Novel : Layang-layang Haikal

Minggu pagi itu langit terlihat lebih cerah dari biasanya,nampak dari kejauhan beberapa gumpalan awan putih melayang-layang diangkasa. Angin berhembus menyapa pepohonan hingga daunnya menari kian kemari. Alampun semakin hangat dimanjakan cahaya mentari yang menembus pori-pori punggung bumi.

Senyum sumringah menghiasi wajah Dadang yang kala itu berrencana ingin mengajak Haikal ke tanah lapang untuk bermain layang-layang.
“ Wah, cocok sekali cuaca pagi ini. Aku harus jemput Haikal segera,” pikirnya dalam hati.
Tanpa berfikir panjang, Dadang dengan serta merta langsung menyambar sepeda BMX kesayangannya yang bersandar di pagar bambu betung rumahnya.

“ Mak, Dadang pergi main dulu ya… “ teriaknya kepada si Emak yang sedang menggoreng tempe.
“ Main kemana kamu Dang ? ” tanyak Emaknya.
“ Main layang-layang bersama Haikal mak. ”
“ Hati-hati kau Dang, jangan lupa pakai sendalmu” pinta si Emak.
”iya mak.”

Itulah Dadang, anak desa yang terkadang enggan untuk bersandal. Ia lebih suka bertelanjang kaki, karena ia merasa lebih menyatu dengan alam ketika pijakannya tak beralas. Sungguh Aneh.

Dadang yang kini genap berusia delapan tahun adalah anak yang memiliki karakter tersendiri. Ia tercatat sebagai salahsatu murid di SD Negeri Inpres Sukamukti Bogor yang memiliki talenta sebagai pelukis berbakat. Hal itu dapat dilihat dari coretan-coretan kaya makna hampir disemua cover bagian dalam buku tulisnya. Bagi Dadang, halaman kosong tersebut laksana ucapan selamat datang baginya. Seolah-olah lembaran itu berkata ” Hiasilah aku dengan karyamu Dang”.
Walhasil, dengan semangatnya Dadang merasa terinspirasi untuk menuangkan hasratnya. Bak seorang maestro, ia lantas mulai memainkan jari jemarinya yang kurang mirip dengan jari Leonardo Da Vinci. Coretan demi coretan pensil cap biawak berbaring asal negeri tiongkok itupun akhirnya berbuah makna, meski kadang membingungkan. Betapa tidak, ada beberapa karyanya yang perlu mendapat penjelasan dari Dadang. Sebut saja ketika kebingungan pak Sugiar guru Ilmu Pengetahuan Alam. ” Kamu gambar apa Dang ?”, tanya pak Sugiar. ” Kupu-kupu pak!
”Lho, koq sayapnya satu ?
”Hmm..iya pak, kupu-kupunya kehujanan. Sayapnya nempel jadi satu.” jawabnya polos.
Pak Sugiar mengangguk nyerah dan perlahan mundur tanpa daya. Itulah Dadang dengan segala otoritasnya yang penuh, tak seorangpun bisa memveto kreatifitasnya.

Dadang memacu sepeda kesayangannya dengan semangat bergemuruh dalam dada. Cakram gir sepeda bagian depan berputar bak mata gergaji mesin memotong segala rintangan yang ada. Jalan setapak seolah-olah miliknya. Terpaksa beberapa pejalan kaki yang hendak pergi ke pematang sawah, secara spontanitas menghindar dengan bijaknya demi melihat seorang ksatria lengkap dengan gulungan benang dan dua buah layang-layang bermotifkan mata tombak. Duh Dadang.

Ia melesat bagaikan mata angin menembus cakrawala. Tiga tikungan nyaris dilalui dalam hitungan detik. Tiga hitungan pula Dadang nyaris menabrak pinggul dua ekor Ibu Sapi dan satu pohon asem tua yang enggan tersenyum manis.

Dadang semakin memacu sepedanya jauh lebih kencang. Seiring dengannya suara ajaib muncul bersahutan diantara sela-sela fork
belakang, tepatnya diatas gir rante. Pasalnya, Dadang sengaja mengikat sebuah balon dan diselipkan dekat velg. Walhasil, secara berulang tersentuh jari-jari ban sehingga menimbulkan suara blep, blep, blep yang mirip knalpot motor perang buatan Inggris BSA Army M21 600cc.

