Akhsan, Sejenak engkau hadir….

Berikut ini adalah sekelumit tentang kisah kami sebagai orang tua dari bayi (Almarhum) Muhammad Akhsan Hidayat yang lahir cesar pada tanggal 30/01/2011 dengan no rekam medis F022155 pada sebuah Rumah Sakit di Kota Bogor. Tiada maksud apapun dalam penayangan tulisan ini, melainkan untuk pelajaran bagi kita sebagai orang tua agar peristiwa ini tidak terulang kembali dan pihak Rumah Sakit agar senantiasa memberikan pelayanan yang baik, benar serta bertanggung jawab. Kehilangan anak bukanlah hal yang kecil,..sampai kapanpun tidak akan pernah bisa melupakan kehadiran anak yang pernah ada. Nama Rumah Sakit dan Dokter yang tertera bukanlah nama sebenarnya. Sengaja kami samarkan.

Singkat cerita, setelah perawatan, akhirnya anak kami diperbolehkan pulang pada tanggal 04/02/2011 (Hanya perlu penyinaran saja karena sebelumnya bilurubinnya mencapai angka sebelas sedangkan
normalnya adalah sembilan).

Setelah berselang sembilan hari, pada tanggal 14/02/2011 kurang lebih pukul 18.30 an kami membawanya kembali ke RS. X Bogor karena
kondisi bayi kami kembung dan terlihat seperti sesak nafas, namun kondisinya dalam keadaan sadar (tidak kejang). Setibanya di Rumah Sakit,
kami diterima di bagian IGD. Tak lama kemudian ditangani oleh dr. DW AM. Kurang lebih pukul 18.45 Ketika di ruang IGD, anak kami
diberikan “helm oksigen” dan dimasukkan selang kedalam mulutnya-menurut suster yang merawat, hal itu diperlukan untuk mengeluarkan cairan
lambung yang tak lama kemudian keluar cairan berwarna kuning. Merasa tak nyaman dengan “helm oksigen”yang menutup kepalanya dan selang yang
terhubung ke lambungnya, anak kami menangis, kepalanya bergerak kekanan dan kekiri. Kamipun menenangkannya dengan cara menggenggam kedua
tangannya. Saat itu Ia masih dalam kondisi sadar dan tubuhnyapun tidak terlalu panas. Selanjutnya tangan kanannya diinfus dan diambil darah
untuk keperluan laboratorium, begitupula ujung kaki kirinya dijepit dengan alat pemantau jantung.

Entah prosedur administrasi atau proses apa yang dilakukan oleh Rumah Sakit, sehingga anak kami masih berada diruang IGD.

Selang beberapa jam, Rumah Sakit menyarankan agar dirawat diruang Perina(lantai tiga). Sebelum naik ke lantai 3 (ruang Perina) anak kami di
photo rontgen perut untuk observasi. Kami hanya diperbolehkan menunggu diluar ruangan rontgen. Selama diruangan, kami masih sempat mendengar
tangisan yang kencang dari anak kami tersebut.

Segala prosedur administrasi Rumah Sakit telah saya jalani termasuk menyampaikan bahwa biaya perawatan anak kami ditanggung sepenuhnya oleh
perusahaan tempat saya bekerja. Jadi, tidak ada masalah dengan biaya yang harus kami tanggung.

Selanjutnya, kurang lebih pada jam sepuluh (22.00 WIB) anak kami sudah berada di ruang Perina namun masih dalam pengawasan Dr. DW AM.
Saat itu, kami mendapat penjelasan dari dokter DW mengenai kondisi anak kami termasuk adanya infeksi pada saluran telinga. Beliau akan
terus memantau perkembangan dan akan menginformasikannya kepada kami. Kamipun sedikit tenang karena dokter pernah menemui hal serupa
sebagaimana yang terjadi pada anak kami (infeksi pada telinga). Usai mendengar penjelasan dari beliau, kamipun merasa tenang dan dipersilakan
untuk menanti diruang tunggu.

Pada malam itu saya menanti setiap perkembangan yang terjadi. Sementara isteri saya kembali kerumah karena perlu istirahat, namun sebelumnya
kami sempat menanyakan kepada suster yang merawat tentang bagaimana dengan ASI nya.
“Untuk sementara ade bayinya puasa karena sudah ada infus”, jawabnya.
“Baiklah. Berarti ASI nya kami bawa kembali ?”
“Ya. Ga apa-apa”, balasnya.

Kurang lebih pada pukul 01.00 AM WIB suster jaga memanggil saya karena akan ada penjelasan dari dokter DW AM mengenai kondisi bayi
kami. Menurutnya, dugaan sementara terdapat “kultur” dalam tes darah sehingga menyebabkan infeksi dan kondisi lemah.

