Cerpen: Balada Seorang Penjual Jeruk

Jumat sore, tepatnya tanggal 9 muharram 1426 hijriah atau hari ke 18 dibulan Februari 2005, ketika itu aku berada dalam perjalanan pulang dari tempat kerja, kudapati sebuah kisah kecil menarik dan mampu membuatku tersenyum.

Seperti hari-hari lain, sore itu seusai turun dari satu biskota metropolitan, aku harus menanti kendaran berikutnya yang akan mengantarkanku menuju kota hujan. Terlihat begitu banyak antrian penumpang menanti tibanya bis dan berhenti dikawasan Cawang (–red-Jakarta Timur ). Tak jauh berbeda dengan penumpang lain, akupun terkadang harus berjuang untuk berebut kursi. Ya, begitulah salahasatu sisi dari episode perjalanan hidupku sehari-hari, yang tentunya mungkin dialami juga kawan-kawanku. Selang beberapa lama, melintaslah sebuah bis yang tak begitu mewah namun memasang label full AC diantara tulisan yang terpampang “Bogor – Karawang”. Tanpa menunggu komando, segera aku berlari bersama calon penumpang lain untuk menghadang bis itu seraya berharap dibukakan pintu.

Meski tak semewah bis lainnya, aku bersyukur dapat tempat duduk dalam kendaraan yang akan menuju kota kelahiranku, Bogor. Riuh penumpang berlomba-lomba mencari kursi kosong semakin lengkap dengan turut sertanya para pedagang asongan yang mengais  rezeki menawarkan dagangannya, meski tanpa diundang. “Air,..air…air…yang haus….yang haus….Aqua…Aqua… DuaTang…limaratus….”, Tahu…tahu Sumedang…….kacang…kacangnya seribu…, …..Koran-koran…REPUBLIKA seribu rupiah ” Jaksa Agung marah disebut Ustadz di Kampung Maling”.. …” …Air, air…Airnya pak !, bu !” ucap para pedangan asongan yang terdengar stereo seperti bersahutan.

Hmmm…sejenak kutarik napas panjang, kuberucap dalam hati sambil mengerutkan keningku yang mulai basah…lelah sekali hari ini setelah seharian bekerja. Aku coba tuk tersenyum dan berharap rasa letihku berkurang. Tak berapa lama kemudian setelah bis mulai penuh dengan penumpang, sang sopir lantas memacu gasnya meninggalkan kawasan pemberhentian bis dan menuju pintu gerbang Tol Taman Mini (TMII).

Bis mulai melaju dengan kencangnya seusai melewati pintu tol TMII. Singkat cerita, ditengah perjalanan salah seorang penumpang dari barisan paling belakang tampil menuju kedepan kursi barisan paling depan seraya tawarkan senyum harapan. Tanpa diminta, sosok lelaki setengah baya itu mengucapkan salam pembuka seraya mengangkat sebuah kantung plastik yang berisi beberapa jeruk. “Assalamulaikum warrohmatullohi wabarakatuh…..,bapak-bapak dan ibu-ibu …hapunten bilih ngaganggu, saya jual ini jeruk lima rebu sakantong……ya, lima rebu aya sapuluh siki”  ( Bapak-bapak dan Ibu-ibu, mohon maaf mengganggu, saya menjual jeruk ini satu kantongnya lima ribu rupiah, lima ribu ada sepuluh biji) . “Sok bade bapak-ibu, teteh, Aa….amis jerukna…, mun teu percaya..sok mangga dicobian wae…” tawarnya kepada setiap deretan bangku. Tawaran pertama disambut senyuman lirih para penumpang yang mengisyaratkan penolakan secara halus. Dari ujung depan bis hingga pintu belakang tukang jeruk itu terus merayu menjajakan dagagannya disertai senyuman dan genggaman sekantung jeruk. Melihat situasi penumpang tiada minat untuk membeli, ia tak kehilangan akal. Dengan nada semakin tinggi ia berteriak “Oke….Saya tambahin dua biji, jadi duabelas…ayo pak, bu…dua belas Cuma sepuluh rebu…..dijamin manis, lumayan buat oleh-oleh, manis pak….bu…ayo…”, ucap

 

To be continue

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Novel. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s