Kaum Lesbian dan Pria Homo (di Bogor) bukan sesuatu yang Baru

Munculnya komunitas baru ditengah masyarakat Kota Bogor perlu disikapi secara lebih serius lagi oleh berbagai kalangan masyarakat, seperti tokoh agamawan, LSM, termasuk pemerintah. Kita semua mengetahui bahwa selain manusia normal yang menyukai lawan jenis, terdapat pula “komunitas” lain yang lebih “menyukai” sesama jenisnya sendiri.

Waria (Wanita pria) bukan lagi menjadi bahan pembicaraan yang baru di kota Hujan, namun jika komunitas Pria Homo atau lebih dikenal dengan sebutan kaum gay) mulai bermunculan di wilayah kota Bogor, hal itu boleh dikatakan baru. Barangkali masih banyak masyarakat umum di Kota Bogor ini yang belum mengetahui keberadaan kaum “PPP ” (Pria Pecinta Pria) serta bagaimana kaum seperti mereka mengaktualisasikan dirinya sekaligus berusaha menyalurkan dorongan kebutuhannya.

Apakah eksistensi mereka bisa diterima di masyarakat ?

Kaum Homo & Lesbi adalah manusia seperti kita juga yang membutuhkan perhatian, kasih sayang serta kebutuhan biologis. Akan tetapi persoalannya terletak pada cara mengungkapkan dan memperoleh hal tersebut melalui jalan yang tidak normal, alias tidak sama.

Jika kita melihat kembali perjalanan sejarah manusia, sebetulnya kasus diatas bukan merupakan cerita baru dalam perjalanan ummat manusia. Pada jaman Nabi Luth, penyimpangan yang dilakukan oleh masyarakat Sadum di jamannya telah menjadi suatu peringatan keras bagi ummat manusia dimasa mendatang.

Masyarakat Sadum adalah masyarakat yang rendah tingkat moralnya,rusak mentalnya, tidak mempunyai pegangan agama atau nilai kemanusiaan yang beradab. Kemaksiatan dan kemungkaran bermaharajalela dalam pergaulan hidup mereka. Pencurian dan perampasan harta milik merupakan kejadian hari-hari di mana yang kuat menjadi kuasa sedang yang lemah menjadi korban penindasan dan perlakuan sewenang-wenang. Maksiat yang paling menonjol yang menjadi ciri khas hidup mereka adalah perbuatan homoseks {liwat} di kalangan lelakinya dan lesbian di kalangan wanitanya. Kedua-dua jenis kemungkaran ini begitu merajalela di dalam masyarakat sehinggakan hal itu merupakan suatu kebudayaan bagi kaum Sadum.

Saat itu banyak terjadi perilaku seksual yang tidak normal, seorang lelaki tak lagi mencari isteri (perempuan) untuk menyalurkan kebutuhan biologis, mereka lebih menyukai sesama lelaki, begitupun sebaliknya.

Seorang pendatang yang masuk ke Sadum tidak akan selamat dari diganggu oleh mereka. Jika ia membawa barang-barang yang berharga maka dirampaslah barang-barangnya, jika ia melawan atau menolak menyerahkannya maka nyawanya tidak akan selamat. Akan tetapi jika pendatang itu seorang lelaki yang bermuka tampan dan berparas elok maka ia akan menjadi rebutan di antara mereka dan akan menjadi korban perbuatan keji lelakinya dan sebaliknya jika si pendatang itu seorang perempuan muda maka ia menjadi mangsa bagi pihak wanitanya pula.

Nabi Luth menginginkan masyarakat Sadum segera mengakhiri prilaku mereka yang menyimpang itu. Ia mengajak mereka beriman dan beribadah kepada Allah SWT meninggalkan kebiasaan mungkar menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan kejahatan yang diilhamkan oleh iblis dan syaitan.

Ia memberi penerang kepada mereka bahwa Allah SWT telah mencipta mereka dan alam sekitar mereka tidak meridhoi amal perbuatan mereka yang mendekati sifat dan tabiat kebinatangan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan bahwa Allah SWT akan memberi ganjaran setimpal dengan amal kebajikan mereka. Yang berbuat baik dan beramal soleh akan diganjar dengan syurga di akhirat sedang yang melakukan perbuatan mungkar akan di balaskannya dengan memasukkannya ke dalam neraka Jahanam.

Nabi Luth berseru kepada mereka agar meninggalkan adat kebiasaan iaitu melakukan perbuatan homoseks dan lesbian karena perbuatan itu bertentangan dengan fitrah dan hati nurani manusia serta menyalahi hikmah yang terkandung didalam penciptaan manusia menjadi dua jenis yaitu lelaki dan wanita. Juga kepada mereka di beri nasihat dan dianjurkan supaya menghormati hak dan milik masing-masing dengan meninggalkan perbuatan perampasan, perompakan serta pencurian yang selalu mereka lakukan di antara sesama mereka dan terutama kepada pengunjung yang datang ke Sadum. Diterangkan bahwa perbuatan-perbuatan itu akan merugikan mereka sendiri, karena akan menimbulkan kekacauan dan ketidakamanan di dalam negeri sehingga masing-masing dari mereka tidak merasa aman dan tenteram dalam hidupnya.

Dengan pembangkangan kaummnya yang sulit untuk diajak kejalan kebenaran, akhirnya Allah SWT mengutus dua orang malaikat yang berwajah tampan. Singkat cerita, dari pengutusan tersebut akhirnya Allah SWT menurunkan azab kepada masyarkat Sadum dengan menenggelamkan mereka kedalam bumi termasuk isteri Nabi Luth yang membangkang.

Berkaitan dengan kisah diatas, saya berkeyakinan bahwa warga Kota Bogor tentu tak ingin mengalami apa yang telah dialami oleh masyarakat Sadum meski berita seputar mulai bermunculannya “komunitas” Gay dan Lesbi bukan sesuatu yang baru terjadi.
Waallahualambisshowab’.***(Ujang Hidayat – 21/03/’02)

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s