Sayapun menanyakan, “Bayi saya sakit apa dokter ?”

Beliau menjawab “Status sementara disebut “Sepsiss”.

“Apa itu Sepsis dan mengapa bisa begitu dok ?”, tanya saya heran. Beliaupun sedikit menjelaskan tentang Sepsis dan infeksi pada kondisi
tubuh bayi yang masih kecil. Selanjutnya dokter DW AM menyarankan agar pasien segera dirujuk
ke ruang ICU, mengingat kondisinya yang memerlukan perawatan ekstra dan intensif. Sayapun mengiyakan, bila memang itu harus dilakukan demi
kesembuhan anak saya. Lalu dokter DW AM dan suster yang menemaninya sempat meyampaikan mengenai fasilitas dan administrasi untuk
perawatan di ruang ICU tersebut. Sayapun langsung berbicara “Maaf dokter, mengenai biaya insha Allah tidak ada masalah karena anak saya
ditanggung sepenuhnya oleh kantor tempat saya bekerja (Bank Mandiri)”.
Mendengar jawaban seperti itu keduanyapun mengangguk.

Dokter DW menyampaikan bahwa dia tidak bertugas dalam pengawasan dan tindakan di ruang ICU, maka beliau memberikan pilihan kepada Saya dengan
mengatakan “Bayi Bapak mau ditangani oleh dokter siapa ? dr. AD Y atau dr. Axl T ?”, ujarnya memberikan pilihan. Ditanyakan
begitu, maka Saya balik berkata…”Dokter siapa saja dok, yang ada dan siap merawat anak kami”, jawab Saya.

“Baiklah, kalau begitu..kami nanti akan hubungi Dr. Axl untuk menangani anak Bapak”, ujarnya. Sayapun menjawab “Terimakasih dok.
Berarti nanti Saya berhubungan dengan beliau untuk perawatan anak kami ?”

“Iya pak”, jawab beliau.

Selanjutnya berbagai prosedur administrasi dan persetujuan Saya ikuti dan dokter Axl T ditunjuk sebagai dokter yang akan menangani.
Setelah itu sayapun diminta untuk keluar ruangan untuk menunggu.

Kurang lebih jam 01.30 pagi saya dipanggil lagi oleh suster ruangan Perina dan diberitahukan bahwa bayi kami sudah dipindahkan ke ruang ICU.
Waktu itu Saya ingin melihat kondisinya dan akhirnya diantar oleh suster jaga pada saat itu. Saya sempat melihat kondisi bayi kami yang berada
dalam ventilator, iapun menatap saya (saat itu posisi saya berada dikanannya). Tatapannya matanya begitu jelas kearah saya dan ia masih
dalam keadaan sadar. Orang tua mana yang tak sedih melihat kondisi anaknya yang terbaring dengan infusan dilengannya dan selang dimulutnya
yang dimasukkan hingga lambung, meski pada saat itu perutnya sudah tidak kembung lagi. Tatapan matanya yang bulat masih saya ingat dibalik
ventilator bening. Doa-doa kecil saya ucapkan sambil tersenyum kepadanya. Tak lama sang suster menyarankan agar saya menunggu diluar
dan sayapun mengiyakan. Namun sebelum saya keluar ruang ICU, saya sempat mengucapkan kalimat kecil kepada anak saya “Nak, ayo berjuang…yang
kuat ya nak!”. Ia tetap menatap seolah tak ingin ditinggalkan oleh Ayahnya. Meski berat hati , sayapun meninggalkan ruangan itu dengan
lambaian kecil dan senyum kepadanya.

“Bapak tunggu diluar saja ya. Saya akan hubungi bapak bila anaknya memerlukan alat bantu pernafasan. Untuk sementara kita lihat dulu
kemampuan ade bayinya untuk bernafas sendiri”, ujar suster jaga kala itu.

“Iya suster. Tolong jaga dan rawat anak saya dengan baik ya sus”, pinta
saya.
“Iya pak”
“Oh ya. Kapan dokter Axlnya akan melihat kondisi anak saya ?”, tanya
saya.
“Mungkin besok pagi pak”, jawabnya.
“Oke dech. Terimakasih ya suster”, balas saya sambil meninggalkan ruangan.

Didepan ruang tunggu sayapun menanti setiap detik perkembangan yang terjadi pada anak saya. Sejak pukul 02.00 sd. 05 an pagi hari saya tidak
tahu apa yang terjadi pada anak saya karena diminta untuk menunggu di luar ruangan.

