saya kembali, harap. Saya harap perhatikan kembali”, ucapnya dengan ciri khas tiga kalimat diulang berbeda.
”Bujug buneng dah”, gumam seorang mahasiswanya lagi.
”Saya ingin mengetahui suhu tubuh pasien ini dengan jari saya. Pertama, saya akan memasukan jari telunjuk saya kedalam lubang telinga pasien ini”, ujar professor itu.
Ia lalu mengorek-ngorek dengan leluasa lubang telinga lalu kedua lubang hidung dan terakhir mulutnya. Kini “Pasien” yang sudah tak berdaya itu tak mampu berbuat apa-apa, apalagi korupsi. Dengan entengnya ia lalu mencium jarinya sambil berkata “Hmm..baunya kurang menyenangkan. Sudah menjadi mayat saja masih bau. Apalagi sewaktu kamu masih hidup. Huh!”, sumpah serapahnya dengan bibir yang mendadak lancip beberapa centi, jauh melampaui hidung.
Kelimanya saling berpandangan, bahkan salah seorang diantaranya sempat berujar pelan.
“Duh, joroknya. Dasar professor sableng!”, umpat salahseorang mahasiswi diantaranya.
“Bagaimana, kalian masih tetap lanjut ikut tes ini ?”, tanyanya dengan sombong.
“Masih prof!”, jawab mereka serempak.
“Bagus. Tapi ingat, panca indera yang kita miliki tentu memiliki keterbatasan!”
“Maksud professor ?”, tanya mereka kompak.
“Gunakan indera perasa. Perasa indera, gunakan. Indera gunakan perasa. Kalian tahu apa yang Saya maksud ?”
“Kulit prof!”, jawab mereka kompak lagi, entah untuk yang keberapakalinya.
“Salah!”
“Gunakan lidah!”, jawabnya tegas.
“Oh my God!”
”Duh”
”Halaah”
”Hadeuuuhh”
”Huufftt..”
“Bisa kita lanjutkan ?”, tantang professor itu.
“Laa..laa…laaa..nnjjutt pp..prof!”, jawab kelimanya pasrah. Meski keringet dingin mulai terasa dan mualpun muncul.
“..Sruuuppttt…sruupppttttt. Agak sedikit asin-asin dan asam”, ucap professor itu sambil menjilat salahsatu jarinya.
“Hoooeeeekk…hoooeekk…..!!!, tiga orang mahasiswi menutup mulutnya. Sementara dua orang mahasiswa disebelahnya hanya memegang keningnya disertai gerakan naik turun jakun dilehernya.
“Okay! sekarang lakukan apa yang sudah saya lakukan dengan benar. Cepaat..! Waktu kalian tiga menit atau pasien kalian akan mati!”, perintah professor itu bak seorang Hitler. Dengan sigap kelimanya melakukan apa yang dilakukan professor. Mengorek hidung, telinga hingga mulut. Meski terlihat konyol, mereka tetap berebut.
”Lanjutkan!”, perintah sang professor. Kelimanya mulai mencium jari mereka masing-masing.
”Hoeeeeekkk…puuffttt…..!!”
”Hoeeekkkkkkkksss…!”
”bbbrrrzzzztt……..brrrzzzttt!”
”mmmmpphh….!”
”hufft….!”
”Lanjutkan!”, bentak sang professor lagi.
”Oh my God!, what the hell is this ?”
”Alamaakk…!”
”Oh nasiiib”
”Duh, onde mande!”
”Glek!, anjrit, pasti asin euy!”
”Hehehehe, Kalian pikir mudah menjadi dokter!”, ledeknya merasa menang.
”Sruupuutt.., et dah..rasanya mirip ompol cucunya setan!”
”Sruuputtt…anjriit…anjriit!”
”Srupuutttt…hooekks!”
”Srupuutttttt….hu..hu..hu, rancak bana prof ini!”
”Sruuupuuutt….fuiihhh..hooaaakks…macam mana pula ni prof…bah!”
Sang professor semakin tersenyum lebar melihat peserta tes kali ini.
“Bbb…Bo..bboleh kami ke belakang dulu prof ?”, ujar mereka.
“Boleh, waktu kalian tiga menit. ”Priiiittttt….Cepaaat!”, peluitnya berbunyi sambil membentak persis komando Hitler. Merekapun berhamburan bak prajurit batalyon tiga.
“Priiiittttt….Cepaaaatt kembali ketempat!”, teriak prof dimenit kedua koma tujuh puluh sembilan detik itu. Sadis!.
“Waktunya belum tiga menit prof!”, protes salahseseorang.
“Waktu kalian bergerak terlalu lamban. Ingat! Saya selalu lebih cepat tujuh langkah dikali tiga dari kalian!”, timpalnya dengan sombong.
“Udeh terima aza. Lihat pasal satu, bentar lagi juga dia masuk kubur”, bisik temannya menenangkan. Keduanya tersenyum.
”Cukup!. Setelah melihat yang kalian lakukan. Akhirnya dengan menyesal saya nyatakan semuanya gagal dalam tes ini!”, ujar professor yang membuat kaget semuanya.
”Apaaaa ?? Gagaaaalllll ???”
”Haaaa…Gagaal ???”
“Apa yang salah ?”
”Onde monde!”
”Iya nech. Kami sudah melakukan yang prof lakukan”, ujar sang Mahasiswi berkepang tiga itu.
”Jangan becanda prof!”
”Hehehehe..huahahahaha!”, tawanya lepas persis Joker didepan Batman.
”Apa alasannya prof ?. Ayo dong katakan!”
”Baik. Simak dengan teliti. Dengan teliti simak. Teliti dengan simak. Ketika kalian mengorek-ngorek lubang telinga, hidung dan mulut mayat ini. Tidak ada yang salah!”
”Lalu ?”, ujar salahseorang.
”Ketika kalian mencium dengan hidung masing-masing, itupun tidak salah!”
”Laluuuuuuuuu….???”, ucap kelimanya khawatir. Kecurigaan tiba-tiba muncul.
”Disini letak kesalahannya, ketelitian kalian masih jongkok. Saya tidak menjilati jari telunjuk, melainkan jari tengah. Karena itu kurang baik bagi kesehatan bila telunjuk kita dalam keadaan kotor. Sebagai petugas medis, kita harus memberikan contoh hidup sehat kepada masyarakat, hehehehe”, ujarnya sambil tersenyum menang.
”&%#@**^&….Whooooaaaaaaaaaaaa..ggubbraakkksss…!”, kelimanya pingsan dalam kebersamaan. Kini sang professor memiliki enam orang pasien. Klik!

“Hahahahaha…..lucuuuu.., kamu gila juga ya kalo cerita..hahaha”, ujar Destina tak kuasa menahan geli. Seiring tawa mereka, lintasan sudah melampaui stasiun Cawang. Tak lama merekapun sampai di Gambir dan berpisah.
“Daaghh Ad…besok cerita lagi ya honey!”
“Daaggh juga say, see you later…!”

****

Adrian tiba di kantornya. Sumitra, petugas security yang telah lama mengabdi itu menyapanya dengan ramah.
“Pagi mas!”
“Pagi juga pak. gimana kabarnya, sehat ?”
“Alhamdulillah sehat”
” Syukurlah”
“Oh ya mas. Kemarin sore ada orang yang mencari mas. Tapi waktu itu mas sudah pulang”, ujarnya.
“Oh ya. Bapak tahu siapa namanya ?”
“Dadang Joko mas. Dia menitipkan sesuatu untuk mas”
“Apa ya ?”, tanya Adrian makin penasaran.
“Sebentar mas. Saya ambil di loker dulu”
“Iya pak. Terimakasih”
Tak lama Sumitra kembali dengan selembar amplop cokelat ditangannya.
“Ini titipannya mas. Dibalik amplop ada nama pengirimnya”
Adrian membalikkan amplop cokelat itu. Tertera nama pengirim yang masih asing baginya.
“Oke pak. Terimakasih ya. Saya naik dulu”,
“Sama-sama mas”, Adrian segera bergegas menuju lift yang akan membawanya ke lantai lima.

Tiba di lantai yang dituju, ruangannya masih belum begitu ramai. Hanya terlihat Shodiqun yang sudah nemplok di meja kerjanya.
“Pagi Shod”, sapanya.
“Wa’alaykumsalaam”, jawabnya beda.
“Upss..maaps, Assalamualaykum”, ulangnya.
“Pagi-pagi udah matung om. Ga pulang ya ?” ledek Adrian.
“mbahmu…!”, lelaki beranak empat itu mendelik.
“Hehehe… sabtu kemarin situ jadi lembur Shod ?”, tanya Adrian.
“Rencananya iya, tapi kubatalkan karena anakku demam, jadi harus dibawa ke dokter”, ujarnya.
“Sekarang kabarnya gimana ?”
“Alhamdulillah sudah mendingan. Hanya saja kondisinya masih lemas”,
“Ya syukurlah. Mudah-mudahan lekas sembuh”,
“Matur nuwun Ad”, balas lelaki bertubuh gempal itu.

Adrianpun tersenyum dan segera menuju kubikal tempatnya bekerja. Terlihat beberapa tumpukan berkas hasil pekerjaannya Jumat kemarin. Kini kembali menyapanya di pagi hari itu. Segera ia nyalakan komputer. Ia teringat sebuah amplop yang diberikan oleh pak Sumitra. Segera ia buka.

“Hmm…apaan ya ?” tanyanya dalam hati. Adrian membacanya. Tak lama senyum tersungging di bibirnya. Dua lembar surat berisi undangan dan jadwal acara ia bolak-balik. Ia langsung mengambil kalender yang ada dipojokan meja kerjanya.
“Dua-dua Agustus. Hari Sabtu, jam 09.30 Aula gedung B”, Adrian menuliskannya dibawah space kecil yang tersedia.

“Sabtu depan kuusahakan datang”, ujarnya dalam hati kegirangan karena mengingat masa-masa kuliah yang menyenangkan dulu. Adrian senang sekali bisa bertemu dengan adik kelas, sekaligus bisa reunian dengan kawan seangkatan. Sepertinya mereka mengetahui alamat tempat bekerja Adrian melalui profil yang ia cantumkan di akun facebook. Tentu saja, sebagai penghormatan, undangan itu sengaja dikirim langsung oleh panitia penyelenggara.

Tak lama, Debhy rekan kerjanya tiba dan menyapanya.
“Morning Ad, how are you today ?”, sapa gadis bermata teduh itu.
“Morning juga Deb. I’m fine and you ?”
“I’m fine too. Still fresh and look so beautiful…like a flower in the morning..yeaaa…right ?.”, ujarnya sambil tersenyum.
“Yeeess..you are, hehehe”, Adrian mengiyakan.

“Ad, ada yang mau aku tanyain sama kamu”, ujar Debhy sambil meletakan tas Notebooknya.
“Apaan tuh ?”
“Tadi malem, dirumah aku coba setting halaman web yang kemaren kamu kasih tau aku. Tapi pas aku coba login koq ga jalan ya ?”, Tanya Debhy.
“Mmm..”
” Eh, aku bawain sarapan pagi buat kamu juga Ad. Bareng yuk makannya ?”
“Oh ya. Wah, thank you banget Deb. Bouwleh-bouwleh…hehehe”, Adrian girang dapat rezeki dipagi hari.
“Okay Deb, databasenya pake apaan ?”
“SQL”
“Mungkin koneksi ke database SQLnya ada yang salah”
“Trus gimana dong ?”
“Kita lihat dulu masalahnya dimana. Setting web servernya sudah oke belum ?”,
“Maksud kamu Internet Information Servicesnya ?”
“Iya”
“Sudah oke tuh. Kalo aku panggil localhostnya ga masalah tuh, wong halaman index.asp nya sudah tampil koq”, sahutnya.
“Oh ya. Coba aku lihat dulu”, timpal Adrian sambil menunggu start up operation system notebook kawannya itu. Iapun mengecek koneksi dan memperbaiki beberap bagian script active server pages yang dibuat kawannya itu. Tak disadari, diam-diam Debhy mencuri-curi pandang Adrian yang tengah serius menatap layar notebooknya. Ada rasa kekaguman terhadap Adrian yang ia sembunyikan telah lama jauh di dasar hatinya. Sayang, Adrian tak pernah menyadari dan mengerti tentang perasaannya. Duh Adrian.

-Sigh-, Adrian tarik nafas sambil berpikir, ia mencoba memahami alur yang tampil dilayar notebook rekannya itu. Klak-klik sana-sini. Refresh. OK.
“Ohh…aku tahu. Ini dia masalahnya”, Adrianpun menjelaskan penyebab error aplikasi web yang dirancang temannya itu. Debhypun mengerti penjelasan Adrian.

“Gileee…., semalem koq susah banget ya Ad”, Papar gadis pengagum Band Cold Play ini.
“Hehehehe…Nah sekarang sudah oke tuh”, ujar Adrian sambil mencoba login di halaman web itu.
“Thanks ya Ad”, ujar Debhy sambil menatap Adrian dengan mata berbinar-binar.
“You’re welcome. Ok. If you have a TROUBLE just TALK to me. Maybe ITS HARDEST PART for you, but not for me because IN MY PLACE its look a YELLOW balloon, hahaha…” sindir Adrian dengan title Cold Playnya.
“Yeaaa…..that’s right man! ..hahahaha” keduanya tertawa. Tinggal Shodiqun yang terbengong ria sambil berusaha menyimak dari kejauhan.
“Eh gimana kabar gadis kereta yang pernah kamu ceritakan itu ?”, tanya gadis berambut panjang ini tiba-tiba.
“Destina, right ?”
“Yes she is”
“Baik. Dia gadis yang menyenangkan, periang dan cerdas. Aku menyukainya”, tutur Adrian sambil tersenyum.
“Wow. She must be a lucky girl !”, nadanya terdengar pelan.
“Excuse me ?”, Tanya Adrian sambil menatap mata Debhy.
Debhy berusaha memalingkan kedua bola matanya dari tatapan tajam Adrian.
“Nothing. Uppss…sorry ya Ad aku mau kebelakang dulu”, balasnya terlihat salah tingkah. Iapun berlalu dari hadapan Adrian.
“Oh ya…silakan Deb”, Adrianpun mempersilakan.

*****

Jumat Sore itu sekitar pukul tujuh belas lewat lima belas menit Adrian sudah menanti KRL yang akan mengantarkannya ke Bogor. Ia sengaja tak menanti Destina yang biasanya pulang lebih telat. Adrian ingat pesan Ibunya untuk pulang lebih awal.
‘Des, kamu pulang jam berapa ?”. Tanya Adrian lewat ponselnya.
“Aku pulang agak telat. Mungkin jam tujuhan. Kenapa Ad ?”, jawabnya diujung sana.

“Aku harus pulang cepat. Ibuku mengajakku untuk nengokin pak ’De ku yang kembali masuk rumah Sakit”, jelasnya.
“Oh ya, ga apa-apa. Aku bisa minta dijemput pak Mamat. Titip salam buat Ibumu”, ujar Destina.
“Oke. Keretanya sudah datang nich. Aku duluan ya”, pesan Adrian.
“Bye Ad…, hati-hati”, pesan Destina.
“Kamu juga ya, Bye!. Klik”, Adrianpun segera masuk gerbong.

5

Sabtu dua puluh dua Agustus, jadwal Adrian mengunjungi kampusnya atas undangan dari aktivis kampus almamaterya minggu lalu.

“Hari ini kamu ada acara ya Ad?” tanya Destina memastikan lewat telepon selularnya.
“Iya des, aku ada undangan ngisi materi di acara pekan orientasi mahasiswa baru”
“Wah asyik dong bisa ketemuan mahasiswi sekaligus mantan”, kilah Destina mengisyaratkan rasa cemburu.
“Ya, ga hanya mahasiswinya aza lah”
“Koq bisa sih kamu diundang?”, tambahnya lagi.
“Dulu aku juga aktif di kampus”
“Wah, pacarnya banyak donk”
“Ah, ga lah…”, kelit Adrian
“Ga mustahil”, timpal Destina
“Bisa aza dech kamu..hehehe”
“Boleh ga aku ikut ga ke kampus kamu ?”, tanyanya lagi. Adrian terdiam beberapa detik. Destina langsung menjawab spontan.
“Bilang aza ga boleh, huft…lama amat jawabnya”, ia kesal.
“Bb…bbbolehh saja…,”,
“Tapiiiiiiii?. Ah sudahlah…, daagh yaa..bye!”
“Eeeeh…tungguuu..jangan marah dong”
“Ga marah koq, udah ya, met reunian. klik!”, Destina menutup pembicaraan.
“Yaaaaaaa,.. maraahh”, Adrian mencoba call balik.
“Tuuuttt…..tuuuuttt…tuuuutttt….” lama tak diangkat. “The number you’re calling is busy, nomor yang anda panggil tidak dapat dihubungi, silakan coba beberapa saat lagi”
“Hmmm…lucu dech kalo uring-uringan begini. Nanti saja aku jelasin”, pikirnya.

“Bu, aku pergi ke kampus dulu”
“Kampus ?”, sahut ibunya heran.
“Iya. Ada acara training mahasiswa baru. Adrian diminta mengisi salahsatu acaranya”; ujarnya.
“Oh. ya sudah. hati-hati di jalan Ad”
“Salamualaykum”, sambil mencium tangannya.
“Wa’alaykumsalam”
Ninja Red Passion itupun kembali beraksi. Melesat dengan prima.

****
Sementara itu di bilangan perumahan Pajajaran City, Destina jadi uring-uringan. Ia membayangkan saat ini Adrian tengah reunian sambil dikrubutin mahasiswi baru.
“Huft, sebel aku sama kamu Ad”, teriaknya di dalam kamar.
Boneka Bernard Bear yang terpampang disamping foto Adrian jadi sasaran kekesalannya. “Buuukkkk…! ” ditimpuknya boneka naas itu sampe nyungsep. Duh kasian.

