Novel : Destina

Satu

When I see you smile
I can face the world, oh oh
you know I can do anything
When I see you smile
I see a ray of light, oh oh,
I see it shining right through the rain
When I see you smile
Oh yeah, baby when I see you smile at me..

Alunan lagu When I See Your Smile nya Bad English mengiringi gundah gulana hati Adrian. Sore itu Adrian termenung sambil menatap keranting-ranting cemara basah di halaman rumah. Tangannya meremas erat teralis jendela kamar. “Oh my God. Mungkinkah aku jatuh cinta pada gadis itu?”, tanyanya dalam hati. Wajah itu selalu hadir dipelupuk matanya. Bahkan Senyum manis Catherine Zeta Jones yang terpampang diantara rak bukupun tak mampu mengusir kegelisahan hatinya.

”Klik!”. Saklar on/off kembali dihidupkan. ”Blip!”, tombol mixer dan Peavey Amplifier speaker merah menyala diiringi suara mendesis. Adrian meraih Ibanez kesayangannya. Lead Guitar biru sahabat setianya itu selalu hadir dipojokan kamarnya. Ia raih sahabat setianya itu dengan penuh perasaan. Lengkingan melodi yang dimainkan mencerminkan suasana hatinya. Warna petikan sang Joe Satriani terdengar apik dimainkan jari jemari Adrian. Nada mayor dan minor bersahutan diantara grip yang berbaris rapi. Senar gitar melengking tajam, sesekali disusul nada rendah, kemudian berganti nada tinggi, Paling tidak, teknik petikan up-down stroke dan finger tapping bermain diantara dua puluh empat fret . Nyaris tiga kali ia mengulang Always nya Joe.

Adrian memang pandai bermain gitar. Baginya, The Blue Sexy–panggilan sayang untuk gitar listriknya—bagaikan pacar sejatinya.
Namun kali ini, the Blue sexy seolah-olah mendapat madunya, Adrian mulai mendua. Tiga minggu yang lalu ia berkenalan dengan seorang gadis di dalam kereta. Destina namanya, sungguh elok namanya, seelok parasnya.

Destina adalah sosok gadis yang belakangan ini kerap mengusik hatinya. Ia hadir dan singgah disudut ruang hatinya. Perasaan itu muncul karena wajah itu selalu hadir berulang-ulang. Baginya ia laksana anggur yang melenakan. Ada benarnya pepatah jawa yang mengatakan “Witing tresno jalaran soko kulino” cinta bersemi lantaran sering bertemu. Hal inilah yang tengah dirasakan Adrian. Senyum Destina selalu hadir setiap pagi. Segar, sesegar embun pagi. Seolah-olah ia datang dari langit. Menyapa Adrian dan mengisi lembaran cerita paginya.

Sejenak ia lepaskan Blue sexynya. Ia tatap potongan kertas daur ulang yang menggantung di dinding kamarnya, disana tertulis kalimat indah nan romantis.

Pagi yang indah, mentari bersinar dengan eloknya…
Akupun larut dalam rengkuhannya.
Tatapanku jatuh diantara deru mesin dan gesekan roda-roda besi.
Seraut wajah muncul diantara wajah-wajah yang larut dalam kebisingan….
Kutatap wajah itu lekat-lekat…sejuk dan mempesonakan.
Mentaripun segera sembunyi karena tak kuasa menandingi keelokan wajah itu.

—- Adrian, on The_Train_of_Love—-

Adrian tersenyum tak jelas. Entah perasaan seperti apa yang tengah melanda jiwanya. Kegelisahan yang menjalar seluruh dimensi hatinya laksana air bah tsunami yang menenggelamkan dermaga perasaannya sebagai seorang lelaki.

Pesona Destina begitu kuatnya hingga mampu menerobos ruang hatinya, yang semestinya tidak seorangpun boleh singgah tanpa izinnya. Tapi bagaimana mungkin Adrian bisa menolak sosok yang selalu hadir di hadapannya. Adrian baru mengetahui, cinta bisa hadir tanpa disadari. Dengan perlahan tapi pasti merasuki jiwanya. Perasaan itu yang tak dimengerti olehnya. Dunianya kini dipenuhi taburan bunga, segalanya terlihat lebih indah dan cerah dari sebelumnya. Bahkan semakin melankolis. Seribu pengandaian bermain-main dipelupuk matanya. Seribu harapan pula tumbuh dalam lubuk hatinya.

Paling tidak, seperti itulah gambaran hati seorang Adrian, Ia sedang dimabuk asmara. Cupid-cupid kecil berhasil menancapkan panah kedalam hatinya. Membangun istana cinta sekaligus membentangkan harapan indah.

Sosok Destina begitu sempurna bagi Adrian. Tatapan matanya yang tajam dan dalam bak pena yang menggoreskan kata-kata syahdu. Rambutnya terurai indah mengkilat bak bidadari yang turun dari langit keempat. Hidungnya yang mancung berdiri kokoh bagaikan piramida mesir, angkuh namun mengesankan. Barisan bulu halisnya nampak rapat menghitam bagaikan semut jambu air berpelukan. Bibirnya merah indah merekah bagaikan kelopak bunga rose di pagi hari. Kulitnya kuning langsat laksana buah pir matang yang ranum nan manis. Postur tubuhnya yang ideal, tinggi semampai dengan betis berisi bak padi menguning, membuat jantung Adrian berdetak kencang. Jari-jemari tangannya yang halus seputih susu dibingkai kukunya yang lentik, pertanda gadis yang apik. Paling mengesankan adalah tahi lalat hitamnya yang menghiasi Bibir atas sebelah kanan, pelengkap kesempurnaan. Keindahan maha karya sang pencipta hadir pada dirinya.

Destina adalah seorang gadis yang cerdas dan cantik serta memiliki daya tarik luar biasa. Barangkali tidak berlebihan jika setiap lelaki yang berjumpa dengannya akan terpana memandang keelokan wajahnya. Sulit rasanya untuk mengingkari kejernihan raut wajah Destina. Bahkan seekor nyamukpun mungkin akan merasa ragu untuk hinggap dan menancapkan jarumnya diatas kulit wajahnya yang jernih bagaikan telaga. Sungguh beruntung pria yang bisa menjadi pendampingnya. Jauh lebih beruntung dari seorang pangeran yang menemukan sepatu kaca Cinderella.

Diambilnya potongan kertas itu, sambil berucap “Sedang apakah dirimu sekarang, duhai gadis impianku. Aku merindukanmu, serindu-rindunya”, ucapnya pelan bak seorang pujangga amatiran yang dimabuk cinta. Angannya melayang-layang persis anak burung pipit belajar terbang.

Tiba-tiba Adrian dikagetkan suara seseorang di depan pintu.
“Adrian”
“Eh, Ibu..”
“ Naaaahh ketaun, kamu melamun ya?”
“Ah enggak bu”, Adrian mengelak.
“Kalo begitu berarti kamu merenung”
“Lho, bedanya apa bu ?”
“Kalo melamun, pikirannya kosong”
“Merenung ?’
“Kalo merenung, berarti kamu sedang memikirkan sesuatu. Ibu tahu, pasti ada yang kamu pikirkan”, tebak ibunya.
“Akh ibu bisa aza. Ga ada koq bu”
“Jangan bohong sama Ibu. Kelihatan koq dari mata kamu”, Ibunya tersenyum.
“Akh ibu….ga ada apa-apa koq bu”
“Bener nich ?” selidik Ibunya.
Iya. Bu, boleh tanya sesuatu ?”
“Boleh. Tapi jawab dulu pertanyaan Ibu ?”
“hhhmmm….mmm..apa yang harus Adrian ceritakan bu?”
“Ya sudah. Ibu tidak memaksa. Apa yang mau kamu tanyakan sama Ibu ?” ,
sambil duduk disamping Adrian.
“….Hmmm…Ibu pernah kangen sama Ayah ?”
“Kenapa kamu tanya begitu ?”
“Ingin tahu saja Bu”.
Ibunya menghela napas dalam-dalam. Matanya menerawang jauh keluar jendela. Sementara Catherine Zeta Jones tetap dengan senyum manisnya.
“Tentu saja. Tiga puluh tujuh tahun Ibu hidup bersama. Dalam suka maupun duka bersama Ayahmu. Sebagai seorang isteri yang setia, tentu saja Ibu ingin bertemu dengan ayahmu”, jawab Ibunya pelan.
“Maafkan Adrian bu. Boleh tanya lagi”
“Boleh. Kenapa ?”
“Ibu merasa kesepian ga ?”
“Khan masih ada kamu yang temani Ibu. Sudahlah jangan buat Ibu sedih”.
“Iya bu. Seharusnya Kak Mirna temani Ibu juga dengan mengajak keluarganya tinggal disini. Rumah ini khan besar bu. Hanya Ibu, Aku dan bi Kokom yang tinggal disini”
“Kakakmu khan sudah punya keluarga. Kewajibannya untuk patuh kepada suami. Kemanapun suami mengajak, ya…kakakmu harus ikut”, ujar Ibunya sambil merapikan DVD yang berserakan dikamar.
“Tapi khan…”
“Tapi kenapa ? Memangnya ibu mau ditinggalin kamu juga ?”
”Enggaklah bu. Mana mungkin Adrian tega ninggalin ibu sendirian”,
“Jadi apa dong?”
“Hmm, gini bu, kalau Adrian nanti menikah. Gimana dengan Ibu ?”
Ibunya tertegun. “Lho, emangnya kamu sudah punya pacar toh?”, ibunya heran. Adrian hanya tersenyum.
“Siapa namanya Ad?”
“Ada dech bu”, Adrian tertawa.
“Ayo ceritain dong sama Ibu”, matanya berbinar-binar. Ibunya heran, baru kali ini Adrian bercerita tentang seorang gadis. Sebelumnya tidak pernah samasekali. Kekhawatiran Ibunya hilang seketika.
“Adrian kenalan sama seseorang, tapi…”
“Tapi kenapa ?”
“Baru kenal pertama kali koq bu”
“Maksudmu ?”
“Baru bertemu sekali. Itupun sebentar”
“Siapa namanya ?”
“Destina Bintan bu..”
“Wow, nama yang unik. Dia mahasiswi ?”
“Sudah bekerja bu“
”Ya baguslah”
“Selama ini Adrian belum pernah pacaran. Tapi kali ini, sejak bertemu dengannya terasa ia bukan orang asing. Padahal baru pertama kali ketemu”, ujar Adrian sambil menatap wajah ibunya. Ada kesungguhan dari tatapan Adrian.
“Mungkin ia bakal jodohmu”, seru Ibunya sambil tersenyum. Adrianpun.
“Menurut ibu bagaimana ?”
“Ibu sih tidak masalah, selama yang kamu pilih itu gadis baik-baik”, ujar wanita yang sudah menjanda ini.
“Terimakasih bu”
“Tapi kapan mau dikenalin sama ibu ?”
“Nanti saja bu”, Adrian tersenyum sumringah.
“Sebetulnya apa yang membuatmu jatuh hati padanya ?”
“Entahlah bu, aku sendiripun tidak tahu”
“Apa karena dia cantik ?”
“Dia memang cantik bu,..tapi..”
“Tapi kenapa ?”
“Kalau hanya karena kecantikannya saja, tentu Adrian sudah punya pacar dari dulu”
“Maksudmu ?”
“Banyak gadis-gadis cantik yang Adrian kenal. Tapi Destina berbeda sekali bu. Dia memiliki sesuatu yang Adrian tak tahu”. Ibunya tersenyum. Anaknya sedang dilanda demam asmara.
“Tapi bu,…”
“Kenapa ?”
“Bagaimana kalau dia sudah punya pacar ?”, Adrian ragu.
“Kalau belum ?” Ibunya balik bertanya. Adrian diam.
“Ya sudahlah, kamu tahu apa yang harus dilakukan. Kamu khan sudah
dewasa Adrian”, ujar Ibunya pelan sambil mengusap kepala anaknya. Keduanya tersenyum lalu terdiam untuk beberapa saat.

Tiba-tiba. “Bu, maaf. Bingkisan untuk besok, sudah Bibi siapkan di kantung warna putih”, ujar bi Kokom pembantu di rumah.
“Oh ya. Terimakasih ya bi”
“Sama-sama bu. Permisi”, jawabnya sambil berlalu.
“Biii….tunggu sebentar. gimana kabar si Iwan ?”, tanya Ibu tentang anaknya bi Kokom.
“Alhamdulillah sudah agak baikan. Panasnya sudah turun”, ujranya.
“Oh. Syukurlah, semoga lekas sembuh’
“Terimakasih bu”, jawabnya sambil berlalu.
“Ya bi, sama-sama”, sahut ibunya.
“Oh ya bu, bagaimana kondisi kesehatan Uwak Samri ?” tanya Adrian yang teringat paman Ayahnya itu.
“Tadi pagi ibu telepon anaknya, katanya kondisinya sudah mulai membaik. Mungkin besok atau lusa sudah bisa pulang dari rumah sakit”
“Kalau begitu, besok sore kita tengok lagi bu”, ajak Adrian.
“Iya. Kamu usahakan pulang lebih awal”, pinta Ibunya.
“Baik bu”, ujar Adrian.

***

Sore itu semakin bertambah syahdu. Usai hujan, mentari sore itu masih memancarkan sinarnya. Pancaran sinarnya ditangkap oleh butiran air di awan yang menjadi lengkungan warna-warni indah di langit luas. Cakrawala kembali cerah dengan dihiasi pelangi yang membentang diangkasa. Warna keemasan di ufuk barat dibingkai oleh lengkungan cincin warna-warni di langit timur jauh. Lengkap sudah keindahan yang tengah dirasakan Adrian. Indah dalam hatinya begitu pula alam di sore itu.

Adrian lahir dan tinggal di kota hujan. Kini usianya telah menginjak dua puluh tujuh tahun. Ia memiliki karakter angkuh untuk sebuah keinginan. Ia selalu bersikap dingin terhadap gadis-gadis yang menaruh hati padanya. Bahkan terkadang mampu berbuat kejam untuk membunuh perasaan seorang gadis yang yang pernah menyatakan cinta padanya. Namun dibalik semua itu, Adrian adalah seorang tipe pria yang benar-benar bersahabat dengan siapapun. Ketegasannya dalam hal asmaralah yang membuatnya tega membuat hati seorang gadis menangis. Sejak masa kuliah dulu ia termasuk salahsatu aktivis mahasiswa yang asyik dengan kegiatan kampusnya. Berbagai lembaga organisasi intra kampus seperti Senat Mahasiswa, Lembaga Pers Mahasiswa hingga Ikatan Seniman Kampus ia ikuti. Adrian memiliki paras yang cukup lumayan sebagai seorang lelaki, setidaknya perpaduan wajah aktor antara Nicholas Saputra dan artis Marcel yang dilarutkan jadi satu kini hadir dalam dirinya. Pantas saja bila mahasiswi-mahasiswi banyak yang terpesona kepadanya. Namun dari semuanya itu tak satupun disambutnya dengan tangan terbuka. Adrian memegang teguh idealisme bahwa seorang aktivis sekaligus tokoh kampus haruslah menjadi milik semua. Ia tak ingin terjebak dalam kisah-kasih sesaat yang hanya membuatnya kerdil dan sempit. Bahkan terbelenggu oleh aturan-aturan sang pacar. Itulah yang membuatnya jomblo-man sejati.

****

2

Pertemuan pertama Adrian dengan Destina bermula dari rutinitasnya pergi ke kantor. Adrian memang berpergian ke kantor dengan kereta. Paling tidak jenis transportasi massal ini tak perlu terjebak macet dijalan raya, paling-paling keterlambatan jadwal atau gangguan sinyal saja yang sering dialami. Paling ekstrim, anjloknya kereta. Itupun tidak terjadi setiap hari. Walhasil, KRL Ekspres Pakuan Bogor – Jakarta senantiasa menjadi tumpangannya.

Sebagian orang di kantornya kadang bercerita mengenai pengalaman mereka yang menggunakan jasa si ulat besi ini. Mulai dari mahalnya tarif, kurang profesionalnya PT. KAI, sering terlambatnya jadwal, matinya AC hingga cerita horor bahkan perselingkuhan. Adrian tak pedulis semua itu, toh meski dicaci dan dimaki kereta itu tetap dibutuhkan. Baginya, daripada mencaci tak jelas, lebih baik memberikan solusi dengan jalur dan cara yang benar. Menurutnya, persoalan alat transportasi yang satu ini dengan pelayanannya terhadap masyarakat memang cukup kompleks.

Bayangkan saja, betapa sibuknya lalulintas rel Bogor-Depok-Jakarta dan Jakarta-Bekasi pada saat jam kerja. Selain itu berapa banyak statsiun yang harus disinggahi rangkaian kereta ini untuk mengangkut para penumpang yang setiap pagi hingga malam hari telah menantinya. Mulai dari jenis kereta ekspres AC, ekonomi AC hingga kereta ekonomi ”Angin Cepat” alias pintu terbuka dengan ramahnya. Belum lagi rute yang lain seperti Jakarta – Bandung dengan Parahyangan (dulu) dan Argo Gedenya, Jakarta – Solo dengan Argo Lawu dan Bima, Jakarta-Malang dengan Gajayana, Jakarta -Semarang dengan Argo Muria, Argo Bromo Anggrek, dan Sembrani. Adrian mengetahui itu semua dari website milik PT. KAI ketika iseng-iseng berselancar mencari informasi tentang lalu lintas kereta menuju stasiun Kota. ”hmm….its a nice track…yeaa..”, Adrian tersenyum.

***
Seperti biasanya, pukul lima tigapuluh pagi Adrian sudah tiba di stasiun Bogor. Setelah antri dan mendapatkan karcis kereta ekspres, Adrian segera bergegas untuk mencari rangkaian kereta yang akan membawanya ke kantor. Sempat bertanya kepada petugas porter masuk untuk memastikan keretanya berada di jalur berapa.
“Kereta ekspres tujuan Kota jalur berapa pak ?”, tanya Adrian.
“Jurusan ke Kota jalur tiga mas”
“Terimakasih”, ujar Adrian kepada petugas pintu masuk.

Terlihat beberapa KRL tengah parkir menunggu jadwal keberangkatan. Nyaris mirip dengan film kereta anak-anak Thomas & Friends di pulau Sodor yang siap menerima perintah dari kepala stasiun. Adrian berlari kecil menuju jalur tiga. Beberapa pengasong koran mulai menyambutnya dengan ramah.

“Koraan, koraannya..mas. Luna Maya menyangkal beradegan seks dengan Ariel“, ujar para penjaja menawarinya sebuah harian ibu kota.
“Akh,..ga penting pak!”. Ada koran Republika ?” ujar Adrian.
“Ada mas. Ini”
”Berapa ?”
”Tiga ribu mas”
Mau kemana ? jurusan Kota apa Tanah Abang ?”
“Kota pak”
“Kereta ke Kota jalur tiga mas!”, sambil menunjuk KRL itu.
“Oke. Ini uangnya. Terimakasih”, Adrian segera berlari menuju jalur tiga. Baru beberapa orang yang sudah berada di dalam kereta gerbong pertama. Ia berjalan terus hingga menyusuri gerbong tiga. Didapatinya kursi yang masih tersedia di rangkaian tiga, segera ia duduk dengan manisnya. Sementara itu, lalu lalang orang-orang disekitar peron mulai terlihat. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Menyesuaikan karcis dan jenis kereta yang akan dinaikinya. Beberapa petugas security nampak sibuk dengan peluitnya memberitahu penumpang yang hilir mudik di lintasan. Pun demikian dengan Announcer berulangkali mengumumkan jadwal keberangkatan kereta yang parkir di jalur satu hingga delapan. Keangkuhan gunung Salak yang samar terlihat namun berdiri kokoh bak piramida di selatan kota hujan itu seakan menjadi saksi bisu suasana stasiun. Pagi yang sibuk di stasiun tua peninggalan jaman menir.

