IT : Mengapa Harus LINUX ?

Ngabuburit Bersama Onno W. Purbo

Bagi anda yang selalu mengikutui perkembangan dunia Teknologi Informasi (TI) barangkali sudah tak asing lagi mendengar nama seorang pakar Internet DR Onno W Purbo. Untuk warga masyarakat Bogor yang menggeluti atau berprofesi dalam dunia TI, saat ini bisa berdiskusi secara langsung dengan pakar tersebut.
DR. Onno W. Purbo akan kembali mengunjungi kota Bogor dalam acara Workshop Linux yang akan diselenggarakan pada tanggal 23-24 November mendatang di Bogor Cyber Centre (BCC). Acara yang membahas khusus seputar LINUX tersebut merupakan acara Workshop Linux kedua setelah suksesnya Penyelenggaraan Workshop Linux I, 13 –14 November lalu.
Dalam acara yang berlangsung selama dua hari  tersebut , materi yang diberikan antara lain, Instalasi, Aplikasi, Networking, Internet, Mail Server dan Web Server.

Mengapa Workshop Linux ?

Barangkali itulah pertanyaan penting ada dibenak kita sekalian, Mengapa Workshop Linux ? BCC berusaha untuk mensosialisasikan LINUX dikalangan masyarakat, khususnya warga Bogor.  Dengan diadakannya Workshop Linux tersebut, BCC berusaha untuk merubah imej tentang sulitnya menjalankan Linux. Selain itu Workshop Linux ini bertujuan untuk  meningkatkan kesadaran  Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).  Michael Sunggiardi, salahseorang pemilik BCC, mengatakan ” Workshop Linux ini bertujuan untuk mensosialisasikan Linux sekaligus merupakan rangkaian kegiatan Apkomiondo, ujar Wakil ketua Bidang Humas dan Internet Apkomindo ini.

Lalu bagaimana pendapat  DR. Onno W Purbo ?

Hal senadapun muncul dari Onno W. Purbo ketika penulis berbincang bincang dengannya, ia mengatakan bahwa Linux yang kini semakin berkembang bertujuan untuk menegakan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Siapapun anda tentunya akan dihadapkan pada berbagai pilihan dalam menggunakan software. Selain itu, menurut Onno, beberapa kelebihan yang dimiliki oleh Linux antara lain adalah, lebih unggul untuk Server, Internet dan Jaringan. Jika menggunakan Linux, anda hanya tinggal membeli CD harganya relatif murah, selain itu anda juga tidak akan dikenai sanksi hukum alias halal, ujarnya.

Menanggapi tentang jumlah pengguna Linux saat ini, terutama di Bogor, Onno mengungkapkan bahwa persoalannya saat ini adalah bukan banyaknya pengguna melainkan penegakan hak kekayaan intelektual, ” Jika anda menggunakan software bajakan, maukah anda berhadapan dengan pihak kepolisian dan menghadapi tuntutan hukum ?. Barangkali patut juga kita renungkan pendapat tersebut, pada dasarnya LINUX  memberikan kemudahan dan ketenagan bagi pengguna. Jadi , pertanyaan besar tentang “ Mengapa harus LINUX ?” sudah bisa terjawab.

Hal penting lainnya yang muncul dalam benak masyarakat tentang penggunaan Linux dalam menunjang segala aktivitas haruslah terjawab. Tapi apakah mudah itu mensosoialisasikan sesuatu hal  yang “baru “ dalam masyarakat ?, itulah pekerjaan rumah bagi kita semua. Di bawah ini penulis  mengutip pendapat yang dikemukakan oleh Fery Soswanto dan tim (PT. Trustix Merdeka Jakarta) menurutnya, Pemanfaatan TI dalam bisnis haruslah dibarengi dengan pemahaman “seberapa jauh kita punya visi ke depan untuk mengatasi permasalahan yang akan timbul dalam bidang TI”. Tidak saja melihat tren yang ada pada saat ini, tetapi juga kendala dan tantangan masa depan. Jelas ini menuntut peran pelaku bisnis TI harus memandang dengan suatu cara pandang model bisnis yang baru. Perkembangan Open Source Sorftware dengan GNU/Linux-nya, yang bisa dikatakan sebagai tren baru dalam dunia teknologi informasi seperti yang ditunjukkan pada pameran CEBIT 1999 (Wiryana, 1999) masih dihadapi dengan dingin-dingin saja oleh para pebisnis (terutama di Indonesia). Hal ini disebabkan karena beberapa hal:

•    Salah satu keberatan dunia bisnis, dan orang awam dalam menggunakan Linux adalah keraguan mengenai kemampuan Linux diaplikasikan dalam pekerjaan “dunia nyata”. Pernyataan ini sebagian besar didasarkan atas begitu murah dan mudahnya Linux diperoleh secara legal. Linux adalah program yang non commercial licensed, artinya kita tak perlu membayar ke suatu perusahaan untuk menggunakannya. Bahkan kita memperoleh source code secara lengkap. Hal inilah yang membuat Linux masih sering dipandang sebelah mata.