Namun dibalik rasa kesalnya itu, diam-diam ia merencanakan sesuatu. ”Cling!”. Muncul ide cemerlang tiba-tiba, ketika ia akan menimpuk boneka shaun the sheep yang tersenyum lugu. Walhasil si kambing itu selamat.
“Kenapa tidak aku ikutin saja Adrian ke kampus. Akh, bodohnya aku. Spionase! Yup!”, secepat kilat Destina bergegas untuk bersiap-siap memata-matai kegiatan Adrian hari ini.
Beberapa teknik penyamaran ia atur sedemikian rapinya. Mulai dari kedatangan hingga penampilannya saat ia tiba dikampus Adrian nanti. “Eng…ing…eng…Mission possible siap dilakukan ke kampus!”, decaknya.

Make up tipis menghiasi wajah putihnya, tubuh tinggi semampai dibalut celana Jeans biru, sepatu kets warna, T-Shirt pinky-funky, rambut diiket jepitan gaul, kacamata frame tebal warna biru dan tas kuliah digendongnya. Nyaris sempurna. Kini ia tampil bak mahasiswi sesungguhnya, bahkan terlihat seperti mahasiswi semester tigaan.
“Bingo!, saatnya beraksi. aku yakin pasti Adrian tidak akan mengenaliku”, yakinnya sambil tersenyum sendirian di depan cermin.

Semuanya sudah oke, tapi masih ada yang mengganjal dihatinya. “Duh, gimana caranya keluar rumah ya dengan penampilanku seperti ini?”
Apa kata orang seisi rumah nech. Dikiranya aku mau maen sinetron apa ? huuft….mending kalo sinetron, kalo lenong bocah..! Duh…gimana ya”, dirinya berpikir keras gimana caranya keluar rumah tanpa diketahui Mama dan Papanya karena dia yakin pasti dilarangnya. Maklum, anak gadis semata wayang yang sejak kemarin malam agak demam dan flu, meski sekarang ia merasa baikan.

“Cling..!.” sebuah ide gila mampir dibenaknya. Perlahan ia buka pintu kamarnya, “Klek..! lalu tengok kanan-kiri persis maling jemuran anduk. Situasi nampak aman terkendali.
“Ssssttt….. Bii….Bibiiii…Bibiiii” desisnya kepada si Bi Onah yang tengah menyapu lantai. Bi Onah tak menyadari panggilan Destina. Ternyata sambil menyapu ia tengah asyik berdendang sebuah lagu. Coba aza simak liriknya….”Namina..onah…Oo…,ulah waka Ee…, distempel Papriiiika!”, Diulangnya hingga tiga kali sambil pinggulnya bergoyang-goyang persis Shakira nujuh bulanan.

Destina sempat menyimak dan cekikikan mendengar liriknya. Duh kacaunya. Lirik lagunya Waka-waka diaransmen ulang versi bi Onah.
“OMG, parah…parah..Bi Onah. Bisa-bisa aku ikut digugat krunya Shakira nech..!”
“Biiii…biii Onahhh…”, teriaknya mendesis lagi. Bi Onah tak bergeming. Diulangnya lagi hingga ketujuh kalinya.

Kali ini bi Onah mendengar. Lantas ia menoleh, dlihatnya non Destina melambaikan tangan didepan pintu kamarnya. Ia menghampirinya.
“Ada apa non?”, dengan wajah jujur dan polos.
“Cepet sini masuk!. Bi, Papa-Mama ada dimana ?”
“Papa lagi di depan baca koran, kalo Nyonya ada di kamar. Kenapa non ?” tanyanya heran.
“Ga apa-apa, tanya aza”
“Eh, non Destina mau kemana ? Koq dandannya lain ?”
“Mau tau aza!”
“Oh ya ?”, Kebingungan bi onah muncul sambil melongo lebih jauh lagi.
“Bi, aku mau minta tolong boleh? ”
“Kalo minta tolong boleh, tapi kalo minta uang, Bibi ga punya. beneran dech, biar disumpahin jadi muda lagi juga mau ” jawabnya polos.
“Husss…siapa juga yang mau minta uang bibi”, timpalnya.
“Hehehehe…kirain”, senyumnya memelas sambil memutar-mutar gagang sapu ijuk.
“Bi..aku mau pergi, tapi gimana caranya biar ga ketahuan Papa mama”
“Lho, kenapa ga pamit aza non?”
“Justeru karena itu aku minta tolong Bibi”
“Oh gitu iya non. Kalo tolong bolehlah, tapi kalo minta uang….”,
“Bibiiiiiiii….cukup..cukup! dengerin aku dulu” , Destina kesal.
“Iya non!”
“Dengerin. Nanti aku kasih uang jajan. Oke ?”
“Siap non!”, sahut Bi Onah sambil berdiri tegak sempurna bak pasukan cadangan republik iran.
“Bagus..!. Aku mau keluar rumah. Mau ke kampus. Bilang aza, kalo Papa sama Mama tanya, aku lagi tiduran alias istirahat. Ga mau diganggu sampe jam dua belas tigapuluh sembilan siang nanti. Jelas ?”
“Jelas non, tapiii…?”,
“Nih lima puluh ribu, buat jajan”, sogok Destina.
“Trus gimana caranya non desti bisa melewati Papa tanpa kelihatan?”
“Itu tugas Bibi”, tukasnya.
“Tugas Bibi gimana ? tugas bibi kan cuma di dapur, nyapu rumah, sama setrika non”, keningnya mengkerut mirip buah pala kering.
”Itu tugas khusus bibi”
”Halaah si Non, emangnya bibi Mahasiswi bandel, pake tugas khusus segala”
”Husss…dengerin dulu bi”
”Siap non!”
“Begini. Bibi tahu ikan kesayangan Papa yang ada di kolam belakang ?”
“Ya, tau non. Trus apa hubungannya sama Bibi ?”, Bi Onah belum mengerti.
“Bibi ambil satu ekor Arwana…terus lemparin ke lantai”
“Waaaaaaakkksss…..oh Mai Gad!…no..no..no…no” , Bibi histeris dan gemetaran. Matanya membelalak nyaris seperti orang kena sengatan tiga ratus semut rang-rang nakal. Bagaimana tidak, ia diminta untuk melempar Arwana Platinum Silver kesayangan tuannya keluar kolam.
“Sssssttt…..jangan brisiiikk”, Destina membekap mulut Bi Onah.
“Mmmpphh….”, Bi Onah mendelik tanda mengerti. Destina melepas bekapannya.
“Lemparin ikan kesayangan tuan ke lantai ?”, tanyanya lagi.
“Iya. Gampang khan ?”
“Duuhhh..bisa-bisa Bibi dikulitin idup-idup ama tuan….”, Bi Onah merengek tapi sempet-sempetnya melirik limapuluh ribuan yang sudah ditangannya.
“Bibi cukup lemparin aza, terus teriak sekencengnya biar Papa denger!”, terang gadis berkulit putih bersih ini.
“Kaga ada cara laen apa non yang lebih eleg-han ?”
“Ga ada!” tegas Destina
“Mendingan disuruh manjat pohon kelapa sekalian marut diatasnya dah, daripada disuruh aksi terorisme seperti ini.”
“Nich aku tambah lima puluh ribu lagi ” rayu Destina sambil menahan tawa. Bibi tersenyum girang.
“Mmm….iya deh non…lumayan, cuma sekali lempar seratus ribu. ”
”Gampang khan ?”
”Doain ya biar Bibi sukses”, selanya mohon doa restu.
“Iya. Sekarang siap-siap sana”
“Eh, emang non desti ga bawa mobil?”
“Yeeee….ketaun dong bi..gimana sih! udah sana siap-siap eksyen”
“Iya…iya….non”, Bibi langsung menuju kebelakang rumah.

Tujuh menit Destina menunggu suara teriakan Bi Onah yang tak kunjung tiba.
“Duh lama amat sih Bibi”, Destina gelisah.
Tak lama kemudian.
“Gedubrakkk…!Waaaaaaaaksss…….tolooooongggg-toloooongggg…..”, Lolongan Bibi melengking hingga terdengar seisi ruangan. Destina tersenyum.
“Yes ! plan A. rencanaku berhasil”, ucapnya dibalik pintu kamar.
Walhasil Papanya yang sedang baca koran dengan rubrik tips mendidik pembantu rumah tangga agar selalu jujur, seketika terperanjat mendengar lolongan Bi Onah. Begitupula Mamanya yang sedang melumuri mukanya dengan masker cap tiga bengkoang. Keduanya lari tunggang langgang menuju halaman belakang, takut terjadi sesuatu yang membahayakan. Situasi yang diharapkan ini dimanfaatkan Destina sebaik-baiknya untuk menyelinap keluar rumah. Tak lupa ia kunci pintu kamarnya dan menggantungkan pesan yang tergantung di daun pintu. “Dont disturb me please! *kecuali gempa atau kebakaran besar, banjir atau ancaman bom, bolehlah diketuk, tapi sopan!”

Ia mengendap-ngendap menuju ruang tamu hingga pintu depan. Didepan teras, nampak koran yang sedang dibaca Papanya berceceran di lantai. Dengan manis ia melompatinya satu persatu.

Sementara itu di halaman belakang sandiwara kecil tengah dimainkan Bi Onah.
“Ada apa bi ?” teriak Hendratmo dengan wajah tegang
“Iya…ada apaan sih bi ?”, sambung nyonya.
“Iiiiitttuu…ttttuuuann…Tukul Arwananya loncat…, eh maksud saya Ikan Arwananya loncat” tunjuk Bibi gemetaran takut siasatnya tercium.
“Oaaallaaaa…., kirain apaan toh bi”
“Haaaaaa…!” ekspresi berbeda muncul dari hendratmo.
”Aduuuhhh…kenapa pake aksi loncat segala. Oh my beautiful fish, let me help you baby”, Hendratmo langsung menangkapnya dan mengembalikannya lagi ke kolam.
“Byuuuurrr….” ikan itu kembali kekolamnya.
“Kenapa bisa loncat begitu bi ?” desak Hendratmo.
“Nggg…nganu tuan, waktu Bibi mau bersihin pinggir kolamnya. Tiba-tiba ikannya nyangkut. Bibi kaget, lalu terpental”, jelas Bibi dengan gelagat salah tingkahnya.
“Sudahlah pah”, ujar isterinya mencoba untuk menenangkannya.
“Lain kali hati-hati bi. Kalo sampe ikannya mati gara-gara bibi, tak potong gajinya” pesan Hendratmo.
“Duuh jangan dong tuan plis porgip mi. Bibi tak sengaja”, sambil tertunduk malu. Seandainya ikan itu bisa mengadu, tentu aksi si Bibi ini akan langsung mendapat surat peringatan tiga dari tuannya. Dalam hatinya Bi Onah teringat pesan non Destina, kalau Papa dan mama tanya, bilang saja ia mau istirahat dan tak mau diganggu.
“Destina mana bi?” tanya Nyonya.
“Mmm, tadi non Destina bilang pengen istirahat di kamarnya. Katanya jangan diganggu dulu sampe pukul dua belas lewat tiga puluh sembilan menit siang” jelas Bi Onah sesuai pesan non nya itu.
”Keriting amat bi”
”Begitu pesannya nyah”
“Dia sudah sarapan bi”, tanyanya lagi.
“Sudah nyah. Tadi Bibi yang anterin ke kamarnya”
“Ohh..ya sudah kalau begitu”. mudah-mudahan sudah diminum obatnya”, tukasnya sambil berlalu ke kamarnya.

****

Sementara itu diujung jalan Destina nampak berlari kecil menuju pangkalan ojek yang tak jauh dari rumahnya. Wajah putih sejuk itu nampak merona dibawah pancaran sinar mentari yang mulai beranjak siang itu.

“Bang, ojek bang..!”, sapanya terengah-engah kepada sekumpulan tukang ojek.
“Mau naek ojek neng ?” tanya si abangnya.
“Ya iyalah. Emang disini sediain onta juga ?” timpalnya bercanda.
“Hehehe..ya enggak juga sih. Biasanya khan neng selalu bawa Honda Jazz biru. Tumben pake ojek?”, tanyanya sambil menstarter motor bebek Supra Fit Kredit nya.
“Lagi kepengen aza. Udah akh, jangan banyak tanya. Ayo jalan bang?”
“Kemana neng ?”
“Keluar kompleks dulu aza. nanti saya kasih tahu lagi”
“Ini helmnya neng”
“Hmmm”, dipegangnya helm itu. Buluk, kucel dan beraroma tak bersahabat bagi hidungnya.
“Dikunci neng sampe bunyi klik”, tuturnya.
“Bang, ini helm buat orang ya?” ujarnya sambil nemplok dibelakang.
“Ya iyalah neng. Emang kenapa ?”, sambil melaju meninggalkan pangkalan.
“Baunya itu lho bang, Kayak pernah dipake kuda nil..hooeekkss!”
“Hahahha…bisa aza. Maaf ya neng, sudah dua bulan belum dicuci. Maklum, yang pake banyak orang”
“Jiaaaahh….pantesan. Bentar-bentar bang, aku ga mau pake helm ah”, mereka sejenak berhenti
“Baik neng ”
“Okay, just ride man”, perintahnya.
“Jas ? Jas hujan neng ?”
“Ga. terus jalan aza bang!”,sahutnya sambil ketawa.
“Mobil neng emang kemana”, tanyanya lagi.
“Emang abang tau mobil saya”, selidik Destina.
“Ya tahulah. Neng ini yang tinggal di blok F8 nomor sebelas khan ?”
“Iya. koq tahu sih ?
“Iyalah. Saya khan sudah lama ngojek dikompleks ini. Plat mobil neng kalo ndak salah D 3571 NA khan ?”
“Eh, koq sampe hafal segala sih bang ?”, Destina heran.
“Hehehe…maklumlah kalo orang kecil kayak saya pasti mudah untuk mengingat orang berada kayak neng”, tuturnya.
“Maksudnya ?”, Destina makin bingung.
“Sebaliknya, orang berada kayak neng sudah barang tentu tidak akan hafal plat nomor motor saya. Iya khan ?” , tuturnya dengan polos.
“Idiihhh..siapa juga yang mau iseng ngingetin plat nomor motor abang” timpalnya.
“Hehehe…itu pengandaian saja neng. Kalau bahasa ilmiahnya..hmmm..metamorfosis…betul khan ?”, dalihnya sok tahu.
“Metafora bang. Akh itu juga salah!” sela Destina mengkoreksi.
“Nah itu dia maksud Saya”, ujar si abang ojek dibalik jaketnya yang sudah belel itu.
“Iya, Iya. Saya paham maksud abang. Intinya kepedulian sosial khan”, ujar gadis yang rambutnya sesekali dikibaskan angin itu
“Iya. Betul” sahutnya dengan semangat.
“Lalu ?”
“Lalu apaan neng ? lalu lintas ??” tanyanya polos.
“Hadeeeuuh. Maksud abang ngomong gitu apaan?”
“Ah enggak neng, cuman spik-spik aza, ” gayanya sok kebarat-baratan. Destina ketawa.
“Oh ya, kebetulan. Saya pengen tanya sesuatu sama neng”, ujarnya lagi.
“Tanya apaan bang ?”
“Ngggg…maaf neng, mmm….”, tanyanya terbata-bata.
“Haaaiiyaaa…lamaa nech. Tanyaa apaaan bang ? buruan mumpung gratis, ” ledeknya.
“Iya..iya..begini…hhmmm…”, kembali terbata-bata.
“Ah lama, kayak kereta ekonomi dangdut aza. Buruan dong! “, cetusnya.
“Ngg…itu lho neng, pembantu di rumah neng itu siapa ya namanya ?” tanyanya malu-malu.
“Hahaha….kenapa bang ? namanya bi Onah. Naksir ya..? cieeeeeee”, ledeknya.
Si abang cuma bisa mesem dengan wajah hitam kemerahan. Persis buah manggis menjelang petik.
“Hehehe…jadi malu”, sambil tersipu cengar-cengir ga jelas. Angannya melambung ke angkasa untuk beberapa saat. Setang kemudi terasa tali pelana kereta kencana kerajaan. Kibasan angin makin membuatnya membusungkan dada laksana simbol keperkasaan seorang ksatria. Jaket yang lusuh nan belel dibelai angin mesra, nampak bagaikan baju kebesaran pangeran muda pewaris tahta kerajaan. “Sungguh tampan nan perkasanya diriku”, ujarnya dalam hati sambil membayangkan sosok wanita yang dipuja namun belum didekatinya itu. Kala itu, Onah bak puteri raja yang dirindukan. ”Oh…ai lap yu”, bisik si abang.

Jelang disebuah tikungan. Tiba-tiba angannya buyar seketika..
“Eee..eee..eehh…Awaasssss bang..! , teriak Destina sambil memukul-mukul punggung abang ojek.
“Ciiiiiiiiiittttt……ciiiiittttt…” ia menginjak rem toromol itu secara mendadak.
“Liat-liat jalan dong…!”, bentak Destina histeris karena motor ojeknya nyaris menabrak gerobak bakso. Walhasil, abang tukang bakso panik.
“Hey..! dasar ojek sableng. Ga liat apa gerobak segede gini”, teriak abang tukang bakso sambil lututnya gemetaran persis gaya udin petot kedinginan.
“Maaf..maaf mas..Saya ga sengaja”
“Emang situ punya niat disengaja juga hah ?”, tantangnya dengan kumis baplang melingkar mirip pak Raden.
“Ya enggaklah mas. Sori dori mori blekberi bu feri”, tukas si abang ojek. Destina tak kuasa menahan geli meski jantungnya masih deg-deg-an.
“Dasar wong edan. Kalo sampean bukan orang, tak kepret jadi lima baru tau rasa”, kesalnya.
“Iya dech mas. Maafin ya!” rayunya sambil membantu memunguti sendoknya yang bertaburan di aspal. Pasalnya, si abang bakso langsung ambil aksi menikung sembilan puluh derajat tatkala motor itu akan menubruknya. Walhasil, sendok dan garfu miliknya bertaburan ria. Untung saja tumpukan mangkuk bakso bertato ayam jago kampung itu tetap utuh ditempatnya. Destinapun ikut membantu.
“Sekali lagi, maafin saya ya mas”, sesalnya persis galian pe-el-en untuk ketigakalinya sambil pamit.
“Bilang maaf sih gampang”, sungutnya masih tak terima. Abang ojekpun mulai menstarter motornya.
“Mari mas….maaf Saya duluan ya”, ujarnya dengan rasa bersalah.
“Dasar anak kampret bawa gendang”, serapahnya. Abang ojek tak menghiraukan.
“Hah….apaan tuh mas ?”, Destina spontanitas menimpali karena penasaran.
“Loe nyerempet, gua tendang!”, kesalnya sambil memperagakan tendangan ala Buffon kiper Timnas Italia.
“Hahahaha…” keduanya melaju sambil cekikikan.
“Cabuuutttt….”, seru Abang ojek meninggalkan mas bakso yang masih terlihat ngedumel. Destina cekikikan melepas tawa. Baru kali ini ia mengalami hal yang lucu sebagai ojeker. Jauh berbeda ketika ia hanya duduk didalam Jazzynya, meski empuk nan sejuk.