Tak berapa lama kemudian, seseorang menghampiri dan menyapa Adrian.
“Maaf ya mas, ini kereta tujuan Jakarta Kota ya ?” tanya seorang gadis yang tiba-tiba duduk disebelah kirinya. Adrian menoleh refleks. Tatapannya beradu.
“Betul. Mba mau turun di stasiun mana ?”
“Saya turun di Gambir”
“Oh, sama. Sayapun turun di Gambir”
“Oo…Terimakasih mas”
“Iya…iya. Sama-sama”, jawab Adrian telat, karena terpana.
Keduanya saling lempar senyum. Sejenak tak ada pembicaraan karena terasa urusan sudah usai. Gadis itupun duduk disebelah kirinya.

Sepuluh menit berlalu, seketika pengeras suara berbunyi mengumumkan jadwal keberangkatan kereta.

“Selamat pagi para penumpang yang kami hormati. Saat ini anda berada didalam kereta ekpress tujuan Jakarta Kota dengan jadwal keberangkatan pukul 05.57 menit. Kereta ini akan berhenti di stasiun Cilebut, Bojong Gede, Depok, Manggarai, Gondangdia, Gambir, Djuanda dan mengakhiri perjalanannya di stasiun Jakarta Kota. Karcis yang berlaku adalah sebelas ribu rupiah. Pastikan Anda tidak salah naik. Mohon dijaga karcis dan barang bawaan Anda. Terimakasih atas perhatiannya. Semoga selamat sampai tujuan”.

Adrian mencoba duduk santai dengan koran Republika ditangannya. Ia mendadak grogi, entah berita mana yang harus dibacanya lebih dulu. Ada headline persiapan Timnas Garuda menghadapi laga final dengan Malaysia dalam liga AFF. Berita kasus Gayus, mafia kasus pajak yang semakin melebar dan melibatkan pejabat negara. Hingga berita klarifikasi Iran dengan program damai nuklirnya. Lipatan demi lipatan koran dibukanya, namun tak satupun berita yang dibacanya hingga tuntas. Hanya judul dan paragraf satu hingga dua saja. Selebihnya ia tinggalkan. Sementara gadis disebelahnya tetap rileks dan biasa-biasa saja. Harum semerbak mewangi parfum chanel tercium hingga menyentuh rongga-rongga dan bulu hidung Adrian.
“ Hmmm…wangi sekali”, bisiknya dalam hati.

Tak lama kemudian para penumpang lainnya mulai memenuhi kursi-kursiyang masih kosong, sebagian berdiri dan memasang kursi lipat, bahkan ada yang nekat berlesehan ria dengan koran. Keretapun mulai dipenuhi penumpang. Menit demi menit berlalu, pintu otomatis mulai menyibakkan keangkuhannya, tanda kereta akan melaju. Seiring dengannya komando dari pemantau memberikan sinyal jalur aman untuk keberangkatan kereta jalur tiga.

“Jalur tiga aman. Masinis, kereta ekspres tujuan Jakarta Kota silakan berangkat”.

Klakson berbunyi dan roda-roda besipun mulai berputar perlahan meninggalkan peron. Kereta berjalan semakin cepat dan mulai bergoyang ke kanan dan kekiri. Suara-suara bel pintu lintasan mulai terdengar menandakan KRL sudah melaju jauh meninggalkan stasiun Bogor yang dibangun sejak tahun 1881 itu.

Kurang lebih satu jam lama perjalanan diatas kereta dari stasiun Bogor hingga Gambir, plus dininabobokan gesekan roda-roda baja dan suara mesin yang meraung-raung. Meski lumayan lama, setidaknya Adrian tetap berterimakasih kepada para pekerja rodi yang berjasa karena telah membentangkan rel pada tahun 1869an di era Gubemur Jenderal Hindia Belanda P. Myers itu. Tentu tidak sedikit pekerja paksa yang mati disepanjang rel. lintasan KRL itu dibangun diatas cucuran air mata dan darah.

Jalur kereta api Jakarta – Bogor dulu dikenal dengan jalur Batavia-Buitenzorg. NIS atau kepanjangan dari Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij adalah sebuah perusahaan kereta api swasta yang mulai membangun jalur pada 15 Oktober 1869. Kala itu, Gubernur Jenderal Rochussen mempertimbangkan bahwa jalur Batavia-Buitenzorg juga merupakan jalur penting untuk mengangkut hasil kopi dan teh selain juga sebagai pusat pemerintahan kolonial. Konon, dari hasil penelitian tim Kerajaan Belanda, jalur Batavia-Buitenzorg terbilang rawan, khususnya rawan terhadap perlawanan dari para tuan tanah. Jalur itu terealisasi pada tahun 1869 dan memerlukan waktu selama empat tahun untuk menyelesaikan bentangan rel sepanjang lima puluh delapan kilo meter atau kurang lebih setara dengan lima puluh delapan ribu meter. Tentunya pembangunan itu diprakarsai pemerintahan kolonialisme Belanda, masa kejayaan para kompeni dan kompeniwati. Namun masa menyakitkan bagi pribumi.

***
Tak lama, KRL memasuki sebuah terowongan. Berarti stasiun Cawang sudah di depan mata. Persinggahan stasiun berikutnya Tebet dan Manggarai. Sejumlah penumpang sudah bersiap-siap untuk turun di stasiun besar itu. Pintu otomatis terbuka dan sebagian penumpangpun bergegas turun. KRL sudah tiba di stasiun besar Manggarai.

“Sudah sampai Manggarai mbak!”, Adrian membuka pembicaraan, sekedar berbasa-basi.
“Iya mas”, seraya tersenyum. Suasana tetap kaku dan formal.
Adrian bersiap-siap untuk turun setelah keretanya berhenti di stasiun Gondangdia karena pemberhentian berikutnya, Gambir.
“Ayo mba, kita siap-siap. Sebentar lagi sampai di Gambir”
“Terimakasih mas”, ujar gadis itu sambil tersenyum manis.

Kereta berhenti dan mulai mengeluarkan isi perutnya di stasiun hijau itu. Merekapun berlalu menuruni tangga seiring dengan penumpang lainnya dan berpisah karena perbedaan tujuan.
“Mas, Saya duluan”, ujar gadis itu sambil melempar senyum. Adrianpun membalasnya.
“Oke mba, hati-hati”

Didepan stasiun Gambir, gadis itu langsung menghampiri taksi biru yang parkir. Perlahan ia meninggalkan Adrian yang masih berdiri disana. Postur tingga semampai itu berlalu dan hilang dari hadapannya, hanya menyisakan perasaan sedikit menyesal dalam hati Adrian.
“Duh, siapa namanya ya dia ?? “, gerutunya sambil berharap esok bisa berjumpa lagi.

***

3

Rabu pagi Adrian ingin segera tiba di stasiun Bogor. Hatinya berharap bisa berjumpa lagi dengan gadis yang bareng bersamanya kemarin. Kawasaki Ninja 250R warna merah itu mulai meraung-raung di halaman rumahnya. Dahsyat. Pagi yang dingin itu tak membuatnya mengkerut. Semangat dan harapan bergelora dalam hatinya. Berharap ia kembali bertemu dengan seseorang yang telah menawan hatinya itu.

“Bu, Adrian berangkat dulu”
“Sudah sholat shubuh ?”, tanya ibunya yang masih mengenakan mukena.
“Sudah bu”
“Sarapan ?”
“Nanti sarapan di kantor saja bu. Bi kokom sudah siapkan roti untuk Adrian”.
“Jadi, belum sarapan ?”
“Takut tertinggal kereta bu“
“Ya sudah. Hati-hati di jalan, jangan ngebut bawa motornya”, pesan Ibunya sambil mengulurkan tangannya. Adrian menciumnya.
“Iya bu. Assalamualaykum”
“Wa’alaykumsalaam”.

Adrianpun beranjak dari rumahnya menuju stasiun. Keluar dari pintu gerbang perumahan Yasmin, ia langsung tancap gas. Ninja Passion Red dengan tipe mesin empat-stroke dua cylinder itupun mulai berlari. Dari rancy panel terlihat jarum speedometer mulai beranjak mendekati angka seratus sepuluh kilo meter per jam. Adrian ingin menancapnya lebih kencang lagi, namun ia teringat pesan Ibunya agar jangan ngebut. Kembali ia urungkan untuk menarik tali gas itu. Cukup dua belas menit untuk sampai didepan stasiun. Segera ia parkirkan kuda besi yang telah mengadopsi mesin DOHC itu.
Sesampainya di dalam KRL Ia berusaha untuk duduk ditempat yang tak jauh berbeda dengan kemarin. Menit demi menit berlalu . yang ditunggu tak kunjung tiba. Perlahan, gerbong KRL mulai dipenuhi penumpang. Adrian cemas dan gelisah. Berulangkali wajahnya menengok ke kanan dan kekiri.

“Duh, kemana ya dia. Koq ga ada?”, gerutunya dalam hati. Seolah-olah ia sedang menunggu seseorang yang sudah pasti akan menghampirinya. Sejenak kesadarannya muncul.

“Bagaimana juga caranya dia tahu kalau aku menunggunya disini ?”. Bisa saja dia sudah berada di gerbong satu atau dua. Bisa pula di gerbong empat, lima, enam bahkan delapan. Duh, bodohnya aku “, Adrian garuk-garuk kepalanya yang sebetulnya tak gatal.

Ia tarik napas dalam-dalam, sambil tertawa dalam hati. Ia lihat disekelilingnya tak nampak sosok yang dinantinya. Sementara orang-orang mulai mengisi kursi-kursi yang masih kosong. Tak lama KRL pun mulai meninggalkan stasiun. Hari itu Adrian gagal bertemu dengannya. Mungkin esok atau lusa masih ada kesempatan.

***

Rabu tak berjumpa, Kamis tak beruntung. Jum’at pagi itu berharap ada kesempatan untuk bersua. Seperti biasanya ia sudah berada diatas KRL gerbong tiga. Yang ditunggu belum kunjung tiba. Tiga orang pengamen beraksi dengan alat musik seadanya. Satu gitar akustik, satu bass betot sebesar badan sapi dibelai mesra dan satu alat perkusi minimalis. Meski mirip parade tanjidor ala betawi, but the show must go on. Nyanyianpun mulai terdengar. Nyaris sempurna nada-nada yang dimainkan. Sebuah alunan lagu Iwan Fals mengalun kompak.

Adrian hafal betul nyanyian itu, bahkan ia tahu dari kunci D nyanyian itu dimainkan, Tepatnya nada kedua dalam skala C mayor. Liriknya seakan mewakili perasaannya.
“Kumenanti seorang kekasih, yang tercantik yang datang di hari ini. Andai, kau tak datang kali ini …musnah harapanku”. Adrian terhanyut dibelai mesra lantunan para pengamen. Belum tuntas lagu itu dimainkan, sesaat pandangannya berubah dan denyut jantungnya berhenti sejenak. Tiba-tiba sekelilingnya nampak bergerak lamban dan tak bersuara. Bagaikan disetting slow motion and mute. Warna sephia merubah objek-objek seisi kereta hingga kepojokan.

Seseorang nampak berjalan dari pintu gerbong dua. Sosok yang dinantinya itu hadir. Beberapa saat napas Adrian tak beraturan. Detak jantungnya berdetak kencang. Tatapannya tak lepas. Ia datang menyihir hati Adrian dan sekitarnya. Seketika deretan penumpang yang sedang duduk seolah-olah berubah menjadi rumput alang-alang yang dipenuhi bunga indah. Sementara para penjaja koran pagi terlihat bak kupu-kupu lucu yang bertebaran kian kemari. Gadis itu berjalan dengan senyum merekah segar. Sesegar embun pagi. Rambutnya melambai bagai dikibaskan angin pegunungan, meski sebetulnya berasal dari kipas angin yang tergantung dekat langit-langit gerbong. Adrian menyambutnya dengan riang. Dirinya serasa melayang “ Selamat datang gadis impianku”, ucapnya dalam hati.
Gadis impiannya itu melangkah dengan santainya. Senyum Adrian semakin sumringah, tatapannya tak berkedip sama sekali. Tiba-tiba…

“Dreeett….Dreeeet !!…..”
Tsamina mina zangalewa
Cause this is Africa
Tsamina mina eh, eh
Waka waka eh, eh
Tsamina mina zangalewa
This time for Africa…..

Ringtone Waka-waka-Shakira nyaring terdengar dari saku celana penumpang sebelah mengaburkan hayalannya. “Klik!”. Adrian segera tersadar dan kembali ke dunia nyata.

Gadis itu berlalu dihadapannya. Acuh bejalan menuju garbong empat, Adrian bergegas mengikutinya. Meski nyaris lupa mengambil tas yang ia simpan di rak atas KRL itu.
Ia tak ingin kesempatan untuk berjumpa dengannya kandas lagi seperti dua hari kemarin. Finally, Ia dapati gadis itu telah duduk di deretan kursi yang masih kosong. Dengan perlahan namun meyakinkan Ia hampiri gadis itu dan duduk disebelahnya.
“Pagi mbak ?”, gadis itu menoleh.
“Eh pagi juga”. Sejenak bengong. Adrian tersenyum.
“Ini mas yang waktu tempo hari itu ya ?” seolah memastikan
“Iya Mba…”jawab Adrian.
“Ini mba yang kemarin juga ya ?”,tanya Adrian berpura-pura ragu. Padahal sudah berhari-hari gadis itu dinantinya.
“Iya. Apa kabar mas ?”
“Baik. Mba sendiri ?”,
“Baik juga”
“Syukurlah. Oh ya, boleh kenalan ?”
“Boleh. Selama mas orang baek-baek”, sambil tersenyum
“Dijamin. Saya Adrian”, dengan semangatnya Adrian julurkan tangannya.
“Destina Bintan”, sambil menjabat tangan Adrian.
“Bintan ??”
“Iya. Namaku Destina Bintan, boleh khan ?”
“Ya bolehlah. Ga ada yang larang koq”
”Panggil saja Destina”
”Kalo begitu, nama lengkapku Adrian Bulan…hehehehe”, gurau Adrian.
“Jiiiaaaahh. Maksa dech situ”, keduanya tertawa kecil.
“Mba bekerja ?”
“Iya. Mas sendiri “
“Don’t call me “Mas”, Please. Panggil saja Adrian”
“Ok Mas Adrian”
“Hehehe…, Whatever lah. Aku juga bekerja. Mba kerja dimana ?”
“Don’t call me “Mba”, Please. Cukup Destina saja”
“Ok. Mba Destina”
“Halaahh…latah dech”
“Kerja dimana? “
“Di kantor”
“Di kantor ??“, Adrian tersenyum dengan jawaban Destina
“Iya. Masa diatas pohon sih ?”,
“Iya dech. Kantor mana ?”
“Kantor depan jalan”
“Jalan mana ?”
“Jalan depan bisa, jalan samping juga bisa. Terserah”, Destina tertawa kecil.
“Haiiiyyaaa. Sering nonton Opera Van Java ya ?”, Adrian tertawa kecil.
“Acara tinju mas, biar jago ngeles kayak Chris John”,
“Aihh..situ lucu juga ya…hehehe”
“Gak lah, emangnya aku badut”
“Hahaha. Bekerja di perusahaan apa ?”
“Idiihh…situ banyak tanya dech kayak tamu, hihihi”.
“Hehehe..daripada jadi musafir”, timpal Adrian.

Pembicaraan keduanya terhenti ketika dua orang petugas Sentinel KRL menanyakan karcis kereta. Adrian merogoh saku kemeja batiknya. Begitupun Destina.
“Ini pak”, seru Adrian sambil menyerahkan karcisnya.
”Terimakasih” ujar petugas setelah memeriksa dan melubangi karcis keduanya. Petugaspun berlalu.
“Oh ya, sampai mana tadi ya ?”
“Sampai situ mau melamar jadi musafir”
“Yuuukk…mariii..,hehehe” keduanya tertawa dan nampak semakin akrab. Setiap hari selalu ada keceriaan diantara mereka berdua.

Keretapun tetap melaju menapaki lintasan yang terbentang hingga ke ujung stasiun.

***

4

”Metaaaa gilaaaaaa…..!”,teriak seseorang pagi itu yang terdengar nyaring dari pojok ruangan.
”Eh kenape tuh anak ?”, ujar Dwiena keheranan yang kebetulan baru datang juga.
”Hahahahaha……kikikikikikikiki”, bunyi cekikikan terceguk-ceguk diantara sekat meja printer.
”Buang ga tuh…! cepetaan !”, teriak Destina kala melihat seekor tikus-tikusan dari karet lentur yang nemplok di kursi kerjanya.
”Hihihihihihi..”
”Eh malah cekikikan, gue sulap jadi putri duyung baru tau rasa lo”
”Hehehe….loe takut ya ?”, ledeknya.
”Hiiiiiyyyyy…mit amiiiitt….cepetan enyahkan dari kursi gue!”, teriaknya lagi.
Metapun mengambil dengan entengnya.
”Niiiiiiiccchh gue kasih loe lagi hahahaha….hayooo…hayooo…nang-ning, ning-nang..”, ledeknya lagi sambil menyodorkan kearah Destina. Iapun lari dari hadapan Meta.
”Dasar loe gilaaaa”, teriaknya sambil sembunyi dibalik badan Dwiena.
”Udah akh Met, kasian tuh anak orang ampe gelagepan gitu”, seru Dwiena sambil tertawa melihat wajah Destina yang tegang. Destina emang terkenal takut dengan jenis binatang pengerat nenek moyang si Mickey itu. Walhasil, selalu ditakut-takuti teman-temannya yang usil, terlebih Meta yang paling angot-angotan menjahili Destina.
”Dasar loe gila……idih jangan deket-deket gue, cuci tangan sonoh ” sungut Destina.
”Hihihihihi….., nech lihat.gue masukin ke saku gue! Its OK khan..hahaha”, Meta masih nerusin tawanya sambil berlalu dihadapan keduanya.
”Bodo amaaaat…., loe masukin ke lobang idung loe pun gue ga peduli. Yang penting jauh dari gue!”
“Hehehe..dasar phobia”, ledek Meta.
“Biarin, daripada psikopat macem loe”, balas Destina

***

”Wien, tumben loe dateng pagian ?”, tanya Destina.
”Iya, tadi gue dijemput cowok gue pagi-pagi sekalian anter dia ke bandara dulu”
”Bandara ?”
”Iya”
”Jadi beneran kalo cowok loe itu ngelanjutin kuliahnya Netherland ?”
”Iya”
”Jadiii loe ????”
”Iya gue jomblo ngambang, gitu khan maksud loe ?”
”hehehehe….bukan gitu, maksud gue…jadi loe bakal ditinggal beberapa tahun ini ?”
”Ya gitu dech”, jawabnya pasrah.
“Kuliah di universitas apa ? ”
“Universitas Erasmus Rotterdam”
“Fakultas apa ?”
“Medicine and Health Sciences”
“Wah keren tuh…bisa jadi dokter dong!”
“Hahaha…iya, biar bisa ngobatin loe yang gokil!..hahahaha”
“Sialan loe”
“Tapi gue jadi sedih”
”Kenapa sedih ?”
”Kalo gue kangen, gimana ?”
”Ga apa-apa, khan bisa komunikasi kapan aza. Ga usah takutlah, teknologi bisa bantu ngobatin rasa kangen loe”
”Tetep aza kaga ada disamping gue”
”Hehehehe..iya ya…tenang aza, masih ada pak Maman sopir koq, ”
”Sialan loe”
”Hehehe…paling tidak si Meta dah ada temennya lah”
”Sama dong kayak loe juga yang jomblo juga ?”
”Eh, sapa bilang…enak aza…”, timpal Destina sambil tersenyum.
”Wah….jadi loe dah punya cowok sekarang ?”
”Hmm…maap itu rahasia cewek ya…”
”Et dah, loe pikir gue apaan ?”
”Hahaha”
”Eh, beneran nech loe dah punya cowok ?”
”Nape emang ? loe mau rebut dia dari gue ?”, ledeknya.
”Buju buneng, kadal pincang, kecoak bunting, dinosaurus demam, jin iprit kasmaran…loe pikir gue nenek sihir tukang ganggu rumah tangga orang ape ?”
”Hihihihihihihi…kekekekeke”, kali ini Destina yang cekikikan.
”Metaaaaa….ambil lagi tikusnya…”, teriak Dwiena nakutin Destina.
”Wuuuaaaaa……ampyuunnn….”, kali ini Dwiena yang gantian cekikikan.
“Jadi beneran loe udah punya cowok ?” ujar dwiena.
“Hehehe…boleh khan ?”
“Ya bolehlah, eh..emang loe nemu dimana ?”, timpal gadis penyuka lobster ini.
“Taeela wien, emang loe pikir gue pacaran sama anak kucing ape ?”, timpal Destina.
“Hehehehe…barangkali aza Des”
“Barangkali….emangnya pasir”
“Hihihii…,eh tipe cowok loe gimana ? ”
“Tipe sembilan puluh, luas tanah seratus dua puluh meter”, jawabnya enteng sambil cekikikan.
“Ooowww yeaaa ?”
“Yeeeeaaa!” Ada aza, cukup gue yang tahu”, balas Destina dengan angkuhnya.
“Jiaaahh, dasar loe. Eh dah berapa lama jadian ?”, dwiena masih tetep usaha.
“Gue ma dia baru kenal tiga bulan yang lalu. Ntar sore juga dia jemput gue lagi”
“Wooow asyik donk dijemput pacar…ganteng gak ?”
“Kalo ceweknya cakep kayak gue, so pasti cowoknya dijamin ganteng lah…kekeke”, ujar Destina tak mau kalah.
“Halaahh, narsiiiss abisss!”
“Yang penting laris manis, yang antri dah baris melewati garis”
“Udah..udah…cukup jeng ndak usyah diterusin ya”, ujar Dwiena nyerah sambil mengacungkan telunjuknya. Khawatir dengan narsisnya Destina yang makin gak ketulungan.
“Hihihihihi..”
Tak lama pembicaraan keduanya terhenti ketika seseorang lelaki setengah baya tiba diruangan.
“Selamat pagi”
“Selamat pagi pak”, jawab keduanya.