Tak ayal lagi, setiap kali sepeda Dadang melintas maka dalam radius tujuh belas meter lebih, para panglima semut dengan sigapnya memberikan peringatan dini kepada koloninya untuk tidak melintas di jalan. Paling tidak, menahan diri untuk sejenak. Sejatinya, para koloni itu selalu taat pada seruan panglimanya. Padahal mereka kerap berulangkali dibohongi, pasalnya Dadang tidak sedang melintas, melainkan tengah bermain mesra dengan tiga anak bebek kesayangannya. Sungguh menyebalkan bila melihat tingkah polah para panglima yang tertawa terkekeh-kekeh dan norak karena merasa menang diantara koloninya. Bayangkan, bila mereka tertawa dan memperolok-olok yang lain hingga tak tahu diri, maka para panglima itu menggoyang-goyangkan pantatnya mirip penari India Selatan dengan tangan melambai gemericik keatas. Mulutnya bernyanyi riang berdendang hymne semut versi acapela, coba saja simak liriknya :
Injit injit semut
Siapa sakit naik diatas
Injit injit semut walau sakit
Jangan dilepas….pam..pam..pam..pam..cuap..cuap…
Pa dem..dem…pa…dem..dem…plok..plok..plok..
( diulang dua kali ) Norak banget ga sih ??
Huh,..

Lain rumput, lain ilalang. Lain semut, lain kadal. Naas bagi sekawanan kadal orong-orong yang kadang terlambat ketika menyelamatkan buntutnya dari gilasan ban sepeda Dadang yang angkuh. Crash!!, ” …Arrgh!.. oh my God.. buntut ku hilang!, lagi-lagi Dadang…!”, begitulah ungkapan kepasrahan tak ikhlas seekor kadal yang sial. Entah untuk yang keberapa kalinya.

Diatas jok Dadang berdecak kagum pada dirinya sendiri. “Hebat kau Dang, sekali kayuh..dua kampung terlampaui”, bisiknya dalam hati. Baginya, nama besar Valentino Rossi belum seberapa bila dibandingkan dengan ketangkasannya menjinakkan roda dua diantara jalanan setapak yang becek dan penuh aroma jebakan ”ranjau” hewani.

Untung saja ban belakang sepedanya sudah mendapat perawatan dan uji kelaikan dari seorang praktisi roda dua, Kardiman’s Tambal Ban. Paling tidak, sudah lima titik Kardiman menambal ban sepeda Dadang yang sering bocor tanpa basa-basi. Kardiman baik hati dan jarang bermuram durja apalagi berburuk sangka manakala Dadang berkunjung dengan persoalan yang sama. Baginya, Customer Loyality merupakan asset yang perlu dipelihara. ”Don’t judge the book by the cover” paling tidak dipahami oleh Kardiman dengan bahasanya sendiri ”Janganlah menghukumi Dadang dengan sepedanya”, aih Kardiman.

Meski jenis sepeda Dadang teramat jauh dibawah tipe BMX RAZOR 20″ dengan Chain Wheel DH 42T, namun Dadang tetap bangga dengan tunggangannya yang ia peroleh dari Ayahnya ketika mendapat ranking dua di sekolahnya. BMX Champions 20” dihiasi embleem trophy warna kuning terang dengan dua tuas rem capit kini menjadi sahabat setianya. Wherever he goes, it’ll be there.

*** Butiran peluh sebesar biji jagung mulai menghiasi keningnya. Rambutnya yang dikibaskan angin, menambah keceriaan.

Selama perjalanan, banyak hal yang dialaminya mulai dari hijaunya pepohonan singkong yang berbaris rapi bak pasukan Hitler. Bunga-bunga terompet yang bergelantungan sedih karena tak pernah seorangpun sudi meniupnya. Pohon-pohon pisang Ambon dengan tandannya yang selalu ditemani anaknya bagaikan keluarga berencana yang bahagia. Beluntas, tanaman pagar yang berjejer kompak dengan daunnya yang khas dan mujarab membasmi bau ketek asem sengit. ” Oh, sungguh elok desaku”, decaknya.