Selang beberapa saat, pintu gerbang kompleks perumahan mulai terlihat.
“Oke-oke bang. cukup sampe sini aza”, pintanya.
“Baik neng”, iapun meminggirkan motor pabrikan jepang itu.
“Berapa bang”, tanyanya
“Tujuh ribu saja neng”, jawabnya pelan.
“Nich, ga usah dikembaliin. Makasih ya” sambil menyodokan satu lembar sepuluh ribuan.
“Terimakasih ya neng”
“Sama-sama bang”, iapun berlalu.
“Eh neng”, panggilnya.
“Ada apalagi bang?”
“Hmmm…titip salam ya buat seseorang dirumah”, pintanya. Destinapun mengerti siapa yang dimaksud.
“Jiaaahhhh…sesuatu banget dah, masih ngarepin rupanya. Ya udah, ntar aku sampein”, ujarnya.
“Hati-hati neng”
“Ya. Terimakasih bang”, tuturnya.

Selanjutnya ia meneruskan perjalanannya dengan angkutan kota yang melintas di depannya. Dua puluh menit kemudian iapun tiba di depan gerbang kampus Adrian. Selamat Datang di Kampus Hijau, Kampus Perjuangan Rakyat. Begitu semboyan yang terpampang dalam spanduk besar di halaman depan Gedung Universitas itu.

Nampak begitu ramai karena masa orientasi mahasiswa semester awal baru saja dimulai. Dengan langkah cueknya Destina memasuki kawasan kampus.

Tampak tiga orang mahasiswa setengah senior lagi kongkow-kongkow dibawah pohon beringin putih mulai iseng dengan obrolannya. Pandangan ketiganya mulai tertuju pada sosok menarik yang melenggang didepannya. Mirip anak-anak burung cucak rawa menjelang santap. Ramai.
“Wussss…cakep banged broo…! ” ujar si rambut plontos persis Joe Satriani itu tak berkedip. Jidatnya mengkilat sempurna, mirip batu akik yang baru digosok tujuh malem.
“Eh, anak mana tuh ? Koq baru keliatan”, timpal kawannya yang berambut kribo ala Edie Brokoli itu.
“Ck..ck…ck.., eh emang kalo loe dah tahu, trus mo ngapain ? “, ledek temannya teman sebelah kirinya.
“Ya pedekate lah..emang nya gue mau ngecetin pager rumahnya ape ?” sahutnya tak mau kalah.
“Hahahaha…”, kompaknya ketawa
“Eh, loe berani taruhan ?”, tantang si plontos
“Sapa takut!” sahut si Brokoli
“Iya. Sapa takut. Apa taruhannya ?” tantang kawannya yang kurus berkacamata tebal itu.
“Gini. Siapa yang duluan bisa kenalan dan bisa dapet nomor hapenya, itu yang menang. Gimana, deal ?” Tanya si kribo sambil tengok kanan kiri.
“Paling-paling gue yang menang”, sombong si plontos yang berkaos Linkin’Park itu.
“Ga bakalan. So pasti gue dah”, Si kacamata tebal tak mau kalah.
“Tenang-tenang. Gue akuin, kalian berdua pesaing hebat. Tapi tetep aza gue yang menang”, si brokoli menepuk dadanya persis si Pitung dada berbulu.

Seketika, si brokoli merangkul kedua pundak sahabatnya itu. Ketiganya nyaris beradu kepala. Si plontos mendelik karena kaget. Tak berapa lama mereka bertiga tampak berbisik-bisik serius. Terus tegang. Terus geleng-geleng kepala. Nampak Tegang lagi. Ketawa. Geleng-geleng lagi. Tegang lagi. Akhirnya ngangguk bareng-bareng. “Deal!”, sorak mereka persis tim bola voli china menjelang menang.

Destina tetap tak peduli dan terus berjalan sambil melihat penujuk arah kampus. Dilihatnya satu persatu, kelokan satu Fakultas Hukum ada di sebelah kiri, kelokan dua Fakultas Ekonomi, arah lurus Fakultas Teknik. “Hmm bukan”, lirihnya dalam hati.
Ia berjalan terus melewati beberapa kerumunan mahasiswa dan mahasiswi yang sedang mengamati pengumuman hasil ujian semester di mading Fakultas. Ada yang gembira bertabur senyum warna-warni, ada pula yang kecewa diselimuti wajah cemberut nan muram durja, bak mendung tanggung bulan.
“Yes..! gue dapet A”, ujar salahseorang berjilbab diantaranya. Wajah sumringah menghiasinya.
“OMG….!”, timpal kawan sebelahnya sambil menepuk jidatnya yang licin.
“Kenapa loe?”, sahabatnya heran.
“Cepot lagi Cepot lagi..”, dengan sedihnya.
“Apaan tuh ?”
“C lagi C lagi..”
“Hihihihih….loe sih jarang ikut kuliahnya”
“Iya..gue juga sih yang badung”, ungkapnya jujur.
“Disyukurin aza…C juga lumayan”, hibur kawannya itu.
“Maksud loe…syukurin gue dapet C, gitu..?”
“Hehehehe…ya enggaklah..”, merekapun berlalu sambil tertawa.

Destina hanya tersenyum mendengar percakapan mereka. Masa-masa indah bersama kawan. Tak jauh berbeda ketika masa kuliahnya dulu. Namun ia beruntung kala itu, pasalnya ia pernah dekat dengan seorang kakak kelas yang pintar sekaligus merangkap sebagai asisten dosen. Sehingga nilai ujiannya selalu diatas rata-rata. Pikirannya perlahan menelisik kedalam bingkai masa lalu. Setiap mata kuliah yang kurang ia pahami bisa dibimbing olehnya. Kadang dibahas bersama di perpustakaan, di kantin bahkan di halaman kampus dan dibawah pohon rindang. Duh indahnya.
“Kamu sudah tahu cara menghitung Return on Investment ini ?”
“Cara menghitungnya sudah, tapi manfaat laporannya untuk apa ya kak?”, tanyanya kala itu.
“Oh begini, laporan ini diperlukan bagi manajemen untuk membuat satu keputusan dalam organisasi atau perusahaan yang dipimpinnya” jelasnya dengan rinci.
”Oh…begitu ya kak ”, Ia pun menyimak dengan manisnya.

Destina membayangkan sosok kakak kelas yang baik hati, namun entah dimana ia sekarang. He has gone with the wind. Itu hanya masa lalu. “Klik!”, Ia tersenyum sekaligus tersadar. Dirinya kini berada di kampus Adrian untuk memata-matainya. Saat ini yang ada dihatinya adalah Adrian. Cowok tampan yang telah menawan hatinya itu.

Dua kelokan ia lalui. Masuk lagi mengikuti penunjuk arah. Terlihat dari halaman taman kecil yang asri sebuah papan nama, Fakultas Ilmu Komunikasi.
”Yup, ini Fakultas Adrian”, girangnya.
Langkah pertama yang harus ia lakukan adalah penyelidikan dimana acara yang diikuti Adrian. Untuk menjernihkan ide, Destina memutuskan untuk mencari kantin terdekat. Paling tidak bisa ia gunakan untuk mengamati keadaan sekitar sekaligus mencari strategi selanjutnya. Teknik klasik on the spot ala The A team yang dipelajarinya pun kini dipraktekan.

”Bu, saya pesan Jus Alpuket Susu”, pintanya di sebuah kantin
”Pake Es ga neng ?”, tanya Ibu Kantin
”Pake lah bu, kalo ga pake jadi Ju Alpuket UU”, sambil tersenyum
”Hehehe….neng ini bisa aza”, timpal Bu kantin tertawa.
”Pake bu. Tapi es yang dingin ya”, sahutnya lagi.
”Walaah…neng lucu dech. Eh, tapi Ibu baru lihat neng”, herannya.
”Iya bu. Saya mampir aza koq”, jawabnya pelan.
”Ooh…” ia manggut-manggut.
”Saya dipojokan sana ya Bu”, terang gadis pengagum lagu Coldplay ini.
”O, Iya. Tunggu sebentar ya neng”
”Iya. Terimakasih bu”, ujarnya sambil menuju kursi di pojokan itu.

Diliriknya jam mungil yang melingkar manis di lengannya. Sembilan lewat lima belas menit. Sambil menunjuk jamnya dan menghitung-hitung sesuatu.
”Dua belas tiga puluh masih lumayan lama”, gumannya dalam hati.
“Sruuupuuttt….sruuupurttt….Ahhhhhh….segarnya..kini dunia terlihat cerah”, jus itu disedotnya dengan semangat.

Seiring dengannya, makin teranglah rencana selanjutnya. Usai membayar, iapun lantas mencari sumber informasi. Mading sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas itu paling memungkinkan untuk ia jajaki sebagai penelusuran awal. Tengak-tengok kesini dan kesana, mirip tukang timbangan badan cari orang, padahal cari jadwal.
“Oh, mungkin itu jadwalnya”, tebaknya sambil menghampirinya dengan ceria.
“Eh bukan, hihihihihi…”, ternyata yang dia lihat adalah pengumuman hasil ujian ulang ketiga kalinya dari seorang dosen mata kuliah dasar umum. Dibawahnya tertera daftar mahasiswa yang mendapat nilai D. Diantaranya Ririnia Senjawati , Bendo Tempraman, Syarmanta Garda Kencana, Pratmanto Jaya Senarnya dan lain-lain. Semuanya ditugaskan untuk membuat sebuah esai panjang yang bertemakan ”Pengaruh Negatif Tontonan Sinetron Terhadap Kejiwaan dan Perkembangan IQ Anak Didik”. Pada bagian bawahnya bertengger nama angker berikut gelar keduniawiannya, Prof. Dr. Baban Sertanu Bervelg, SPsi, MM, Msi. Duh, pintarnya. Tak lupa dibawah kirinya terdapat memo bersimbol bintang asterik berikut keterangan. “Belajarlah pada burung gagak berkaki merah tentang kesempatan. Karena gagak merah tak pernah melepaskan mangsanya diantara sekawanannya”.

Duh sentimental sekali pesannya. Entah dimana dan kapan mahasiswa naas itu bisa bertemu gagak berkaki merah. Pasalnya, semua gagak umumnya berkaki hitam. Destina tak kuasa menahan tawa membaca pengumuman terkejam yang pernah ia lihat. Ia lanjutkan dengan beranjak ke pengumuman lainnya. Didapatinya informasi seputar perkemahan Sabtu-Minggu, kegiatan Fakultaria dan pelantikan mahasiswa diakhir masa orientasi kampus. Pada sub bagian kegiatan fakultaria, tertera jadwal temu alumni. pukul 9.30 s/d 12.30 di Aula gedung B.
“Ini pasti jadwal Adrian”, ucapnya dengan yakin. Diliriknya kembali jam mungil warna merah maroon mengkilat itu, jarumnya baru beranjak menuju pukul sebelas siang. Ia bergegas mencari Aula itu.

*****

Berbarengan dengan itu, di dalam aula gedung B yang lumayan besar itu, berderet tiga kursi kosong yang sepertinya sudah disediakan untuk dua orang panelis dan satu orang moderator di podium. Tepat di belakangnya terpampang spanduk besar bertuliskan “Selamat Datang Mahasiswa/i Baru Fakultas Ilmu Komunikasi Tahun Ajaran Baru dalam Orientasi & Perkenalan di Kampus Perjuangan”. Sementara prama dan prami nampak tertib dan duduk manis mengikuti acara demi acara. Panitia sengaja menyebut mahasiswa baru dengan prama yang berarti pra-mahasiswa dan prami untuk mahasiswi puteri.

Dari samping kiri podium, tampak dua orang MC yang juga mahasiswa senior tengah memandu acara.
“Baiklah, prama dan prami sekalian, sebelum menginjak acara selanjutnya yaitu acara temu kangen alumni bersama akang-teteh kita sekaligus penyampaian materi seputar dunia jurnalistik, maka….”, ujar MC pria sambil mengangkat tangan dan mempersilahkan kepada pasangan MC nya untuk diteruskan.

”Kita sambut dulu persembahan berikut ini…The Blues Band!”, teriak MC perempuan yang mirip anak Lydia Kandau itu. Seketika, sambutan meriah bergemuruh di aula lantai dua itu.

Tampak lima mahasiswa berpenampilan eksentrik menaiki podium sambil membawa gitar listrik. Baju hitam dibalut jaket buntung mengkilat disertai kalung silver besar, rambut gergaji mesin ala anak punk bertengger bak antena stasiun amatiran, sepatu tinggi dan celana hitam mengkilat nan ketat dibagian kedua ujungnya, nyaris seukuran botol kecap. Begitu ketatnya, kadang diperlukan dua orang untuk membukanya.
”Plok…plok…plok……wiiittt….witttt..wiiiiww……suuiitt…suitt….”, walhasil suara-suara anehpun bermunculan dari barisan prama dan prami yang berlesehan dilantai bak sipil wajib militer itu.

Kontras sekali, warna setelan putih-putih yang dikenakan prama-prami itu dipadu dengan aneka warna caping plus balon hijau dikepala serta pita warna merah yang bergelantungan dilengan kiri. Belum lagi kalung ajaib yang dirangkai dengan bawang merah dan putih, lengkuwas, jahe merah, kunyit serta petai with his brother, jengkol yang dikupas. Dari raut wajahnya, mereka nampak terjajah, persis seorang centeng dengan sesajen pengusir drakula kejam yang digaji rendah. Sesekali nampak diantara mereka ada yang bersin-bersin karena tak tahan mencium aroma rempah-rempah menyebalkan itu.
Begitulah tragedi yang berlaku setiap tahun, bak seremonial yang dilestarikan secara turun temurun dari leluhurnya. Aksi mengerjai adik kelas baru, sebagaimana yang pernah mereka alami di tahun-tahun lalu.

Di podium itu dua orang pemain gitar yang terdiri dari lead guitar dan bass tengah menstem gitar merek Ibaneznya untuk menyamakan tinggi rendahnya nada. Dua orang lagi mengetes piano Rolland serta drum standar rock metal merek TAMA yang akan mereka gunakan. “Duk…duk…duk…cessstt…cessttt..!”
”Ting…ting,,,tung..tung…jreeeennngg!”
“Tes..tes…satu..dua..tiga…OKE. Baiklah. Assalamualaykum warrahmatullahi wa baraktuuhh…hadirin sekalian, izinkan kami untuk mendendangkan beberapa buah lagu untuk anda semua”, sapa sang vokalisnya kepada audiens dengan gaya mirip bang haji Rhoma Irama. Keempat kawannya tersenyum, meski rasa curiga sudah muncul.
”Haloooo…apa kabaaarrr ?”
”Luaarrr biaassaaa!!”, jawab audiens.
”Yes!, tetap semangat brothers and sisters..!”. Aulapun bergemuruh.

”Sebagai jiwa-jiwa muda yang penuh semangat dan kreasi. Marilah kita hangatkan hari ini dengan sama-sama berdendang lagu “Darah Muda”, Darahnya para remaja. Darah semangat dan kreatifitas. Okeeeehh ?!”, Teriaknya lagi dengan keras. Audien sontak terdiam semua dan saling berpandangan. Tak terkecuali panitia. Dianggap tak matching dengan penampilan mereka yang garang. Sejurus itu aula bergemuruh dengan hebatnya.
“Huuuuuu.uuuuuuuuu…..uuuuuu.!”,
Keempat temannya tak ketinggalan ikut bengong pula dan saling bertatapan satu sama lain.
“Oooiii….brur..lagu apaan yang loe bilang ?”, ujar sang drummer gondrong yang mirip Lars Ulrichnya Metallica itu nampak kebingungan. Pasalnya tak pernah sekalipun mereka berlatih lagu itu.
“Eh, emang gue bilang apaan ?”, wajahnya melongo persis bebek dikagetin petir.
“Dasar dongo loe. Sekarang loe ada di group heavy metal man!”. Lupain dulu group dangdut orkestra di kelurahan loe itu”, empetnya sambil menabuh drum biar tak terdengar audiens.
“Okay brader, sorry ya. Gue lupa..sorry..sorry..!” bisik vokalis yang wajahnya perpaduan antara Budi Anduk dan Sule itu. Lantas sang vokalis menuju pemain piano dan gitaris serta bassis yang sedari tadi gregetan pengen nyubitin sampe pingsan vokalis sableng itu.
“Okay man…metal…metal..ya.. !”, teriaknya sambil mengacungkan tiga jari sebagai simbol metal.
“Borokokok siah. Kagak lihat ape loe tampang gue udah ngerock heavy metal gini?”, ujar gitaris kurus yang mirip Steve Vai itu.
“Iya..sorry..sorry brader, saat ini hatiku sangat kacau!”, kilahnya.
“Alaaahhh belagu loe. Paling-paling balon ijo loe meletus”, timpalnya enteng. Akhirnya mereka tertawa. Vokalis itupun kembali menyapa audiens.
“Okay..ladies and gentlemen. Kita hangatkan suasana ini dengan sebuah lagu rock”, teriaknya kembali.
“….Yee..yeee..yee…one two three..four..!”, kodenya kepada empat kawannya untuk mulai. Sebuah lagu milik Linkin’ Park yang berjudul “In The End” pun mulai dimainkan, padahal konser baru dimulai.
Perpaduan antara musik rap plus sejenis metal itu diawali dengan intro suara organ. Musiknya mulai bergema di ruangan megah itu tatkala bagian reff nya mulai dinyanyikan. Semuanya ikut berjingkrak dan bertepuk tangan.
“Ayo sama-sama bernyanyi…!”, ajaknya kepada audiens menirukan gaya Chester Bennington.

