Ibu Generasi Facebook

Oleh : Ujang Hidayat
…Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu…. oh ibu..

…Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Kau ibu…

Lirik lagu dari Opick feat Amanda tersebut mengingatkan kita akan sosok seorang ibu yang pernah melahirkan kita. Ibu, adalah seorang yang sangat berjasa dalam kehidupan kita setelah Ayah–secara genetika–. Tanpa ibu, kita tidaklah mungkin lahir kedunia ini. Pun demikian, ketika Adam diturunkan ke alam dunia, tentunya Allah sang maha pencipta telah memberikan pasangan hidup yang nantinya akan berperan sebagai ibu dari keturunan umat manusia (Hawa).

Kedudukan wanita
kedudukan wanita dalam perspektif universal, dibangun dalam kerangka harkat dan martabat yang harus dijaga dan dilindungi. Sebagai makhluk Tuhan yang memiliki kelebihan sekaligus kelemahan, maka fitrahnya bersandar kepada peran dan kewajiban yang akan diembannya kemudian. Dalam beberapa persoalan, wanita memiliki hak yang sama untuk berperan dalam keluarga, lingkungan masyarakat, bahkan berbangsa dan bernegara. Pada dasarnya kedudukan wanita adalah sama dihadapan sang pencipta. Ia tidaklah lebih tinggi maupun lebih rendah dari pria. Hanya peran yang dimilikinyalah yang membuatnya berbeda dengan pria. Hal itu dikarenakan adanya perbedaan baik secara fisik maupun fitrahnya.

Kedudukan seorang wanita sebagai Ibu
Manakala seorang gadis beranjak dewasa hingga memasuki ranah perkawinan, maka posisi yang dimiliknya tentu menjadi berubah, baik ditinjau dari sisi kewajiban maupun hak. Ketika ia menjadi seorang isteri bagi suaminya maka tanggungjawab dan segala hal yang menyangkut tentang dirinya secara otomatis berada dibawah naungan sang suami. Berbeda halnya ketika ia masih berstatuskan seorang gadis, maka segala tanggungjawab dan persoalan apapun yang ada pada dirinya, semuanya mutlak menjadi kewenangan dirinya dan kedua orang tua. Karena perkawinan itulah yang menyebabkan perpindahan hak dan kewajiban atas dirinya. Setelah menjadi sosok isteri dari seorang suami, maka pada fase awal inilah ia akan mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang ibu dari anak yang kelak akan dilahirkannya. Pada fase kedua ini, seorang wanita yang tadinya hanya memiliki peran sebagai isteri, maka peran berikutnya adalah menjadi seorang ibu sekaligus isteri dari seorang lelaki yang menjadi ayah dari anak-anaknya. Persoalan demi persoalan akan datang satu persatu dalam biduk rumah tangganya. Tanggungjawab makin bertambah seiring perjalanan rumah tangganya. Waktu yang dimilikinya akan terasa semakin sempit mengingat tugas yang harus diembannya. Kedudukannya sebagai seorang Ibu sangatlah penting dalam proses pengembangan kepribadian sang anak. Begitu pentingnya peran yang dimiliki oleh seorang Ibu, maka dari situlah barometer kesuksesan keluarga dalam mencetak generasi baru yang berkualitas. Demikian pula sebaliknya, ketika peran seorang Ibu gagal dalam mengarahkan pendidikan anak secara fisik dan mental, maka akan munculah berbagai persoalan serius dikemudian hari dan menjadi bumerang.

Ibu dan kemajuan teknologi
Kemajuan teknologi adalah sebuah “hukum alam” yang akan terus berevolusi untuk kemudahan dalam beraktifitas. Berbagai arus informasi dan penggunaan perangkat teknologi semakin berkembang mengikuti perubahan zaman, baik itu teknologi yang mendukung aktifitas industri maupun rumah tangga. Anak dengan berbagai macam kreatifitasnya tentu akan sangat mudah merespon segala perubahan teknologi. Pencarian jati diri anak dalam merespon kemajuan teknologi perlu dibarengi pula dengan pengawasan yang baik dari orang tua, baik Ibu mapun Ayah. Sehingga diharapkan anak mampu memilah saluran yang baik bagi perkembangannya sebagai generasi muda.