Jam terus bergerak hingga menunjukkan waktu pukul lima pagi. Suara-suara adzan shubuhpun mulai terdengar. Tak lama, Saya langsung ke lantai dasar untuk melaksanakan sholat shubuh. Saya tinggalkan sementara ruang tunggu bagi keluarga pasien, meskipun saya khawatir kalau terjadi pemberitahuan tentang anak saya yang sedang dirawat diruang ICU.

Usai shalat shubuh, saya langsung menuju lantai tiga dan menanti kembali diruang tunggu. Sesaat handphone saya berdering setelah dihidupkan
dalam kondisi charging di ruang tunggu. Ternyata yang menelepon adalah isteri saya dan mengabarkan bahwa suster jaga menghubungi saya namun
tidak berhasil karena handphone dalam keadaan mati (low battery)sementara saya sedang berada dilantai bawah. Mendengar informasi seperti
itu, saya bergegas menuju ruang ICU untuk menemui dan menanyakan kepada suster jaga. Kurang lebih saat itu pukul 05.30 an WIB.

“Maaf suster. Saya orang tua Muhammad Akhsan, ada apa ya suster ?”, sapa saya kepada suster yang ada diruang itu.

“Begini pak. Kami akan memberikan cairan infus “bicnat” pada anak bapak. Untuk itu kami mohon persetujuan orang tua pasien. Ini ada surat
formulir yang harus ditandatangani”

“Apa itu bicnat ? dan untuk apa ? memangnya kondisi anak saya gimana ?”, seribu pertanyaan hadir dalam kepala saya. Petugas medis itupun hanya
menjawab “Bicnat diperlukan untuk memperlancar proses pernafasan agar kerja jantung maksimal dan peredaran darah kembali normal”, ujarnya.

“Lalu bagaimana efeknya ?”
“Maksudnya ?”
“Dari penggunaan cairan itu ?”, tanya saya kembali karena sama sekali tidak mengetahui apa yang disebut bicnat.

“Tidak apa-apa koq pak. Cuma efeknya hanya luka seperti terbakar saja, itupun sedikit dan akan menghilang”, jawabnya.

“Baiklah suster. Kalo memang itu untuk kesembuhan anak saya”, jawab saya sambil menandatangi formulir persetujuan yang disodorkan olehnya.
“Kami juga akan memasang alat bantu pernafasan kepada ade bayi ?”
“Alat bantunya seperti apa suster ?”, lagi-lagi saya bertanya karena khawatir.
“Kami harus memasukkan selang kedalam paru-parunya ?”

“Masya Allah!”, ucap saya terkejut. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya dimasukkan selang kedua kedalam mulut kecil bayi kami yang akan didorong
hingga kedalam paru-paru. Selang pertama yang sudah menembus kedalam lambung sejak kemarin maghrib (14/02) pun telah membuat kedua bibirnya
sedikit mengering. Bagaimana pula harus ditambah dengan selang kedua. Bagaimana pula bila ukurannya hampir dua kali lebih besar dari selang
pertama ?, sebagaimana selang oksigen yang ada sejak di ruang IGD kemarin sore. Namun apa boleh buat, saya tidak mempunyai pilihan lain.
(yang saya pikirkan adalah keselamatan anak saya). Akhirnya, sayapun bersama suster yang menjaganya kembali melihat kondisi bayi kami. Hanya
ada gerakan dada dan perut. Matanya tertutup, saya berpikir mungkin masih tertidur.

Selanjutnya pada saat itu juga saya menanyakan kembali kepada suster jaga itu tentang dokter yang merawat anak saya. “Kapan dokter Axl akan
melihat langsung kondisi anak saya ?”
“Kami sudah menghubunginya pak”, jawab suster jaga itu.

“Baiklah suster”, jawab saya, meski rasa kekhawatiran dan kekecewaan mulai tumbuh. Sayapun kembali ke ruang tunggu dengan perasaan yang tak
menentu.

Sekira pukul 09 an saya menanyakan kembali kepada suster jaga kala itu mengenai kondisi anak saya. Akhirnya mereka mempersilakan untuk melihat
kondisi anak yang terbaring di ruang ICU dengan jumlah infusan yang sudah terlihat lebih banyak, diantaranya dipergelangan tangan
(kanan-kiri), dilengan (kanan dan kirinya). Jari jemari mungil anak saya sudah mulai membiru dan pucat, sementara pada lengan (dekat siku
tangan) kanan dan kirinya terlihat beberapa titik-titik bekas jarum infusan yang melebar dan menghitam seperti terbakar. Begitupula dibagian
kaki kiri dan kanannya. Sementara alat pemantau jantung tetap terhubung dengan menjepitkannya diujung kaki kiri. Bila dihitung, jumlah bekas
suntikan dan infus yang masih menempel di badan anak saya lebih dari delapan titik. Entah apa yang sudah dimasukkan kedalam tubuh bayi kami.