“I tried so hard..
And got so far…
But in the end…
It doesn’t even matter…
I had to fall…
To lose it all…
But in the end
It doesnt even matter…”

Sorak audiens bersahutan karena disajikan permainan apik dari “The Blues Band” dalam bermain musik. Termasuk Adrian yang kala itu sudah hadir diantara sekumpulan panitia. Iapun ikut bernyanyi lagu itu.

*****

Diluar aula, Destina tenggelam diantara sekumpulan mahasiswa. Hari itu, kampus nampak ramai sekali. Baginya, kondisi itu memudahkan dirinya untuk menyelinap diantara mahasiswa sehingga bisa mendekat ke aula dimana Adrian berada. Nampak di dinding tangga tanda penunjuk arah menuju aula di lantai dua. “Yes, ini pasti tempatnya”, ia yakin betul.

Dirinyapun larut diantara kelompok mahasiswa-mahasiswa yang ingin menonton acara di aula. Hingar bingar suara musik makin terdengar hingga ke sudut-sudut ruang kuliah. Beruntung, satu pekan itu jadwal kegiatan belajar mengajar belum aktif. Semua elemen kampus nampak tertuju perhatiannya pada kegiatan orientasi mahasiswa baru itu. Karenanya hampir semua kelas kosong tak ada aktifitas kuliah. Dosenpun riang.

Tiba diaula, Destina mulai menerawang sosok yang dicarinya. Satu persatu ia perhatikan, berharap matanya menangkap pria yang tengah menjadi targetnya. Diulangnya kembali tatapan matanya ke deretan panitia yang berada disamping podium, bak antivirus yang menscan komputer. Namun tak didapatinya Adrian. Ia menarik nafas dalam-dalam. Sambil bertanya dalam hati, Jangan-jangan salah masuk gedung ?” kemelutnya dalam hati.
“Akh..tak mungkin. Aku yakin ini pasti tempatnya”, ia melawan keraguannya. Ia sabarkan diri untuk tetap menunggu. Rupanya Adrian terhalang oleh podium sehingga Destina tak melihatnya. Adrian tengah berbincang-bincang dengan salah seorang aktivis yang juga kebetulan sebagai ketua umum Badan Eksekutif Mahasiswa di Fakultasnya.
Usai tiga buah lagu dinyanyikan, kedua MC Kembali tampil di podium.
“Kita beri applaus dulu untuk penampillan The Blues Band”, ujar MC perempuan itu audienspun menyambutnya dengan hangat.
“Baik, kita break dulu konsernya. Untuk acara selanjutnya adalah temu kangen bersama alumni. Kali ini telah hadir diantara kita dua orang alumni juga mantan aktivis di kampus ini. mereka berdua akan menyampaikan materi seputar dunia pers dan fenomena yang terjadi saat ini.

“Untuk itu marilah kita panggil salahsatu alumni kita. Beliau adalah mantan ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa kita pada periode sebelumnya. Kepada Kak Adrian kami persilakan untuk duduk sebagai panelis. Para panelis nanti akan ditemani oleh moderator cantik kita, Annida, yang juga mahasiswi semester enam”, ujar MC itu.

Adrian dan Annidapun beranjak dari sekumpulan panitia yang berada disebelah kanan podium. Keduanya melempar senyum sambil melambaikan tangan kepada audiens. Merekapun disambut dengan hangat.
“Adrian, here you are. Finally, i find you now”, ujar Destina dalam hati kegirangan dipojok aula.

Di sudut kiri podium, nampak salahseorang berkerudung putih tiba-tiba terlihat grogi dan kikuk. Butiran keringat dikeningnya nampak bermunculan. “Adrian ??”, ucapnya pelan diujung bibir.

“Prama dan prami sekalian, rasanya tak lengkap bila kehadiran alumnus kita hanya sendirian saja. Untuk itu nya kita panggilkan alumnus kita yang cantik jelita ini. Beliau adalah mantan aktivis juga. Periode yang sama dengan Kak Adrian dan beliau pernah menjabat ketua bidang pengembangan media Kampus di badan eksekutif mahasiswa, papar MC perempuan itu.
“Untuk itu mari kita berikan applaus untuk Kak Tania Larasati. Kami persilakan”, ujar MC pria itu yang disambut hangat oleh audiens. Taniapun beranjak menuju podium.
“Plok…plok…plok….suuuiitt…suwiiiiww…”, aulapun kembali berguruh berikut suara-suara ajaib.
“Tania ?”, Adrian terperangah ketika nama Tania dipanggil. Dirinya tak menyangka bakalan disandingkan dengan Tania. Ya, Tania yang pernah menjadi salahsatu pengurus BEM namun berbeda angkatan itu kini hadir dihadapannya. Sudah lama sekali ia tak pernah mendengar kabarnya.
“Hai..apa kabar Tania ?”, sapa Adrian ketika Tania menempati kursi yang tak jauh darinya.
“Alhamdulillah, ana khair. Assalamualaykum Adrian ?” sahut Tania sambil merapatkan kedua tangannya untuk bersalam etika muslimah.
“Wa’alaykumsalam, Tania”, jawabnya agak melongo karena berbeda sekali dengan penampilan Tania yang dulu. Iapun membalas salam dengan telapak tangan merapat pula.
“Apa kabarmu ya akhi Adrian ?”, tanyanya.
“Eh, hmm..alhamdulillah baik juga”, Adrian tak habis pikir begitu banyak perubahan yang terjadi pada sosok Tania. Namun ada satu hal yang tak lekang oleh waktu, yaitu Tania tetap cantik bahkan jauh lebih cantik dan anggun dibalut kerudung putihnya.
“Duh, apa gerangan yang telah membuat Tania begitu berbeda saat ini”, tanyanya dalam hati sambil curi pandang ke wajah Tania yang saat itu tengah berbincang kecil dengan moderator.

“Baiklah, kepada moderator kami persilakan untuk memandu jalannya acara hingga tuntas”, ujar MC menyapa Annida.
“Baik terimakasih, kepada Kak Renny dan Kak Dadan Ramadhan atas waktunya”, Tania mengawali acara.
“Prama dan Prami sekalian, juga audiens yang ada dibagian belakang. Telah hadir diantara kita dua orang panelis yang juga alumnus di Fakultas kita, yakni Kak Adrian dan Kak Tania. Keduanya akan memaparkan perkembangan dunia pers saat ini”, ujar Annida sambil dilanjutkan dengan pembacaan biografi masing-masing panelis.

“Sesi pertama akan diawali pemaparan yang akan disampaikan oleh Kak Adrian. Kami persilakan”, ujarnya.

“Terimakasih Annida. Baik, prama dan prami sekalian…Assalamualaykum warahmatullahi wabaraktuh..selamat siang. Apa kabar ? “, salam dan sapa Adrian yang diikuti jawaban serempak.

“Perkenalkan, nama Saya Adrian. Tinggal di Bogor juga. Saya sangat senang sekali bisa berjumpa dengan adik-adik dan juga kakak senior yang ada di Fakultas kita. Tak lupa juga, senang sekali bisa berjumpa lagi dengan kawan lama, Kak Tania yang cantik jelita ini “, papar Adrian mengawalinya sambil melirik kearah Tania. Tentu saja, Taniapun tersipu, raut wajahnya merona.

Dibagian belakang aula, Destina yang menyimak khusyuk pembicaraan Adrian mulai dibakar rasa cemburu.
“Adrian bilang cantik jelita ? hmm awas ya!”, gerutunya dalam hati. Ia mengigit bibirnya yang merah itu.
“Adrian..you make me jealous, honey”, tambahnya makin kesal.

“Baiklah, adik-adik sekalian. Saya berdiri disini bukan hendak menggurui namun lebih kepada proses sharing saja. Kita bisa sama-sama berdiskusi dalam forum ini. Judul yang saya sampaikanpun cukup ringan, yakni “Selayang Pandang Tentang Pers di Sekitar Kita””, prolog Adrian yang mulai memaparkan kajiannya dengan tampilan slide demi slide melalui infocus.

“Berdasarkan tinjauan etimologi atau sejarah asal-usul kata, Pers sendiri berasal dari bahasa Belanda. Pers berarti menekan atau mengepres. Selain itu ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa Pers itu padanan kata dari bahasa Inggris Press. Keduanya memiliki pengertian yang sama yakni menekan atau mengrepres”, jelas Adrian pada slide awal ini.

”Dulu, kegiatan cetak mencetak berita belum menggunakan alat atau mesin cetak seperti sekarang ini. Melainkan menggunakan tangan-tangan manusia. Caranya, kertas–kertas dipres dengan hurup timbul satu persatu. Naskah atau berita yang akan diterbitkan dalam media masa baik majalah atau surat kabar, sebelumnya harus dipres terlebih dahulu. Cara yang demikian itu, yaitu dengan sistem pres mengepres menjadi lekat atau akrab dalam dunia jurnalistik hingga sekarang ini”, ujar pria pengagum Kitaro itu sambil membuka slide berikutnya.

”Sedangkan untuk fungsi pers, bisa dibagi kedalam beberapa bagian antara lain Pertama, To Inform. Pers mempunyai fungsi untuk memberikan informasi atau kabar kepada masyarakat atau pembaca. Melalui tulisan-tulisa pada setiap edisinya, pers memberikan informasi yang beraneka ragam. Dengan membaca surat kabar, majalah, internet atau mendengar radio, audien dapat memperoleh berbagai informasi. Baik itu yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri karena pers memberikan kabar atau informasi tersebut maka pers berarti mempunyai fungsi informasi.

Kedua, To Educate. Pers mempunyai fungsi sebagai pendidik. Melalui berbagai macam tulisan-tulisan atau pesan-pesan yang dumuatnya, pers bisa mendidik masyarakat atau audiens sebagai pembacanya. Dengan demikian, pers mempunyai andil yang penting dalam memberikan pendidikan pada masyarakat dan bangsa.

Ketiga, To Control. Pers ditengah-tengah masyarakat mempunyai peran memberikan kontrol sosial, social control. Dengan tulisan-tulisannya, pers bisa melaksanakan atau memberikan kontrol sosial. Selain itu bisa memberikan berbagai kritik yang bersifat membangun dan berguna bagi masyarakat secara luas. Melalui tulisan-tulisannya bisa menyajikan kritik atau kontrol terhadap pihak-pihak yang melakukan penyimpangan yang dinilai bisa merugikan masyarakat luas. Pers, khususnya surat kabar dan majalah mempunyai pengaruh yang sangat luas dan juga mempengaruhi pendapat umum, public opinion. Karena kuatnya pengarus pers tersebut, sebagai lembaga pers merupakan kekuatan keempat setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Keempat, To Bridgers. Pers mempunyai fungsi sebagai penghubung atau menjembatani antara masyarakat dengan pemerintah atau sebaliknya. Komunikasi-komuniksi yang tidak dapat tersalurkan melalui jalur atau kelembagaan yang ada bisa disampaikan melalui pers. Karena sebagai perantara itulah maka pers disebut mempunyai fungsi sebagai penghubung.

Kelima, To Entertaint. Pers melalui tulisan-tulisannya bisa memberikan hiburan kepada masyarakat. Menghibur disini bukan hanya dalam pengertian hal-hal yang lucu saja. Melainkan juga bisa memberikan kepuasan-kepuasan, kesenangan-kesenangan, kesuksesan dan sebagainya. Demikian Annida yang bisa saya sampaikan sebagai pengantar”, papar Adrian.

”Baik, terimakasih kak Adrian. Bila ada hal-hal yang ingin ditanyakan, maka kami beri sesi khusus setelah kedua panelis menyampaikan materinya. Sesi berikutnya akan kita dengarkan paparan dari Kak Tania Larasati. Kami persilakan”, ujar Annida.

Selanjutnya giliran Tania yang menyampaikan materinya.
”Terimakasih Annida dan Kak Adrian. Mengenai prinsip atau dasar-dasar pers atau dunia jurnalistik sudah disampaikan oleh kak Adrian. Saya akan mencoba menyoroti persoalan-persoalan yang timbul sekarang ini. Sejak dicabutnya SIUPP pada akhir kejayaan era Orde Baru maka banyak sekali media yang bermunculan bak jamur di musim hujan. Setiap orang bisa dengan mudahnya menerbitkan media. Akibat dibukanya kran kebebasan berpendapat ini maka pada akhirnya melahirkan dua persoalan yang tak kalah seriusnya. Peran media di Indonesia saat ini bagaikan dua sisi mata pisau. Sisi positifnya, informasi bisa diakses secara cepat dan terbuka. Namun sisi negatifnya yakni semakin tidak terkontrolnya arus informasi yang tidak mendidik bahkan merusak tatanan yang ada di masyarakat. Misalnya, pemberitaan di media massa yang tidak lagi mengindahkan kode etik jurnalistik. Terlebih dengan perkembangan teknologi seperti sekarang ini. Sehingga berita yang disajikan melalui headlinenya cenderung bermuatan agitasi atau provokasi. Sebagian besar media massa saat ini lebih berorientasi pada aspek bisnisnya saja, sehingga mengabaikan sisi idealisnya sebagai pilar ke empat dalam sebuah negara. Selain itu diperparah dengan ulah beberapa oknum wartawan yang mengabaikan kode etik dalam pemberitaan sebuah peristiwa. Saya tidak men-generalisir, namun perlu diakui bahwa ada sejumlah oknum jurnalis yang keluar dari koridor sebagai insan pers. Wartawan yang baik harus bisa menyajkan sebuah berita secara objektif, artinya ia mampu memisahkan mana yang menjadi fakta sesungguhnya dan mana yang merupaka opini dirinya. The real fact dan opinion harus tetap jelas batasannya. Namun sayang yang terjadi sekarang ini adalah sebaliknya. Banyak terjadi–saya katakan sekali lagi, meski tidak semuanya– wartawan cenderung terbawa kedalam grey area. Tugas utama seorang wartawan adalah menunjukan fakta dengan baik, bukan mengatakan. Demikian pengantar dari Saya“, ujar gadis berkerudung putih itu.

”Baiklah, terimakasih kak Tania dan juga kak Adrian. Audiens sekalian, bila ada pertanyaan, kami persilakan”, lempar moderator.
“Saya kak”, ujar salahseorang prami sambil menangkat tangan.
“Silakan. Namanya siapa dan kelompok berapa ?”
Saya Ratih Komara Sari dari kelompok Tiga”, ujarnya.
“Silakan”,
“Begini kak, bila mengurai permasalahan jurnalisme secara umum tentu diperlukan waktu yang cukup panjang. Berbagai persoalan datang silih berganti tak kunjung reda. Satu peristiwa yang diberitakan akan disusul oleh berita yang lain, sehingga kejadian atau peristiwa yang lalu tidak dapat lagi diikuti dengan baik, sejauh mana peristiwa atau kasus itu berakhir”, jelasnya sambil menarik nafas.

“Lalu pertanyaanya apa ?”, tegas Annida selaku moderator.
“Pertanyaannya adalah dimana letak fungsi pers untuk mengontrol, sebagaimana yang sudah disampaikan diawal bahwa pers berfungsi sebagai social control ?, itu saja. Terimakasih”,ujar prami berambut panjang ini.

“Baik, ada lagi yang lain ?”, tantang moderator.
“Saya Kak..” teriak seorang prama diujung kanan aula.
“Ada lagi ?” tanya Annida untuk kedua kali.
“Diujung kanan sana Annida..” ,tunjuk Adrian
“Oh maaf. Saya tidak lihat. Silakan menuju mic yang di tengah. Panitia mohon dibantu”, pinta moderator.
Seorang Prama berjalan melangkahi deretan prama dan prami yang duduk berlesehan ria.
“Permisi..permisi….”, dengan sopannya ia melangkahi deretan prama dan prami lainnya.
“Adaawwwwww……aduuhhh tanganku diinjek gilaaaa”, teriak seorang prami kesakitan. Kawan lainnya ikut terkejut dan menoleh kearahnya.
“Aduuhhh maaf, maaf, ga sengaja…sakit ya?”, tanyanya berharap dapat maaf.
“Ya iyalah…..sakit bro”, ujar prami itu dengan sewot sambil mengelus jari-jemarinya.
“Maafin aku ya Mirnawati Syarifah?”,
pintanya sok akrab usai membaca name tag prami itu.
“Iyaaaa gundul Fazri”, sahutnya masih sewot yang disambut tawa prama dan prami sekitarnya.

