Mimpi yang aneh

Yes!! akhirnya tim favorit kesayanganku berhasil membuat si “setan merah” (sebutan untuk tim Manchester United) bertekuk lutut dihadapan club dari Spanyol, Barcelona. Angka 3-1 cukup telak untuk mempermalukan tim asuhan Sir Alex Ferguson bersama Rooney dan kawan-kawannya. Kehebatan seorang Messi beserta sepuluh kawan lainnya ternyata mampu mengubah gempita stadion Wembley yang hiruk pikuk memekikkan dukungan bagi tim Manchester United (MU). Barcelona atau biasa disebut Los Cules dengan penampilannya yang cantik mampu mematahkan segala serangan dari skuad MU plus dukungan supporter British raya. Pantas bila banyak orang menyebut laga ini sebagai final ideal di klasemen Liga Champions musim ini, gengsi dua kutub bermain dalam pertarungan ini. Sekali lagi, bravo untuk tim asuhan Josep Pep Guardiola yang mampu menorehkan kembali prestasinya untuk mengangkat trofi sebagai tim yang pantas diacungi jempol dalam persepakbolaan di Eropa. Paling tidak, pertandingan yang digelar tanggal 29/05/11 dinihari tersebut membuka wacana baru bagiku, bahwasannya “Speed” (Kecepatan) dalam bermain sepak bola masih mampu dipatahkan dengan “Technique” (Teknik yang cantik) dalam mengolah si bola bundar.

Usai menikmati sajian perhelatan besar itu, rasa kantukku perlahan mulai muncul. Aku sempat menguap beberapa kali dan kedua bibir matapun mulai terasa berat. Sebetulnya malam itu aku kurang begitu fit akibat flu yang menyerangku sejak siang kemarin.Terlebih dengan aktifitas rutinku yang masih harus menjalani masa pendidikan yang diselenggarakan tempatku bekerja. Tentu saja, kondisi lelah ini semakin membuatku jadi bersahabat dengan De’Colgen, entah esok dengan apalagi, Ba’Colgen, BuColgen atau Pa’Colgenkah, entahlah. Walhasil, jam sembilan aku sudah mulai bergumul ria dengan bantal dan nyanyian “Heaven Knows” nya Rick Price sebagai ganti penina boboku, maklum saja, saat ini aku jauh dari Isteri tercintaku yang bisa kubelai dan membelaiku.

“Whooooaaaaaa….rasa kantuk mulai menikamku kembali. Pesta pora tim Los Cules yang kembali memboyong piala Liga Champions perlahan mulai kutatap dengan bibir mata yang terkadang turun naik. Entah untuk keberapa kalinya aku menguap.

Diruangan hening nan sepi itu aku hanya ditemani suara televisi yang penuh hiruk pikuk penonton di stadium megah Wembley, jarum jam masih menunjukkan pukul 02.35an. Malam itu kami hanya tinggal berempat, karena Mas Bob sedang pulang kampung ke Bekasi. Tinggal Kang Asep dan Kang Beni yang sama-sama dari kota kembang, sementara Mas Wahyu berasal dari Surabaya. Biasanya, Kang Asep yang paling jagoan ngeronda di kamar apartemen kami. Paling tidak beliaulah yang selalu tidur belakangan dan bangun lebih awal. Pantas saja bila kepala dusun dikampungnya pernah dua kali menganugerahkan gelar sebagai pemuda harapan bangsa. Karena kiprahnyalah yang mampu menggiatkan penduduk untuk peduli siskamling dan sadar siskampung. Patut dicontoh dan diacungi jempol. Sebagai prestasi tertingginya, Kang Asep ini pernah menyabet juara satu lomba ronda teladan di kampungnya. Meski hanya ditemani senter tiga baterre merek Tiger dan sebuah radio kecil dua band merek Telesonic.

Kulirik jam di meja apartemen itu masih jauh dari angka lima dan saat itu Adzan Shubuhpun belum berkumandang. Klik, kumatikan tv 29 inch itu. Sambil berjalan menuju kamarku, sempat kulihat dua orang temanku yang terkapar mesra dikamarnya, tentunya diantara bantal putihnya masing-masing. Keduanya nampak sukses melewati malam itu dengan pasrah, paling tidak aku bisa mengetahui dari irama dengkurnya yang full stereo alias bersahut-sahutan. Ketika kang Beni memainkan irama nafas ketukan “do-re-mi”, maka kang Asep menyambut dan memintalnya dengan irama “Fa-sol-La”. Aku hanya tersenyum melihat konser keduanya. Tiba didepan tempat tidurku, langsung kurebahkan diriku dengan nyaman. Sempat kulihat, Mas Wahyu yang masih nyungsep disela-sela selimut tebalnya. Dari irama perutnya, nampak sekali kelelahan. Nampaknya ia butuh istirahat yang cukup di hari minggu ini. Setidaknya pagi ini ia lebih leluasa untuk menikmati tidurnya dibanding dua minggu lalu yang selalu pulang ke Surabaya menengok anak isterinya.