***

5

Minggu berganti dan bulanpun tiba membuka lembarannya. Lebih dari tiga bulan Adrian dan Destina menjalin persahabatan. Keduanya semakin akrab, tiada keindahan di pagi hari tanpa kehadiran Destina. Begitupun sebaliknya. Dunia keduanya terasa indah. Cupid-cupid kecil itu telah menari kian kemari memainkan panah-panah asmaranya.

“Excuse me. Is this seat empty ?”, sapa Adrian suatu pagi hari
“Yes it is. This seat only for you”, jawab Destina.
“Ahaa…Thank you”
“You’re welcome”, senyum Destina mengawali pagi hari itu.
”Apa kabar ?, sapa Adrian
“Baik. Kamu sendiri ?”
“Baik. Tumben kamu duluan? ”
“Ya. Aku pengen lebih awal tiba di kereta ini. Lagian kemarin aku sudah pesan pak Mamat buat anterin aku lebih pagi”
“Lebih pagi ? Why ? “, Tanya Adrian.
“I love this train”, ucapnya simple
“Thank you. I love u too” , timpal Adrian.
“Idiihh…jangan ge-er dech”,
“Hehehe, ge-er sih nggak. Cuman feeling aza”
“Feeling teriak feeling kaleee”, pleset Destina.
“Oh ya De…”, belum selesai Adrian bicara Destina memotongnya.
“Ada apa Kakak….” Timpalnya cepat dengan logat seperti seorang adik kelas.
“Aiihh..geli banget dengernya. Kesannya kayak pembina pramuka aza”
“Oh ya..ada apa gerangan ?”, Destina memasang wajah serius.
“Nah gitu donk”
“Hehehe…,begini cukup ?”, sambil memiringkan kepalanya. Senyumnya dilebarkan.
“Kurang seribu”, ledek Adrian.
“Maaf. Kapitan Pattimura nya lagi ngasah pedang, yeeeee”, Destina ngocol seenaknya.
“Husssss…dia pahlawan tau!”
“Uuuppsss…maaf becanda koq. Kamu sih pake kurang seribuan segala”
“Hehehe…sorry. Ga lagi dech”
“Kamu mau ngomong apa ?”, tanya Destina.
“Sore ini kamu punya acara gak ?”, Adrian balik tanya.
“Punya. Acara pulang kerumah”
“Haiiiyaa…serius nech…”, jelas Adrian.
“Mau ngapain ?”
“Temenin aku cari buku yuk ?”
“Buku ?”
“Iya. Buku. Baru denger ya orang ganteng macam aku cari buku ?”
“Yoooooo mariii”
”Hehehehe”
”Emang mo nyari buku apaan sih ?”
”Psychology and Communication”
”Karangan siapa ?”
”Miller, G.A”
”Siapa sih si Miller, G.A itu ?”
”Dia itu temennya Blumler, J.G penulis The Uses of Mass Communications”
”Nah lho, trus siapa tuh si Blumler itu ?”
”Ya itu tadi, temennya si Miller G.A”, timpal Adrian simpel.
“Adriiiaaannn…grrrrr…!!!”, cubitan keras Destina nancap diperut Adrian.
“Eee…eeeee…aduuh..aduuhh..oke…oke….sorry…sorry!”, Adrian nyerah. Destina belum mau melepas cubitannya sampai Adrian bilang ampun tujuh kali.
“Dasar nyebelin”
“Siapa ?”
“Ya kamulah…masa sih cabe?”
“Nyambelin kaleee..”, timpal Adrian.
“Hehehe..tumben nyambung”
“Ngeledek nech!, eh, beneran mau temenin aku gak ”,
“Hmmm…ntar ya. Boleh aku pikir untung ruginya dulu ?”, timbang Destina sambil bola matanya dikerlingkan keatas.
“Taelaa…,mirip pedagang Tanah Abang aza”
“Bukan gitu. Segala sesuatu harus diputuskan secara matang”
“Iya lah. Kalo masih mentah ga boleh dijual”
“Ijon kaleee”, kali ini Destina yang menimpali.
“Hehehe…tumben nyambung” balas Adrian.
“Maklum, disini bebas roaming”
“Jadi gimana nech. bisa gak ?” Adrian menghiba usaha.
“Sepertinya today ga bisa dech. Gimana kalo besok?”, jelas Destina tanpa alasan.
“Hmm……ya sudah besok aza. Deal ?”, Adrian meyakinkan.
“Okay. Deal”
“Nanti kamu call aku ya!”
“Baiklah tuan puteri”
“Bagus. Telat sedikit, pengawalku akan memborgolmu”, logat Destina menirukan seorang puteri raja.
“Hohohoho…kejam sekali. Ampyun tuan puteri. Hamba mohon pamit”, ledek Adrian sambil menundukkan kepalanya.
“Loncatlah sana, Sebelum melewati kerajaan Manggarai”, timpal Destina makin ngaco.
“Hahahaha…”
“Eh, kamu mau denger ceritaku gak ?”
“Cerita apaan ?”
“Mau gak ?”
“Ada untungnya gak ?”
“Duile…mirip saudagar aza pake pertimbangan laba rugi”
“Hihihihi, ya dech. Apaan ?”
“Gini…ceritanya tentang mahasiswa dan mahasiswi tingkat akhir yang sedang diuji oleh professor mereka”
“Eiiit, tunggu dulu Ad. ini cerita beneran atau fiktif aza ?”
“Yang penting adalah alur ceritanya. Tak masalah nyata atau tidaknya karena saat ini terkadang yang benar bisa jadi salah dan yang salah bisa menjadi benar.
“Maksudmu ?”
“Bahkan yang jelas-jelas salahpun masih bisa dibenarkan. Hehehehe…”
“Jiaaaahh….nyindir Gayus kaleee”
“Wakakakaka…pokoknya sekali Gayus, dua pulau terlampaui”
“Hehehe…mulai ceritanya dong!”
“Okay. Begini ceritanya satu waktu sang professor ingin menguji mereka dengan test yang menentukan layak tidaknya menjadi seorang dokter”
“Apa yang diujikan professor itu?”, tanya Destina.
“Dua faktor, yakni keberanian dan ketelitian”
“Lalu ?”, Destina semakin penasaran.
Sang professor mulai berbicara. “Anda berlima Saya uji dengan dua hal penting bagi seorang dokter. Pertama keberanian dan kedua adalah ketelitian. Dua hal ini harus kalian miliki. bila tidak, maka akibatnya akan fatal. Resikonya adalah kematian. Kalian mengerti ?”, ujar professor itu. Kelimanya mengangguk tanda mengerti.
“Baiklah, sekarang kita lakukan tesnya”, ajak professor itu sambil menuju kamar mayat.
“Ok. kita sudah berada di kamar mayat dan di hadapan kita terbujur kaku seorang lelaki tua yang diketahui mantan koruptor kelas kakap. Sudah tiga hari ini belum dikunjungi oleh keluarganya karena keluarganya merasa malu dan tak memiliki uang apalagi deposito untuk membayar rumah sakit. Semua harta bendanya disita negara. Menyedihkan!”, paparnya sambil menatap wajah kelima anak didiknya yang semakin tegang.
“Saya sudah memastikan bahwa ia sudah mati, jadi tak perlu khawatir dengannya, apalagi merasa sungkan. Bila ada yang ingin mundur, silakan angkat tangan dan pergi dari ruangan ini. Tapi Anda tanggung resikonya sendiri”, ucapnya dengan angkuh. Kelimanya tak berani mengangkat tangannya karena bila mundur dari tes kali itu, sama halnya menunggu dua semester kedepan.
“Ada yang mau mundur?”, tanya professor itu lagi. Kelima mahasiwa itu saling berpandangan lalu menggelengkan kepalanya bersamaan.
“Bagus. Pilihan yang cerdas!”, ujar sang professor semakin angkuh.
“Perhatikan saya baik-baik”, pinta pofessor itu. Selanjutnya professor yang sudah berusia tujuh puluh satu tahun itu langsung menepuk-nepuk pipi kanan dan kiri lelaki yang terbujur kaku itu. Sang mayat tak bergeming.
“Lalu apa yang dilakukannya lagi?”, tanya destina.
Dia mulai menunjukkan jarinya kepada kelima mahasiswa itu sambil berujar “Sekali lagi faktor keberanian dan ketelitian akan sangat menentukan profesi kalian sebagai dokter. Karena di masyarakat kalian berhubungan dengan dunia nyata dan manusia yang masih bernyawa. Konsekuensinya sangat besar bila kalian gagal dalam tes kali ini. Mengerti ? ”
“Mengerti prof!”, jawab mereka dengan tegangnya.
“Bagus. Perhatikan saya kembali. Saya ingin mengetahui suhu tubuh “pasien” ini dengan jari saya. Pertama, saya akan memasukan jari telunjuk saya kedalam lubang telinga pasien ini”, ujar professor itu.
Ia lalu mengorek-ngorek dengan leluasa lubang telinga lalu hidung dan terakhir mulutnya. Kini “Pasien” yang sudah tak berdaya itu tak mampu berbuat apa-apa, apalagi korupsi. Dengan entengnya ia lalu mencium jarinya sambil berkata “Hmm..baunya kurang menyenangkan. Sudah menjadi mayat saja masih bau. Apalagi sewaktu kamu masih hidup. Huh!”, sumpah serapahnya dengan bibir yang mendadak lancip beberapa centi, jauh melampaui hidung.
Kelimanya saling berpandangan, bahkan salah seorang diantaranya sempat berujar pelan.
“Duh, joroknya. Dasar professor sableng!”, umpat salahseorang mahasiswi diantaranya.
“Bagaimana, kalian masih tetap lanjut ikut tes ini ?”, tanyanya dengan sombong.
“Masih prof!”, jawab mereka serempak.
“Bagus. Tapi ingat, panca indera yang kita miliki tentu memiliki keterbatasan!”
“Maksud professor ?”, tanya mereka kompak.
“Gunakan indera perasa. Kalian tahu apa yang Saya maksud ?”
“Kulit prof!”, jawab mereka kompak lagi, entah untuk yang keberapakalinya.
“Salah!”
“Gunakan lidah!”, jawabnya tegas.
“Oh my God!”,
“Bisa kita lanjutkan ?”, tantang professor itu.
“Llllaa…laaa..nnjjutt pp..prof!”, jawab kelimanya pasrah. Meski rasa mual mulai muncul.
“..Sruuuppttt…sruupppttttt. Agak sedikit asin-asin dan asam”, ucap professor itu sambil menjilat salahsatu jarinya.
“Hoooeeeekk…hoooeekk…..!!!, tiga orang mahasiswi menutup mulutnya. Sementara dua orang mahasiswa disebelahnya hanya memegang keningnya disertai gerakan naik turun jakun dilehernya.
“Okay! sekarang lakukan apa yang sudah saya lakukan dengan benar. Cepaat..! Waktu kalian tiga menit atau pasien kalian akan mati!”, perintah professor itu bak seorang Hitler. Dengan sigap kelimanya melakukan apa yang dilakukan professor. Mengorek hidung, telinga hingga mulut.
”Lanjutkan!”, perintah sang professor. Kelimanya mulai mencium jari mereka masing-masing.
”Hoeeeeekkk……!!”
”Hoeeekkkkkkkksss…!”
”bbbrrrzzzztt……..brrrzzzttt!”
”mmmmpphh….!”
”hufft….!”
”Lanjutkan!”, bentak sang professor lagi.
”Oh my God!, what the hell is this ?”
”Alamaakk…!”
”Oh nasiiib”
”Duh, onde mande!”
”Glek!, anjrit, pasti asin euy!”
”Hehehehe, Kalian pikir mudah menjadi dokter!”, ledeknya merasa menang.
”Sruupuutt.., et dah..rasanya mirip ompol cucunya setan!”
”Sruuputtt…anjriit…anjriit!”
”Srupuutttt…hooekks!”
”Srupuutttttt….hu..hu..hu, rancak bana prof ini!”
”Sruuupuuutt….fuiihhh..hooaaakks…”
Sang professor semakin tersenyum lebar melihat peserta tes kali ini.
“Bbb…Bo..bboleh kami ke belakang dulu prof ?”, ujar mereka.
“Boleh, waktu kalian tiga menit. Cepaaat!”, bentaknya lagi persis Hitler. Merekapun berhamburan bak prajurit batalyon tiga.
“Cepaaaatt kembali ketempat!”, teriak prof dimenit kedua koma tujuh puluh sembilan detik itu. Sadis!.
“Waktunya belum tiga menit prof!”, protes salahseseorang.
“Waktu kalian bergerak terlalu lamban. Ingat! Saya selalu lebih cepat tujuh langkah dikali tiga dari kalian!”, timpalnya dengan sombong.
“Udeh terima aza. Lihat pasal satu, bentar lagi juga dia masuk kubur”, bisik temannya menenangkan. Keduanya tersenyum.
”Cukup!. Setelah melihat yang kalian lakukan. Akhirnya dengan menyesal saya nyatakan semuanya gagal dalam tes ini!”, ujar professor yang membuat kaget semuanya.
”Apaaaa ?? Gagal ???”
”Gagal ?”
“Apa yang salah ?”
”Iya nech. Kami sudah melakukan yang prof lakukan”, ujar sang Mahasiswi berkepang tiga itu.
”Jangan becanda prof!”
”Hehehehe..huahahahaha!”, tawanya lepas persis Kaisar Ming didepan Flash Gordon.
”Apa alasannya prof. Ayo dong katakan!”
”Baik. Simak dengan teliti, ketika kalian mengorek-ngorek lubang telinga, hidung dan mulut mayat ini. Tidak ada yang salah!”
”Lalu ?”, ujar salahseorang.
”Ketika kalian mencium dengan hidung masing-masing, itupun tidak salah!”
”Laluuuuuuuuu….???”, ucap kelimanya khawatir.
”Disini letak kesalahannya, ketelitian kalian masih jongkok. Saya tidak menjilati jari telunjuk, melainkan jari tengah. Karena itu kurang baik bagi kesehatan bila telunjuk kita dalam keadaan kotor. Sebagai petugas medis, kita harus memberikan contoh hidup sehat kepada masyarakat, hehehehe”, ujarnya sambil tersenyum menang.
”&%#@**^&….Whooooaaaaaaaaaaaa..ggubbraakkksss…!”, kelimanya pingsan dalam kebersamaan. Kini sang professor memiliki enam orang pasien. Klik!

“Hahahahaha…..lucuuuu.., kamu gila juga ya kalo cerita..hahaha”,ujar Destina tak kuasa menahan geli. Seiring tawa mereka, intasan sudah melampaui stasiun Cawang. Tak lama merekapun sampai di Gambir dan berpisah.
“Daaghh Ad…besok cerita lagi ya honey!”
“Daaggh juga say, see you later…!”

****

Adrian tiba di kantornya. Sumitra, petugas security yang telah lama mengabdi itu menyapanya dengan ramah.
“Pagi mas!”
“Pagi juga pak. gimana kabarnya, sehat ?”
“Alhamdulillah sehat”
” Syukurlah”
“Oh ya mas. Kemarin sore ada orang yang mencari mas. Tapi waktu itu mas sudah pulang”, ujarnya.
“Oh ya. Bapak tahu siapa namanya ?”
“Dadang Saiful mas. Dia menitipkan sesuatu untuk mas”
“Apa ya ?”, tanya Adrian makin penasaran.
“Sebentar mas. Saya ambil di loker dulu”
“Iya pak. Terimakasih”
Tak lama Sumitra kembali dengan selembar amplop cokelat ditangannya.
“Ini titipannya mas. Dibalik amplop ada nama pengirimnya”
Adrian membalikkan amplop cokelat itu. Tertera nama pengirim yang masih asing baginya.
“Oke pak. Terimakasih ya. Saya naik dulu”,
“Sama-sama mas”, Adrian segera bergegas menuju lift yang akan membawanya ke lantai lima.

Tiba di lantai yang dituju, ruangannya masih belum begitu ramai. Hanya terlihat Shodiqun yang sudah nemplok di meja kerjanya.
“Pagi Shod”, sapanya.
“Wa’alaykumsalaam”, jawabnya beda.
“Upss..maaps, Assalamualaykum”, ulangnya.
“Pagi-pagi udah matung om. Ga pulang ya ?” ledek Adrian.
“Mbahmu…!”, lelaki beranak empat itu mendelik.
“Hehehe… sabtu kemarin situ jadi lembur Shod ?”, tanya Adrian.
“Rencananya iya, tapi kubatalkan karena anakku demam, jadi harus dibawa ke dokter”, ujarnya.
“Sekarang kabarnya gimana ?”
“Alhamdulillah sudah mendingan. Hanya saja kondisinya masih lemas”,
“Ya syukurlah. Mudah-mudahan lekas sembuh”,
“Matur nuwun Ad”, balas lelaki bertubuh gempal itu.

Adrianpun tersenyum dan segera menuju kubikal tempatnya bekerja. Terlihat beberapa tumpukan berkas hasil pekerjaannya Jumat kemarin yang kini kembali menyapanya di pagi hari itu. Segera ia nyalakan komputer. Ia teringat sebuah amplop yang diberikan oleh pak Sumitra. Segera ia buka.