”Blep..blep…blepp…ciiiiiiiittt…, grusaaakkk…!!”
Dadang mengerem sepedanya yang kadong nabrak pohon nanas di depan rumah Haikal.

” Assalamualaikum,
…Haikal.., Kall….,”, teriak Dadang.

” Wa’alaikumsalam…” sahut seseorang dari dalam rumah.
” Oh, kamu Dang!”
”Haikal ada bu ? ”
”Ada, tuh lagi dibelakang rumah. Masuk saja Dang”.
”iya bu”.

”Kal, lagi ngapain kamu ?”
” Ini dang, ikan Cupangku mati satu”
”Kenapa ?”
”Kemarin aku lupa pisahin ke toples lainnya..!”
” Ooo. Ya sudahlah Kal. Gimana kalo kita ke lapangan”
”Mau ngapain Dang ?”
” Main layang-layang. Sengaja aku bawa dua. Satu untukmu dan satunya lagi untukku. Gimana ?”
”hmmm….? ”
”Ayoolaahh…., mumpung masih pagi!”, rayu Dadang.
” Okelah,..!”
”Jangan lupa bawa benang layang-layangmu!”
” Oke, Dang…!”
”Ayo kita berangkat!”.

Kedua sahabat itupun pergi dengan riangnya. Haikal memegang erat pundak Dadang. Sementara kedua kakinya berpijak pada as roda belakang yang sudah ditambahi kuda-kuda.

Satu orang duduk mengayuh dan satu orang lagi berdiri tegak dengan wibawanya, persis inspektur upacara berjalan didepan pasukannya. Menyenangkan.

Sesampainya di tanah lapang, keduanya langsung mengikatkan gulungan benangnya dengan layang-layangnya. Satu motif tombak merah milik Dadang, biru untuk Haikal.

“ Kau pegangi layang-layangku Kal. Mundurlah jauh kesana. Aku akan tarik dari sini”, pinta Dadang.
”Oke Dang”

Haikal berjalan mundur sambil memegang layang-layang. Dadangpun mengulur benangnya hingga delapan belas meteran.

” Ayo tarik Dang!” teriak Haikal dari kejauhan mengisyaratkan si tombak merah siap take off.
” Okeee….1…2….3….!…Hup…!! Cihhuuuyyyyy…..!!”, Dadang menarik benangnya dengan semangat. Angin yang berhembus semakin mendorongnya menantang langit biru. Tinggi menjulang dan angkuh, laksana Bima Sakti terbang diangkasa.

”Ayo Kal, sekarang giliran layang-layangmu dinaikkan”.
”Oke Dang!”.

Selang beberapa lama, mainan kedua bocah itu sudah bersanding dengan gesitnya. Menari-nari dilangit biru. Sesekali menukik dan menyapu angkasa luas. Menyenangkan.

Kedua bocah itu terlihat riang gembira. Menarik dan mengulur benang sambil sesekali bersenandung. Setengah jam sudah berlalu. Keduanya nampak asyik dengan layang-layang yang dimainkan angin.

Ketika sedang asyik-asyiknya, tak lama kemudian muncul sebuah layang-layang dari arah belakang mereka. Menari gesit. Bak seorang musuh yang siap menerjang dengan pedangnya. Terlihat motif hitam tegas menyerupai mata kelelawar seolah-olah siap melibas layang-layang Dadang dan Haikal.

” Upps…., awas Dang. Kita kedatangan musuh”. Lihat keatas belakang kita!” , ucap Haikal.

” Wow…., Oke Kal. Siapa duluan yang mau hadapi ?”
”Kamu duluan saja Dang. Kalo layang-layangmu putus, khan masih ada aku. Hehehe.., tawa Haikal.
”Siapa takut!. Oke, F16 siap hadapi musuh” , tantang Dadang.