“Klik, kumatikan lampu kamarku dan mulai kupejamkan mata. Dari sinilah cerita itu mulai terjadi. Ruang kamar yang lampunya kumatikan itu membuatku cepat hilang sementara dari dunia ini (red-tidur). Namun sudut-sudut ruangan seolah menjadi hidup. Akh…tak kupedulikan. Apa sih yang harus kutakutkan. Akupun tertidur.
Mungkin baru seperempat menit aku tertidur pulas. Namun, dalam tidur itu aku seolah-olah terbangun. Antara sadar dan tidak, satu sosok bayangan hitam tiba-tiba berdiri angkuh tepat disamping kawanku yang sedang tertidur. Sosok hitam dengan rambut panjang tergerai nampak jelas berdiri menatapku. Bentuk tubuhnya besar, hitam dan berambut panjang, persis seperti Limbad, tokoh pesulap yang berwajah dingin.

Tak berapa lama ia mendesis seolah menyapaku….”Pssssttt…hei, hei, hei, lihat aku….hei, hei, lihat kepadaku…”, ujarnya memanggilku. Sepertinya ia tahu bahwa aku masih terjaga. Aneh. Seolah-olah ia tahu betul bahwa aku yang dipanggilnya masih tersadar akan panggilannya. Aku kuatkan diri untuk tidak menoleh kepadanya. Bagaimana mungkin aku mampu menoleh sapaannya. Penampakannya sajapun kurang menyenangkan. Makhluk apa dia ? mengapa tiba-tiba ia berdiri didalam kamar kami. Dari mana ia berasal dan untuk apa dia muncul di kamar kami ? What is that ?. Masya Allah! dia masih berusaha memanggil sekaligus menggangguku. Aku palingkan wajahku kearah kiblat seraya kubacakan doa-doa yang terlintas dalam pikirannku. Terjajah rasanya diriku saat itu dengan penampakannya yang jelas-jelas menggangguku.

Meski pandanganku tak mengarah padanya, tapi mataku berusaha melihat sosok hitam itu. Sungguh kurang menyenangkan.

“Saat itu aku masih tetap bertahan untuk tidak menoleh kepada sosok bayangan hitam aneh itu. Aku mencoba sekuat tenaga untuk berteriak dan bangun dari tempat tidur. Akhirnya aku berhasil terbangun dan segera kunyalakan lampu kamarku. Kemudian aku bergegas untuk membangunkan kawan-kawanku yang masih terlelap. Anehnya, ketiga kawanku yang tinggal satu kamar apartemen itu tak nampak satupun. Bahkan yang bermunculan adalah sekumpulan orang-orang yang baru kulihat. Ada beberapa orang perempuan dan laki-laki yang berdatangan ke kamarku. Semuanya tak ku kenal bahkan terlihat aneh, tiga orang perempuan yang datang kekamar nampak seperti wanita desa yang terlihat membawa bawaan, nampak seperti sesajen. Sementara dua orang laki-laki yang bertelanjang dada dengan ikat kepala dari kain terlihat menunduk. Mereka tak berbicara sedikitpun. Aku merasa semakin aneh. Lalu dimana teman sekamarku ?
Mas Wahyu tak nampak disela-sela selimut tebalnya, tak ada kang Beni dengan celana pendek favoritnya, begitupun kang Asep dengan sarung motif square cap gajah duduk kesayangannya.

Akupun merasa heran, bahkan ketika aku menjelaskan tentang sosok hitam itu. Mereka hanya terdiam. Tak lama, datang sesosok lelaki bertubuh tinggi dan tegap. Penampakannya tak jelas, namun rupanya tidak menyeramkan, bahkan aku merasa ia sangat membuatku nyaman. Ucapannya begitu mantap dan menenangkan.
“Jangan takut, dia tidak akan datang lagi”
“Tapii…”
“Tenang mas. Tak perlu takut, saya jamin ia tak akan berani datang lagi”
“Tapi bagaimana dengan tangga keatas itu ?”, tanyaku kepadanya menunjuk kearah dinding. Sebenarnya akupun heran. Mana mungkin ada tangga di didalam kamar yang menuju lantai atas, sedangkan diatasku adalah kamar apartemen nomor 12. Sungguh membuatku aneh.
“Tenang. Tangga itu akan saya tutup!. Setelah itu jangan pernah coba untuk kesana!”, ucapnya tegas. Akupun semakin heran.
“Baik, sekarang tidak akan ada apa-apa lagi. Kalau diruangan ini masih mending”, ucapnya lagi.
“Maksud Anda ?”, tanyaku heran sambil berusaha menangkap wajahnya yang tak langsung menatapku. Karena ia berbicara tanpa mengarah kepadaku langsung.
“Disini masih mending, kalau ditempat lain pernah ada sosok hitam besar dan berambut panjang. Ia selalu berdiri dilorong. Wajahnya tak menyenangkan, bahkan rusak. Dari wajahnya keluar belatung-belatung yang menjijikan!”, urainya kepadaku.
“Masya Allah….!”, ucapku.
“Apa disini mau juga seperti itu ?”, tanyanya.
“Jangaannnn!”, aku berteriak sekuatnya. Seiring dengan itu, akupun tersadarkan bahwa aku tengah bermimpi. Jantungku berdebar-debar. Kulihat tempat tidur sebelah, Mas Wahyu masih tergolek pulas dengan tidurnya diantara sela-sela selimutnya.*(AaUte-29052011)

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Mimpi yang aneh

  1. Lisa says:

    Hiiiiyyy serem yaaa…
    eh dimana tuh bang ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s