“Hmm…apaan ya ?” tanyanya dalam hati. Adrian membacanya. Tak lama senyum tersungging di bibirnya. Dua lembar surat berisi undangan dan jadwal acara ia bolak-balik. Ia langsung mengambil kalender yang ada dipojokan meja kerjanya.
“Dua-dua Agustus. Hari Sabtu, jam 09.30 Aula gedung B”, Adrian menuliskannya dibawah space kecil yang tersedia.

“Sabtu depan kuusahakan datang”, ujarnya dalam hati kegirangan karena mengingat masa-masa kuliah yang menyenangkan dulu. Adrian senang sekali bisa bertemu dengan adik kelas, sekaligus bisa reunian dengan kawan seangkatan. Sepertinya mereka mengetahui alamat tempat bekerja Adrian melalui profil yang ia cantumkan di akun facebook. Tentu saja, sebagai penghormatan, undangan itu sengaja dikirim langsung oleh panitia penyelenggara.

Tak lama, Debhy rekan kerjanya tiba dan menyapanya.
“Morning Ad, how are you today ?”, sapa gadis bermata teduh itu.
“Morning juga Deb. I’m fine and you ?”
“I’m fine too. Still fresh and look beautiful…like a flower in the morning..yeaaa…right ?.”, ujarnya sambil tersenyum.
“Yeeess..you are, hehehe”, Adrian mengiyakan.

“Ad, ada yang mau aku tanyain sama kamu”, ujar Debhy sambil meletakan tas Notebooknya.
“Apaan tuh ?”
“Tadi malem, dirumah aku coba setting halaman web yang kemaren kamu kasih tau aku. Tapi pas aku coba login koq ga jalan ya ?”, Tanya Debhy.
“Databasenya pake apaan ?”
“SQL”
“Mungkin koneksi ke database SQLnya ada yang salah”
“Trus gimana dong ?”
“Kita lihat dulu masalahnya dimana. Setting web servernya sudah oke belum ?”,
“Maksud kamu Internet Information Servicesnya ?”
“Iya”
“Sudah oke tuh. Kalo aku panggil localhostnya ga masalah tuh, wong halaman index.asp nya sudah tampil koq”, sahutnya.
“Oh ya. Coba aku lihat dulu”, Timpal Adrian sambil menunggu start up operation system notebook kawannya itu. Iapun mengecek koneksi dan memperbaiki beberap bagian script active server pages yang dibuat kawannya itu. Tak disadari, diam-diam Debhy mencuri-curi pandang Adrian yang tengah serius menatap layar notebooknya. Ada rasa kekaguman terhadap Adrian yang ia sembunyikan telah lama jauh di dasar hatinya. Sayang, Adrian tak pernah menyadari dan mengerti tentang perasaannya. Duh Adrian.

-Sigh-, Adrian tarik nafas sambil berpikir, ia mencoba memahami alur yang tampil dilayar notebook rekannya itu. Klak-klik sana-sini. Refresh. OK.
“Ohh…aku tahu. Ini dia masalahnya”, Adrianpun menjelaskan penyebab error aplikasi web yang dirancang temannya itu. Debhypun mengerti penjelasan Adritan.

“Gileee…., semalem koq susah banget ya Ad”, Papar gadis pengagum Band Cold Play ini.
“Hehehehe…Nah sekarang sudah oke tuh”, ujar Adrian sambil mencoba login di halaman web itu.
“Thanks ya Ad”, ujar Debhy sambil menatap Adrian dengan mata berbinar-binar.
“You’re welcome. Ok. If you have a TROUBLE just TALK to me. Maybe ITS HARDEST PART for you, but not for me because IN MY PLACE its look a YELLOW balloon, hahaha…” sindir Adrian dengan title Cold Playnya.
“Yeaaa…..that’s right man! ..hahahaha” keduanya tertawa. Tinggal Shodiqun yang terbengong ria menyimak dari kejauhan.
“Eh gimana kabar gadis kereta yang pernah kamu ceritakan itu ?”, Tanya Debhy tiba-tiba.
“Do you mean Destina, right ?”
“Yes she is”
“Baik. Dia gadis yang menyenangkan, periang dan cerdas. Aku menyukainya”, tutur Adrian sambil tersenyum.
“Wow. She must be a lucky girl !”, nadanya terdengar pelan.
“Excuse me ?”, Tanya Adrian sambil menatap mata Debhy.
Debhy berusaha memalingkan kedua bola matanya dari tatapan tajam Adrian.
“Nothing. Sorry ya Ad aku mau kebelakang dulu”, sambil berlalu
“Oh ya…silakan Deb”, Adrianpun mempersilakan.

*****

Jumat Sore itu sekitar pukul tujuh belas lewat lima belas menit Adrian sudah menanti KRL yang akan mengantarkannya ke Bogor. Ia sengaja tak menanti Destina yang biasanya pulang lebih telat. Adrian ingat pesan Ibunya untuk pulang lebih awal.
‘Des, kamu pulang jam berapa ?”. Tanya Adrian lewat ponselnya.
“Aku pulang agak telat. Mungkin jam tujuhan. Kenapa Ad ?”, jawabnya diujung sana.

“Aku harus pulang cepat. Ibuku mengajakku untuk nengokin pak ’De ku yang kembali masuk rumah Sakit”, jelasnya.
“Oh ya, ga apa-apa. Aku bisa pulang sendiri naik taksi. Titip salam buat Ibumu”, ujar Destina.
“Oke. Hati-hati ya Des. Keretanya sudah datang nich. Aku duluan ya”, pesan Adrian.
“Bye Ad…, hati-hati”, pesan Destina.
“Kamu juga ya, Bye!. Klik”, Adrian segera masuk gerbong.

5

Sabtu dua puluh dua Agustus, jadwal Adrian mengunjungi kampusnya atas undangan dari aktivis adik kelasnya minggu lalu.

“Hari ini kamu ada acara ya Ad?” tanya Destina memastikan lewat telepon selularnya.
“Iya des, aku ada undangan ngisi materi di acara orientasi mahasiswa baru”
“Wah asyik dong bisa ketemuan mahasiswi sekaligus mantan”, kilah Destina mengisyaratkan rasa cemburu.
“Ya, ga hanya mahasiswinya aza lah”
“Koq bisa sih kamu diundang?”, tambahnya lagi.
“Dulu aku juga aktif di kampus”
“Wah, pacarnya banyak donk”
“Ah, ga lah…”, kelit Adrian
“Ga mustahil”, timpal Destina
“Bisa aza dech kamu..hehehe”
“Boleh ga aku ikut ga ke kampus kamu ?”, tanyanya lagi. Adrian terdiam beberapa detik. Destina langsung menjawab spontan.
“Bilang aza ga boleh, huft…lama amat jawabnya”, ia kesal.
“Bb…bbbolehh saja…,”,
“Tapiiiiiiii?. Ah sudahlah…, daagh yaa..bye!”
“Eeeeh…tungguuu..jangan marah dong”
“Ga marah koq, udah ya, met reunian. klik!”, Destina menutup pembicaraan.
“Yaaaaaaa,.. maraahh”, Adrian mencoba call balik.
“Tuuuttt…..tuuuuttt…tuuuutttt….” lama tak diangkat. “The number you’re calling is busy, nomor yang anda panggil tidak dapat dihubungi, silakan coba beberapa saat lagi”
“Hmmm…marah dech. Nanti saja aku jelasin”, Pikirnya dalam hati.

“Bu, aku pergi ke kampus dulu”
“Kampus ?”, sahut ibunya heran.
“Iya. Ada acara training mahasiswa baru. Adrian diminta mengisi salahsatu acaranya”; ujarnya.
“Oh. ya sudah. hati-hati di jalan Ad”
“Salamualaykum”, sambil mencium tangannya.
“Wa’alaykumsalam”
Ninja Red Passion itupun kembali beraksi. Melesat dengan prima.

****
Sementara itu di bilangan perumahan Pajajaran City, Destina jadi uring-uringan. Ia membayangkan saat ini Adrian tengah reunian sambil dikrubutin mahasiswi baru.
“Huft, sebel aku sama kamu Ad”, teriaknya di dalam kamar.
Boneka Bernard Bear yang terpampang disamping foto Adrian jadi sasaran kekesalannya. “Buuukkkk…! ” ditimpuknya boneka naas itu sampe nyungsep. Duh kasian.

Namun dibalik rasa kesalnya itu, diam-diam ia merencanakan sesuatu.
“Kenapa tidak aku ikutin saja Adrian ke kampus. Akh, bodohnya aku. Spionase! Yup!”, secepat kilat Destina bergegas untuk bersiap-siap memata-matai kegiatan Adrian hari ini.
Beberapa teknik penyamaran ia atur sedemikian rapinya. Mulai dari kedatangan hingga penampilannya saat ia tiba dikampus Adrian nanti. “Eng…ing…eng…” Ponakan John Pantau” siap beraksi ke kampus.

Make up tipis menghiasi wajah putihnya, tubuh tinggi semampai dibalut celana Jeans biru, sepatu kets warna, T-Shirt pinky-funky, rambut diiket jepitan gaul, kacamata frame tebal warna biru dan tas kuliah digendongnya. Nyaris sempurna. Kini ia tampil bak mahasiswi sesungguhnya, bahkan terlihat seperti mahasiswi semester tigaan.
“Bingo!, saatnya beraksi. aku yakin pasti Adrian tidak akan mengenaliku”, yakinnya sambil tersenyum sendirian di depan cermin.

Semuanya sudah oke, tapi masih ada yang mengganjal dihatinya. “Duh, gimana caranya keluar rumah ya dengan penampilanku seperti ini?”
Apa kata orang seisi rumah nech. Dikiranya aku mau maen sinetron apa ? huuft….mending kalo sinetron, kalo lenong bocah..! Duh…gimana ya”, dirinya berpikir keras gimana caranya keluar rumah tanpa diketahui Mama dan Papanya karena dia yakin pasti dilarangnya. Maklum, anak gadis semata wayang yang sejak kemarin malam agak demam dan flu. Tapi sekarang ia merasa baikan.

“Cling..!.” sebuah ide gila mampir dibenaknya. Perlahan ia buka pintu kamarnya, “Klek..! lalu tengok kanan-kiri persis maling jemuran. Situasi nampak aman terkendali.
“Ssssttt….. Bii….Bibiiii…Bibiiii” desisnya kepada si Bi Onah yang tengah menyapu lantai. Bi Onah tak menyadari panggilan Destina. Ternyata sambil menyapu ia tengah berdendang sebuah lagu. Coba aza simak liriknya….”Namina..minah…Ee…,ulah waka Ee…, distempel Papriiiika!”, Diulangnya hingga tiga kali sambil pinggulnya bergoyang-goyang persis Shakira.

Destina sempat menyimak dan cekikikan mendengar liriknya. Duh kacaunya. Lirik lagunya Waka-waka diaransmen ulang versi bi Onah.
“OMG, parah…parah..Bi Onah. Bisa-bisa aku ikut digugat krunya Shakira nech..!”
“Biiii…biii Onahhh…”, teriaknya mendesis lagi. Bi Onah tak bergeming. Diulangnya lagi hingga ketujuh kalinya.

Kali ini bi Onah mendengar. Lantas ia menoleh, dlihatnya non Destina melambaikan tangan didepan pintu kamarnya. Ia menghampirinya.
“Ada apa non?”, dengan wajah jujur dan polos.
“Cepet siniii..Bi…Papa-Mama ada dimana ?”
“Papa lagi di depan baca koran, kalo Nyonya ada di kamar. Kenapa non ?” tanyanya heran.
“Ga apa-apa, tanya aza”
“Eh, non Destina mau kemana ? Koq dandannya lain ?”
“Mau tau aza”
“Bi, aku mau minta tolong boleh? ”
“Kalo minta tolong boleh, tapi kalo minta uang, Bibi ga punya. beneran dech, biar disumpahin jadi muda lagi juga mau ” jawabnya polos.
“Husss…siapa juga yang mau minta uang Bibi”, timpalnya.
“Hehehehe…kirain”, senyumnya memelas sambil memutar-mutar gagang sapu ijuk.
“Bi..aku mau pergi, tapi gimana caranya biar ga ketahuan Papa mama”
“Lho, kenapa ga pamit aza non?”
“Justeru karena itu aku minta tolong Bibi”
“Oh gitu iya non. Kalo tolong bolehlah, tapi kalo minta uang….”, belum selesai bicara.
“Bibiiiiiiii….cukup..cukup! dengerin aku dulu” , Destina kesal.
“Dengerin. Nanti aku kasih uang jajan. Oke ?”
“Siap non!”, sahut Bi Onah sambil berdiri tegak sempurna bak pasukan Hitler.
“Bagus..!. Aku mau keluar rumah. Mau ke kampus. Bilang aza, kalo Papa sama Mama tanya, aku lagi tiduran alias istirahat. Ga mau diganggu sampe jam dua belas tigapuluh sembilan siang nanti. Jelas ?”
“Jelas non, tapiii…”,
“Nih lima puluh ribu, buat jajan”, sogok Destina.
“Trus gimana caranya non desti bisa melewati Papa tanpa kelihatan?”
“Itu tugas Bibi”, tukasnya.
“Tugas Bibi gimana ? tugas bibi kan cuma di dapur, nyapu rumah, sama setrika non”, keningnya mengkerut mirip balon kempes.
”Ada tugas khusus bi”
”Halaah si Non, emangnya bibi Mahasiswi bandel, pake tugas khusus segala”
”Husss…dengerin dulu bi”
”Siap non!”
“Begini. Bibi tahu ikan kesayangan Papa yang ada di kolam belakang ?”
“Ya, tau non. Trus apa hubungannya sama Bibi ?”, Bi Onah belum mengerti.
“Bibi ambil satu ekor Arwana…terus lemparin ke lantai”
“Waaaaaaakkksss…..oh Mai Gad!…no..no..no…no” Bibi histeris dan gemetaran. Matanya membelalak nyaris seperti orang kena sengatan gardu listrik. Bagaimana tidak, ia diminta untuk melempar Arwana Platinum Silver kesayangan tuannya keluar kolam.
“Sssssttt…..jangan brisiiikk”, Destina membekap mulut Bi Onah.
“Mmmpphh….”, Bi Onah mendelik tanda mengerti. Destina melepas bekapannya.
“Lemparin ikan kesayangan tuan ke lantai ?”, tanyanya lagi.
“Iya. Gampang khan ?”
“Duuhhh..bisa-bisa Bibi dikulitin idup-idup ama tuan….”, Bi Onah merengek tapi sempet-sempetnya melirik limapuluh ribuan yang sudah ditangannya.
“Bibi cukup lemparin aza, terus teriak sekencengnya biar Papa denger!”, terang Destina.
“Kaga ada cara laen apa non yang lebih elegan ?”
“Ga ada!” tegas Destina
“Mendingan disuruh manjat pohon kelapa sekalian marut diatasnya dah, daripada disuruh aksi terorisme seperti ini.”
“Nich aku tambah lima puluh ribu lagi ” rayu Destina sambil menahan tawa. Bibi tersenyum girang.
“Iya deh non…lumayan, cuma sekali lempar seratus ribu. ”
”Gampang khan ?”
”Doain ya biar Bibi sukses”, selanya mohon doa restu.
“Iya. Sekarang siap-siap sana”
“Eh, emang non desti ga bawa mobil?”
“Yeeee….ketaun dong bi..gimana sih! udah sana siap-siap eksyen”
“Iya…iya….non”, Bibi langsung kebelakang.

Lima menit Destina menunggu suara teriakan Bi Onah yang tak kunjung tiba.
“Duh lama amat sih Bibi”, Destina gelisah.
Tak lama kemudian.
“Gedubrakkk…!Waaaaaaaaksss…….tolooooongggg-toloooongggg…..” Lolongan Bibi melengking hingga terdengar seisi ruangan. Destina tersenyum.
“Yes ! plan A. rencanaku berhasil”, ucapnya dibalik pintu kamar.
Walhasil Papanya yang sedang baca koran terperanjat mendengar lolongan Bi Onah. begitupula Mamanya yang sedang melumuri mukanya dengan masker bengkoang. Keduanya lari tunggang langgang menuju halaman belakang, takut terjadi sesuatu yang membahayakan. Situasi yang diharapkan ini dimanfaatkan Destina sebaik-baiknya untuk menyelinap keluar rumah. Tak lupa ia kunci pintu kamarnya dan menggantungkan pesan yang tergantung di daun pintu. “Dont disturb me please! *kecuali gempa atau kebakaran besar, banjir bolehlah!”

Ia mengendap-ngendap menuju ruang tamu hingga pintu depan. Didepan teras, nampak koran yang sedang dibaca Papanya berceceran di lantai. Dengan manis ia melompatinya satu persatu.

Sementara itu di halaman belakang sandiwara kecil tengah dimainkan Bi Onah.
“Ada apa bi ?” teriak Hendratmo dengan wajah tegang
“Iya…ada apaan sih bi ?”, sambung nyonya.
“Iiiiitttuu…ttttuuuann…Tukul Arwananya loncat…, eh maksud saya Ikan Arwananya loncat” tunjuk Bibi gemetaran takut siasatnya tercium.
“Oaaallaaaa…., kirain apaan toh bi”
“Haaaaaa…!” ekspresi berbeda muncul dari hendratmo.
”Aduuuhhh…kenapa pake aksi loncat segala. Oh my beautiful fish, let me help you baby”, Hendratmo langsung menangkapnya dan mengembalikannya lagi ke kolam.
“Byuuuurrr….” ikan itu kembali kekolamnya.
“Kenapa bisa loncat begitu bi ?” desak Hendratmo.
“Nggg…nganu tuan, waktu Bibi mau bersihin pinggir kolamnya. Tiba-tiba ikannya nyangkut. Bibi kaget, lalu terpental”, jelas Bibi dengan gelagat salah tingkahnya.
“Sudahlah pah”, ujar isterinya mencoba untuk menenangkannya.
“Lain kali hati-hati bi. Kalo sampe ikannya mati gara-gara bibi, tak potong gajinya” pesan Hendratmo.
“Duuh jangan dong tuan plis porgif mi. Bibi tak sengaja”, sambil tertunduk malu. Seandainya ikan itu bisa mengadu, tentu aksi si Bibi ini akan langsung mendapat surat peringatan tiga dari tuannya. Dalam hatinya Bi Onah teringat pesan non Destina, kalau Papa dan mama tanya, bilang saja ia mau istirahat dan tak mau diganggu.
“Destina mana bi?” tanya Nyonya.
“Mmm, tadi bilang non Destina pengen istirahat di kamarnya. katanya jangan diganggu dulu sampe pukul dua belas lewat tiga puluh sembilan menit siang” jelas Bi Onah sesuai pesan non nya itu.
”Keriting amat bi”
”Begitu pesannya nyah”
“Dia sudah sarapan bi”, tanyanya lagi.
“Sudah nyah. Tadi Bibi yang anterin ke kamarnya”
“Ohh..ya sudah kalau begitu”. mudah-mudahan sudah diminum obatnya”, tukasnya sambil berlalu ke kamarnya.

****

Sementara itu diujung jalan Destina nampak berlari kecil menuju pangkalan ojek yang tak jauh dari rumahnya. Wajah putih sejuk itu nampak merona dibawah pancaran sinar mentari yang mulai beranjak siang itu.