“Bisa lebih cepat prama”, perintah Annida kepada prama itu.
“Iya kak”, sahutnya sambil tergesa-gesa.
“Silakan. Sebutkan namanya siapa dan kelompok berapa ?”, tanya moderator.
“Mirnawati Syarifah kak, dari kelompok satu ?”, jawabnya polos dan spontanitas melalui mic yang digenggamnya. suaranya nyaring terdengar hingga kesudut-sudut aula.
“Apaaaa…? Mirnawati Syarifah ? ga salah tuh ?, moderator tercengang. Begitupun Tania dan Adrian saling berpandangan lalu tersenyum. Sontak audiens di aula itupun terbahak-bahak mendengar ucapan prama itu.
“Maaf bisa diulang ? namanya siapa ?”, tanya moderator.
“Mirnawatiiiiiiii Syarifaaah”, teriak Audiens kompak. Merahlah wajah prama yang satu itu begitupun prami pemilik nama itu. Suara audiens bergemuruh mentertawakan kelucuan yang dibuat prama itu.
Sambil tersenyum geli Tania kembali menanyakannya.
“Oohh…nama Saya Fazri Rahadi. Dari kelompok tujuh”, jawabnya sambil tersipu.
“Ooh Fazri. Kenapa tadi jadi Mirnawati ?” ledeknya.
“Mmm…maaf kak, tadi saya menginjak tangannya Mirnawati”, jawabnya jujur. Gelak tawapun kembali terjadi.
“Oh, ya sudahlah. Nanti kalian selesaikan saja berdua secara adat”,
“Baik kak”, jawabnya ringan.
“Apa yang ingin ditanyakan ?” timpal Annida.
“Begini kak, Saya ingin menayakan keberadaan media yang memberitakan gosip bahkan aib seseorang. Misalnya infotainment atau artis-taintment. Apakah pemberitaan itu merupakan bagian dari fungsi pers ?. Terimakasih”, tanyanya dan iapun kembali ketempatnya dengan sopan tanpa melewati Mirnawati Syarifah.

“Baiklah audiens. Kita telah punya dua pertanyaan. Silakan ditanggapi oleh panelis pertama”, sodor moderator.

“Pertanyaan bagus. Saya sependapat dengan penanya. Persoalan demi persoalan besar kerap terjadi di negeri kita. Mulai dari berita yang menyangkut koalisi di pemerintahan, rekening petinggi kepolisian, pimpinan kejaksaan, mafia pajak, korupsi di BUMN, asusila anggota dewan terhormat yang menginjak kehormatannya sendiri, pembunuhan yang melibatkan pimpinan KPK, asusila artis, perampokan bank, kasus terorisme yang makin tidak jelas, peristiwa bencana alam yang datang silih berganti hingga perseteruan dengan negara tetangga dan lain sebagainya. Kejadian-kejadian itu tidak dapat lagi diikurti secara detail perkembangannya. Masyarakat kita sangat banyak dihadapkan oleh persoalan-persoalan yang tak jelas juntrungannya. Yang terjadi saat ini adalah satu kasus akan hilang dengan sendirinya karena ditelan kasus yang baru. One case replaced by another case, satu persoalan “dianggap selesai” bila ada persoalan lain yang muncul belakangan. Ironis khan ?. Aparatur negara kita tidak cakap dalam menyelesaikan persoalan secara cepat dan tepat. Semuanya selalu ada pertimbangan dan persinggungan antara hukum dan kekuatan politik. Belum lagi intervensi kekuatan politik terhadap ranah hukum, yang tentunya sering berakhir dengan pemakluman-pemakluman antar kekuatan politik, dengan kata lain ”ada main mata”. Praktik yang kurang sehat seperti inilah yang justeru menjadi bencana sistemik bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Bagaimana mungkin social control bisa berfungsi dengan baik. “, papar Adrian disambut tepuk tangan audiens.

“Jadi, kondisi saat ini kurang mendukung terciptanya kontrol sosial. Memang sangat dilematis. Peran pemerintah yang tegas dan adil harus lebih banyak dalam hal ini. Tentu dengan tetap menghargai kekebasan pers yang positif”,

“Lalu bagaimana dengan status kasus-kasus yang terdahulu tadi ?” , sambung moderator.
“Maksudnya ?”
“One case tadi”
“Bila menyangkut masalah hukum. Maka hukum itu sendiri yang akan menyelesaikan. Pengertian “dianggap selesai” tadi bukan meniadakan proses hukum. “Selesai” dalam artian masyarakat dikondisikan untuk lupa dengan kasus terdahulu. Saking banyaknya persoalan hehehehe…” tambah Adrian.
“Bagaimana penanya ? apakah menjawab pertanyaan yang diajukan ?”, tanya moderator cantik itu.
“Berarti salahsatu fungsi pers sebagai kontrol sosial tadi belum bisa berjalan?”, timpal prami tadi.
“Belum bisa maksimal tepatnya”, jawab Adrian.
“Baik, lanjut pada pertanyaan kedua. Tentang keberadaan infotainment atau artis-tainment yang berkembang saat ini. apakah infotainment itu merupakan bagian dari fungsi pers? silakan kak Adrian”, pinta Annida.
“Pertanyaan yang mudah namun agak sulit untuk menjawabnya. Baiklah, saya berpendapat bila infotainment itu disajikan sesuai fungsi pers dan kode etik jurnalistik maka sah-sah saja dikategorikan kedalam bagian fungsi to inform tadi. Hanya saja, dalam prakteknya infotainment cenderung lebih mengarah pada opini dari seorang pewarta itu. Bahkan informasi yang disajikan tidak lagi menghormati ranah privasi yang seharusnya dilindungi dan sangat pribadi sekali. Belum lagi dampak sosial dan psikologi dari pemirsa dibawah umur. Tema yang diangkat selalu berkisar masalah percintaan, perselingkuhan, kekerasan rumah tangga, bahkan perceraian. Informasi ini begitu mudahnya di tonton oleh berbagai golongan umur dimasyarakat. Ini dikarenakan juga tidak adanya aturan jam tayang pada jadwal atau acara televisi. Dengan demikian makin komplitlah persoalan yang terjadi di dalam masyarakat. Jujur Saya katakan, bahwa pemberitaan info seperti itu tidak membawa manfaat yang baik bagi masyarakat. Justeru sebaliknya”.

“Hmm..nampaknya rumit sekali ya kondisi pers di negara kita ini”, sela Annida.
“Betul sekali dan ini tantangan bagi kita sebagai generasi muda untuk menyelesaikan persoalan yang kompleks ini”, tutur Adrian.

“Baik. Selanjutnya kita dengarkan paparan dari kak Tania untuk dua penanya tadi. Silakan kak”, ujar Annida mempersilahkan.
“Terimakasih Annida. Wah, nampaknyua makin seru aza ya. Saya sejalan dengan penjelasan Kak Adrian mengenai kondisi kontrol sosial kita yang tidak berjalan dengan baik. Dalam hal ini saya berpendapat bahwa peran pemerintah dalam hal penyelesain yang berkaitan dengan masalah hukum perlu lebih tegas lagi untuk menyelesaikannya. Hal ini bukan persoalan yang mudah, namun perlu proses dan ketegasan dari pihak yang terkait”, ujar gadis berparas cantik ini.

“Lalu mengenai persoalan infotainment itu sendiri gimana kak ?”, tanya moderator.
“Terus terang saya sangat prihatin sekali dengan perkembangan saat ini. Media seharusnya dijadikan sarana untuk mendidik masyarakat dengan pemberitaan yang positif dan berguna. Infotainment sarat dengan kepentingan bisnis media. Mereka tidak lagi menjalankan fungsinya untuk mengedukasi masyarakat. Sisi komersial lebih diutamakan dibandingkan efek negatif yang muncul atas pemberitaan tersebut. Kode etik jurnalistik tidak lagi menjadi kaidah-kaidah yang seharusnya menajdi landasan dalam pemberitaan. Para jurnalis tersebut semakin asyik dengan petualangannya mengupas kehidupan pribadi seseorang yang jelas-jelas menjadi public figur di masyarakat. Terkadang norma-norma sosialpun dilanggar demi sebuah oplah atau rating iklan. Bagaimana mungkin bangsa ini mau maju bila aktivitasnya hanya disibukkan dengan hanya menonton gosip dan berita tak bermutu”, papar Tania dengan semangatnya. Audienspun menyambutnya dengan tepuk tangan.

“Ditinjau dari sisi hukum positif, tindakan mencemarkan nama baik seseorang itu tidak dibenarkan karena merugikan seseorang atau pihak yang menjadi korban pemberitaan. Terlepas dari benar tidaknya suatu kasus tersbut. Bilapun benar adanya, tentu masih ada kode etik yang mengatur hal itu. Apalagi bila ternyata pemberitaan itu salah, tentu akan menjadi fitnah yang berakibat pada tuntutan. Sedangkan bila ditinjau dari hukum agama, maka tindakan tersebut sama seperti yang digambarkan di dalam Al Qur’anul Karim, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang dan mencela perbuatan ghibah, sebagaimana firman-Nya (artinya) : “Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing (ghibah) kepada sebagian yang lainnya. Apakah kalian suka salah seorang diantara kalian memakan daging saudaramu yang sudah mati? Maka tentulah kalian membencinya. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih.” (QS. Al Hujurat: 12).

Dari redaksionalnya saja diisyaratkan bahwa tindakan tersebut sangat dilarang bahkan dianalogikan sebagi perbuatan yang memakan bagkai saudaranya sendiri. Apakah kita sudi dan suka untuk memakan bangkai saudara kita sendiri ? tentu kita akan merasa jijik bukan. Begitu pula dengan perbuatan menggunjing, menggosipkan orang lain yang belum tentu ia seperti yang kita tuduhkan”, papar Tania. Adrian sependapat dengan penjelasan Tania yang begitu tegas dan jelas.

Sementara itu, Destina yang sedari tadi menyimak dengan baik, merasa kagum pula dengan kecerdasan seorang Tania.
“She must be a smart girl”, kagum Destina. Diliriknya jam tangan mungil itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.45. Dirinya teringat pesan yang disampaikan kepada Bi Onah bahwa dirinya harus sudah tiba dirumahnya sebelum pukul 12.30. Akhirnya ia memutskan untuk keluar dari aula. Segera ia langkahkan kakinya untuk keluar gedung itu untuk menelepon bi Onah.
“Halllooo.. biii…. Hallooo…”,sapa Destina lewat ponselnya.
“Iya non, ada apa ?”, tanya bi Onah diujung ponsel.
“Papa-Mama gimana bi ?”
“Oh ya non. Tuan sama nyonya barusan saja pergi ke rumah Tante Mira, setelah itu mau pergi mampir ke swalayan dulu. Katanya pulangnya mungkin agak sorean soalnya sekalian kondangan ke bu Fatma di Cibinong. Non kapan pulangnya ?”
“Bentar lagi dech bi”, ujar Destina girang karena bisa leluasa untuk pulang agak telat.
“Buruan pulang ya non. Soalnya bibi jadi bingung kalo ditanyain tentang non”, bi Onah menghiba.
“Iya bi. Udah dulu ya”
“Ya non. Jangan lupa oleh-olehnya ya…hehehe”, pinta si bibi sambil ketawa
“Yeee..emangnya aku lagi rekreasi apa. Ya udah bi, ntar aku beliin cemilan. Daagghh biiii”, Klik.
Destinapun kembali ke aula. Suasanapun semakin hidup dengan diskusi hangat antara audiens dengan panelis tersebut. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan oleh prama dan prami.
“Saya ingin menanyakan, pertama, bagaimana caranya bisa menjadi penulis yang baik?”,
Kedua, apa yang disebut dengan bahasa jurnalistik ?”, tanya prami yang bernama Halimatu Sya’diah itu.
“Silakan langsung dijawab Kak. Mulai dari Kak Tania dulu”, ujar Annida.
“Baik. Terimakasih moderator. Untuk pertanyaan pertama, menjadi penulis yang baik itu merupakan hasil dari proses pembelajaran yang terus menerus. Dari proses itulah hingga menjadi suatu kebiasaan. Maka kebiasaan itu pulalah yang menjadikan sesorang semakin mahir dalam menulis. Jadi intinya, biasakan menulis hingga menjadi kebiasaan kita. Insha Allah, kitapun bisa menjadi penulis yang baik.
Pertanyaan kedua, Saya mengutip pendapat Professor. S. Wojowasito, seorang ahli di bidangnya. beliau mengatakan bahwa bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa. sebagaimana yang tampak dalam media harian dan majalah. Dengan fungsi yang demikian itu, bahasa tersebut haruslah jelas, mudah dibaca oleh mereka dengan ukuran intelek minimal. Sehingga sebagian besar masyarakat yang melek hurup dapat menikmati isinya. Walaupun demikian, tuntutan bahwa bahasa jurnalistik haruslah baik, tak boleh ditinggalkan. Dengan kata lain, bahasa jurnalistik yang baik haruslah sesuai dengan norma-norma tata bahasa, yang antara lain terdiri dari atas susunan kalimat yang benar serta pilihan kata yang cocok. Demikian”, Papar gadis penggemar pempek palembang ini.

“Selanjutnya Kak Adrian silakan ditambahkan”, ujar moderator.
“Baik. Adik-adik sekalian. betul apa yang disampaikan kak Tania tadi. Karena kebiasaanlah kita menjadi terbiasa. Ibaratnya, ketika kita masih kecil dulu dan belajar berjalan, pasti pada awalnya tertatih-tatih bahkan jatuh lalu kita mencoba dan mencoba lagi tanpa kenal rasa putus asa. Akhirnya dari usaha yang gigih itulah akhirnya bisa berjalan dengan tegak. Bahkan tidak hanya berjalan, berlaripun kita mampu. Tidak hanya itu pula, kitapun bisa menaiki dan menuruni tangga, naik keatas meja, meloncat dan berteriak. Menyenangkan bukan ?. Jadi bisa kita simpulkan, bila ingin menjadi penulis, maka berlatihlah untuk terus menulis. Tentu harus dibarengi pula dengan kegiatan membaca sebagai proses input pengetahuan. Mempelajari gaya bahasa penulis besar merupakan cara yang mudah dilakukan, yakni membaca karya-karya mereka. Dari sana kita bisa mengetahui bagaimana seorang penulis menyampaikan, mengungkapkan, menjelaskan dan menunjukan akan suatu gagasan atau ide dalam sebuah tulisan. Untuk pertanyaan kedua tentang bahasa jurnalistik, saya juga ingin mengutip pendapat dari seorang sastrawan dan wartawan senior, yaitu Almarhum Bapak Rosihan Anwar dalam bukunya yang berjudul Jurnalistik Indonesia dan Komposisi. Beliau berpendapat, bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik. Bahasa pers adalah salahsatu ragam bahasa. Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas, yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, lugas dan menarik. Namun jangan dilupakan, bahasa jurnalistik harus didasarkan pada bahasa baku, dia tak dapat menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa. Begitu juga dia harus memperhatikan ejaan yang benar. Akhirnya dalam kosa-kata, bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat. Demikian. Terimakasih”, urai Adrian
“Kak, Saya ada pertanyaan”, tanya moderator.
“Silakan Annida”
“Apakah setiap kita memiliki bakat untuk menjadi penulis ?”
“Saya katakan Iya. Mengapa demikian ?. Karena setiap orang sebetulnya adalah penulis. Contoh paling sederahana adalah setiap orang pasti pernah memiliki buku diary untuk curhat, Kalaupun tidak, pasti setiap orang punya akun pribadi, seperti facebook, twitter, jejaring sosial lainnya. Tulisan bisa berupa catatan doa, jampi-jampi, surat cinta, hapalan lainnya atau mungkin catatan utang-piutang..hehehe. Dari situ bisa kita katakan bahwa pada dasarnya setiap orang yang sudah mampu menulis dan membaca secara alamiah sudah memiliki bakat menjadi seorang penulis. Apalagi rekan-rekan yang ada diruangan ini, sudah pasti memiliki bakat dan kemampuan yang baik untuk menjadi seorang penulis. Proses selanjutnya adalah mengasah secara terus menerus dua hal tadi. selain itu dibarengi pula dengan semangat untuk tetap menulis. Intinya, bila ingin menjadi penulis, maka mulailah menulis dari sekarang. Lakukan dan lakukanlah secara terus menerus. Terimakasih”, papar Adrian.

”Selanjutnya Kak Tania, bagaimana kriterianya seseorang dikatakan menjadi seorang penulis yang baik ?”, tanya Annida lagi.

“Baiklah Annida. Penulis yang baik dapat dilihat dari hasil tulisannya. Tulisan yang baik dapat dilihat dari kandungan yang ada didalamnya. Kandungan yang baik dilihat dari manfaat yang diperoleh dari hasil membaca tulisan tadi. Selanjutnya manfaat tersebut bisa mengarahkan kehidupan manusia kearah yang lebih baik lagi. Jadi penulis yang baik selalu menghasilkan karyanya yang penuh “nutrisi” dan “gizi” yang baik bagi pola pikir masyarakat”, papar Tania.

“Bisa digambarkan dengan contohnya Kak ?”, pinta Annida.
“Contoh kecil misalnya, untuk sebuah media harian seperti koran. Kita bisa bandingkan penggunaan kata pada headline sebuah koran yang berisi berita tindak asusila seperti perselingkuhan, perzinahan bahkan pembunuhan ditampilkan dengan headline yang bombastis dan vulgar. Mereka tidak menggunakan bahasa yang lebih santun dan baik. Padahal diluaran sana berita itu dibaca pula oleh anak-anak SD hingga SMU. Bila hal ini terus dipupuk dan menjadi suatu hal yang biasa, dapat dipastikan generasi muda yang akan datang akan semakin jauh dari penggunaan bahasa yang baik dan benar. Jauh berbeda bila kita bandingkan media harian besar lainnya yang masih konsisten dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Citra sebuah media akan sangat bergantung dari penggunaan bahasa yang digunakan. Untuk media elektronik seperti televisi, banyak kita temukan berita-berita atau tayangan yang negatif. Untuk contohnya, Saya pikir teman-teman bisa saksikan setiap hari”, tambah Tania sambil tersenyum.

Baiklah kak Adrian dan kak Tania, Penjelasan demi penjelasan sudah disampaikan dalam diskusi kita yang singkat ini. Dari hasil diskusi kita, Saya mencoba membuat sebuah rangkuman bahwasannya perkembangan dunia jurnalistik kita saat ini sangat memprihatikan. Menjadi tugas kita bersama untuk terus memperbaiki kualitas di masa yang akan datang. Selain itu untuk menjadi seorang penulis yang baik diperlukan proses belajar terus menerus tanpa mengenal putus asa. Sedangkan untuk sebuah karya tulis yang baik bagi masyarakat tentu dibutuhkan kandungan yang bermanfaat bagi perkembangan pola pikir masyarakat”, ulas Annida menarik kesimpulan.