Beberapa tahun belakangan ini kemajuan teknologi informasi berkembang dengan begitu cepatnya. Berbagai kemudahan dalam mengakses arus informasi tersedia melalui media yang ditawarkan. Ketersedian perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) berbanding lurus dengan kebutuhan. Ketatnya persaingan diantara para produsen semakin memberikan kemudahan bagi user. Sebagai contoh, kini akses internet dan penggunaan media didalamnya bukanlah sesuatu yang sulit untuk diperoleh. Kita semua tentu mudah sekali untuk mendapatkan layanan akses internet melalui perangkat keras seperti PC, notebook bahkan handphone. Semua tergantung dari kapasitas daya beli dari masyarakat itu sendiri. Akan tetapi disamping kemudahan yang ditawarkan, sudah barang tentu memiliki dampaknya, meski tidak secara material namun secara psikologi tentu ada. Hal itu tentu tidak dapat dipingkiri. Situ jejaring sosial semisal Facebook dan sejenisnya kini telah menjadi sebuah media global yang jauh lebih ampuh dari sebuah perangkat Global Position System (GPS) sekalipun. Ruang dan waktu tak lagi menjadi hambatan dalam mengakses sekaligus menshare informasi yang dimiliki.

Tak dipungkiri, banyak diantara kita yang sudah keranjingan akan Facebook. kehadirannya mampu memposisikan keberadaanya laksana kebutuhan primer yang tak jauh beda dengan kebutuhan akan sandang, pangan dan papan. Ketiga unsur tersebut makin dilengkapi dengan kebutuhan akan aktualisasi diri dalam dunia maya atau bahasa gaulnya eksis

Masih hangat dalam ingatan kita akan kisah seorang anak kelas 4 SD Bellarminus 2 Bekasi, Serafina Ophelia Simanjuntak, ia membuat puisi yang menggambarkan betapa erat hubungan antara ibunya dengan situs jejaring sosial itu.

Puisi itu dibuat Rafin, sapaan akrab Serafina, pada bulan Januari 2009 lalu. Orangtuanya lantas memasukkannya dalam note mereka di Facebook. Responnya cukup banyak. Oleh karena itu, ibunda Rafin, Reko Alum, langsung mengikutkan puisi itu ketika Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) menggelar lomba puisi lucu. Berikut isi puisi yang dibuatnya itu :

Ibu dan Facebook

Ibu
Facebook
Hubungannya erat sekali.
Setiap hari, sehabis mandi
selesai makan
Sehabis apapun…
Dalam hatiku,
aku berpikir
mau kemanakah gerangan ia.
Notebook.
Tapi apa yang selalu ia lihat di notebook
Facebook.
Setiap hari, tawanya menggema
Sampai kapankah hubungan erat antara Ibu dan Facebook
Mungkin sampai akhir hayatnya.
Notebooknya akan dibawanya… ke…surga

Sumber : vivanews.com

Inilah salahsatu kisah seorang anak yang mengungkapkan perasaan yang ada dalam hatinya. Ia merasa gundah dengan apa yang ada disekitarnya. Sepintas memang terlihat menggelikan atas “unjuk rasa” yang diungkapkan seorang Rafin. Akan tetapi bila kita mau lebih arif untuk memaknai tentang apa yang ada dalam benaknya, maka tentu saja kita akan melihat bahwa ada suatu gejala sosial yang sangat meresahkan sekaligus berkecambah. Penulis tidak memiliki tendensi apapun terhadap keberadaan suatu media jejaring sosial yang kini telah menjadi tren di masyarakat, tentu saja penulispun memiliki akun sendiri dalam media tersebut.

Sebagaimana yang kita maklumi bersama, bahwa teknologi memiliki dampak positif dan negatif dalam hal penggunaanya. Ia bagaikan dua sisi mata pisau yang memiliki ketajaman sama, meski semuanya itu berpulang kepada pengguna yang mengopersikannya, Namun tentu saja dampak negatifnya akan terus menjadi “teman” dalam perjalanannya. Penulis tidaklah bermaksud untuk mengarahkan pembaca pada suatu pemahaman haram atau tidaknya Facebook. Esai singkat ini bukanlah merupakan sebuah konklusi dari fenomena yang terjadi di masyarakat. Justeru dari tulisan singkat ini, penulis ingin membuka diri dari berbagai persepsi yang ada dalam masyarakat tanpa harus terpolarisasi kedalam dua kutub ekstrem, yakni pro dan kontra.