“Bang, ojek bang..!”, sapanya terengah-engah kepada sekumpulan tukang ojek.
“Mau naek ojek neng ?” tanya si abangnya.
“Iyalah. Emang disini sediain onta juga ?” timpalnya bercanda.
“Hehehe..ya enggak juga sih. Biasanya khan neng selalu bawa Honda Jazz biru. Tumben pake ojek? tanyanya sambil menstarter motor bebek Supra Fit Kredit nya.
“Lagi kepengen aza. Udah akh, jangan banyak tanya. Ayo jalan bang?”
“Kemana neng ?”
“Keluar kompleks dulu aza. nanti saya kasih tahu lagi”
“Ini helmnya neng”
“Hmmm”, dipegangnya helm itu. Buluk, kucel dan beraroma tak bersahabat bagi hidungnya.
“Diikunci neng sampe bunyi klik”, tuturnya.
“Bang, ini helm buat orang ya?” ujarnya sambil nemplok dibelakang.
“Ya iyalah neng. Emang kenapa ?”, sambil melaju meninggalkan pangkalan.
“Baunya itu lho bang, Kayak pernah dipake kuda nil..hehehehe ”
“Hahahha…bisa aza. Maaf ya neng, sudah dua bulan belum dicuci. Maklum, yang pake banyak orang”
“Jiaaaahh….pantesan. Bentar-bentar bang, aku ga mau pake helm ah”, mereka sejenak berhenti
“Baik neng ”
“Okay, just ride man”, perintahnya.
“Jas ? Jas hujan neng ?”
“Ga. terus jalan aza bang!”,sahutnya sambil ketawa.
“Mobil neng emang kemana”, tanyanya lagi.
“Emang abang tau mobil saya”, selidik Destina.
“Ya tahulah. Neng ini yang tinggal di blok F8 nomor sebelas khan ?”
“Iya. koq tahu sih ?
“Iyalah. Saya khan sudah lama ngojek dikompleks ini. Plat mobil neng kalo ndak salah D 3571 NA khan ?”
“Eh, koq sampe hafal segala sih bang”
“Hehehe…maklumlah kalo orang kecil kayak saya pasti mudah untuk mengingat orang berada kayak neng”, tuturnya.
“Maksudnya”, Destina makin bingung.
“Sebaliknya, orang berada kayak neng sudah tentu tidak akan hafal plat nomor motor saya. Iya khan ?” , tuturnya dengan polos.
“Idiihhh..siapa juga yang mau iseng ngingetin plat nomor motor abang” timpalnya.
“Hehehe…itu pengandaian saja neng. Kalau bahasa ilmiahnya..hmmm..metamorfosis…betul khan ?”, dalihnya sok tahu.
“Metafora bang. Akh itu juga salah!” sela Destina mengkoreksi.
“Nah itu dia maksud Saya” ujar si abang ojek dibalik jaketnya yang sudah belel itu.
“Iya, Iya. Saya paham maksud abang. Intinya kepedulian sosial khan”, ujar gadis yang rambutnya sesekali dikibaskan angin itu
“Iya. Betul” sahutnya dengan semangat.
“Lalu ?”
“Lalu apaan neng ? lalu lintas ??” tanyanya polos.
“Maksud abang ngomong gitu apaan?”
“Ah enggak neng, cuman spik-spik aza, ” gayanya sok kebarat-baratan. Destina ketawa.
“Sebetulnya saya pengen tanya sesuatu sama neng”, ujarnya lagi.
“Tanya apaan bang ?”
“Ngggg…maaf neng, mmm….”, tanyanya terbata-bata.
“Haaaiiyaaa…lamaa nech. Tanyaa apaaan bang ? buruan mumpung gratis, ” ledeknya.
“Iya..iya..begini…hhmmm…”, kembali terbata-bata.
“Ah lama, kayak kereta ekonomi dangdut aza. Buruan dong! “, cetusnya.
“Ngg…itu lho neng, pembantu dirumah neng itu siapa ya namanya ?” tanyanya malu-malu.
“Hahaha….kenapa bang ? namanya bi Onah. Naksir ya..? cieeeeeee” ledeknya.
Si abang cuma bisa mesem dengan wajah hitam kemerahan. Persis buah manggis menjelang petik.
“Hehehe…jadi malu” sambil tersipu cengar-cengir ga jelas. Angannya melambung ke angkasa untuk beberapa saat. Setang kemudi terasa tali pelana kereta kencana kerajaan. Kibasan angin makin membuatnya membusungkan dada laksana simbol keperkasaan seorang ksatria. Jaket yang lusuh nan belel dibelai angin mesra, nampak bagaikan baju kebesaran pangeran muda pewaris tahta kerajaan. “Sungguh tampan nan perkasanya diriku” ujarnya dalam hati sambil membayangkan sosok wanita yang dipuja namun belum dikenalnya itu. Kala itu, Onah bak puteri raja yang dirindukan. ”Onah, Onah…ai lap yu”, bisik si abang.

Namun tiba-tiba angannya buyar seketika..
“Eeeeehh…Awaasssss bang..! , teriak Destina sambil memukul-mukul punggung abang ojek.
“Ciiiiiiiiiittttt……ciiiiittttt…” ia menginjak rem toromol itu secara mendadak.
“Liat-liat jalan dong…!”, bentak Destina histeris karena motor ojeknya nyaris menabrak gerobak bakso. Walhasil, abang tukang bakso panik.
“Hey..! dasar ojek sableng. Ga liat apa gerobak segede gini”, teriak abang tukang bakso sambil lututnya gemetaran.
“Maaf..maaf mas..Saya ga sengaja”
“Emang situ punya niat disengaja juga hah ?”, tantangnya dengan kumis baplang melingkar.
“Ya enggaklah mas. Sori dori mori blekberi”, tukas si abang ojek. Destina tak kuasa menahan geli meski jantungnya masih deg-deg-an.
“Dasar wong edan. Kalo sampean bukan orang, tak kepret jadi lima baru tau rasa”, kesalnya.
“Iya dech mas. Maafin ya” sambil membantu memunguti sendoknya yang bertaburan di aspal. Pasalnya, si abang bakso langsung ambil aksi menikung sembilan puluh derajat tatkala motor itu akan menubruknya. Walhasil, sendok dan garfu miliknya bertaburan ria. Untung saja tumpukan mangkuk bakso bertato ayam jago itu tetap utuh ditempatnya. Destinapun ikut membantu.
“Sekali lagi, maafin saya ya mas”, pintanya untuk ketigakali sambil pamit.
“Bilang maaf sih gampang. ” sungutnya masih tak terima. Abang ojekpun mulai menstarter motornya.
“Mari mas….Saya duluan ya” ujarnya dengan rasa bersalah.
“Dasar anak kampret bawa gendang”, serapahnya. Abang ojek tak menghiraukan.
“Hah….apaan tuh mas ?”, Destina spontanitas menimpali karena penasaran.
“Loe nyerempet gua tendang!”, kesalnya sambil memperagakan tendangan ala Buffon kiper Timnas Italia.
“Hahahaha…” keduanya melaju sambil cekikikan.
“Cabuuutttt….” Seru Abang ojek meninggalkan mas bakso yang masih terlihat ngedumel. Destina cekikikan melepas tawa. Baru kali ini ia mengalami hal yang lucu sebagai ojeker. Jauh berbeda ketika ia hanya duduk didalam Jazzynya, meski empuk nan sejuk.

Selang beberapa saat, pintu gerbang kompleks perumahan mulai terlihat.
“Oke-oke bang. cukup sampe sini aza”, pintanya.
“Baik neng”, iapun meminggirkan motor pabrikan jepang itu.
“Berapa bang”, tanyanya
“Tujuh ribu saja neng”, jawabnya pelan.
“Nich, ga usah dikembaliin. Makasih ya” sambil menyodokan satu lembar sepuluh ribuan.
“Terimakasih ya neng”
“Sama-sama bang” iapun berlalu.
“Eh neng”, panggilnya.
“Ada apalagi bang?”
“Hmmm…titip salam ya buat seseorang dirumah”, Destinapun mengerti siapa yang dimaksud.
“Jiaaahhhh…, masih ngarepin rupanya. Ya udah, ntar aku sampein”, ujarnya.
“Hati-hati neng”
“Ya. Terimakasih bang”, tuturnya.

Selanjutnya ia meneruskan perjalanannya dengan angkutan kota yang melintas di depannya. Dua puluh menit kemudian iapun tiba di depan gerbang kampus Adrian. Selamat Datang di Kampus Hijau, Kampus Perjuangan Rakyat. Begitu semboyan yang terpampang dalam spanduk besar di halaman depan Gedung Universitas itu.

Nampak begitu ramai karena masa orientasi mahasiswa semester awal baru saja dimulai. Dengan langkah cueknya Destina memasuki kawasan kampus. Tampak tiga orang mahasiswa yang tengah kongkow-kongkow dibawah pohon beringin putih mulai iseng dengan obrolannya yang mirip anak-anak burung cucak rawa. Ramai.
“Wussss…cakep banged broo…! ” ujar si rambut plontos persis Joe Satriani itu tak berkedip. Jidatnya mengkilat sempurna, mirip batu akik yang baru digosok.
“Eh, anak mana tuh ? Koq baru keliatan”, timpal kawannya yang berambut kribo ala Edie Brokoli itu.
“Ck..ck…ck.., eh emang kalo loe dah tahu, trus mo ngapain ? “, ledek temannya teman sebelah kirinya.
“Ya pedekate lah..emang nya gue mau ngecetin pager rumahnya ape ?” sahutnya tak mau kalah.
“Hahahaha…”, kompaknya ketawa
“Eh, loe berani taruhan ?”, tantang si plontos
“Sapa takut!” sahut si Brokoli
“Iya. Sapa takut. Apa taruhannya ?” tantang kawannya yang kurus berkacamata tebal itu.
“Gini. Siapa yang duluan bisa kenalan dan bisa dapet nomor hapenya, itu yang menang. Gimana, deal ?” Tanya si kribo sambil tengok kanan kiri.
“Paling-paling gue yang menang”, sombong si plontos yang berkaos Linkin’Park itu.
“Ga bakalan. So pasti gue dah”, Si kacamata tebal tak mau kalah.
“Tenang-tenang. Gue akuin, kalian berdua pesaing hebat. Tapi tetep aza gue yang menang”, si brokoli menepuk dadanya persis si Pitung dada berbulu.

Seketika, si brokoli merangkul kedua pundak sahabatnya itu. Ketiganya nyaris beradu kepala. Si plontos mendelik karena kaget. Tak berapa lama mereka bertiga tampak berbisik-bisik serius. Terus tegang. Terus geleng-geleng kepala. Nampak Tegang lagi. Ketawa. Geleng-geleng lagi. Tegang lagi. Akhirnya ngangguk bareng-bareng. “Deal!” sorak mereka persis tim bola voli menjelang menang.

Destina tetap tak peduli dan terus berjalan sambil melihat penujuk arah kampus. Dilihatnya satu persatu, Fakultas Hukum arah kiri, kanan Ekonomi, “Hmm bukan”, lirihnya dalam hati.
Ia berjalan terus melewati beberapa kerumunan mahasiswa dan mahasiswi yang sedang mengamati pengumuman hasil ujian semester di mading Fakultas. Ada yang gembira bertabur senyum warna-warni, ada pula yang kecewa diselimuti wajah cemberut nan muram durja, bak mendung tanggung bulan.
“Yes..! gue dapet A”, ujar salahseorang berjilbab diantaranya. Wajah sumringah menghiasinya.
“OMG….!”, timpal kawan sebelahnya sambil menepuk jidatnya yang licin.
“Kenapa loe?”, sahabatnya heran.
“Cepot lagi Cepot lagi..”, dengan sedihnya.
“Apaan tuh ?”
“C lagi C lagi..”
“Hihihihih….loe sih jarang ikut kuliahnya”
“Iya..gue juga sih yang badung”, ungkapnya jujur.
“Disyukurin aza…C juga lumayan”, hibur kawannya itu.
“Maksud loe…syukurin gue dapet C, gitu..?”
“Hehehehe…ya enggaklah..”, merekapun berlalu sambil tertawa.

Destina hanya tersenyum mendengar percakapan mereka. Masa-masa indah bersama kawan. Tak jauh berbeda ketika masa kuliahnya dulu. Namun ia beruntung kala itu, pasalnya ia pernah dekat dengan seorang kakak kelas yang pintar sekaligus merangkap sebagai asisten dosen. Sehingga nilai ujiannya selalu diatas rata-rata. Pikirannya perlahan menelisik kedalam bingkai masa lalu. Setiap mata kuliah yang kurang ia pahami bisa dibimbing olehnya. Kadang dibahas bersama di perpustakaan, di kantin bahkan di halaman kampus. Duh indahnya.
“Kamu sudah tahu cara menghitung Return on Investment ini ?”
“Cara menghitungnya sudah, tapi manfaat laporannya untuk apa ya kak?”, tanyanya kala itu.
“Oh begini, laporan ini diperlukan bagi manajemen untuk membuat satu keputusan dalam organisasi atau perusahaan yang dipimpinnya” jelasnya dengan rinci.
”Oh…begitu ya kak ”, Ia pun menyimak dengan manisnya.

Destina membayangkan sosok kakak kelas yang baik hati, namun entah dimana ia sekarang. He has gone with the wind. Itu hanya masa lalu. “Klik!”, Ia tersenyum sekaligus tersadar. Dirinya kini berada di kampus Adrian untuk memata-matainya. Saat ini yang ada dihatinya adalah Adrian. Cowok tampan yang telah menawan hatinya itu.

Dua kelokan ia lalui. Masuk lagi mengikuti penunjuk arah. Terlihat dari halaman taman kecil yang asri sebuah papan nama, Fakultas Ilmu Komunikasi.
”Yup, ini fakultas Adrian”, girangnya.
Langkah pertama yang harus ia lakukan adalah penyelidikan dimana acara yang diikuti Adrian. Untuk menjernihkan ide, Destina memutuskan untuk mencari kantin terdekat. Paling tidak bisa ia gunakan untuk mengamati keadaan sekitar sekaligus mencari strategi selanjutnya.

”Bu, saya pesan Jus Alpuket”, pintanya di sebuah kantin
”Pake Es ga neng ?”, tanya Ibu Kantin
”Pake lah bu, kalo ga pake jadi Ju Alpuket”, sambil tersenyum
”Hehehe….neng ini bisa aza”, timpal Bu kantin tertawa.
”Pake bu. Tapi es yang dingin ya”, sahutnya lagi.
”Walaah…neng lucu dech. Eh, tapi Ibu baru lihat neng”, herannya.
”Iya bu. Saya mampir aza koq”, jawabnya pelan.
”Ooh…” ia manggut-manggut.
”Saya dipojokan sana ya Bu”, terang gadis pengagum lagu Rihana ini.
”O, Iya. Tunggu sebentar ya neng”
”Iya. Terimakasih bu”, ujarnya sambil menuju kursi di pojokan itu.

Diliriknya jam mungil yang melingkar manis di lengannya. Sembilan lewat lima belas menit. Sambil menunjuk jamnya, Ia nampak tengah menghitung-hitung sesuatu.
”Dua belas tiga puluh masih lumayan lama”, gumannya dalam hati.
“Sruuupuuttt….sruuupurttt….Ahhhhhh….segarnya”, jus itu disedotnya dengan semangat.

Seiring dengannya, makin teranglah rencana selanjutnya. Usai membayar, iapun lantas mencari sumber-sumber informasi. Mading sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) fakultas itu paling memungkinkan untuk ia jajaki sebagai penelusuran awal. Tengak-tengok kesini dan kesana, mirip tukang timbangan badan cari orang, padahal cari jadwal.
“Oh, mungkin itu jadwalnya”, tebaknya sambil menghampirinya dengan ceria.
“Eh bukan, hihihihihi…”, ternyata yang dia lihat adalah pengumuman hasil ujian ulang ketiga kalinya dari seorang dosen untuk mata kuliah dasar umum. Dibawahnya tertera daftar mahasiswa yang mendapat nilai D. Diantaranya Ririnia Senjawati , Bendo Tempraman, Syarmanta Garda Kencana, Pratmanto Jaya Senarnya dan lain-lain. Semuanya ditugaskan untuk membuat sebuah esai panjang yang bertemakan ”Pengaruh Negatif Tontonan Sinetron Terhadap Kejiwaan dan Perkembangan IQ Anak Didik”. Pada bagian bawahnya bertengger nama angker berikut gelar keduniawiannya, Prof. Dr. Baban Sertanu Bervelg, SPsi, MM, Msi. Duh, pintarnya. Tak lupa dibawah kirinya terdapat memo bersimbol bintang asterik berikut keterangan. “Belajarlah pada burung gagak berkaki merah tentang kesempatan. Karena gagak merah tak pernah melepaskan mangsanya diantara sekawanannya”.

Duh sentimental sekali pesannya. Entah dimana dan kapan mahasiswa naas itu bisa bertemu gagak berkaki merah. Pasalnya, semua gagak umumnya berkaki hitam. Destina tak kuasa menahan tawa membaca pengumuman terkejam yang pernah ia lihat. Ia lanjutkan dengan beranjak ke pengumuman lainnya. Didapatinya informasi seputar perkemahan Sabtu-Minggu, kegiatan Fakultaria dan pelantikan mahasiswa diakhir masa orientasi kampus. Pada sub bagian kegiatan fakultaria, tertera jadwal temu alumni. pukul 9.30 s/d 12.30 di Aula gedung B.
“Ini pasti jadwal Adrian”, ucapnya dengan yakin. Diliriknya kembali jam mungil warna merah maroon mengkilat itu, jarumnya baru beranjak menuju pukul sebelas siang. Ia bergegas mencari Aula itu.

*****

Berbarengan dengan itu, di dalam aula gedung B yang lumayan besar itu, berderet tiga kursi kosong yang sepertinya sudah disediakan untuk dua orang panelis dan satu orang moderator di podium. Tepat di belakangnya terpampang spanduk besar bertuliskan “Selamat Datang Mahasiswa/i Baru Fakultas Ilmu Komunikasi Tahun Ajaran 2010 dalam Orientasi & Perkenalan di Kampus Perjuangan”. Sementara prama dan prami nampak tertib dan duduk manis mengikuti acara demi acara. Panitia sengaja menyebut mahasiswa baru dengan prama yang berarti pra-mahasiswa dan prami untuk mahasiswi puteri.

Dari samping kiri podium, tampak dua orang MC yang juga mahasiswa senior tengah memandu acara.
“Baiklah, prama dan prami sekalian, sebelum menginjak acara selanjutnya yaitu acara temu kangen alumni bersama akang-teteh kita sekaligus penyampaian materi seputar dunia jurnalistik, maka….”, ujar MC pria sambil mengangkat tangan dan mempersilahkan kepada pasangan MC nya untuk diteruskan.

”Kita sambut dulu persembahan berikut ini…The Blues Band!”, teriak MC perempuan yang mirip Lydia Kandau itu. Seketika, sambutan meriah bergemuruh di aula lantai dua itu.

Tampak lima mahasiswa berpenampilan eksentrik menaiki podium sambil membawa gitar listrik. Baju hitam dibalut jaket buntung mengkilat disertai kalung silver besar, rambut gergaji mesin ala anak punk bertengger bak antena stasiun amatiran, sepatu tinggi dan celana hitam mengkilat nan ketat dibagian kedua ujungnya. Begitu ketatnya, kadang diperlukan dua orang untuk membukanya.
”Plok…plok…plok……wiiittt….witttt..wiiiiww……suuiitt…suitt….”, walhasil suara-suara anehpun bermunculan dari barisan prama dan prami yang berlesehan dilantai bak sipil wajib militer itu.

Kontras sekali, warna setelan putih-putih yang dikenakan prama-prami itu dipadu dengan aneka warna caping plus balon hijau dikepala serta pita warna merah yang bergelantungan dilengan kiri. Belum lagi kalung ajaib yang dirangkai dengan bawang merah dan putih, lengkuwas, jahe merah, kunyit serta petai with his brother, jengkol yang dikupas. Dari raut wajahnya, mereka nampak terjajah, persis seorang centeng dengan sesajen pengusir drakula kejam yang digaji rendah. Sesekali nampak diantara mereka ada yang bersin-bersin karena tak tahan mencium aroma rempah-rempah menyebalkan itu.
Begitulah tragedi yang berlaku setiap tahun, bak seremonial yang dilestarikan secara turun temurun dari leluhurnya. Aksi mengerjai adik kelas baru, sebagaimana yang pernah mereka alami di tahun-tahun lalu.

