Justin Bieber Lebih Disayang dari Bibir-bibir Kering

Dahsyat sekaligus mencengangkan melihat antrean yang mengular hingga parkiran motor di Gedung EX Plaza, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (22/1/2011). Setidaknya sekitar seribu fans kawula muda penyanyi Justin Bieber mulai antre tiket konser sang idola di EX Plaza, Jakarta. Maklum, Penggemar pelantun ‘Baby’ ini bahkan rela antre hingga sepanjang satu kilometer. Bahkan, area yang semula menjadi parkiran motor terpaksa dialihkan ke belakang gedung. Pembelian tiket dibuka sejak pukul 08.30 WIB. Penggemar Justin Bieber yang mayoritas ABG perempuan ini antre memanjang dua baris. “Pembeli tiket bahkan ada yang sudah antre pukul 04.00 subuh,” ujar salahseorang penyelenggara yang enggan disebut namanya sebagaimana yang dikutip dari detikcom.

Seperti diketahui harga tiket konser yang bakal digelar di Sentul International Convention Center (SICC) pada 23 April 2011 dijual bervariasi. Kelas festival seharga Rp 1 juta. Kelas tribun 1 Rp 750 ribu dan tribun 2 Rp 500 ribu.
Seorang penggemar Justin Bieber, Arini, mengaku senang sang idola datang ke Jakarta. “Saya datang sama empat teman. Antre dari jam 8.00 WIB. Saya nonton Justin soalnya cute, suaranya bagus. Sudah minta uang sama mama untuk beli tiket dan ditambah uang tabungan,” kata Arini yang membeli tiket festival ini.

Lagi-lagi, masyarakat kita menunjukkan gejala yang anomali ditengah kesenjangan sosial yang semakin melebar, meskipun hal ini sudah berlangsung sejak lama. Disatu sisi kecenderungan pola hidup masyarakat menjadi mudah untuk mengalokasikan dananya untuk kepentingan dirinya sendiri. Memang itu hak mutlak bagi mereka yang memiliki uang untuk memperoleh kesenangan. Namun disisi yang lain dalam waktu yang bersamaan, masih banyak jutaan masyarakat kaum marjinal yang hidup dibawah garis kemiskinan. Jangankan kebutuhan akan kesenangan (baca hiburan), untuk makan sehari-hari saja mereka masih tak jelas, terlebih lagi jika mereka sakit atau bahkan meregang nyawa. Semakin berat penderitaannya.

Menurut info Biro Pusat Statistik Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan) di DKI Jakarta pada bulan Maret 2010 sebesar 312,18 ribu (3,48 persen). Itu belum ditambah untuk wilayah Bekasi, Depok, Tangerang dan Bogor. Para penggemar Bieber tentu tidak hanya berasal dari Jakarta saja alias tidak menutup kemungkinan banyak yang berasal dari wilayah luar Jakarta sebagaimana yang penulis sebutkan tadi.

Meski Upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta ditetapkan sebesar Rp1.290.000 per bulan per orang (naik sebesar 15,38 persen dari UMP tahun 2010 yang sebelumnya, UMP DKI Rp1.118.009 per bulan per orang) melalui Peraturan Gubernur (Pergub) DKI No. 196 Tahun 2010 tentang UMP Tahun 2011 per tanggal 15 November 2010 (RepublikaOnline). Akan tetapi UMP itu seolah tak ada nilainya bila dibandingkan dengan tiket seorang Bieber yang hanya bernyanyi beberapa saat. Untuk memperoleh uang sebesar satu jutaan, mereka harus membanting tulang selama satu bulan. Itupun UMP berlaku hanya bagi mereka memiliki pekerjaan dan bekerja disektor yang formal, bagaimana pula bagi mereka-mereka yang memiliki pekerjaan di sektor non formal alias tak menentu—atau pengangguran karena tak ada lapangan kerja–. Meski sah-sah saja para fans Bieber itu berujar dalam hati ”itu De-El” alias ”itu derita loe” (andaikata ada), namun tentu tak elok bagi kelangsungan hidup di negeri yang dulu nenek moyangnya sama-sama menderita hidup dalam masa kolonialisme, sama-sama susah, sama-sama sengsara, sama-sama senasib, sama-sama seperjuangan, sama-sama sebangsa dan lain-lain. Dimana ”3S” yang kita miliki dulu ?. Dimana hati nurani kita tempatkan untuk saudara-saudara kita yang masih kekurangan. Bila kita hidup berlebih, alangkah indahnya bila kita alokasikan untuk bibir-bibir yang mengering disudut-sudut kota, melalui lembaga-lembaga pengumpul dana sosial seperti zakat, shodaqoh, infak, yayasan yatim piatu, atau yayasan lansia dibanding kita berikan kepada seorang Bieber yang tentu saja dia akan melupakan segera fansnya di Indonesia dan kembali ke negeri asalnya. Ironis memang, tapi itulah kenyataan yang terjadi saat ini. Penulis tidaklah anti terhadap fans Bieber, atau Bieber itu sendiri karena penulis tidak memiliki kepentingan apapun terhadap konser itu. Penulis masih bisa menikmati alunan sang Bieber melalui headset atau mp3 player sederhana yang ada tanpa harus show up dihadapan bibir-bibir yang kering**

*) Penulis : Ujang Hidayat

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Justin Bieber Lebih Disayang dari Bibir-bibir Kering

  1. Salsabila says:

    Setuju dengan penulis…emang siiih ya…masyarakat kita jadi individualis yaa….
    bingung deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s