•    Ada suatu anggapan salah kaprah mengenai penggunaan perangkat lunak “murah” ini. Sering timbul pengertian bahwa sesuatu yang murah itu adalah “murahan” dan tak bermutu. Dengan kata lain bahwa “freeware” atau “Open Source software” dianggap memiliki kualitas yang lebih rendah dari perangkat lunak komersial. Pendapat ini sebetulnya sama sekali tidak beralasan. Seperti telah diketahui jaringan Internet pun sebagian besar dioperasikan oleh perangkat lunak yang bersifat “freeware” ini. Beberapa contoh aplikasi yang telah ada di dunia Open Source sebelum aplikasi ini ada di dunia komersial (yang bahkan dengan kemampuan dari sisi teknologi lebih rendah). Sebagai contoh adalah teknologi IP-Masquerading, yang telah ada cukup lama dan baru setelah 1 tahun diadopsi oleh perangkat lunak komersial dengan nama lain misal WinGate. Dalam operasinya Internet sendiri sangat bergantung pada penggunaan perangkat lunak yang bersifat open source yaitu (McMilland, 1998): GNU Utilities ( 85%), Perl ( 80%), Sendmail ( 70%), Apache ( 70%), Bind ( 55%), Tcl ( 50%).
•    Masih adanya anggapan bahwa Linux sebagai freeware tidak memiliki dukungan teknis purna jual. Anggapan ini tidak tepat lagi dengan adanya masyarakat pengguna Linux di seluruh dunia yang saling berhubungan via Internet, serta tersedianya dukungan dokumentasi hingga ke source code yang bebas. Bahkan pengalaman membuktikan, bantuan atau dukungan yang diperoleh via masyarakat pengguna jauh lebih cepat, berarti dan murah daripada melalui jasa online yang disediakan oleh pembuat perangkat lunak komersial.
•    Salah satu keberatan untuk berpindah ke Linux adalah adanya mitos Linux hanyalah untuk para programmer atau yang memiliki pengalaman dan bukan untuk “orang biasa”. Mitos ini makin sering digunakan oleh para salesman untuk menjual sistem operasi atau aplikasi komersial. Tetapi fakta yang terjadi bukanlah demikian. Bahkan Linux telah banyak digunakan pada “home computer” dalam arti digunakan oleh seluruh anggota keluarga dari kebutuhan mengetik dan juga bermain game (List, 1997).

•    Hal lain yang menjadi keberatan para manajer bisnis dalam menggunakan Linux adalah dukungan dari pihak vendor komersial terhadap platfrom Linux ini. Hal ini memang beralasan, karena dengan besarnya investasi yang telah dilakukan untuk aplikasi tertentu. Walaupun begitu perkembangan terakhir menunjukkan bahwa Linux semakin mendapat dukungan dari vendor-vendor besar. Seperti beberapa perusahaan telah setuju mensupport Linux, dan dipetunjukkan pada pameran CEBIT akhir-akhir ini (Wiryana, 1999) misal :
•    Oracle
•    Informix
•    Netscape
•    Corel
•    Adaptec
•    Sun
•    Compaq
•    SAP
•    IBM

•    Sering kali ketersediaan source code secara terbuka menjadika orang awam ragu akan faktor sekuriti dari Linux. Tetapi keterbukaan source code pada pengguna ini sebetulnya menjadikan pengguna “dapat memeriksa dan menguji secara menyeluruh” program yang digunakan. Jadi tidak seperti menggunakan kotak hitam, dan percaya secara total kepada perusahaan pembuat software. Seperti yang lazim dalam bahasan sistem sekuriti, suatu sistem sekuriti atau enkripsi bukan ditentukan oleh kerahasiaan algoritma atau program yang digunakan, tetapi memang berdasarkan mekanisme yang digunakan. Misal semua orang memahami algoritma DES, atau Blowfish. Tetapi tanpa dibekali dengan “key” yang sesuai tetap sulit untuk mendobrak sistem enkripsi ini. Bahkan di Linux telah diterapkan Pluggable Authentication Module, yaitu mekanisme sekuriti yang masih sedikit digunakan oleh sistem operasi komersial lainnya.
Ketersediaan source code dari sistem Linux memungkinkan pengguna menguji secara utuh (bukan pengguna secara pribadi, tetapi pengguna dapat meminta orang yang ahli) untuk menguji sistem yang dipakai. Sehingga pengguna bisa menjamin keamanan sistem yang digunakan. Jaminan ini bukan berdasarkan janji yang diberikan suatu vendor, tetapi dari kemungkinan pengguna untuk mengujinya. Atas alasan ini pulalah yang menyebabkan hanya program yang tersedia source codenya yang boleh digunakan pada sistem yang diangkut space shuttle (Ladkin, 1998). Bukan rasa ‘aman yang semu’.
•    Linux membutuhkan banyak pelatihan. Secara makro juga harus dipertimbangkan “biaya yang dikeluarkan” sebagai penggerak ekonomi lokal, atau penambah beban devisa negara. Penggunaan Linux meminimalkan penambahan perangkat keras yang harus dibeli, atau perangkat lunak yang harus dibeli. Penambahan biaya relatif dikeluarkan untuk pembayaran tenaga pelatihan lokal atau jasa dukungan teknis lokal. Ini membantu berputarnya perekonomian Indonesia.
Pada abad informasi ini, bukankah investasi di pelatihan adalah salah satu hal yang lebih disarankan, tenimbang investasi di perangkat keras/lunak ? Investasi di bidang “knowledge” membuat kontinuitas pemanfaatan teknologi dapat lebih terjamin.***(ute/Desember2001)

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Novel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s