Di podium itu dua orang pemain gitar yang terdiri dari lead guitar dan bass tengah menstem gitar merek Ibaneznya untuk menyamakan tinggi rendahnya nada. Dua orang lagi mengetes piano Rolland serta drum standar rock metal merek TAMA yang akan mereka gunakan. “Duk…duk…duk…cessstt…cessttt..!”
”Ting…ting,,,tung..tung…jreeeennngg!”
“Tes..tes…satu..dua..tiga…OKE. Baiklah. Assalamualaykum warrahmatullahi wa baraktuuhh…hadirin sekalian, izinkan kami untuk mendendangkan beberapa buah lagu untuk anda semua”, sapa sang vokalisnya kepada audiens dengan gaya mirip bang haji Rhoma Irama. Keempat kawannya tersenyum, meski rasa curiga sudah muncul.

Sebagai persembahan pertama, marilah kita sama-sama berdendang lagu “Darah Muda”, Darahnya para remaja. Darah semangat dan kreatifitas. Okeeeehh ?!”, Teriaknya lagi dengan keras. Audien sontak diam semua dan saling berpandangan. Tak terkecuali panitia. Dianggap tak matching dengan penampilan mereka yang garang. Sejurus itu aula bergemuruh dengan hebatnya.
“Huuuuuu.uuuuuuuuu…..uuuuuu.!”,
Keempat temannya tak ketinggalan ikut bengong pula dan saling bertatapan satu sama lain.
“Oooiii….brur..lagu apaan yang loe bilang ?”, ujar sang drummer gondrong yang mirip Lars Ulrichnya Metallica itu nampak kebingungan. Pasalnya tak pernah sekalipun mereka berlatih lagu itu.
“Eh, emang gue bilang apaan ?”, wajahnya melongo persis bebek dikagetin petir.
“Dasar dongo loe. Sekarang loe ada di group heavy metal man!”. Lupain dulu group dangdut orkestra di kelurahan loe itu”, empetnya sambil menabuh drum biar tak terdengar audiens.
“Okay brader, sorry ya. Gue lupa..sorry..sorry..!” bisik vokalis yang wajahnya perpaduan antara Budi Anduk dan Sule itu. Lantas sang vokalis menuju pemain piano dan gitaris serta bassis yang sedari tadi gregetan pengen nyubitin sampe pingsan vokalis sableng itu.
“Okay man…metal…metal..ya.. !”, teriaknya sambil mengacungkan tiga jari sebagai simbol metal.
“Borokokok siah. Kagak lihat ape loe tampang gue udah ngerock heavy metal gini?”, ujar gitaris kurus yang mirip Steve Vai itu.
“Iya..sorry..sorry brader, saat ini hatiku sangat kacau!”, kilahnya.
“Alaaahhh belagu loe. Paling-paling balon ijo loe meletus”, timpalnya enteng. Akhirnya mereka tertawa. Vokalis itupun kembali menyapa audiens.
“Okay..ladies and gentlemen. Kita hangatkan suasana ini dengan sebuah lagu rock”, teriaknya kembali.
“….Yee..yeee..yee…one two three..four..!”, kodenya kepada empat kawannya untuk mulai. Sebuah lagu milik Linkin’ Park yang berjudul “In The End” mulai dimainkan. Perpaduan antara musik rap plus sejenis metal itu diawali dengan intro suara organ. Musiknya mulai bergema di ruangan megah itu tatkala bagian reff nya mulai dinyanyikan. Semuanya ikut berjingkrak dan bertepuk tangan.
“Ayo sama-sama bernyanyi…!”, ajaknya kepada audiens menirukan gaya Chester Bennington.

“I tried so hard..
And got so far…
But in the end…
It doesn’t even matter…
I had to fall…
To lose it all…
But in the end
It doesnt even matter…”

Sorak audiens bersahutan karena disajikan permainan apik dari “The Blues Band” dalam bermain musik. Termasuk Adrian yang kala itu sudah hadir diantara sekumpulan panitia. Iapun ikut bernyanyi lagu itu.

*****

Diluar aula, Destina tenggelam diantara sekumpulan mahasiswa. Hari itu, kampus nampak ramai sekali. Baginya, kondisi itu memudahkan dirinya untuk menyelinap diantara mahasiswa sehingga bisa mendekat ke aula dimana Adrian berada. Nampak di dinding tangga tanda penunjuk arah menuju aula di lantai dua. “Yes, ini pasti tempatnya”, ia yakin betul.

Dirinyapun larut diantara kelompok mahasiswa-mahasiswa yang ingin menonton acara di aula. Hingar bingar suara musik makin terdengar hingga ke sudut-sudut ruang kuliah. Beruntung, satu pekan itu jadwal kegiatan belajar mengajar belum aktif. Semua elemen kampus nampak tertuju perhatiannya pada kegiatan orientasi mahasiswa baru itu. Karenanya hampir semua kelas kosong tak ada aktifitas kuliah.

Tiba diaula, Destina mulai menerawang sosok yang dicarinya. Satu persatu ia perhatikan, berharap matanya menangkap pria yang tengah menjadi targetnya. Diulangnya kembali tatapan matanya ke deretan panitia yang berada disamping podium, bak antivirus yang menscan komputer. Namun tak didapatinya Adrian. Ia menarik nafas dalam-dalam. Sambil bertanya dalam hati, Jangan-jangan salah masuk gedung ?” kemelutnya dalam hati.
“Akh..tak mungkin. Aku yakin ini pasti tempatnya”, ia melawan keraguannya. Ia sabarkan diri untuk tetap menunggu. Rupanya Adrian terhalang oleh podium sehingga Destina tak melihatnya. Adrian tengah berbincang-bincang dengan salah seorang aktivis yang juga kebetulan sebagai ketua umum Badan Eksekutif Mahasiswa di fakultasnya.
Usai tiga buah lagu dinyanyikan, kedua MC Kembali tampil di podium.
“Kita beri applaus dulu untuk penampillan The Blues Band”, ujar MC perempuan itu audienspun menyambutnya dengan hangat.
“Baik, kita break dulu konsernya. Untuk acara selanjutnya adalah temu kangen bersama alumni. Kali ini telah hadir diantara kita dua orang alumni juga mantan aktivis di kampus ini. mereka berdua akan menyampaikan materi seputar dunia pers dan fenomena yang terjadi saat ini.

“Untuk itu marilah kita panggil salahsatu alumni kita. Beliau adalah mantan ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa periode 2006-2007. Kepada Kak Adrian kami persilakan untuk duduk sebagai panelis. Para panelis nanti akan ditemani oleh moderator cantik kita, Annida, yang juga mahasiswi semester enam”, ujar MC itu.

Adrian dan Taniapun beranjak dari sekumpulan panitia yang berada disebelah kanan podium. Keduanya melempar senyum sambil melambaikan tangan kepada audiens. Merekapun disambut dengan hangat.
“Adrian, here you are. Finally, i find you now”, ujar Destina dalam hati kegirangan dipojok aula.

Di sudut kiri podium, nampak salahseorang berkerudung putih tiba-tiba terlihat grogi dan kikuk. Butiran keringat dikeningnya nampak bermunculan. “Adrian ??”, ucapnya pelan diujung bibir.

“Prama dan prami sekalian, rasanya tak lengkap bila kehadiran alumnus kita hanya seorang saja. Untuk itu nya kita panggilkan alumnus kita yang cantik jelita ini. Beliau adalah mantan aktivis juga. Periode yang sama dengan Kak Adrian dan beliau pernah menjabat ketua bidang pengembangan media Kampus di badan eksekutif mahasiswa, papar MC perempuan itu.
“Untuk itu mari kita berikan applaus untuk Kak Tania Larasati. Kami persilakan”, ujar MC pria itu yang disambut hangat oleh audiens. Taniapun beranjak menuju podium.
“Plok…plok…plok….suuuiitt…suwiiiiww…”, aulapun kembali berguruh berikut suara-suara ajaib.
“Tania ?”, Adrian terperangah ketika nama Tania dipanggil. Dirinya tak menyangka bakalan disandingkan dengan Tania. Ya, Tania yang pernah menjadi salahsatu pengurus BEM namun berbeda angkatan itu kini hadir dihadapannya. Sudah tiga tahun ia tak pernah mendengar kabarnya.
“Hai..apa kabar Tania ?”, sapa Adrian ketika Tania menempati kursi yang tak jauh darinya.
“Alhamdulillah, ana khair. Assalamualaykum Adrian ?” sahut Tania sambil merapatkan kedua tangannya untuk bersalam etika muslimah.
“Wa’alaykumsalam, Tania”, jawabnya agak melongo karena berbeda sekali dengan penampilan Tania yang dulu. Iapun membalas salam dengan telapak tangan merapat pula.
“Apa kabarmu ya akhi Adrian ?”, tanyanya.
“Eh, alhamdulillah baik juga”, Adrian tak habis pikir begitu banyak perubahan yang terjadi pada sosok Tania. Namun ada satu hal yang tak lekang oleh waktu, yaitu Tania tetap cantik bahkan jauh lebih cantik dan anggun dibalut kerudung putihnya.
“Duh, apa gerangan yang telah membuat Tania begitu berbeda saat ini”, tanyanya dalam hati sambil curi pandang ke wajah Tania yang saat itu tengah berbincang kecil dengan moderator.

“Baiklah, kepada moderator kami persilakan untuk memandu jalannya acara hingga tuntas”, ujar MC menyapa Annida.
“Baik terimakasih, kepada Kak Renny dan Kak Dadan Ramadhan atas waktunya”, Annida mengawali acara.
“Prama dan Prami sekalian, juga audiens yang ada dibagian belakang. Telah hadir diantara kita dua orang panelis yang juga alumnus di fakultas kita, yakni Kak Adrian dan Kak Tania. Keduanya akan memaparkan perkembangan dunia pers saat ini”, ujar Annida sambil dilanjutkan dengan pembacaan biografi masing-masing panelis.

“Sesi pertama akan diawali pemaparan yang akan disampaikan oleh Kak Adrian. Kami persilakan”, ujarnya.

“Terimakasih Annida. Baik, prama dan prami seklian…Assalamualaykum warahmatullahi wabaraktuh..selamat siang. Apa kabar ? “, Salam dan sapa Adrian yang diikuti jawaban serempak.

“Perkenalkan, nama Saya Adrian. Tinggal di Bogor juga. Saya sangat senang sekali bisa berjumpa dengan adik-adik dan juga kakak senior yang ada di fakultas kita. Tak lupa juga, senang sekali bisa berjumpa lagi dengan kawan lama, Kak Tania yang cantik jelita ini “, Papar Adrian mengawalinya sambil melirik ke Arah Tania. Tentu saja, Taniapun tersipu, raut wajahnya merona.

Dibagian belakang aula, Destina yang menyimak khusyuk pembicaraan Adrian mulai dibakar rasa cemburu.
“Adrian bilang cantik jelita ? hmm awas ya!”, gerutunya dalam hati. Ia mengigit bibirnya yang merah itu.
“Adrian..you make me jealous, honey”, tambahnya makin kesal.

“Baiklah, adik-adik sekalian. Saya berdiri disini bukan hendak menggurui namun lebih kepada proses sharing saja. Kita bisa sama-sama berdiskusi dalam forum ini. Judul yang saya sampaikanpun cukup ringan, yakni “Selayang Pandang Tentang Pers di Sekitar Kita””, prolog Adrian yang mulai memaparkan kajiannya dengan tampilan slide demi slide melalui infocus.

“Berdasarkan tinjauan etimologi atau sejarah asal-usul kata, Pers sendiri berasal dari bahasa Belanda. Pers berarti menekan atau mengepres. Selain itu ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa Pers itu padan kata dari bahasa Inggris Press. Keduanya memiliki pengertian yang sama yakni menekan atau mengrepres”, jelas Adrian pada slide awal ini.

”Dulu, kegiatan cetak mencetak berita belum menggunakan alat atau mesin cetak seperti sekarang ini. Melainkan menggunakan tangan-tangan manusia. Caranya, kertas–kertas dipres dengan hurup timbul satu persatu. Naskah atau berita yang akan diterbitkan dalam media masa baik majalah atau surat kabar, sebelumnya harus dipres terlebih dahulu. Cara yang demikian itu, yaitu dengan sistem pres mengepres menjadi lekat atau akrab dalam dunia jurnalistik hingga sekarang ini”, ujar pria pengagum Kitaro itu sambil membuka slide berikutnya.

”Sedangkan untuk fungsi pers, bisa dibagi kedalam beberapa bagian antara lain Pertama, To Inform. Pers mempunyai fungsi untuk memberikan informasi atau kabar kepada masyarakat atau pembaca. Melalui tulisan-tulisa pada setiap edisinya, pers memberikan informasi yang beraneka ragam. Dengan membaca surat kabar, majalah, internet atau mendengar radio, audien dapat memperoleh berbagai informasi. Baik itu yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri karena pers memberikan kabar atau informasi tersebut maka pers berarti mempunyai fungsi informasi.

Kedua, To Educate. Pers mempunyai fungsi sebagai pendidik. Melalui berbagai macam tulisan-tulisan atau pesan-pesan yang dumuatnya, pers bisa mendidik masyarakat atau audiens sebagai pembacanya. Dengan demikian, pers mempunyai andil yang penting dalam memberikan pendidikan pada masyarakat dan bangsa.

Ketiga, To Control. Pers ditengah-tengah masyarakat mempunyai peran memberikan kontrol sosial, social control. Dengan tulisan-tulisannya, pers bisa melaksanakan atau memberikan kontrol sosial. Selain itu bisa memberikan berbagai kritik yang bersifat membangun dan berguna bagi masyarakat secara luas. Melalui tulisan-tulisannya bisa menyajikan kritik atau kontrol terhadap pihak-pihak yang melakukan penyimpangan yang dinilai bisa merugikan masyarakat luas. Pers, khususnya surat kabar dan majalah mempunyai pengaruh yang sangat luas dan juga mempengaruhi pendapat umum, public opinion. Karena kuatnya pengarus pers tersebut, sebagai lembaga pers merupakan kekuatan keempat setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Keempat, To Bridgers. Pers mempunyai fungsi sebagai penghubung atau menjembatani antara masyarakat dengan pemerintah atau sebaliknya. Komunikasi-komuniksi yang tidak dapat tersalurkan melalui jalur atau kelembagaan yang ada bisa disampaikan melalui pers. Karena sebagai perantara itulah maka pers disebut mempunyai fungsi sebagai penghubung.

Kelima, To Entertaint. Pers melalui tulisan-tulisannya bisa memberikan hiburan kepada masyarakat. Menghibur disini bukan hanya dalam pengertian hal-hal yang lucu saja. Melainkan juga bisa memberikan kepuasan-kepuasan, kesenangan-kesenangan, kesuksesan dan sebagainya. Demikian Annida yang bisa saya sampaikan sebagai pengantar”, papar Adrian.

”Baik, terimakasih kak Adrian. Bila ada hal-hal yang ingin ditanyakan, maka kami beri sesi khusus setelah kedua panelis menyampaikan materinya. Sesi berikutnya akan kita dengarkan paparan dari Kak Tania Larasati. Kami persilakan”, ujar Annida.

Selanjutnya giliran Tania yang menyampaikan materinya.
”Terimakasih Annida dan Kak Adrian. Mengenai prinsip atau dasar-dasar pers atau dunia jurnalistik sudah disampaikan oleh kak Adrian. Saya akan mencoba menyoroti persoalan-persoalan yang timbul sekarang ini. Sejak dicabutnya SIUPP pada akhir kejayaan era Orde Baru maka banyak sekali media yang bermunculan bak jamur di musim hujan. Setiap orang bisa dengan mudahnya menerbitkan media. Akibat dibukanya kran kebebasan berpendapat ini maka pada akhirnya melahirkan dua persoalan yang tak kalah seriusnya. Peran media di Indonesia saat ini bagaikan dua sisi mata pisau. Sisi positifnya, informasi bisa diakses secara cepat dan terbuka. Namun sisi negatifnya yakni semakin tidak terkontrolnya arus informasi yang tidak mendidik bahkan merusak tatanan yang ada di masyarakat. Misalnya, pemberitaan di media massa yang tidak lagi mengindahkan kode etik jurnalistik. Sehingga berita yang disajikan melalui headlinenya cenderung bermuatan agitasi atau provokasi. Sebagian besar media massa saat ini lebih berorientasi pada aspek bisnisnya saja, sehingga mengabaikan sisi idealisnya sebagai pilar ke empat dalam sebuah negara. Selain itu diperparah dengan ulah beberapa oknum wartawan yang mengabaikan kode etik dalam pemberitaan sebuah peristiwa. Saya tidak men-generalisir, namun perlu diakui bahwa ada sejumlah oknum jurnalis yang keluar dari koridor sebagai insan pers. Wartawan yang baik harus bisa menyajkan sebuah berita secata objektif, artinya ia mampu memisahkan mana yang menjadi fakta sesungguhnya dan mana yang merupaka opini dirinya. The real fact dan opinion harus tetap jelas batasannya. Namun sayang yang terjadi sekarang ini adalah sebaliknya. Banyak terjadi–saya katakan sekali lagi, meski tidak semuanya– wartawan cenderung terbawa kedalam grey area. Tugas utama seorang wartawan adalah menunjukan fakta dengan baik, bukan mengatakan. Demikian pengantar dari Saya“, ujar gadis berkerudung putih itu.

”Baiklah, terimakasih kak Tania dan juga kak Adrian. Audiens sekalian, bila ada pertanyaan, kami persilakan”, lempar moderator.
“Saya kak”, ujar salahseorang prami sambil menangkat tangan.
“Silakan. Namanya siapa dan kelompok berapa ?”
Saya Ratih Komara Sari dari kelompok Tiga”, ujarnya.
“Silakan”,
“Begini kak, bila mengurai permasalahan jurnalisme secara umum tentu diperlukan waktu yang cukup panjang. Berbagai persoalan datang silih berganti tak kunjung reda. Satu peristiwa yang diberitakan akan disusul oleh berita yang lain, sehingga kejadian atau peristiwa yang lalu tidak dapt lagi diikuti dengan baik sejauh mana peristiwa atau kasus itu berakhir”, jelasnya sambil menarik nafas.

“Lalu pertanyaanya apa ?”, tegas Annida selaku moderator.
“Pertanyaannya adalah dimana letak fungsi pers untuk mengontrol, sebagaimana yang sudah disampaikan diawal bahwa pers berfungsi sebagai social control ?, itu saja. Terimakasih”,ujar prami berambut panjang ini.

“Baik, ada lagi yang lain ?”, tantang moderator.
“Saya Kak..” teriak seorang prama diujung kanan aula.
“Ada lagi ?” tanya Annida untuk kedua kali.
“Diujung kanan sana Annida..” ,tunjuk Adrian
“Oh maaf. Saya tidak lihat. Silakan menuju mic yang di tengah. Panitia mohon dibantu”, pinta moderator.
Seorang Prama berjalan melangkahi deretan prama dan prami yang duduk berlesehan ria.
“Permisi..permisi….”, dengan sopannya ia melangkahi deretan prama dan prami lainnya.
“Adaawwwwww……aduuhhh tanganku diinjek gilaaaa”, teriak seorang prami kesakitan. Kawan lainnya ikut terkejut dan menoleh kearahnya.
“Aduuhhh maaf, maaf, ga sengaja…sakit ya?”, tanyanya berharap dapat maaf.
“Ya iyalah…..sakit bro”, ujar prami itu dengan sewot sambil mengelus jari-jemarinya.
“Maafin aku ya Mirnawati Syarifah?”,
pintanya sok akrab usai membaca name tag prami itu.
“Iyaaaa gundul Fazri”, sahutnya masih sewot yang disambut tawa prama dan prami sekitarnya.

