Manusia berhak belajar untuk bahagia

“Being happy is something you have to learn. I often surprise myself by saying “Wow, this is it. I guess I’m happy. I got a home I love. A career that I love. I’m even feeling more and more at peace with myself.” If there’s something else to happiness, let me know. I’m ambitious for that, too.”

Harrison Ford,

Bahagia, sedih, berduka, gembira, putus asa, optimis dan sejumlah kata lainnya itu kerap sekali bermain dalam kehidupan kita. Setiap manusia pada hakikatnya dilahirkan dalam keadaan berbahagia dan menjadi seorang pemenang dalam kehidupan meski terkadang hal itu tidak disadarinya. Kabut kehidupan yang ada dihadapannya itulah senantiasa mengaburkan pandangannya dalam menatap jalan kebahagiaan itu sendiri.

Pun demikian bila manusia itu dihadapkan pada persoalan yang dirasa berat dan sulit, maka pada fase itulah manusia itu harus berhasil melaluinya dengan tetap tegar dan optimis. Memang tidaklah mudah dalam melalui kondisi sulit yang menerpa, terlebih bila masalah itu hadir dan menjadi persoalan mendasar baginya. Akan tetapi, kita masih tetap memiliki pilihan dalam kondisi sulit itu. Bertahan dalam situasi itu sendiri atau berusaha mencari kebahagiaan lain ? itu pilihan dan dan kesempatan.

“…..If there’s something else to happiness, let me know. I’m ambitious for that, too.”
Seorang Harrison berkata demikian antusiasnya untuk mencari kebahagiaan, bahkan begitu ambisiusnya ia menginginkan agar siapapun dan dimanapun yang telah menemukan kebahagiaan, ia ingin menuju kepadanya. Lalu bagaimana dengan kita, bila kita tetap berdiam tegak dalam satu titik dan kita tidak merasakan kebahagiaan didalamnya, mengapa kita harus “berlelah-lelah” menghabiskan energi pada titik itu. Bukankah Tuhan telah menciptakan titik-titik lain kebahagiaan dalam kehidupan ini ?

Hidup ini adalah rangkaian cerita dari waktu kewaktu yang terkadang menggembirakan dan menyedihkan. Hanya manusia itu sendirilah yang bisa merasakan kapan kebahagiaan itu hadir dalam kehidupannya karena esensinya manusia berhak belajar untuk bahagia dan tentunya dapat dinikmatinya. Sudah bahagiakah kita ?**

*) Penulis : Ujang Hidayat

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s