“Selanjutnya bagi teman-teman yang masih ingin berkomunikasi atau sharing dengan kedua kakak senior kita ini, teman-teman dapat menghubungi via email, twitter, akun facebook. Cukup jelas ?”, tanya Annida.
“Jelasss kak”, jawab audiens.
“Baiklah adik-adik prama dan prami sekalian, kita akhiri diskusi ini. Kak Tania dan Kak Adrian, terimakasih atas kehadirannya. Semoga diskusi kita pada hari ini dapat bermanfaat bagi kita semua”., tutup Annida.
”Terimakasih juga telah mengundang kami”, ujar Adrian.
”Terimakasih juga Annida dan kawan-kawan panitia”, sambung Tania.

****
Usai acara diskusi, Destina merasa harus segera keluar aula, ia khawatir penyamarannya diketahui oleh Adrian. Sementara itu Tania dan Adrian berbarengan meninggalkan ruang aula.
“Tania, kamu sekarang tinggal dimana ?”, tanya Adrian kala menuruni tangga gedung.
“Sekarang aku tinggal di Jakarta”, jawab Tania.
“Oh ya”
“Kamu sendiri gimana Ad”, tanyanya.
“Aku masih tinggal disini temani Ibu. Kegiatan kamu apa sekarang ?”
“Mengajar dan menjadi penulis sebuah majalah bulanan”
“Wah hebat kamu Tania”
“Ah biasa saja koq”
“Kuliah kamu gimana ?”, Tania balik bertanya.
“Program pascasarjanaku tinggal tahap akhir”
“Sudah semester tiga dong ?”
“Iya. Lagi proses pengajuan tesis”
“Kamu sendiri?”
“Aku masih diperusahaan yang sama. Sambil menulis di media, aku juga lagi mencoba untuk merampungkan sebuah karya tulis fiksi remaja”
“Cerpen ?”, tanya Tania.
“Sepertinya lebih panjang dari cerpen..hehehe”
“Sejenis novel dong”
“Boleh dibilang begitu”
“Wah, bagus juga tuh. Nanti kalau sudah terbit, aku minta dikirimin satu eksemplar dong”, pintanya.
“Boleh. Doain saja semoga sukses!”
“Amien. Semoga karyamu terpampang di toko buku dan gerai-gerai..hehehe”
“Amien. Thanks Tania”, balas Adrian.
“Kakak-kakak, maaf ya saya potong. Panitia sudah siapin jadwal berikutnya untuk Kak Tania dan Kak Adrian. Kita lunch dulu ya”, tutur Annida
“Waduh terimakasih Annida. Jadi ngerepotin”, ujar Tania.
“Wah..jadi enak nih..hehehe. Tak apalah Tania, sekali-kali kita ngobrol-ngobrol dulu”, ajak Adrian.
“Hehehe, bolehlah”
“Oh ya, makan siangnya mau di sekretariat atau di kantin ?”, tanya Tania.
“Kantin saja”, ujar keduanya kompak. Tak lama mereka berdua berpandangan.
“Duilee…kompak nian. Persis penyanyi india saja”, ledek Annida.
“Hahahahaha…” Adrian tertawa. Tania hanya mengulum senyum di bibir. Merekapun menuju kantin yang tak jauh dari sekretariat BEM.
“Aku pesan sendiri saja. Kamu pesan apa Tania ?”
“Hmmm…apa ya ?, sejenak berpikir sambil melihat menu yang ada.
“Nasi goreng spesial dan jus alpuket pake susu cokelat”, timpal Adrian.
“Lho koq kamu masih inget sih Ad. Itu khan kesukaanku waktu kuliah dulu”, tutur Tania.
“Ya dong. Tapi masih doyan khan ?”
“Masih dong. Hhmm..kalo gitu, aku pesenin kamu Kwetiaw spesial dan nasi putih ditaburin bawang goreng. Minumnya jus mangga pake sedotannya tiga”, balas Tania sambil tertawa. Adrianpun tak menyangka Tania masih ingat kebiasaanya dulu. Bahkan jumlah sedotan yang dipintanya itupun ia masih hafal betul.
Annida hanya terpaku bengong melihat tingkah diantara keduanya.
“Annida, koq kamu bengong ?”, sapa Adrian.
“Eh, nggak koq. Cuman ngiri aza melihat keakraban Kakak berdua”, sahut gadis calon kandidat ketua BEM tahun depan ini.
“Hehehehe….”Adrian tertawa. Taniapun tersenyum. Ketiganya larut dalam pembicaraan. Tak lama, seorang ketua BEM ikut gabung dalam acara lunch tersebut.

****

Sementara itu di halte depan kampus, Destina masih menunggu angkutan kota yang kosong. Berkali-kali ia melambaikan tangan, namun semuanya sesak dengan penumpang. Sedangkan ketiga mahasiswa yang sedari tadi mengawasi gerak-geriknya nampak mulai memberanikan diri. Satu orang diantaranya mulai menyapa.
“Ehem..mau pulang ya mbak ?”, sapa si kribo. Destinapun spontan menoleh kearahnya.
“Iya”, jawabnya dengan cuek.
“Pulang kemana mba ?” tanyanya lagi. Destina tetap acuh. Bersikap dingin dan tak bersahabat. Lantas ia langsung merogoh handphonenya dan berlagak seolah-olah menerima panggilan seraya mengambil jarak. Si kribo kecele, dua orang temannya memberikan kode jari jempol ditekuk kebawah yang berarti “access denied” sesuai kesepakatan. Iapun mundur lalu duduk dengan kecewa di bangku halte. Dengan sigap, si plontos maju dan mendekat.
“Wah, penuh terus nich angkutan umumnya”, ujarnya tanpa diminta berbicara. Destina tak bergeming, ia bahkan semakin waspada. Dipeluknya dengan erat tas gendong itu. Lantas ia segera bergeser menjauhi pria yang plontos ngoceh sendiri itu. Terlihat mirip orang kurang sehat.

Dua orang rekannya melihat sambil terkekeh-kekeh. Si kribo dan si kacamata tebal tak tahan melihat temannya merana. Keduanyapun memberikan kode dua jari jempol ditekuk tanda “access denied-fatal error”. Si plontospun mundur dengan langkai gontai. Tinggal giliran si kacamata yang akan menjajal kemampuan mendekati sekaligus menaklukan seorang gadis. Baru tiga langkah kedepan, tiba-tiba Destina melambaikan tangannya dan sebuah angkutan umum pun berhenti di depannya. Dalam hitungan detik Destina sudah berada dalam angkutan umum dan perlahan meninggalkan halte depan kampus itu. Si kacamata tebal hanya diam menganga tak percaya targetnya sudah pergi. Tak ayal lagi, si kribo dan si plontos tertawa terbahak-bahak menahan geli sambil memegang perutnya.
” Hahahaha…..”
”Hiihihihihihih…..kekekekeke”, mereka mentertawakan sambil menunjuk-nunjuk kawannya yang bengong itu.
Keduanya mengucek-ngucek rambut si kacamata tebal.
”Kasiaaan dech loe. Belum mulaipun sudah ditolak”, ejek keduanya.
”Glek!”, si kacamata tebal hanya mampu menelan ludah. Kacamatanya melorot seiring kembang-kempis hidungnya yang merekah.
“Lebih kasian lagi loe berdua, udah ga ada kesempatan lagi. Ditolak dengan sukses. Kalo gue masih ada peluang dikemudian hari”, timpalnya tak mau kalah seraya berharap. Ketiganya saling mentertawakan nasibnya masing-masing. Sementara Destina telah pergi jauh meninggalkan halte. ****

6

”Brrrrrrmmmmmmmmm….klik”!, Kawasaki Ninja merah itu terhenti di depan sebuah rumah Asri dikawasan komplek elit. Sore itu nampak cerah. Sisa-sia sinar mentari masih terlihat dibalik awan.
”Salamualaykum, selamat sore tante!”
”Wa’alaykumsalam…sore juga. Eh nak Adrian, silakan masuk!”, balas seorang nyonya rumah yang sedang menggunting daun tanaman hias itu.
”Destina ada tante ?”
”Destina tidak ada…dia lagi liburan ke eropah. Pulangnya bulan depan”, Tiba-tiba seseorang berteriak dari dalam rumah.
”Hehehehe…”, Adrian tersenyum
”Nah tuh dia nyahut dari eropah. Masuk Ad!”
”Makasih tante”
”Silakan duduk. Tante panggilkan dulu”
”Iya tante. Terimakasih”
Tak lama.
”Hai Ad….apa kabar ?”
”Hai juga….baik. Kamu sendiri ?”
”Baik”, jawab Destina sambil tersenyum manis.
”Cerah sekali dunia hari ini”
”Secerah hatiku tentunya”
”Yooo mariii””
”Mau minum apa ?”
”Apa aza dech”
”Oo….ya udah kalo gitu”
”Thanks”
”Biiiiiiii….”, panggil Destina.
”Yaaa non….”
”Tolong ambilin air kolam dibelakang ya. Tuangin pake gelas”, teriak destina.
”Maksud non ?”, balas si bibi heran.
”Eh, buat apaan dan siapa ?”, sela Adrian.
”Lha…tadi yang minta apa aza siapa ?”
”Yeeeee……kamu duluan yang minum ya”
”Hehehehe. Eh gimana acara kamu ke kampus ?”
”Gimana apanya ?”
”Seru ga ? sukses dong ketemu yang bening-bening ?”
”Hehehehe…apaan yang bening ? jidat profesor iya bening-bening”
”Ah, masa siiiihhhh ? xixixixixixi ”
”Ah apaan sih…?? ”
”Gpp. Bagi-bagi dong ceritanya..”
”Ya. Pokoknya ramai dan antusias sekali mahasiswanya”
”Mahasiswinya ?”
”Sama saja”
”Mantan-mantan ?”
”Yeeeeeee…apaan sih nech. Ngawur dech kamu ?”
”Hehehehe. Lucu dech kamu”
”Enak aza. Emangnya aku politikus”
”Daripada polikucing….”
”Mendingan poli pantai”, sela Adrian.
”Wakakakaka..”
”Eh non, kalo menurut bibi sih mendingan bikin poliklinik dua puluh empat jam. Soalnya dikampung bibi kalo orang-orang mau berobat agak susah. Paling-paling ke puskesmas, itu juga ngantrinya ga ketulungan”, cerocosnya tiba-tiba sambil menaruh segelas es jeruk.
”Oooo..begitu ya bi”, Adrian meladeni.
”Idiih..apaan lagi nih si bibi. Nyambung aza kayak gerbong kereta”,
”Ya ga apa-apa non, kalo pasiennya ngantri kayak kereta khan polikliniknya tambah maju”, balasnya tak mau kalah.
”Jiaaaahhhh tambah jauh kemana-mana nech. Ke neraka jauh apalagi ke surga”, Destina kesel.
”Betul non, kalo bikin poliklinik itu khan sekalian amal. Bisa masuk surga dan jauh dari neraka”, jawabnya lagi polos sambil mengacung-acungkan serbet.
”Hihihihihihi”, Adrian cekikikan.
”Haduuuuhh…..bibiiiii…Cukuuup!!”, bentak Destina.
”Lho koq jadi marah sih non ?”
”Ga. Aku ga marah. Sekarang bibi temenin mama gih sono!”
”Eh, non udah lupa ya sandiwara tadi siang ?”, ledek bi Onah sambil tersenyum.
Destina terperanjat dan langsung menarik si bibi kedalam. Adrian bengong.
”Sandiwara ??”, ucap Adrian yang ditinggal sendiri di teras depan.
”Sssttt…….jangan cerita-cerita ya! Awas!”, ancam Destina.
”Emang kenapa non ?”, polosnya.
”Ssssssttt…udah. Jangan dibahas lagi. Itu rahasia kita berdua.Titik!!
”Khan mas Adrian ga tau”
”Ya udah…! sekarang bibi ngapain kek, asal jangan nimbrung aku sama Adrian”
”Kerjaan bibi udah beres non”
”Ya udah…bibi ngapain kek, belajar maen piano kek atau belajar fesbukan kek”
”Ah ga bisa. Malu ama jempol”, keluhnya.
”Ya udah maen Sudoku punyaku aza. Tuh dilaci. Kalo bibi menang, hadiahnya liburan tiga hari satu malam di mesir sama mumi firaun”
”Tiga hari satu malam ??”, ucap bibi heran. Matanya dijerengkan ke kanan. Tanda berpikir keras, karena belum dapet feelnya.
”Iya. Tiga hari satu malam!” , timpal destina lagi sambil berlalu dihadapannya.
”Tiga hari satu malam…..tiga hari satu malam…”, ucap bibi berulang yang terdengar hingga halaman depan rumah. Destina cekikikan.
”Hihihihihi….pikirin dech tuh ampe ganti presiden”
”Duh jahilnya kamu”
”Biarin. Daripada nimbrung terus urusan dalam negeri orang”
”Cieeeee…..Amerika kaleee”
”Hehehe..”
”Diminum Ad aernya”
”Udah tuh separo”
”Hehehe..Iya. Aku juga tau, cuman nyindir aza koq”
”Upsss, emang belon ada yang nyuruh ya..?”
”Hehehe….”
”Diminum ya mbak!”
”Oh iya. Silakan pak. Haus ya pak…?”, ledek Destina.
”Srupuuuutt……Akkkhh…..dunia tambah cerah lagi”, ucap Adrian sambil mengusap lehernya.
”Hihihihi”
”Ad…”
”Apa ?”, jawab Adrian sambil menatap wajah Destina yang bening.
”Kamu sayang aku gak ?”, tanyanya manja.
”Iya dong!”
”Koq pake dong ?”
”Iya honey, kenapa sih ?”
”Ah enggak, tanya aza. Hehehe, makasih ya Ad!”, ujarnya sambil tersenyum.
”Tidak ada yang cantik di dunia ini selain kamu dan aku sangat sayang sama kamu!”
”Aaaaahhh gombal…tapi tadi siang…”, cetusnya. Nyaris saja dia melanjutkan tentang Tania yang dibilang cantik jelita.
“Tadi apa ?”, Adrian heran.
“Upss..ga ding. Kamu gombals!”
”Wedhus gombal dari gunung merapi ya ?”
”Yeee…itu wedhus gembel!”
”Aku ambilin gitar dech, biar kamu ngegombalnya lebih merdu”, ujarnya mengalihkan perhatian.
”Hehehehe…!”
”Tunggu bentar ya”
”Oke dech”
Tak lama kemudian.
”Ini dia perabotan konsernya, kenang-kenangan dari Yngwie Malmsteen”,
”Hehehe….Yngwie Malmsenin kali..”
”Minggu malam donk..hahaha”
”Wah…dari penampakannya sih fales semua nech”, ujar Adrian sambil menstem senar-senar gitar Yamaha itu.
”Deng…deng,…jreng,….jreng…waduh ini nada kunci ’ef’ udah berubah jadi kunci inggris. Kunci ’ge’ udah berubah jadi kunci lemari”
”Hihihihi….mungkin abis dipake konser bi Onah kali”
”Hehehe, bisa aza nuduh orang”
”Hihihi….Gimana ? nadanya masih lurus ?”
”Senarnya sih masih lurus, cuman nadanya aza yang kurang sopan”
”Hahaha”
”Berabe nech kalo konser pake gitar ini, bisa-bisa niatnya lagu pop rock, eh yang kedengeran malah irama orkes melayu”, ledek Adrian sambil mengatur nada.
”Hihihihi”
”Okay…..do-re-mi-fa-sol, jump-boo-clue-took….jreng…jreng….jreng…”
”Okeh..musik siap ?”
”Musik siap!, yang nagihin siap ?”
”Hahahaha…..emangnya dikereta…hehehehe”
”Lagu apa nech ?”
”Terserah!”
”Gimana kalo tembang lawas aza…hmmm yang romantic gitu ?”
”Mariah aza!”
”Mariah Bellina ?”
”Jiaaahh….Mariah Carey dong!”
”Titlenya apa ya ?”
”Without You!”
”Okay siap,…jreng,….jreng,…jreng…”, intropun dimulai.
“No I can’t forget this evening
Or your face as you were leaving
But I guess that’s just the way
The story goes….
You always smile but in your eyes
Your sorrow shows Yes it shows

No I can’t forget tomorrow
When I think of all my sorrow
When I had you there But then I let you go
And now it’s only fair
That I should let you know
What you should know….”