“Bisa lebih cepat prama”, perintah Annida kepada prama itu.
“Iya kak”, sahutnya sambil tergesa-gesa.
“Silakan. Sebutkan namanya siapa dan kelompok berapa ?”, tanya moderator.
“Mirnawati Syarifah kak, dari kelompok satu ?”, jawabnya polos dan spontanitas melalui mic yang digenggamnya. suaranya nyaring terdengar hingga kesudut-sudut aula.
“Apaaaa…? Mirnawati Syarifah ? ga salah tuh ?, moderator tercengang. Begitupun Tania dan Adrian saling berpandangan lalu tersenyum. Sontak audiens di aula itupun terbahak-bahak mendengar ucapan prama itu.
“Maaf bisa diulang ? namanya siapa ?”, tanya moderator.
“Mirnawatiiiiiiii Syarifaaah”, teriak Audiens kompak. Merahlah wajah prama yang satu itu begitupun prami pemilik nama itu. Suara audiens bergemuruh mentertawakan kelucuan yang dibuat prama itu.
Sambil tersenyum geli Annida kembali menanyakannya.
“Oohh…nama Saya Fazri Rahadi. Dari kelompok tujuh”, jawabnya sambil tersipu.
“Ooh Fazri. Kenapa tadi jadi Mirnawati ?” ledeknya.
“Mmm…maaf kak, tadi saya menginjak tangannya Mirnawati”, jawabnya jujur. Gelak tawapun kembali terjadi.
“Oh, ya sudahlah. Nanti kalian selesaikan saja berdua secara adat”,
“Baik kak”, jawabnya ringan.
“Apa yang ingin ditanyakan ?” timpal Annida.
“Begini kak, Saya ingin menayakan keberadaan media yang memberitakan gosip bahkan aib seseorang. Misalnya infotainment atau artis-taintment. Apakah pemberitaan itu merupakan bagian dari fungsi pers ?. Terimakasih”, tanyanya dan iapun kembali ketempatnya dengan sopan tanpa melewati Mirnawati Syarifah.

“Baiklah audiens. Kita telah punya dua pertanyaan. Silakan ditanggapi oleh panelis pertama”, sodor moderator.

“Pertanyaan bagus. Saya sependapat dengan penanya. Persoalan demi persoalan besar kerap terjadi di negeri kita. Mulai dari berita yang menyangkut koalisi di pemerintahan, rekening petinggi kepolisian, pimpinan kejaksaan, mafia pajak, korupsi di BUMN, asusila anggota dewan terhormat yang menginjak kehormatannya sendiri, pembunuhan yang melibatkan pimpinan KPK, asusila artis, perampokan bank, kasus terorisme yang makin tidak jelas, peristiwa bencana alam yang datang silih berganti hingga perseteruan dengan negara tetangga dan lain sebagainya. Kejadian-kejadian itu tidak dapat lagi diikurti secara detail perkembangannya. Masyarakat kita sangat banyak dihadapkan oleh persoalan-persoalan yang tak jelas juntrungannya. Yang terjadi saat ini adalah satu kasus akan hilang dengan sendirinya karena ditelan kasus yang baru. One case replaced by another case, satu persoalan “dianggap selesai” bila ada persoalan lain yang muncul belakangan. Ironis khan ?. Aparatur negara kita tidak cakap dalam menyelesaikan persoalan secara cepat dan tepat. Semuanya selalu ada pertimbangan dan persinggungan antara hukum dan kekuatan politik. Belum lagi intervensi kekuatan politik terhadap ranah hukum, yang tentunya sering berakhir dengan pemakluman-pemakluman antar kekuatan politik, dengan kata lain ”ada main mata”. Praktik yang kurang sehat seperti inilah yang justeru menjadi bencana sistemik bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Bagaimana mungkin social control bisa berfungsi dengan baik. “, papar Adrian disambut tepuk tangan audiens.

“Jadi, kondisi saat ini kurang mendukung terciptanya kontrol sosial. Memang sangat dilematis. Peran pemerintah yang tegas dan adil harus lebih banyak dalam hal ini. Tentu dengan tetap menghargai kekebasan pers yang positif”,

“Lalu bagaimana dengan status kasus-kasus yang terdahulu tadi ?” , sambung moderator.
“Maksudnya ?”
“One case tadi”
“Bila menyangkut masalah hukum. Maka hukum itu sendiri yang akan menyelesaikan. Pengertian “dianggap selesai” tadi bukan meniadakan proses hukum. “Selesai” dalam artian masyarakat dikondisikan untuk lupa dengan kasus terdahulu. Saking banyaknya persoalan hehehehe…” tambah Adrian.
“Bagaimana penanya ? apakah menjawab pertanyaan yang diajukan ?”, tanya moderator cantik itu.
“Berarti salahsatu fungsi pers sebagai kontrol sosial tadi belum bisa berjalan?”, timpal prami tadi.
“Belum bisa maksimal tepatnya”, jawab Adrian.
“Baik, lanjut pada pertanyaan kedua. Tentang keberadaan infotainment atau artis-tainment yang berkembang saat ini. apakah infotainment itu merupakan bagian dari fungsi pers? silakan kak Adrian”, pinta Annida.
“Pertanyaan yang mudah namun agak sulit untuk menjawabnya. Baiklah, saya berpendapat bila infotainment itu disajikan sesuai fungsi pers dan kode etik jurnalistik maka sah-sah saja dikategorikan kedalam bagian fungsi to inform tadi. Hanya saja, dalam prakteknya infotainment cenderung lebih mengarah pada opini dari seorang pewarta itu. Bahkan informasi yang disajikan tidak lagi menghormati ranah privasi yang seharusnya dilindungi dan sangat pribadi sekali. Belum lagi dampak sosial dan psikologi dari pemirsa dibawah umur. Tema yang diangkat selalu berkisar masalah percintaan, perselingkuhan, kekerasan rumah tangga, bahkan perceraian. Informasi ini begitu mudahnya di tonton oleh berbagai golongan umur dimasyarakat. Ini dikarenakan juga tidak adanya aturan jam tayang pada jadwal atau acara televisi. Dengan demikian makin komplitlah persoalan yang terjadi di dalam masyarakat. Jujur Saya katakan, bahwa pemberitaan info seperti itu tidak membawa manfaat yang baik bagi masyarakat. Justeru sebaliknya”.

“Hmm..nampaknya rumit sekali ya kondisi pers di negara kita ini”, sela Annida.
“Betul sekali dan ini tantangan bagi kita sebagai generasi muda untuk menyelesaikan persoalan yang kompleks ini”, tutur Adrian.

“Baik. Selanjutnya kita dengarkan paparan dari kak Tania untuk dua penanya tadi. Silakan kak”, ujar Annida mempersilahkan.
“Terimakasih Annida. Wah, nampaknyua makin seru aza ya. Saya sejalan dengan penjelasan Kak Adrian mengenai kondisi kontrol sosial kita yang tidak berjalan dengan baik. Dalam hal ini saya berpendapat bahwa peran pemerintah dalam hal penyelesain yang berkaitan dengan masalah hukum perlu lebih tegas lagi untuk menyelesaikannya. Hal ini bukan persoalan yang mudah, namun perlu proses dan ketegasan dari pihak yang terkait”, ujar gadis berparas cantik ini.

“Lalu mengenai persoalan infotainment itu sendiri gimana kak ?”, tanya moderator.
“Terus terang saya sangat prihatin sekali dengan perkembangan saat ini. Media seharusnya dijadikan sarana untuk mendidik masyarakat dengan pemberitaan yang positif dan berguna. Infotainment sarat dengan kepentingan bisnis media. Mereka tidak lagi menjalankan fungsinya untuk mengedukasi masyarakat. Sisi komersial lebih diutamakan dibandingkan efek negatif yang muncul atas pemberitaan tersebut. Kode etik jurnalistik tidak lagi menjadi kaidah-kaidah yang seharusnya menajdi landasan dalam pemberitaan. Para jurnalis tersebut semakin asyik dengan petualangannya mengupas kehidupan pribadi seseorang yang jelas-jelas menjadi public figur di masyarakat. Terkadang norma-norma sosialpun dilanggar demi sebuah oplah atau rating iklan. Bagaimana mungkin bangsa ini mau maju bila aktivitasnya hanya disibukkan dengan hanya menonton gosip dan berita tak bermutu”, papar Tania dengan semangatnya. Audienspun menyambutnya dengan tepuk tangan.

“Ditinjau dari sisi hukum positif, tindakan mencemarkan nama baik seseorang itu tidak dibenarkan karena merugikan seseorang atau pihak yang menjadi korban pemberitaan. Terlepas dari benar tidaknya suatu kasus tersbut. Bilapun benar adanya, tentu masih ada kode etik yang mengatur hal itu. Apalagi bila ternyata pemberitaan itu salah, tentu akan menjadi fitnah yang berakibat pada tuntutan. Sedangkan bila ditinjau dari hukum agama, maka tindakan tersebut sama seperti yang digambarkan di dalam Al Qur’anul Karim, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang dan mencela perbuatan ghibah, sebagaimana firman-Nya (artinya) : “Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing (ghibah) kepada sebagian yang lainnya. Apakah kalian suka salah seorang diantara kalian memakan daging saudaramu yang sudah mati? Maka tentulah kalian membencinya. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih.” (QS. Al Hujurat: 12).

Dari redaksionalnya saja diisyaratkan bahwa tindakan tersebut sangat dilarang bahkan dianalogikan sebagi perbuatan yang memakan bagkai saudaranya sendiri. Apakah kita sudi dan suka untuk memakan bangkai saudara kita sendiri ? tentu kita akan merasa jijik bukan. Begitu pula dengan perbuatan menggunjing, menggosipkan orang lain yang belum tentu ia seperti yang kita tuduhkan”, papar Tania. Adrian sependapat dengan penjelasan Tania yang begitu tegas dan jelas.

Sementara itu, Destina yang sedari tadi menyimak dengan baik, merasa kagum pula dengan kecerdasan seorang Tania.
“She must be a smart girl”, kagum Destina. Diliriknya jam tangan mungil itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.45. Dirinya teringat pesan yang disampaikan kepada Bi Onah bahwa dirinya harus sudah tiba dirumahnya sebelum pukul 12.30. Akhirnya ia memutskan untuk keluar dari aula. Segera ia langkahkan kakinya untuk keluar gedung itu untuk menelepon bi Onah.
“Halllooo.. biii…. Hallooo…”,sapa Destina lewat ponselnya.
“Iya non, ada apa ?”, tanya bi Onah diujung ponsel.
“Papa-Mama gimana bi ?”
“Oh ya non. Tuan sama nyonya barusan saja pergi ke rumah Tante Mira, setelah itu mau pergi mampir ke swalayan dulu. Katanya pulangnya mungkin agak sorean soalnya sekalian kondangan ke bu Fatma di Cibinong. Non kapan pulangnya ?”
“Bentar lagi dech bi”, ujar Destina girang karena bisa leluasa untuk pulang agak telat.
“Buruan pulang ya non. Soalnya bibi jadi bingung kalo ditanyain tentang non”, bi Onah menghiba.
“Iya bi. Udah dulu ya”
“Ya non. Jangan lupa oleh-olehnya ya…hehehe”, pinta si bibi sambil ketawa
“Yeee..emangnya aku lagi rekreasi apa. Ya udah bi, ntar aku beliin cemilan. Daagghh biiii”, Klik.
Destinapun kembali ke aula. Suasanapun semakin hidup dengan diskusi hangat antara audiens dengan panelis tersebut. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan oleh prama dan prami.
“Saya ingin menanyakan, pertama, bagaimana caranya bisa menjadi penulis yang baik?”,
Kedua, apa yang disebut dengan bahasa jurnalistik ?”, tanya prami yang bernama Halimatu Sya’diah itu.
“Silakan langsung dijawab Kak. Mulai dari Kak Tania dulu”, ujar Annida.
“Baik. Terimakasih moderator. Untuk pertanyaan pertama, menjadi penulis yang baik itu merupakan hasil dari proses pembelajaran yang terus menerus. Dari proses itulah hingga menjadi suatu kebiasaan. Maka kebiasaan itu pulalah yang menjadikan sesorang semakin mahir dalam menulis. Jadi intinya, biasakan menulis hingga menjadi kebiasaan kita. Insha Allah, kitapun bisa menjadi penulis yang baik.
Pertanyaan kedua, Saya mengutip pendapat Professor. S. Wojowasito, seorang ahli di bidangnya. beliau mengatakan bahwa bahasa jurnalistik adalah bahasa komunikasi massa. sebagaimana yang tampak dalam media harian dan majalah. Dengan fungsi yang demikian itu, bahasa tersebut haruslah jelas, mudah dibaca oleh mereka dengan ukuran intelek minimal. Sehingga sebagian besar masyarakat yang melek hurup dapat menikmati isinya. Walaupun demikian, tuntutan bahwa bahasa jurnalistik haruslah baik, tak boleh ditinggalkan. Dengan kata lain, bahasa jurnalistik yang baik haruslah sesuai dengan norma-norma tata bahasa, yang antara lain terdiri dari atas susunan kalimat yang benar serta pilihan kata yang cocok. Demikian”, Papar gadis penggemar pempek palembang ini.

“Selanjutnya Kak Adrian silakan ditambahkan”, ujar moderator.
“Baik. Adik-adik sekalian. betul apa yang disampaikan kak Tania tadi. Karena kebiasaanlah kita menjadi terbiasa. Ibaratnya, ketika kita masih kecil dulu dan belajar berjalan, pasti pada awalnya tertatih-tatih bahkan jatuh lalu kita mencoba dan mencoba lagi tanpa kenal rasa putus asa. Akhirnya dari usaha yang gigih itulah akhirnya bisa berjalan dengan tegak. Bahkan tidak hanya berjalan, berlaripun kita mampu. Tidak hanya itu pula, kitapun bisa menaiki dan menuruni tangga, naik keatas meja, meloncat dan berteriak. Menyenangkan bukan ?. Jadi bisa kita simpulkan, bila ingin menjadi penulis, maka berlatihlah untuk terus menulis. Tentu harus dibarengi pula dengan kegiatan membaca sebagai proses input pengetahuan. Mempelajari gaya bahasa penulis besar merupakan cara yang mudah dilakukan, yakni membaca karya-karya mereka. Dari sana kita bisa mengetahui bagaimana seorang penulis menyampaikan, mengungkapkan, menjelaskan dan menunjukan akan suatu gagasan atau ide dalam sebuah tulisan. Untuk pertanyaan kedua tentang bahasa jurnalistik, saya juga ingin mengutip pendapat dari seorang sastrawan dan wartawan senior, Rosihan Anwar dalam bukunya yang berjudul Jurnalistik Indonesia dan Komposisi. Beliau berpendapat, bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik. Bahasa pers adalah salahsatu ragam bahasa. Bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas, yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, lugas dan menarik. Namun jangan dilupakan, bahasa jurnalistik harus didasarkan pada bahasa baku, dia tak dapat menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa. Begitu juga dia harus memperhatikan ejaan yang benar. Akhirnya dalam kosa-kata, bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat. Demikian. Terimakasih”, urai Adrian
“Kak, Saya ada pertanyaan”, tanya moderator.
“Silakan Annida”
“Apakah setiap kita memiliki bakat untuk menjadi penulis ?”
“Saya katakan Iya. Mengapa demikian ?. Karena setiap orang sebetulnya adalah penulis. Contoh paling sederahana adalah setiap orang pasti pernah memiliki buku diary untuk curhat, Kalaupun tidak, pasti setiap orang punya catatan pribadi. Bisa berupa catatan doa, jampi-jampi, hapalan lainnya atau mungkin catatan utang-piutang..hehehe. Dari situ bisa kita katakan bahwa pada dasarnya setiap orang yang sudah mampu menulis dan membaca secara alamiah sudah memiliki bakat menjadi seorang penulis. Apalagi rekan-rekan yang ada diruangan ini, sudah pasti memiliki bakat dan kemampuan yang baik untuk menjadi seorang penulis. Proses selanjutnya adalah mengasah secara terus menerus dua hal tadi. selain itu dibarengi pula dengan semangat untuk tetap menulis. Intinya, bila ingin menjadi penulis, maka mulailah menulis dari sekarang. Lakukan dan lakukanlah secara terus menerus. Terimakasih”, papar Adrian.

”Selanjutnya Kak Tania, bagaimana kriterianya seseorang dikatakan menjadi seorang penulis yang baik ?”, tanya Annida lagi.

“Baiklah Annida. Penulis yang baik dapat dilihat dari hasil tulisannya. Tulisan yang baik dapat dilihat dari kandungan yang ada didalamnya. Kandungan yang baik dilihat dari manfaat yang diperoleh dari hasil membaca tulisan tadi. Selanjutnya manfaat tersebut bisa mengarahkan kehidupan manusia kearah yang lebih baik lagi. Jadi penulis yang baik selalu menghasilkan karyanya yang penuh “nutrisi” dan “gizi” yang baik bagi pola pikir masyarakat”

“Bisa digambarkan dengan contohnya Kak ?”, pinta Annida.
“Contoh kecil misalnya, untuk sebuah media harian seperti koran. Kita bisa bandingkan penggunaan kata pada headline sebuah koran yang berisi berita tindak asusila seperti perselingkuhan, perzinahan bahkan pembunuhan ditampilkan dengan headline yang bombastis dan vulgar. Mereka tidak menggunakan bahasa yang lebih santun dan baik. Padahal diluaran sana berita itu dibaca pula oleh anak-anak SD hingga SMU. Bila hal ini terus dipupuk dan menjadi suatu hal yang biasa, dapat dipastikan generasi muda yang akan datang akan semakin jauh dari penggunaan bahasa yang baik dan benar. Jauh berbeda bila kita bandingkan media harian besar lainnya yang masih konsisten dalam menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Citra sebuah media akan sangat bergantung dari penggunaan bahasa yang digunakan. Untuk media elektronik seperti televisi, banyak kita temukan berita-berita atau tayangan yang negatif. Untuk contohnya, Saya pikir teman-teman bisa saksikan setiap hari”, tambah Tania sambil tersenyum.

Baiklah kak Adrian dan kak Tania, Penjelasan demi penjelasan sudah disampaikan dalam diskusi kita yang singkat ini. Dari hasil diskusi kita, Saya mencoba membuat sebuah rangkuman bahwasannya perkembangan dunia jurnalistik kita saat ini sangat memprihatikan. Menjadi tugas kita bersama untuk terus memperbaiki kualitas di masa yang akan datang. Selain itu untuk menjadi seorang penulis yang baik diperlukan proses belajar terus menerus tanpa mengenal putus asa. Sedangkan untuk sebuah karya tulis yang baik bagi masyarakat tentu dibutuhkan kandungan yang bermanfaat bagi perkembangan pola pikir masyarakat, Annida menarik kesimpulan.

“Selanjutnya bagi teman-teman yang masih ingin berkomunikasi atau sharing dengan kedua kakak senior kita ini, teman-teman dapat menghubungi via email atau akun facebook. Berikut alamatnya :
adrian2010go@gmail.com, tanialarasati2010@gmail.com

Baiklah adik-adik prama dan prami sekalian, kami akhiri diskusi ini. Kak Tania dan Kak Adrian, terimakasih atas kehadirannya. Semoga diskusi kita pada hari ini dapat bermanfaat bagi kita semua”, tutup Annida.
”Terimakasih juga telah mengundang kami”, ujar Adrian.
”Terimakasih juga Annida dan kawan-kawan panitia”, sambung Tania.