“Eiiitt….., hampir saja layang-layangku disambar si mata kelelawar!”
“Hati-hati kamu Dang,” seru Haikal.
“Tenang saja kawan, benang gelasanku sakti. Pasti aku bisa mengalahkannya”.
”Kau beli dimana gelasannya Dang ?”
” Di warung Mbah Romli Kal..”
“Oke Dang ”

Angin yang berhembus menuju utara semakin membuat layang-layang menari lincah di langit biru. Bak pesawat tempur angkatan udara yang beratraksi diacara perhelatan nasional.
Layang-layang dadang menukik tajam mencari celah untuk bisa mematahkan serangan musuh dengan cara memotong benang musuh dari bawah. Ketika layang-layang Dadang meluncur tajam, si mata kelelawarpun dengan cekatan mengikuti gerakan Dadang. Tiga kali Dadang melakukan hal yang sama, namun selalu kandas. Rupanya musuh mengetahui strategi yang dilakukan Dadang. Ia tak menyerah, strategi muncul dibenaknya.

”Kal, coba kau pancing si mata kelelawar untuk lebih dekat”.
”Apa rencanamu Dang ?”
”Kau alihkan perhatiannya supaya mengikutimu. Aku akan menyerangnya dari bawah”.
”Oke Dang. Aku setuju”. Cihuuuuyy….”. Haikal bersemangat.

Strategi menjebak lawan dengan cara mengalihkan perhatian terkadang ampuh untuk mematahkan serangan lawan. Haikal mulai mendekati si mata kelelawar. Gerakannya seolah-olah siap menghadapi dengan sungguh-sungguh.
”aku sudah mendekat si mata kelelawar Dang”
”Nampaknya perhatiannya sudah tertuju kepadamu”.
”Oke Dang., kau siapkan serangan mendadak”
” Siap”.

”Aku akan mengulurnya lebih jauh supaya dia mengikutiku”.
”Iya Kal, teruskan saja.

Si mata kelelawar mengikuti gerakan-gerakan si tombak biru. Haikalpun dengan gesitnya mengecoh gerakan si mata kelelawar.

Dadang mengikuti gerakan menjebak yang dilakukan Haikal dengan sabar ia menanti, perlahan namun pasti. Si tombak merah mengendap-ngendap melawan angin. Beberapa saat kemudian kesempatan itu telah tiba, dengan cekatan ia memutar balik si tombak merah jauh di bawah si mata kelelawar. Si tombak merah melesat dan memotong benang si kelelawar yang tak mengira bahwa Dadang akan mengguntingnya dari bawah.
” Aku akan potong sekarang Kal”
” Cepat Dang, sebelum dia sadar”, seru Haikal.

”Siap, F16 melumpuhkan lawan”
Dadang menariknya dengan cepat. Gerakan menggunting lawan oleh kedua tangannya diikuti denagn langkah mundur beberapa meter kebelakang.
”Crash..!”
Kedua benang itu beradu diangkasa. Gesekan kedua benang gelasan terasa ditangan. Seketika, simata kelelawar terjuntai melayang. Putus, melambung tertiup angin. Entah jatuh dimana.
”Horeee…., aku berhasil memutuskan si mata kelelawar..!”, teriak Dadang.
”yes!!, hebat kau Dang !”

Si mata kelelawar sudah putus, namun dua lainnya menyusul.
”Sekarang giliran kamu Kal”, ujar Dadang.
”Baiklah. Strategi apa yang akan kita pakai Dang ?”
”Kita lihat saja nanti”.

Dua musuh siap membalas kekalahan si mata kelelawar. Pasalnya sumber layang-layang itu dimainkan dari tempat yang sama dengan si mata kelelawar. Kali ini bermotifkan Petir warna hijau. Ia bahkan terlihat lebih gesit dari si mata kelelawar. Lincah dan mengesankan. Kekhawatiran muncul di benak Haikal dan Dadang.

” Dang, kau lihat si petir lebih gesit. Kita harus lebih hati-hati »
”Jangan khawatir Kal, kita pasti bisa mengalahkannya lagi, tantang Dadang.