Setelah menakar dan menelaah mengenai tren yang terjadi dewasa ini, berikut data mengenai jumlah pengguna (user) situs jejaring sosial Facebook berdasarkan sumber checkFacebook.com. Hingga tanggal 09 Desember 2010, Indonesia tercatat memiliki jumlah pengguna sebesar 31.784.080 atau sekitar 5.56 % dari jumlah keseluruhan pengguna Facebook diseluruh dunia yang hingga saat ini mencapai jumlah 571.884.500.

Gambar 1.
Populasi pengguna Facebook di Indonesia hingga 09 Desember 2010

Berdasarkan data tersebut, negara Indonesia masuk kedalam sepuluh besar negara pengguna Facebook dengan jumlah 31.784.080 setelah Amerika Serikat yang memiliki jumlah pengguna sebanyak 146.805.000. Meskipun jumlah pengguna tersebut tidak mencerminkan pengguna yang aktif setiap hari melakukan update status, namun masih tercatat sebagai pengguna.

Gambar 2.
Sepuluh besar negara pengguna dan pertumbuhan tercepat situs jejaring sosial Facebook

Kajian lebih mendalam bila ditilik berdasarkan gender, maka jumlah pengguna berjenis kelamin wanita sekitar 40.9 % atau mencapai 12.942.760 Sedangkan bila ditinjau dari angkatan usia 25 hingga 34 tahun maka tercatat sebesar 21.6% atau mencapai 6.876.200 pengguna.

Gambar 3.
Grafik pengguna situs jejaring sosial Facebook

Angka sebesar 21.6% belum ditambah dengan jumlah pengguna dengan angkatan usia 35 hingga 65+ tahun sebagaimana tabel dibawah ini :

Tabel 1.
Pengguna Facebook berdasarkan jenis kelamin wanita dan usia hingga 09 Desember 2010
————————————————–
Usia Jumlah Pengguna Prosentase
————————————————–
35-44 tahun 1.986.280 6.2%
45-54 tahun 525.680 1.7%
55-64 tahun 127.980 0.4%
65+ tahun 374.600 1.2%
————————————————–
Sumber : checkFacebook.com

Dengan demikian dari total jumlah pengguna Facebook wanita di Indonesia mencapai sekitar 9.890.740 atau sekitar 31 % dari pengguna yang ada di nusantara ini. Memang angka ini masih terbilang kecil bila disetarakan dengan jumlah penduduk Indonesia hingga tahun 2010 yang mencapai 206.264.595 berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), lihat tabel 2. Angka 15.4% tentu bukan angka yang besar bila dikalkulasikan dengan jumlah penduduk, namun bukan pula angka yang kecil bila dilihat dari jumlah pengguna situs jejaring sosial tersebut.

Tabel 2. Penduduk Indonesia
Sejak tahun 1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan 2010
————————————————————-
1971 = 119,208,229
1980 = 147,490,298
1990 = 179,378,946
1995 = 194,754,808
2000 = 206,264,595
2010*) = 206,264,595
————————————————————–
Jumlah pengguna Facebook di Indonesia = 31.784.080
Prosentase : 15.4% dari jumlah penduduk Indonesia tahun 2010.
—————————————————————
Sumber : Sensus Penduduk 1971, 1980, 1990, 2000 dan Sensus Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995 – (http://www.bps.go.id)
*) Angka sementara

Sebelum mengakhiri tulisan singkat ini, penulis ingin mengajak para pembaca untu merenungi kira-kira apa yang akan kita temui nanti setelah munculnya puisi dari seorang Rafin bila dilihat dari jumlah pengguna situs jejaring sosial ini.

Entahlah…

Akhirul kata, semoga ada manfaatnya.
Wallahu a’lam bisshowab. Wassalamualaykum warrahmatullahi wa barakatuh.

====================================================
Saran & Kritik, silakan ditujukan ke alamat berikut :
Penulis : Ujang Hidayat
Email : Ujanghidayat@gmail.com
http://www.ujanghidayatute.wordpress.com
====================================================

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s