****
Usai acara diskusi, Destina merasa harus segera keluar aula, ia khawatir penyamarannya diketahui oleh Adrian. Sementara itu Tania dan Adrian berbarengan meninggalkan ruang aula.
“Tania, kamu sekarang tinggal dimana ?”, tanya Adrian kala menuruni tangga gedung.
“Sekarang aku tinggal di Jakarta”, jawab Tania.
“Oh ya”
“Kamu sendiri gimana Ad”, tanyanya.
“Aku masih tinggal disini temani Ibu. Kegiatan kamu apa sekarang ?”
“Mengajar dan menjadi penulis sebuah majalah bulanan”
“Wah hebat kamu Tania”
“Ah biasa saja koq”
“Kuliah kamu gimana ?”
“Program pascasarjanaku tinggal tahap akhir”
“Sudah semester tiga dong ?”
“Iya. Lagi proses pengajuan tesis”
“Kamu sendiri?”
“Aku masih diperusahaan yang sama. Sambil menulis di media, aku juga lagi mencoba untuk merampungkan sebuah karya tulis fiksi remaja”
“Cerpen ?”, tanya Tania.
“Sepertinya lebih panjang dari cerpen..hehehe”
“Sejenis novel dong”
“Boleh dikatakan begitu”
“Wah, bagus juga tuh. Nanti kalau sudah terbit, aku minta dikirimin satu eksemplar.
“Boleh. Doain saja semoga sukses”
“Amien. Semoga karyamu terpampang di toko buku dan gerai-gerai..hehehe”
“Amien. Thanks Tania”, balas Adrian.
“Kakak-kakak, maaf ya saya potong. Panitia sudah siapin jadwal berikutnya untuk Kak Tania dan Kak Adrian. Kita lunch dulu ya”, tutur Annida
“Waduh terimakasih Annida. Jadi ngerepotin”, ujar Tania.
“Wah..jadi enak neh..hehehe. Tak apalah Tania, sekali-kali kita ngobrol-ngobrol dulu”, ajak Adrian.
“Hehehe, bolehlah”
“Oh ya, makan siangnya mau di sekretariat atau di kantin ?”, tanya Tania.
“Kantin saja”, ujar keduanya kompak. Tak lama mereka berdua berpandangan.
“Duilee…kompak nian. Persis penyanyi india saja”, ledek Annida.
“Hahahahaha…” Adrian tertawa. Tania hanya mengulum senyum di bibir. Merekapun menuju kantin yang tak jauh dari sekretariat BEM.
“Aku pesan sendiri saja. Kamu pesan apa Tania ?”
“Hmmm…apa ya ?, sejenak berpikir sambil melihat menu yang ada.
“Nasi goreng spesial dan jus alpuket pake susu cokelat”, timpal Adrian.
“Lho koq kamu masih inget sih Ad. Itu khan kesukaanku waktu kuliah dulu”, tutur Tania.
“Ya dong. Tapi masih doyan khan ?”
“Masih dong. Hhmm..kalo gitu, aku pesenin kamu bakmi goreng spesial. Minumnya jus alpukat pake sedotannya dua”, balas Tania sambil tertawa. Adrianpun tak menyangka Tania masih ingat kebiasaanya dulu. Bahkan jumlah sedotan yang dipintanya itupun ia masih hafal betul.
Annida hanya terpaku bengong melihat tingkah diantara keduanya.
“Annida, koq kamu bengong ?”, sapa Adrian.
“Eh, nggak koq. Cuman ngiri aza melihat keakraban Kakak berdua”, sahut gadis calon kandidat ketua BEM tahun depan ini.
“Hehehehe….”Adrian tertawa. Taniapun tersenyum. Ketiganya larut dalam pembicaraan. Tak lama, seorang ketua BEM ikut gabung dalam acara lunch tersebut.

****

Sementara itu di halte depan kampus, Destina masih menunggu angkutan kota yang kosong. Berkali-kali ia melambaikan tangan, namun semuanya sesak dengan penumpang. Sedangkan ketiga mahasiswa yang sedari tadi mengawasi gerak-geriknya nampak mulai memberanikan diri. Satu orang diantaranya mulai menyapa.
“Ehem..mau pulang ya mbak ?” sapa si kribo. Destinapun spontan menoleh.
“Iya”, jawabnya dengan cuek.
“Pulang kemana mba ?” tanyanya lagi. Destina tetap acuh. Bersikap dingin dan tak bersahabat. Lantas ia langsung merogoh handphonenya dan berlagak seolah-olah menerima panggilan seraya mengambil jarak. Si kribo kecele, dua orang temannya memberikan kode jari jempol ditekuk kebawah yang berarti “access denied” sesuai kesepakatan. Iapun mundur lalu duduk dengan kecewa di bangku halte. Dengan sigap, si plontos maju dan mendekat.
“Wah, penuh terus nich angkotnya”, ujarnya tanpa diminta berbicara. Destina tak bergeming, ia bahkan semakin waspada. Dipeluknya dengan erat tas gendong itu. Lantas ia segera bergeser menjauhi pria yang plontos ngoceh sendiri itu. Mirip orang kurang sehat.

Dua orang rekannya melihat sambil terkekeh-kekeh. Si kribo dan si kacamata tebal tak tahan melihat temannya merana. Keduanyapun memberikan kode dua jari jempol ditekuk tanda “access denied-fatal error”. Si plontospun mundur dengan langkai gontai. Tinggal giliran si kacamata yang akan menjajal kemampuan mendekati sekaligus menaklukan seorang gadis. Baru tiga langkah kedepan, tiba-tiba Destina melambaikan tangannya dan sebuah angkot pun berhenti di depannya. Dalam hitungan detik Destina sudah berada dalam angkot dan perlahan meninggalkan halte depan kampus itu. Si kacamata tebal hanya diam menganga tak percaya targetnya sudah pergi. Tak ayal lagi, si kribo dan si plontos tertawa terbahak-bahak menahan geli sambil memegang perutnya.
” Hahahaha…..”
”Hiihihihihihih…..kekekekeke”, mereka mentertawakan sambil menunjuk-nunjuk kawannya yang bengong itu.
Keduanya mengucek-ngucek rambut si kacamata tebal.
”Kasiaaan dech loe. Belum mulaipun sudah ditolak”, ejek keduanya.
”Glek!”, si kacamata tebal hanya mampu menelan ludah. Kacamatanya melorot seiring kembang-kempis hidungnya yang merekah.
“Lebih kasian lagi loe berdua, udah ga ada kesempatan lagi. Ditolak dengan sukses. Kalo gue masih ada peluang”, timpalnya tak mau kalah seraya berharap. Ketiganya saling mentertawakan nasibnya masing-masing. Sementara Destina telah pergi jauh meninggalkan halte. ****

6

”Brrrrrrmmmmmmmmm….klik”!, Kawasaki Ninja merah itu terhenti di depan sebuah rumah Asri dikawasan komplek elit. Sore itu nampak cerah. Sisa-sia sinar mentari masih terlihat dibalik awan.
”Salamualaykum, selamat sore tante!”
”Wa’alaykumsalam…sore juga. Eh nak Adrian, silakan masuk!”, balas seorang nyonya rumah yang sedang menggunting daun tanaman hias itu.
”Destina ada tante ?”
”Destina tidak ada…dia lagi liburan ke eropah. Pulangnya bulan depan”, Tiba-tiba seseorang berteriak dari dalam rumah.
”Hehehehe…”, Adrian tersenyum
”Nah tuh dia nyahut dari eropah. Masuk Ad!”
”Makasih tante”
”Silakan duduk. Tante panggilkan dulu”
”Iya tante. Terimakasih”
Tak lama.
”Hai Ad….apa kabar ?”
”Hai juga….baik. Kamu sendiri ?”
”Baik”, jawab Destina sambil tersenyum manis.
”Cerah sekali dunia hari ini”
”Secerah hatiku tentunya”
”Yooo mariii”
”Mau minum apa ?”
”Apa aza dech”
”Oo….ya udah kalo gitu”
”Thanks”
”Biiiiiiii….”, panggil Destina.
”Yaaa non….”
”Tolong ambilin air kolam dibelakang ya. Tuangin pake gelas”, teriak destina.
”Maksud non ?”
”Eh, buat apaan dan siapa ?”, sela Adrian.
”Lha…tadi yang minta apa aza siapa ?”
”Yeeeee……kamu duluan yang minum ya”
”Hehehehe. Eh gimana acara kamu ke kampus ?”
”Gimana apanya ?”
”Seru ga ? sukses dong ketemu yang bening-bening ?”
”Hehehehe…apaan yang bening ? jidat profesor iya bening-bening”
”Ah, masa siiiihhhh ? xixixixixixi ”
”Ah apaan sih…?? ”
”Gpp. Bagi-bagi dong ceritanya..”
”Ya. Pokoknya ramai dan antusias sekali mahasiswanya”
”Mahasiswinya ?”
”Sama saja”
”Mantan-mantan ?”
”Yeeeeeee…apaan sih nech. Ngawur dech kamu ?”
”Hehehehe. Lucu dech kamu”
”Enak aza. Emangnya aku politikus”
”Daripada polikucing….”
”Mendingan poli pantai”, sela Adrian.
”Wakakakaka..”
”Eh non, kalo menurut bibi sih mendingan bikin poliklinik dua puluh empat jam. Soalnya dikampung bibi kalo orang-orang mau berobat aga susah. Paling-paling ke puskesmas, itu juga ngantrinya ga ketulungan”, cerocosnya tiba-tiba sambil menaruh segelas es jeruk.
”Oooo..begitu ya bi”, Adrian meladeni.
”Idiih..apaan lagi nih si bibi. Nyambung aza kayak gerbong kereta”,
”Ya ga apa-apa non, kalo pasiennya ngantri kayak kereta khan polikliniknya tambah maju”, balasnya tak mau kalah.
”Jiaaaahhhh tambah jauh kemana-mana nech. Ke neraka jauh apalagi ke surga”, Destina kesel.
”Betul non, kalo bikin poliklinik itu khan sekalian amal. Bisa masuk surga dan jauh dari neraka”, jawabnya lagi polos sambil mengacung-acungkan serbet.
”Hihihihihihi”, Adrian cekikikan.
”Haduuuuhh…..bibiiiii…Cukuuup!!”, bentak Destina.
”Lho koq jadi marah sih non ?”
”Ga. Aku ga marah. Sekarang bibi temenin mama gih sono!”
”Eh, non udah lupa ya sandiwara tadi siang ?”, ledek bi Onah sambil tersenyum.
Destina terperanjat dan langsung menarik si bibi kedalam. Adrian bengong.
”Sandiwara ??”, ucap Adrian yang ditinggal sendiri di teras depan.
”Sssttt…….jangan cerita-cerita ya! Awas!”, ancam Destina.
”Emang kenapa non ?”, polosnya.
”Ssssssttt…udah. Jangan dibahas lagi. Itu rahasia kita berdua Titik!!
”Khan mas Adrian ga tau”
”Ya udah…! sekarang bibi ngapain kek, asal jangan nimbrung aku sama Adrian”
”Kerjaan bibi udah beres non”
”Ya udah…bibi ngapain kek, belajar maen piano kek atau belajar fesbukan kek”
”Ah ga bisa. Malu ama jempol”
”Ya udah maen Sudoku punyaku aza. Tuh dilaci. Kalo bibi menang, hadiahnya liburan tiga hari satu malam di mesir sama mumi firaun”
”Tiga hari satu malam ??”, ucap bibi heran. Matanya dijerengkan ke kanan. Tanda berpikir keras.
”Iya. Tiga hari satu malam!” , timpal destina lagi sambil berlalu dihadapannya.
”Tiga hari satu malam…..tiga hari satu malam…”, ucap bibi berulang yang terdengar hingga halaman depan rumah. Destina cekikikan.
”Hihihihihi….pikirin dech tuh ampe ganti presiden”
”Duh jahilnya kamu”
”Biarin. Daripada nimbrung terus urusan dalam negeri orang”
”Cieeeee…..Amerika kaleee”
”Hehehe..”
”Diminum Ad aernya”
”Udah tuh separo”
”Hehehe..Iya. Aku juga tau, cuman nyindir aza koq”
”Upsss, emang belon ada yang nyuruh ya..?”
”Hehehe….”
”Diminum ya mbak!”
”Oh iya. Silakan pak. Haus ya pak…?”, ledek Destina.
”Srupuuuutt……Akkkhh…..dunia tambah cerah lagi”, ucap Adrian sambil mengusap lehernya.
”Hihihihi”
”Ad…”
”Apa ?”, jawab Adrian sambil menatap wajah Destina yang bening.
”Kamu sayang aku gak ?”
”Iya dong!”
”Koq pake dong ?”
”Iya honey, kenapa sih ?”
”Ah enggak, tanya aza. Hehehe, makasih ya Ad!”, ujarnya sambil tersenyum.
”Kamu yang paling cantik dan aku sayangi!”
”Aaaaahhh gombal”, cetusnya.
”Wedhus gombal dari gunung merapi ya ?”
”Yeee…itu wedhus gembel!”
”Aku ambilin gitar dech, biar kamu ngegombalnya lebih merdu.
”Hehehehe…!”
”Tunggu bentar ya”
”Oke dech”
Tak lama kemudian.
”Ini dia perabotan konsernya, kenang-kenangan dari Yngwie Malmsteen”,
”Hehehe….Yngwie Malmsenin kali..”
”Minggu malam donk..hahaha”
”Wah…dari penampakannya sih fales semua nech”, ujar Adrian sambil menstem senar-senar gitar Yamaha itu.
”Deng…deng,…jreng,….jreng…waduh ini nada kunci ’ef’ udah berubah jadi kunci inggris. Kunci ’ge’ udah berubah jadi kunci lemari”
”Hihihihi….mungkin abis dipake konser bi Onah kali”
”Hehehe bisa aza nuduh orang”
”Hihihi….Gimana ? nadanya masih lurus ?”
”Senarnya sih masih lurus, cuman nadanya aza yang kurang sopan”
”Hahaha”
”Berabe nech kalo konser pake gitar ini, bisa-bisa niatnya lagu pop rock, eh yang kedengeran malah irama orkes melayu”, ledek Adrian sambil mengatur nada.
”Hihihihi”
”Okay…..do-re-mi-fa-sol, jump-boo-clue-took….jreng…jreng….jreng…”
”Okeh..musik siap ?”
”Musik siap!, yang nagihin siap ?”
”Hahahaha…..emangnya dikereta…hehehehe”
”Lagu apa nech ?”
”Terserah!”
”Gimana kalo tembang lawas aza…hmmm yang romantic gitu ?”
”Mariah aza!”
”Mariah Bellina ?”
”Jiaaahh….Carey dong!”
”Titlenya apa ya ?”
”Without You!”
”Okay siap,…jreng,….jreng,…jreng…”

No I can’t forget this evening
Or your face as you were leaving
But I guess that’s just the way The story goes Y
ou always smile but in your eyes
Your sorrow shows Yes it shows

No I can’t forget tomorrow
When I think of all my sorrow
When I had you there But then I let you go
And now it’s only fair
That I should let you know
What you should know….

Ketika nyanyian hendak masuk bagian reff, tiba-tiba muncul sesosok tak diajak.
”Endaaaaaayyyyyy……..ieeeeyyyy…..iiieeeeeyyy….wil olweis lop yuuuuu…..uuuuuuu…wil olweis lop yuuuuuuu…uuuu!”, lolongan bi Onah dari dari dalam rumah sambil menenteng sapu ijuk diacungkan bak standing mic. Kontan, Adrian berhenti karena terpana. Destina cekikikan.
” Whuahahahaha….kenapa jadi belok ke Whitney Houston geneeee…!”
”…Lho, koq gitarnya berhenti sih mas ? lagi dong”, tanya bi Onah sambil menoleh kearah Adrian.
”Okeh lanjuuuttt….!”, lantas ketiganya melanjutkan
”Hehehehe…..saya terkesima bi. Ga nyangka ternyata bibi jago nyanyi juga ya”
”Jangan tanya mas, gini-gini bi Onah pernah jadi finalis lomba karaokean tingkat erwe!”
”Menang bi ?”
”Ya enggaklah,…hehehehe!”,
”Hihihihihi….”
”Tapi kata pak Juri dan bu Juri, bibi punya kans untuk menang diacara tujuh belasan taun depan!” , timpalnya membela diri sambil menepuk dadanya.
”Ya udah bi, kalo gitu bibi giat berlatih yah sama Ba-Juri!”
”Hihihihihi bisa aza si non….!”
”Hehehehe..!”
”Kalo bibi mau gabung..kita nyanyi bareng aza. Okeh ?”
”Itu dia mas yang bibi tunggu-tunggu setiap kali mas apelin non Destina”
”Okay bi. Kita nyanyi ber-trio-gembira”
”Yoooooo…tariiikkk manggg….!”
Merekapun bergembira ria berdendang bersama. Kadang bergantian melantunkan lagu kesayanganya masing-masing. Beberapa tembang romantis seperti Lost nya Michael Buble, Unintended nya Muse, Baby nya Justin Bieber dinyanyikan bersama. Ketika lagu-lagu agak muda dimainkan, Destina dan Adrian berdendang, sementara bi Onah menjadi backing vocal dengan hanya ber-nana-nana dan ber-syalala-syalala sambil bertepuk tangan. Meski syalalanya terkadang gak pas karena tidak kompak dengan nada gitar namun dengan pedenya ia tetap bergoyang kekanan dan kekiri.
Usai lagu anak muda, bi Onah langsung ambil posisi dengan mengajukan beberapa lagu pilihannya.
Awalnya, request bi Onah masih bisa dipenuhi Adrian. Lama kelamaan semakin jauh menggali tempo doeloe. Dari dua puluh satu lagu yang diinginkan, hanya tiga lagu yang Adrian dan Destina kenal seperti Bodyguardnya Whitney Houten, Gelang Sipatu Gelang dan Berkibarlah Benderaku, selebihnya tidak. Bayangkan saja, bi Onah minta lagu-lagu the best dari legendaris seperti Ellya Kadam, Tetty Kadi, Endar Paradesa, Ida Leman, Eddie Silitonga, Muchsin Alatas, Titik Shandora, Edy Sud, Darto Helm, Rima Melati, Nella Regar, Dian Pisesha, Benny Hutagalung, Yon Koeswoyo, Dina Mariana, Panbers, Dloyd, hingga The Mercis. Adrian menggeleng ketika tanyakan satu persatu. Bi Onah kecewa. Bahkan saking kecewanya bi Onah sempat menguji mereka berdua.
”Hmmm…kalian tau lagunya Liem Swie King ?”
Keduanya menggeleng.
”Hmmm….kalo lagunya Rudi Hartono ?”
Keduanya tetap menggeleng.
”Hmmm, kalo lagunya Icuk Sugiarto ?”
Tetap menggeleng. Namun keduanya curiga, sepertinya tiga nama terakhir itu tidak pernah tampil berdendang dengan mic ditangan melainkan hanya raket Yonex digenggam.
”Yang ini saja, gimana kalo duet lagunya Taufik Hidayat sama Susi Susanti ?”
”Bibiiiiiii…please dech……sekalian aza lagunya Hosni Mubarak presiden Mesir!”, protes Destina.
Meski demikian bibi tetap bersemangat mengajukan tujuh lagu berikutnya hingga Adrian pasrah dengan membiarkan bi Onah bersenandung diringi petikan nada klasik dari gitarnya. Seiring tujuh lagu, waktu semakin berjalan hingga saatnya Adrian untuk pulang.
”Sampai jumpa malam minggu depan ya mas!”, teriak bi Onah kepada Adrian yang masih berdiri didepan pagar bersama Destina.
”Okeh bi….!”, balasnya.
”Hahahaha…”,
”Aku pulang say….daaagghhh”
”Daaaagh Ad,..hati-hati ya!”

***
………Bersambung………

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.