Tujuan, Tekad, Keberanian & Konsistensi

Manusia sebagai makhluk Allah SWT senantiasa memiliki berbagai macam keinginan, harapan atau cita-cita dalam hidupnya. Sebagai makhluk yang memiliki serba keterbatasan, baik secara fisik maupun mental—terkadang manusia mengalami berbagai macam kendala yang dihadapi. Kendala yang muncul bisa datang dari dalam dirinya sendiri maupun berasal dari lingkungan sekitarnya. Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya itu terjadi, seperti keadaan fisik, keterbatasan pola pikir (Ilmu) dan pengalaman negatif yang pernah dialaminya. Sedangkan faktor-faktor yang berasal dari lingkungan sekitarnya bisa berasal dari keluarga maupun adat/budaya masyarakat yang ada disekitarnya.

Untuk mencapai sebuah keinginan menjadi nyata, manusia harus memiliki tujuan dan upaya keras untuk meraihnya. Memang tidaklah mudah untuk menjadikan sebuah keinginan menjadi kenyataan, namun bukan berarti sulit untuk meraih kesemuanya itu. Patut dicatat, hal terbesar untuk menggerakkan sebuah keinginan menjadi nyata, berasal dari dalam diri manusia, dengan kata lain, faktor intern berpengaruh besar dalam menentukan adanya sebuah kenyataan. Dalam perspektif Islam, perlu diyakini secara lebih mendalam bahwa sebuah perubahan yang ingin dicapai ditentukan pula oleh ikhtiar (usaha keras–effort) yang dilakukan dan bukan hanya bersandar pada pengertian yang salah terhadap takdir. Secara tegas, Allah SWT telah menyampaikan dalam firmanNya :

…..Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…..…Verily never will Allah change the condition of a people until they change it themselves (with their own soul)…
(QS: Ar-Raad : 11 )

Nyata sekali bahwasannya Allah telah menyampaikan sekaligus mengajarkan kepada manusia bahwa Dia tidak akan merubah keadaan suatu kaum hingga kaummnya itu sendiri yang berusaha untuk merubahnya. Hal ini tentu saja berlaku pula bagi manusia secara individu, ketika dirinya hanya bersandar pada pengharapan tanpa usaha, menjadi naif dan sangat ironisnya sosok manusia seperti itu, meskipun pada hakekatnya semuanya kembali kepada kemurahan dan kasih sayang Allah SWT terhadap hamba-hambaNya.

Apa Harapan Manusia ?

Secara fitrahnya manusia dimanapun berada pasti mendambakan kehidupan yang membahagiakan diri beserta orang-orang yang dicintainya ( sanak keluarga ). Suatu hal yang penting dan mendasar sekali apabila kebahagiaan yang didambakan hadir dalam kehidupannya, tentu saja hal ini akan menjadi spirit sekaligus modal berharga dalam menjalani kehidupan. Pada akhirnya kebahagiaan diri secara lahir maupun bathin akan menjelma didalam ruh dan terpancar sejalan dengan detak aktivitas yang dilakukannya. Bukti nyata kebahagiaan yang dirasakannya akan terlihat dari beberapa hal seperti perasaan hati yang lapang, semangat dalam hidupnya, mampu berinteraksi secara baik di lingkungan sosialnya dan tentunya memiliki hubungan yang baik secara vertikal sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah SWT.

Harapan, muncul dari sebuah impian dari dalam diri setiap individu yang pada akhirnya melahirkan sebuah tekad untuk berupaya mewujudkan setiap impian itu. Tekad yang kuat –azzam—merupakan modal yang penting untuk memulai semua impian menjadi harapan yang dapat terwujud, tentunya diiringi dengan gerak nyata dan terrencana dengan baik seraya berdoa.

Menyerahkan keputusan final kepada Allah azza wa jalla adalah sebuah keharusan, karena tugas manusia hanyalah berusaha dengan baik dan berdoa, sedang hasil akhir dari kesemuanya merupakan hak mutlak dari Allah SWT sebagai penentu dari keputusan. Baik buruknya hasil yang diberikan oleh-Nya adalah pilihan terbaik bagi kita. Ada kalanya harapan yang kita dambakan tidak sejalan dengan pemberian Alllah SWT, namun dibalik kesemuanya itu Allah SWT lebih mengetahui pilihan yang tepat untuk masa depan dan kehidupan kita. Pengetahuan kita sebagai manusia tiada berarti dan terbatas bila dibandingkan dengan pengetahuan Allah SWT sang kholik—pencipta langit dan bumi beserta isinya. Memang akan terasa berat manakala kita berada dalam situasi yang sulit, dibandingkan ketika kita hanya menganjurkan untuk bersabar kepada orang lain. Akan tetapi, itulah kenyataan yang harus dijalani dan dilalui seraya berusaha kembali untuk selalu mendapatkan hal terbaik untuk hidup kita.