Ketika nyanyian hendak masuk bagian reff, tiba-tiba muncul sesosok tak diajak.
”Endaaaaaayyyyyy……..ieeeeyyyy…..iiieeeeeyyy….wil olweis lop yuuuuu…..uuuuuuu…wil olweis lop yuuuuuuu…uuuu!”, lolongan bi Onah dari dari dalam rumah sambil menenteng sapu ijuk diacungkan bak standing mic. Kontan, Adrian berhenti karena terpana. Destina cekikikan.
” Whuahahahaha….kenapa jadi belok ke Whitney Houston geneeee…!”
”…Lho, koq gitarnya berhenti sih mas ? lagi dong”, tanya bi Onah sambil menoleh kearah Adrian.
”Okeh lanjuuuttt….!”, lantas ketiganya melanjutkan. Karuan saja, nyanyiannya berbelok arah, ketiganya mendadak jadi Whitney Houstoners’.
”Hehehehe…..saya terkesima bi. Ga nyangka ternyata bibi jago nyanyi juga ya”
”Jangan tanya mas, gini-gini bi Onah pernah jadi finalis lomba karaokean tingkat erwe!”
”Menang bi ?”
”Ya enggaklah,…hehehehe!”,
”Hihihihihi….”
”Tapi kata pak Juri dan bu Juri, bibi punya kans untuk menang diacara tujuh belasan taun depan!” , timpalnya membela diri sambil menepuk dadanya.
”Ya udah bi, kalo gitu bibi giat berlatih yah sama Ba-Juri!”
”Hihihihihi bisa aza si non….!”
”Hehehehe..!”
”Kalo bibi mau gabung..kita nyanyi bareng aza. Okeh ?”
”Itu dia mas yang bibi tunggu-tunggu setiap kali mas apelin non Destina”
”Okay bi. Kita nyanyi ber-trio-gembira”
”Yoooooo…tariiikkk manggg….!”
Merekapun bergembira ria berdendang bersama. Kadang bergantian melantunkan lagu kesayangannya masing-masing. Beberapa tembang romantis seperti Home nya Michael Buble, Unintended nya Muse dan Heavens Know nya Rick Price dinyanyikan bersama. Ketika lagu-lagu agak muda dimainkan, Destina dan Adrian berdendang, sementara bi Onah menjadi backing vocal dengan hanya ber-nana-nana dan ber-syalala-syalala sambil bertepuk tangan. Meski syalalanya terkadang gak pas karena tidak kompak dengan nada gitar namun dengan pedenya ia tetap bergoyang kekanan dan kekiri.
Usai lagu anak muda, bi Onah langsung ambil posisi dengan mengajukan beberapa lagu pilihannya.
Awalnya, request bi Onah masih bisa dipenuhi Adrian. Lama kelamaan semakin jauh menggali koleksi tempo doeloe. Dari dua puluh satu lagu yang diinginkan, hanya tiga lagu yang Adrian dan Destina kenal seperti Bodyguardnya Whitney Houten, Gelang Sipatu Gelang dan Berkibarlah Benderaku, selebihnya tidak. Bayangkan saja, bi Onah minta lagu-lagu the best dari legendaris seperti Elya Kadam, Tetty Kadi, Endar Paradesa, Ida Leman, Eddie Silitonga, Muchsin Alatas, Titik Shandora, Edy Sud, Darto Helm, Rima Melati, Nella Regar, Dian Pisesha, Benny Hutagalung, Yon Koeswoyo, Dina Mariana, Panbers, Dloyd, hingga The Mercis dan The-The-Meet. Adrian menggeleng ketika tanyakan satu persatu. Begitupun Destina. Bi Onah kecewa. Bahkan saking kecewanya bi Onah sempat menguji mereka berdua.
”Hmmm…kalian tau lagunya Liem Swie King ?”
Keduanya menggeleng.
”Hmmm….kalo lagunya Rudi Hartono ?”
Keduanya tetap menggeleng.
”Hmmm, kalo lagunya Icuk Sugiarto ?”
Tetap menggeleng. Namun keduanya curiga, sepertinya nama terakhir itu tidak pernah tampil berdendang dengan mic ditangan melainkan hanya raket Yonex Carbonex digenggam.
”Yang ini saja, gimana kalo duet lagunya Taufik Hidayat sama Susi Susanti ?”
”Bibiiiiiii…please dech……sekalian aza lagunya Hosni Mubarak presiden Mesir!”, protes Destina.
Meski demikian bibi tetap bersemangat mengajukan tujuh lagu berikutnya hingga Adrian pasrah dengan membiarkan bi Onah bersenandung diringi petikan nada klasik dari gitarnya. Seiring tujuh lagu, waktu semakin berjalan hingga saatnya Adrian untuk pulang.
”Sampai jumpa malam minggu depan ya mas!”, teriak bi Onah kepada Adrian yang masih berdiri didepan pagar bersama Destina.
”Okeh bi….!”, balasnya.
”Hihihihi…”, Destina cekikikan.
”Aku pulang say….daaagghhh”
”Daaaagh Ad,..hati-hati ya!”

——————-tobecontinueyeeeee……

| Leave a comment

Pudarnya Pelangi Destina | Bagian Pertama

citra-kirana| Bagian Pertama |

Seperti biasanya, pukul lima lewat lima belas pagi Adrian sudah tiba di stasiun Bogor. Pagi buta yang masih diselimuti udara dingin selepas hujan tadi malam itu tlah membasahi kulit pepohonan hingga pucuk-pucuk daun mahagoni. Sekumpulan semut rangrang yang bersembunyi dibaliknyapun enggan menampakkan diri. Sementara sang mentari masih berbenah diri untuk tampil dihari baru itu.

Usai mengantri di loket. Karcispun ditangan sudah. Adrian segera bergegas untuk mencari rangkaian kereta yang akan membawanya ke kantor. Dirinya sempat bertanya kepada petugas porter masuk untuk memastikan keretanya berada di jalur berapa.
“Ekspres tujuan Kota jalur berapa pak ?”, tanya Adrian.
“Jurusan ke Kota jalur tiga mas”
“Terimakasih”, ujar Adrian kepada petugas pintu masuk.

Nampak sejumlah Kereta rangaian listrik (KRL) tengah parkir menunggu jadwal keberangkatan. Persis mirip film kereta anak Thomas & Friends di pulau Sodor. Mereka siap menerima perintah dari kepala stasiun. Sesekali, rangkaian kereta itu menghembuskan nafas mesinnya. ”Pesssss…” persis ban kempis yang berbarengan dari ujung ke ujung.

Adrian berlari kecil menuju jalur tiga. Beberapa pengasong koran mulai menyambutnya dengan ramah.
“Koraan, koraannya..mas. Trend Pejabat negara beradegan mesum“, ujar para penjaja menawarinya sebuah harian ibu kota.
“Akh,..ga penting pak!”. Ada koran Republika ?” ujar Adrian.
“Ada mas. Ini”
”Berapa ?”
”Tiga ribu mas”
Mau kemana ? jurusan Kota atau Tanah Abang ?”
“Kota pak”
“Kereta ke Kota jalur tiga mas!”, tunjuknya.
“Oke. Ini uangnya. Terimakasih”, Adrian segera berlari menuju jalur tiga. Dua bentangan rel dilalui dengan langkahnya yang panjang.
”hup…!”
Diatas KRL, nampak beberapa orang yang sudah berada di dalam kereta gerbong pertama. Ia berjalan terus hingga menyusuri gerbong tiga. Didapatinya kursi yang masih tersedia di rangkaian tiga, segera ia duduk dengan manisnya. Sementara itu, lalu lalang orang-orang disekitar peron mulai terlihat. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Menyesuaikan karcis dan jenis kereta yang akan dinaikinya. Beberapa petugas Sentinel nampak sibuk dengan peluitnya memberi peringatan kepada penumpang yang hilir mudik di lintasan. Pun demikian dengan Announcer berulangkali mengumumkan jadwal keberangkatan kereta yang parkir di jalur satu hingga delapan.

Sementara nun jauh disana, keangkuhan gunung Salak yang samar terlihat namun berdiri kokoh bak piramida di selatan kota hujan itu. Seakan ia menjadi saksi bisu suasana stasiun di pagi yang sibuk. Di stasiun tua peninggalan jaman menir, stasiun Bogor, stasiunnya kota hujan.

Deretan kursi sebelah kiri telah terisi beberapa orang penumpang. Adrian mengambil posisi bersebelahan dengan seorang pria berkacamata tebal yang terlihat serius dengan koran harian Pos Kota dari Jakarta, harian yang diasuh oleh Bung Harmoko dalam kolom Kopi Paginya, sejak jaman Orde Baru. Wajahnya nampak miring dengan tatapan serius membaca sambungan kisah dari halaman satu. Tak ketinggalan bibirnyapun ikut terlihat mendukung keseriusannya. Adrian tersenyum melihat stylenya.
”Hmm pasti kolom Nah Ini Dia, berita kesukaan pria dewasa, hehehe”, tebak Adrian dalam hati.
”Permisi pak, maaf boleh geser dikit ?”
”Hmmm….”
”Terimakasih ya pak”,
”Boleh sedikit lagi pak ?”, pintanya karena merasa kurang.
”Hmmmm…iya..iya..”, jawabnya kesel karena dia membaca ulang paragraf yang sama.

Tak berapa lama kemudian, seseorang menghampiri dan menyapa Adrian.
“Maaf ya mas, ini kereta tujuan Jakarta Kota ya ?” tanya seorang gadis yang tiba-tiba berdiri disamping kirinya. Adrian menoleh refleks. Tatapannya beradu. Cessss…! terdiam sesaat. Pause mode on.
“Betul, betul mba. …mba mau turun dimana ?”
“Saya turun di Gambir”
“Oh, sama. Saya juga turun di Gambir koq”
“Oo…”, jawabnya singkat. Dengan sigap Adrian menangkap isyarat permohonan duduk disebelahnya.
”Boleh geser dikit lagi pak ?”, pinta Adrian kepada bapak itu tuk ketiga kalinya.
”Hmmm….”
Terimakasih pak”
”Hmmmm…”, dehem lelaki itu.
”Terimakasih mas”, ujar gadis itu.
“Iya…iya. Sama-sama”, jawab Adrian telat, karena masih terpana.
Keduanya saling lempar senyum.
”Berangkat kerja mbak ?”, sebuah pertanyaan basa-basi.
”Iya”
”Oh sama”
”Oh”, jawabnya datar. Keduanya saling lempar senyum kembali.
Sejenak tak ada pembicaraan karena terasa urusan sudah usai.
Sepuluh menit berlalu, seketika pengeras suara berbunyi mengumumkan jadwal keberangkatan kereta.
“Selamat pagi para penumpang yang kami hormati. Saat ini anda berada didalam kereta ekpress tujuan Jakarta Kota dengan jadwal keberangkatan pukul 05.57 menit. Kereta ini akan berhenti di stasiun Cilebut, Bojong Gede, Depok, Manggarai, Gondangdia, Gambir, Djuanda dan mengakhiri perjalanannya di stasiun Jakarta Kota. Karcis yang berlaku adalah sebelas ribu rupiah. Pastikan Anda tidak salah naik. Mohon dijaga karcis dan barang bawaan Anda. Terimakasih atas perhatiannya. Semoga selamat sampai tujuan”.

Adrian mencoba duduk santai dengan koran Republika ditangannya. Ia mendadak grogi, entah berita mana yang harus dibacanya lebih dulu.
Ada headline persiapan Timnas Garuda yang semakin optimis, meski kalah berulang kali. Berita kasus koruptor, mafia kasus pajak, penyelewengan proyek pemerintah yang semakin melebar dan melibatkan pejabat negara. Hingga berita klarifikasi Iran dengan program damai nuklirnya. Lipatan demi lipatan koran dibukanya, namun tak satupun berita yang dibacanya hingga tuntas. Hanya judul dan paragraf satu hingga dua saja. Selebihnya ia tinggalkan. Senyum gadis itu tlah membuat angannya melayang. Sementara sang gadis sesekali melirik salah tingkahnya sambil tersenyum kecil. Harum wangi parfum chanel tercium dikibaskan putaran fan yang tergantung dilangit-langit gerbong.

Ingin rasanya Adrian berkenalan dengan gadis yang ada disampingnya itu. Namun urung ia lakukan, karena tiba-tiba ia teringat wasiat dari sohib kuliahnya dulu. Sabroni Taksin bin Khidmat, pemuda berambut kriting dan berkulit hitam manis asal Tebu Ireng Jawa Timur.
”Inget pesen aku Ad, kalo kamu ingin gadis yang kamu taksir itu bisa luluh hatinya. Resep pertama, jangan kau tanya namanya dulu. Bersikaplah agar kau tak perlu tau siapa dia, tapi ikatlah hatinya”
”Semprul juga resepmu Sab. Gimana caranya ?”
”Ajak bicara dengan penuh kelembutan dan lugas”
”Nah lho, bagaimana juga bisa ngobrol lugas tanpa kenal namanya ?”
”Hidup ini tidak seperti Black or Whitenya Michael Jackson kawan”, kilahnya mengilustrasikan sambil menggoyangkan bokongnya yang seksi.
”Taelaa. Maksudmu Sab ?”
”Pertemuan pertama, buatlah kesan baik. Fokuskan pada pembicaraan yang menarik. Jangan kau tanyakan tentang asal-usul dia, apalagi kisah utang piutang dan mantan pacarnya dulu. Pantang untuk kau tanyakan!”
”Lalu, apa yang harus aku obrolkan Sab ?”, tanyanya makin penasaran.
”Apapun yang bisa menarik perhatian”
”Contohnya ?”
”Suatu ketika engkau bertemu seorang gadis di bandara”.
”Lalu ?”
”Maka bicaralah tentang indahnya perjalanan. Jangan engkau bicara tentang Pemilihan Kepala Daerah atau Program Transmigrasi dan reboisasi pemerintah. Dijamin ga akan menarik”, paparnya bak motivator ulung.
”Hahaha. Kalau bertemu di dalam bioskop ?”
”Sebaiknya engkau diam!”
”Hahaha. Lalu ?”
”Pertemuan kedua, ciptakan situasi agar engkau bertemu dengannya seolah-olah tak disengaja”
”Selanjutnya ?”
”Disinilah letak seni sesungguhnya. Semakin hal itu terlihat alami, maka akan semakin mantab!”
”Mantap, Sab!”
”Ya, mantap”.

Adrian tersenyum mengingatnya. Tak lama para penumpang lain mulai memenuhi kursi yang masih kosong, sebagian berdiri dan memasang kursi lipat ciri khas penumpang kereta. Keretapun mulai dipenuhi penumpang. Menit demi menit berlalu, pintu otomatis mulai menyibakkan keangkuhannya, tanda kereta akan melaju. Seiring dengannya komando dari pemantau memberikan sinyal jalur aman untuk keberangkatan kereta jalur tiga.

“Jalur tiga aman. Masinis, kereta ekspres tujuan Jakarta Kota silakan berangkat”.

Klakson berbunyi dan roda-roda besipun mulai berputar perlahan meninggalkan peron. Laju kereta perlahan semakin cepat dan mulai bergoyang-goyang. Suara-suara bel pintu lintasan mulai terdengar menandakan KRL sudah melaju jauh meninggalkan stasiun Bogor yang dibangun sejak tahun 1881 itu.

Kurang lebih satu jam lama perjalanan kereta dari stasiun Bogor hingga Gambir. Gesekan roda-roda baja dan suara mesin berpadu ria bak irama orkestra klasik tak beraturan.
Meski lumayan lama, setidaknya Adrian tetap berterimakasih kepada para pekerja rodi yang berjasa karena telah membentangkan rel pada tahun 1869-an di era Gubemur Jenderal Hindia Belanda P. Myers itu. Tentu tidak sedikit pekerja paksa yang mati dan terkapar disepanjang rel. Lintasan KRL itu dibangun diatas cucuran air mata dan darah.

Konon, jalur kereta api Jakarta – Bogor dulu dikenal dengan jalur Batavia-Buitenzorg. N.I.S atau kepanjangan dari Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij adalah sebuah perusahaan kereta api swasta yang mulai membangun jalur pada 15 Oktober 1869. Kala itu, sang Gubernur Jenderal Rochussen mempertimbangkan bahwa jalur Batavia-Buitenzorgh juga merupakan jalur penting untuk mengangkut hasil kopi dan teh selain juga sebagai pusat pemerintahan kolonial. Konon pula, dari hasil penelitian tim Kerajaan Belanda, jalur Batavia-Buitenzorgh terbilang rawan, khususnya rawan terhadap perlawanan dari para tuan tanah dan anak buahnya. Akhirnya jalur itu terealisasi pada tahun 1869 dan memerlukan waktu selama empat tahun untuk menyelesaikan bentangan rel sepanjang lima puluh delapan kilo meter atau kurang lebih setara dengan lima puluh delapan ribu meter. Jarak yang lumayan jauh kala itu. Tentunya pembangunan itu diprakarsai pemerintahan kolonialisme Belanda, masa kejayaan para kompeni dan kompeniwati, namun masa menyakitkan bagi pribumi.

***
Tak lama, KRL memasuki sebuah terowongan. Berarti stasiun Cawang sudah di depan mata. Persinggahan stasiun berikutnya Tebet dan Manggarai. Sejumlah penumpang sudah bersiap-siap untuk turun di stasiun besar itu. Pintu otomatis terbuka dan sebagian penumpangpun bergegas turun. KRL sudah tiba di stasiun besar Manggarai.

“Sudah sampai Manggarai Mba!”, Adrian membuka pembicaraan sekedar berbasa-basi.
“Iya mas”, seraya tersenyum. Suasana tetap kaku.
Adrian bersiap-siap untuk turun setelah keretanya berhenti di stasiun Gondangdia karena pemberhentian berikutnya Gambir.
“Ayo mba, kita siap-siap. Sebentar lagi sampai di Gambir”
“Terimakasih mas”, ujar gadis itu sambil merapikan kabel earphone yang tersambung ke handphonenya.
Kereta berhenti dan mulai mengeluarkan isi badannya di stasiun hijau itu. seiring Seiring penumpang lainnya, keduanyapun berjalan menuruni anak tangga stasiun besar itu.

“Mas, Saya duluan ya”, ujar gadis itu sambil melempar senyum. Adrianpun membalasnya.
“Eh, iya..iya..oh, hati-hati ya..”
”Terimakasih”
”Mmm..”
”?”
”Oh ya..Hati-hati..”, jawabnya kikuk.
”Daagh..”, lambainya sambil tersenyum.

Maksud hati ingin menanyakan nama sang gadis itu, namun apalah daya. Adrian seolah dibentengi doktrin Sabroni yang membelenggu lidahnya. Ia hanya mampu membalas senyumnya dengan lekat.

Senyumnya terlihat manis. Bibirnya merah indah merekah bagaikan kelopak bunga rose di pagi hari. Rambutnya terurai indah mengkilat bak bidadari yang turun dari langit keempat. Dihiasi hidungnya yang mancung berdiri kokoh bagaikan piramida mesir, angkuh namun mengesankan. Barisan bulu halisnya nampak rapat menghitam bagaikan semut jambu air berpelukan. Kulitnya kuning langsat laksana buah pir matang yang ranum nan manis. Ditambah postur tubuhnya yang ideal, tinggi semampai dengan betis berisi bak padi menguning. ”Ohh…nyaris sempurna”, puji Adrian.