Belum lagi usai pembicaraan mereka berdua tentang si petir. Sekonyong-konyong sebuah layang-layang musuh berwarna hitam legam menukik tajam dan berbalik arah merangsek benang gelasan Haikal dan Dadang.
“Awassss Dang…! ada serangan…tariiikkkkk….!!, seru Haikal.
Kedua bocah berusaha menarik benangnya dengan cepat. Namun tingkat kecepatan tarikan si hitam tidak dapat diimbangi. Kurang lebih 60 KM/jam. Kecepatan itu berlalu. Seketika benang layang-layang Dadang dan Haikal ditebas oleh si Hitam. Keduanya hanya terdiam dengan mulut menganga dan tangan terjuntai. Manakala si tombak biru dan merah tak lagi mereka kendalikan. Putus. Tinggal benang tak berdaya yang masih menempel di tangan mereka. Lambaian si tombak dikejauhan seolah mengucapkan selamat tinggal.
”Yaaa….habis kita Dang”, Haikal kecewa.
”Tak apa-apa Kal, lain kali kita balas kekalahan kita”

Sorakan kemenangan terdengar dari kejauhan tempat dimana si hitam dimainkan. Empat orang bocah bersorak-sorai ” Horeeee….kami menang, kalian kalah”, ejek mereka.

” Mengapa kita bisa kalah cepat Dang, bersamaan pula ?, tanya Haikal.
”Tidak tahu Kal, aku juga bingung. Koq mereka bisa menariknya begitu cepat”.
” Iya Dang”.
”Sudahlah, kita gulung saja benang kita”.

Haikal tetep dalam kebingungan mereka. Musuh bisa menarik dan melibasnya dengan cepat.

Keduanya tidak tahu. Rupanya sekawanan anak-anak itu memainkan layang-layang mereka dengan
Bantuan energi gerak alias berlari. Caranya, benang layang-layang dimasukkan kedalam lengkungan kunci gembok. Lalu bandulnya dipegang oleh seseorang, sedang satu orang lagi tetap mengendalikan benangnya. Strategi ini membentuk huruf ”L”. Ketika waktunya tiba, sipengendali benang akan menyuruh si pemegan bandul kunci gembok itu untuk berlari sekencang-kencangnya kearah yang berbeda. Bila si pengendali ada di kanan, maka sebaliknya si pemegan gembok akan berlari kearah kiri secepatnya.

Keduanya menggulung benang mereka dengan kecewanya. Angin yang berhembus semaking mengobarkan kejayaan si hitam dan si petir diangkasa. Mereka berkuasa.
”Wah, benang kita putusnya panjang Dang”, ujar Haikal.
”Iya Kal, si hitam melibas kita sepanjang ini. Tega nian. Besok-besok kita balas mereka”.

Sehelai rumput terselip diantas kedua bibirnya. Dadang merenung sambil memandang ke angkasa.
”Aku harus tahu rahasianya”.
”Rahasia apa Dang ?”
”Forget that man”, seru Haikal.

Keduanya duduk diatas rumput hijau. Tanah lapang yang mulai terlihat tinggi.

Dadang dan Haikal tak menyadari ketika seorang kakek yang sedang mengarit rumput mengikuti pembicaraan mereka berdua.

“Kenapa nak?” Kalah ya? “
Dadang dan Haikal menoleh kearah kakek itu.
“Iya Kek, koq tahu sih ¿

“Ya tahulah. Dari tadi kakek amati kalian berdua. Apalagi ketika layang-layang kalian dilibas dalam waktu bersamaan. Kakek hanya tertawa dalam hati.
“Kenapa kek?, Haikal bingung.
“Kakek tahu rahasianya kenapa mereka bisa begitu cepat menarik layang-layangnya di banding kalian”, ujar kakek.
****

Si kakek merapikan rumput yang diambilnya keatas tanggungan yang terbuat dari bambu.
“Lumayan banyak juga rumput yang kakek ambil hari ini”.
“Kakek punya kambing?”, tanya Haikal.
”Iya, kakek pelihara tujuh ekor kambing.”
”Wah, banyak juga kek ”.
”Satu pasang betina dan jantan, lima ekor anaknya dan dua ekor kambing munda jantan.”
” semuanya kakek yang pelihara ?”
Iya, tapi kakek juga kadang dibantu cucu kakek untuk mengarit rumput”
”Oh ya”

”Bagaimana kalai kita teruskan ceritanya dirumah kakek. ?
”Rumah kalian dimana ? tanya Kakek.
“Boleh Kek”, ujar mereka berdua.
Jalan menuju rumah kakek tidaklah begitu jauh dari lapang. Hanya menuruni tanjakan menuju sungai Ciparigi. Lalu melintasi tambak ikan.

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s