Dalam meraih harapan menjadi kebahagiaan yang nyata dan hakiki, setidaknya manusia perlu memiliki sebuah rumusan kecil yakni 2T2K yang berati Tujuan, Tekad, Keberanian dan Konsistensi.

Pertama, TujuanTujuan–Goal—secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah patokan dimana kita ingin meraih, menjemput atau mendapatkan sesuatu hal. Dengan kata lain sesuatu itu telah tergambar jelas dalam benak hati dan pikirannya, bahwasanya kita ingin meraih hal tersebut. Tujuan lahir dari sebuah pandangan—visi—dalam dirinya yang kemudian dituangkan dalam bentuk niat dalam hati, ucapan dan rumusan aktifitas yang akan dilakukannya. Ketika hal itu telah tercipta maka nampak jelaslah “sosok” yang bernama tujuan itu.

Kedua, Tekad

“Api yang panas membara mampu membakar dan melelehkan besi baja yang keras”. Barangkali itu salahsatu ungkapan yang dapat menggambarkan penting nya sebuah tekad dalam diri manusia. Sebuah tujuan hanya akan menjadi mimpi diatas mimpi bila tekad untuk meraihnya tak tumbuh dalam jiwa kita. Laksana bara api itu adalah tekad, maka tujuannya adalah melelehkan besi baja itu, hingga bisa menjadi sebuah bentuk yang baru. Tak jauh pula dengan sebuah tekad dalam diri kita, ia harus kita “panaskan” hingga membara dan mampu membakar segala rintangan dan halangan walau bagaimanapun kerasnya.

Ketiga, Keberanian

Berbuat tanpa perhitungan adalah nekad dan gegabah, sedangkan berbuat dengan perhitungan yang matang adalah keberanian. Sangat tipis jarak antara KEBERANIAN, RAGU-RAGU–karena terlalu banyak pertimbangan—dan perasaan TAKUT sebelum bertempur. Tiga perasaan diatas akan senantiasa mengiringi kita ketika akan melakukan suatu tindakan. Secara jujur, hati kita akan mengatakan pada pilihan mana diri kita pada saat itu, meskipun terkadang kita membohongi diri sendiri, merasa punya keberanian namun yang terjadi adalah keraguan atau bahkan ketakutan. Lain halnya bila kita dipandang oleh orang lain, mungkin akan terasa sulit dibedakan diantara ketiganya. Namun yang terpenting adalah bila kita mampu merasakan dan mengakuinya secara jujur, sehingga kita bersiap diri untuk menentukan starategi selanjutnya. Keberanian untuk bertindak dan berbuat harus dibekali dengan perencanaan matang, terukur resiko baik dan buruknya sehingga tak menyisakan penderitaan dan penyesalan dikemudian hari. Keberanian tidak akan pernah seiring dengan keputusasaan dan “tindakan bunuh diri”.

Keempat, Konsistensi

Langkah detik jarum jam berjalan perlahan namun pasti, pergerakan dari satu titik detik ketitik lainnya berputar dengan konsisten dan tepat mengelilingi arah jam tanpa merubah kecepatan sedikitpun sehingga tidak berjalan lebih cepat atau lebih lamban dari langkah sebelumnya. Satu putaran penuh atau setara dengan 360 derajat langkah jarum detik menghasilkan satu menit hitungan. Demikian pula satu putaran penuh 60 menit menghasilkan satu jam hitungan, berikutnya satu penuh putaran jam akan menghasilkan 12 jam hitungan hingga pada akhirnya menghasilkan hitungan hari, minggu, bulan, triwulan, semester dan tahun.

Dari “filosofis” jam tersebut kita bisa belajar banyak tentang konsistensi, sehingga rangkaian aktifitas kesuksesan kecil merupakan bagian dari kesuksesan yang besar. Kesuksesan kecil akan menentukan kesuksesan besar bila terus dijalani dan dilakukan tanpa berhenti sedikitpun. Sejatinya, berhenti sejenak akan menciptakan “pemberhentian” lama diperjalanan selanjutnya. Artinya, bila kita berbuat tidak konsisten sesuai tujuan, tekad dan keberanian maka kita akan tergilas dan tertinggal oleh kesempatan sehingga bisa jadi kita kehilangan sesuatu yang menjadi tujuan kita. Sungguh menyedihkan dan melelahkan bila istana yang kita bangun dengan jerih payah dan keringat, akhirnya hancur luluh berantakan oleh tangan kita sendiri dalam waktu sekejap. Segala daya upaya yang pernah kita curahkan hanya akan menjadi kenangan tanpa hasil kecuali penyesalan dan kesedihan. Untuk memulainya kembali, kita perlu energi dan kekuatan baru yang tentunya harus kita bayar kembali dengan mahal. Jangan biarkan diri kita membayar sesuatu yang telah menjadi milik kita.

“Takut terhadap pedang algojo adalah hal biasa, tapi takut terhadap pedang waktu adalah luar biasa”.
******Wallahu’alam bisshowab
Penulis : Ujang Hidayat

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s