Gadis itu langsung menghampiri taksi yang parkir. Perlahan taksi itu meninggalkan Adrian yang masih berdiri disana. Postur tinggi semampai itu berlalu dan hilang dari hadapannya.
“Duh, siapa namanya ya dia ?? “, gerutunya sambil berharap teori Sabroni Taksin bin Khidmat bakal mujarab dan esok bisa berjumpa lagi. Senyum tersungging dibibirnya. Ruang hatinya mendadak full color, bak taman bunga dipagi hari yang cerah selepas hujan sore kemarin.

| Bagian Kedua |

Rabu pagi Adrian ingin segera tiba di stasiun Bogor. Hatinya berharap bisa berjumpa lagi dengan gadis yang bareng bersamanya kemarin. Sebuah Kawasaki Ninja 250R merah mulai menggeliat di halaman rumahnya. Pagi yang dingin itu tak membuatnya mengkerut. Semangat dan harapan bergelora dalam hatinya semakin tumbuh. Berharap ia kembali bertemu dengan seseorang yang telah menawan hatinya itu. Gadis kereta, yang baru ia jumpai kemarin. Entah siapa namanya.

“Bu, Adrian berangkat dulu”
“, Hati-hati Ad”
“Ya bu”
“Sudah sarapan ?”
“Nanti sarapan di kantor saja bu”
”Kenapa ?”
”Takut tertinggal kereta bu”
”Ya sudah. Hati-hati di jalan, Jangan ngebut bawa motornya”, pesan Ibunya sambil mengulurkan tangannya. Adrian menciumnya.
“Iya bu”, iapun berlalu.

Adrianpun beranjak dari rumahnya menuju stasiun. Keluar dari pintu gerbang perumahan Graha Yasmine, ia langsung tancap gas. Ninja Passion Red dengan tipe mesin empat-stroke dua cylinder itupun mulai berlari. Dari rancy panel terlihat jarum speedometer mulai beranjak mendekati angka seratus kilo meter per jam. Adrian ingin menancapnya lebih kencang lagi, namun ia teringat pesan Ibunya agar jangan ngebut. Kembali ia urungkan untuk menarik gas itu. Cukup dua belas menit untuk sampai didepan stasiun. Segera ia parkirkan kuda besi yang telah mengadopsi mesin DOHC itu.
Sesampainya di dalam KRL Ia berusaha untuk duduk ditempat yang tak jauh beda dengan kemarin. Berharap moment kemarin terulang kembali, begitu Sesuatunya pertemuan kala itu. Menit demi menit berlalu. yang ditunggu tak kunjung tiba. Perlahan, gerbong KRL mulai dipenuhi penumpang. Adrian gelisah. Berulangkali wajahnya menengok ke kanan dan kekiri.

“Duh, where is she ? Koq ga ada?”, gerutunya dalam hati. Seolah-olah ia sedang menunggu seseorang yang sudah pasti akan menghampirinya. Sejenak kesadarannya muncul.
“Hmm..mana dia tahu kalau aku menunggunya disini ?”. Bisa saja dia sudah berada di gerbong satu atau dua. Bisa pula di gerbong empat, lima, enam bahkan delapan. ”Akh,…”, Adrian garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.

Ia tarik napas dalam-dalam, sambil tersenyum kecil. Ia lihat disekelilingnya tak nampak sosok yang dinantinya. Sementara orang-orang mulai mengisi bagian kursi yang masih kosong.

”Maaf dik, geser sedikit dong”, ujar seorang perempuan tua yang nampak kerepotan dengan tas travel besarnya. Adrian tersenyum dan membantunya. Harum semerbak balsem cap lang yang berkolaborasi dengan minyak angin cap kapak menyapa hidung Adrian dengan ramahnya.
”Terimakasih dik”
”Sama-sama nek”, balasnya.
”Adik turun dimana ?”, tanyanya.
”Gambir nek !”
”Ooh…Sama dong. Saya juga turun di Gambir koq”,
“Ooooh yaaa ?”, balas Adrian telat, karena terpana. De-ja-pu, eh deja vu, pikirnya.

Tak lama KRL pun mulai meninggalkan stasiun.
Hari itu Adrian gagal bertemu dengannya. Mungkin esok atau lusa masih ada kesempatan. Diantara goyangan nakal gerbong kereta, perempuan tua itu mulai terlihat mengantuk. Entah sudah berapa kali ia menguap. Dengan sigap, Adrian sempat menahan nafas. Seiring waktu, sesekali perempuan tua itu menyandarkan badannya ke bahu Adrian. Dua, tiga kali Adrian maklum. Keempat dan ketujuh kalinya, Adrian sempat membalasnya.
***

Rabu tak berjumpa, Kamis tak beruntung. Jum’at pagi itu berharap ada kesempatan untuk bersua. Seperti biasanya ia sudah berada diatas KRL gerbong tiga. Yang ditunggu belum kunjung tiba. Sementara itu tiga orang pengamen beraksi dengan alat musik seadanya. Satu gitar akustik, satu gitar bass betot sebesar anak sapi dibelai mesra dan satu lagi alat perkusi minimalis. Meski mirip parade tanjidor asuhan Pak Tile ala betawi, but the show must go on. Nyanyianpun mulai terdengar. Nyaris sempurna nada-nada yang dimainkan. Sebuah alunan lagu Iwan Fals mengalun kompak diatas rangkaian kereta tujuan Jakarta Kota itu.

Adrian hafal betul nyanyian itu, bahkan ia tahu dari kunci D lagu itu dimainkan, tepatnya nada kedua dalam skala C mayor. Liriknya seakan mewakili perasaannya.
“Kumenanti seorang kekasih, yang tercantik yang datang di hari ini. Adakah ia kan selalu setia…bersanding hidup penuh pesona.
Andai, kau tak datang kali ini …musnah harapanku”, Adrian terhanyut dibelai mesra lantunan para pengamen. Dua kali lantunan reff lagu itu menghiburnya. Namun, belum usai lagu itu dimainkan, sesaat pandangannya tertuju pada seseorang. Tiba-tiba sekelilingnya nampak bergerak lamban dan tak bersuara. Bagaikan disetting slow motion and mute. Warna sephiapun merubah objek-objek seisi kereta hingga kepojokan.

Seseorang nampak berjalan dari pintu gerbong dua. Sosok yang dinantinya itu hadir. Tatapannya tak lepas, dag-dig-dug rasanya, persis hierarki verb1-verb2-verb3 dalam tatabahasa inggris. Ia datang menyihir hati Adrian dan sekitarnya. Seketika deretan penumpang yang sedang duduk seolah-olah berubah menjadi rumput alang-alang hijau yang dipenuhi bunga indah. Sementara para penjaja koran pagi terlihat bak kupu-kupu lucu dan belalang nakal yang bertebaran kian kemari. Gadis itu berjalan dengan senyum merekah segar. Sesegar embun pagi. Rambutnya melambai bagai dikibaskan angin pegunungan, meski sebetulnya berasal dari kipas angin yang tergantung dekat langit-langit gerbong. Adrian menyambutnya dengan riang. Dirinya serasa melayang, “Selamat datang gadis yang kunanti”, ucapnya dalam hati.
Gadis impiannya itu melangkah dengan santainya. Langkahnya anggun. Senyum Adrian semakin sumringah, lebih sumringah dari seorang mahasiswa yang sukses memperbaiki nilai D mata kuliahnya. Tatapannya tak berkedip sama sekali. ”Yes, She’s coming!”, riangnya dalam hati. Jemari-jemarinya mendadak dingin. Pucuk dicinta, buah pun tiba. Bagaikan cinta pertama yang menggoda. The first love is the eternal love and the only one’s turn up from the people heart. Berbagai ungkapan seakan cocok menggambarkan apa yang dirasakan Adrian pagi itu. He falling in love.
Tiba-tiba…

”Dreeett….Dreeeet !!…..”
“Tsamina mina zangalewa
Cause this is Africa
Tsamina mina eh, eh
Waka waka eh, eh
Tsamina mina zangalewa
This time for Africa…..”

Ringtone Waka-waka-Shakira nyaring terdengar dari saku celana penumpang sebelah mengaburkan hayalannya. “Klik!”. Adrian segera tersadar dan kembali ke dunia nyata.

Gadis itu berlalu dihadapannya. Acuh berjalan dengan santainya menuju gerbong empat, Adrian bimbang. Tetap stay on atau bergegas mengikutinya. Keputusan singkat diambil, Ikuti bro!, kesempatan ini terlalu indah untuk dilewatkan. Meski nyaris lupa mengambil tas yang ia simpan di kabin atas KRL itu.
Ia tak ingin kesempatan untuk berjumpa dan kenalan dengannya kandas lagi seperti dua hari kemarin. Teori Sabroni bin Khidmat pantang untuk dilanggar, namun improvisasi kadang diperlukan. Finally, Ia dapati gadis itu telah duduk di deretan kursi yang masih kosong. Dengan pura-pura cuek namun meyakinkan Ia hampiri gadis itu dan duduk disebelahnya.
“Pagi Mba ?”, gadis itupun menoleh.
“Eh pagi juga”. Sejenak bengong. Adrian tersenyum.
“hmmm…Ini mas yang waktu tempo hari itu ya ?”, seolah memastikan
“Iya mba…”,jawab Adrian.
“Ini mba yang kemarin juga ya ?”,tanya Adrian berpura-pura ragu. Padahal sudah berhari-hari gadis itu dinantinya.
“Iya. Apa kabar mas ?”
“Baik. Mba sendiri ?”,
“Baik juga”
“Boleh duduk disini?”, tunjuknya basa-basi.
“Bolehlah mas, bukan punya saya koq”
“Hehehe..syukurlah. eh, upss.. maaps”
“Hmmm”, sambil mendelik.
“Oh ya, boleh kenalan ?”
“Boleh”, jawabnya.
“Hmm..Ss…Sa..saya..Ad..”
Tiba-tiba handphone sang gadis berbunyi.
“Sebentar ya mas”, pintanya. Adrian mempersilakan, meski sempat dongkol.
“Hallo…, eh Rin. Gue di gerbong empat. Loe dimana?. Dua. Oooh.. ya udah. Loe kesini cepetan, sebelah gw kosong koq”
“Kosong?”, Adrian bengong.
Tak lama. “Rin…Gue sebelah sini…halo-halo…..oooii..oiii…”, serunya sambil melambaikan tangan, yang dipanggilpun tertawa saat melihat lambaian sang gadis itu. Walhasil, temannya itu bergegas menghampiri. Adrian hanya terbengong ria menyaksikan keduanya.
“Lo disini toh? Ngumpet aza kayak speaker hape”, ledek Riensi Tampubolon yang posturnya persis Tika Panggabean itu. Berbadan dan berjiwa besar.
“Loe kalee..”
“Eh, maap ya bang. Boleh geser dikit?” pintanya jutek kepada Adrian. Adrian hanya bengong melihat keduanya.
“Eh, ups…hmm …boleh..boleh…”, jawab Adrian yang nyaris kejepit paha si perempuan besar itu. Mata Adrian mendelik, ia merasa seolah-olah menara Pagoda berada disampingnya.
“Makasih”
“Hmmmm..iya..iya”, jawabnya menirukan lelaki tempo hari itu. Sebuah sinyal tak rela. Gatot Asli, alias gagal total ada sabotase lagi. Kini ia terpisahkan dengan gadis yang baru didekatinya itu. Ia merasa menyesal telah melanggar pesan keramat dari Sabroni.
“Eh, kerja dimana loe rin?”
“Jakarta”
Dah lama?”
“Baru setaon setengah. Loe sendiri?”
“Gue baru juga seminggu”
“Oo..berarti loe baru dong jadi penghuni kereta”
“Gitu dech”
“Enak sih naek kereta. Lebih cepat dan nyaman”
“Oh ya?”
“Tapi ya tetep harus hati-hati juga”
“Maksud loe?”
“Ya hati-hati aza. Pas naeknya kek, pas turunnya kek. Pas milih jurusan keretanya kek. Dan yang lebih penting, kalo kereta dah jalan jangan coba-coba dikejar. Gue jamin, dia gak akan nungguin loe. Dia akan tetap melaju dengan pendiriannya..hehehe”
“Gila loe!”
“Eh rien. Gue mo ngomong?”
“Apaan?”
“Ssstt…sini kuping loe”.
“Bujug dah. Nape sih pake minta kuping gue segala ?
“Gini…hhmmm..”
“Apaan sih?”
“Mmm itu..cowok diseb..
“ Hahahahaha..!”
“Hussstt…belom selesai gue ngomong!”, potong Destina sambil nginjek kaki Riensi yang keras mirip bambu betung itu.
“Iya..iya…apaan?”, sambil mendekatkan kupingnya.
“Cowok disebelah loe itu…mmm..tadi..”
“Akh lama loe…be-be-em aza cepetan”
“Iya..iya. Tumben loe cerdas”
“Et’dah…ni anak belum pernah keselek knalpot kereta kalee ya. Udah cepetan!”
“Iya, nech gue ketik”.
“Ting, Tong”. Tak lama.
“Huahahahahaha”
“Husstt..berisik. malu-maluin loe, ketawa persis preman kuburan”
“Hihihihihihi……emang enak!”, sindirnya sambil melirik kearah Adrian.
“Husss!”
Walhasil acara perkenalan Adrian dengan sang gadis itu urung terlaksana. Tak lama KRL pun melaju. Keduanya semakin asyik mengobrol ngalor ngidul, berbagi cerita dan pengalaman. Bahkan semakin seru menggosipkan sahabat-sahabat mereka dulu. Mulai dari kisah si Rehani Tembagawati yang tigakali dilamar duda kaya raya asal Tanjung Redeb hingga kisah malang Sohiman Katrol pemuda asal Sleman yang menelan sendok bebek alumunium . Mereka nampak seperti sedang syuting acara pertemuan tali kasih seorang anak dan ibunya yang terpisah selama tujuh tahun.
“Coba loe bayangin nasib si Rehani, dia dijodohin paksa sama orang tuanya”
“Jodohin paksa?”
“Iya…dipaksa!”
“Masa sihh??”
“Iya, gue ga bohong. Ntu anak sesegukan dipojok kamar gue.”
“Dijodohin sama siapa?”
“Duda kaya?”
“Ganteng ga?”
“Bujug dah. Si Rehani bilang, Cuma beda tipis sama kuda nil”
“Hihihihi..Jahat loe!”.
“Beneran. Sumpeh dah gue ga bohong. Biar gue disumpain mirip puteri salju , gue ikhlas”!
“Et’ dah.”
Riensipun semakin heboh menceritakan sosok duda kaya itu. Ya, Baskoro, seorang duda kaya raya yang hidup penuh kemewahan. Usianya sudah menginjak empat puluh tujuh tahun. Tepatnya empat puluh tujuh tahun koma enam bulan dua belas hari. Sebuah perbedaan usia yang cukup jauh untuk disandingkan dengan Rehani Tembagawati yang cantik jelita dan masih berusia dua puluh tiga tahunan. Baskoro bertubuh gempal dan warna kulitnya bagaikan sore menjelang maghrib. Rambutnya selalu klimis dan disisir rapi menghadap kekiri, berkat minyak rambut Tancho yang mujarab. Perutnya terlihat lebih subur dan buncit dari pria kebanyakan, mungkin efek dari nafsu makannya yang tinggi.

Warna baju kesukaannya adalah ungu dan kancing atas selalu dibiarkan terbuka. Pakaiannya selalu ia padukan dengan stelan celana warna hijau. Batu akik kecubung warna ungu seukuran biji mata kerbau selalu setia di jari telunjuk kanannya. Untaian kalung emas duapuluh empat karat dengan bandul hati bertuliskan Mr. Juragan selalu tergantung dilehernya. Kalung warna kuning terang itu kontras sekali dengan warna latar kulitnya yang agak gelap. Gaya bicaranya khas, yakni selalu diiringi dehem-dehem yang sebetulnya tidak perlu. Bibir kirinya terkadang mengerenyit berulang, persis anak kerbau yang hidungnya diklitikin gembala iseng. Duh, musibah apa yang akan dialami Rehani Tembagawati andaikata ia jadi dipersunting dan menjadi permaisurinya. Ayah Rehani tidak peduli dengan semua itu, yang ia lihat hanyalah harta kekayaan orang tuanya yang berlimpah dan bisa menjamin hidup. Apalagi hidup dijaman seperti ini, materi adalah segalanya.

Juragan Basko, begitu nama panggilannya. Ia selalu ditemani dua orang bodyguardnya. Satu orang sebagai sopirnya dan satu lagi sebagai ajudan khususnya. Keduanya bertampang sangar. Badannya besar dan berotot kekar. Satu orang yang selalu dipanggil Jack Gempur memiliki tato kalajengking di lengan kanannya dan bertuliskan “Kill” di dadanya. Kawan satunya lagi memiliki panggilan Black Man. Ia selalu berkacamata hitam dan memiliki tato gambar laba-laba berkaki tujuh merayap di lehernya. Selain itu di dadanya terpampang tato yang bertuliskan “Jagal”. Ia selalu patuh mengantar Baskoro dengan Jaguar seri FX hitam metalixnya kemanapun majikannya mau.

“Duh kasihan temen kita ya Rien”,
“Iya. Kita harus menyelamatkannya dari belenggu penjajahan baru ini”
, sungutnya berapi-api.
“Tapi bagaimana juga caranya ?”
“Iya ya ??”. Keduanya berfikir keras mencari solusi. Sejenak terdiam. Tiba-tiba.
“Naaah!! Gue ada ide!”
“Apaan Rien ?”
“Gimana kalo kita culik aza si Rehani !”
“Kebalik dong akh!. Seharusnya yang kita culik itu duda nil itu ?”
“Emang loe berani ?”
“Ya enggak lah!”
“Brrrrrrrttttt….”

Keduanya kembali berpikir keras. Namun tak ada satupun solusi jitu yang ditemui. Hingga akhirnya keretapun berhenti di stasiun tujuan.
=============== to be continue ==================================================

| 1 Comment