Ada keheranan dalam benak saya yang semakin menguat tentang penanganan anak saya yang terlihat seperti “boneka mainan”, yang ditusuk sana-sini.
Biru dan pucat disana-sini. Namun saya tetap berharap itu akan hilang dalam waktu cepat dan anak saya kembali pulih. Saya bingung, tidak ada
satupun dokter yang diruangan itu. Bukankah ini ruang ICU ? Intensive Care Unit ? I.N.T.E.N.S.I.V.E C.A.R.E U.N.I.T dengan risiko dan biaya
yang tinggi ?. Tentu selain alat-alatnya yang canggih dan mahal, bukankah tim medisnya juga harus canggih ditinjau dari keilmuan,
intensivitas waktu pengawasan, pengalaman dan status yang disandangnya.
Maaf sebelumnya,–tanpa mengecilkan peran dan tugas mulia seorang perawat yang bertugas kala itu–saya melihat ada yang janggal. Semuanya
hanya perawat yang secara bergantian melakukan tindakan ini dan itu. Bukankah dalam ruang ICU itu harus ada ketua tim alias dokter yang
mengomandani timnya dalam perawatan pasien kritis ? Bagaimana jika ada kondisi pasien yang tiba-tiba kritis atau serious injury ?, sementara
tak ada satupun dokter yang stand by diruangan itu. Kemelut didalam hati dan pikiran saya terus bekembang sehingga semakin mengkhawatirkan
keselamatan anak saya.

Sekitar Jam 10.30an, saya kembali menanyakan tetang kapan dokter yang ditunjuk tersebut akan datang melihat secara langsung kondisi anak saya.

“Suster, anak saya dirawat di ruang ICU sejak jam 01 tadi malam, tapi koq tidak ada dokter Axlnya sebagai dokter penanggungjawab?”

“Kami sudah menghubunginya pak”, jawab suster itu tak memuaskan. Lagi-lagi jawaban yang sama saya peroleh. Tak ada kejelasan yang pasti
dari pihak Rumah Sakit. Sementara keadaan anak saya semakin kritis. Lalu tindakan ini dan itu atas perintah siapa ? Pembiusan cairan bicnat
disekujur tubuhnya yang semakin membiru disana-sini atas instruksi siapa ? Memasukkan selang oksigen kedalam paru-paru atas perintah siapa ?
padahal ketika selang oksigen untuk paru-paru itu dimasukkan kedalam mulutnya, bayi saya sempat terhentak kaget dengan kedua tangan dan kaki
yang mengangkat. Mungkinkah kesakitan ? Entahlah. Hal itu saya saksikan langsung dengan perasaan sedih melihat dua selang masuk kedalam
mulutnya.

Saya semakin kecewa. Akhirnya dengan perasaan yang semakin tak menentu saya menanyakan kembali.

“Sebetulnya dokternya ada ga sih ?”, tanya saya dengan nada agak tinggi karena rasa kesal dan khawatir yang bercampur menjadi satu.

“Kami sudah menghubunginya pak via telepon”, jawab perawat itu tampak bingung. Saya semakin kesal dengan apa yang terjadi diruangan itu terlebih dengan jawaban yang bernada sama.

Secara logika awampun, rasanya aneh melihat tindakan suster-suster yang tidak didampingi dokter sebagai ketua timnya. Ini khan ICU, Intensive
Care Unit. Bukan “I Call U” tapi I Care U. Pikiran seperti itu yang menggelayuti kepala saya. Sayapun semakin penasaran dan menanyakannya
kembali.

“Suster, sebetulnya dokternya mau kesini ga sih ? kenapa sih koq tidak datang-datang ?”, desak saya.

“Kami sudah meneleponnya pak, tapi beliau sedang acara keluarga”,
jawabnya.

Mendengar jawaban kurang cerdas seperti itu, rasanya ingin menumpahkan kekesalan yang sejak pagi saya pendam. Ingin rasanya berteriak
sekuatnya, “Rumah Sakit macam apa ini ?”. Namun, semua itu tak mungkin saya lakukan diruangan yang terisi jiwa kritis itu. Saya redam emosi itu
sekuat tenaga karena melihat kondisi anak saya yang masih membutuhkan pertolongan.

“Masya Allah!, anak saya dalam keadaan kritis, sementara dia lebih memilih acara keluarga. Dimana letak tanggungjawabnya ?”, rasa kecewa
saya semakin menggumpal.

Saat itu saya protes karena merasa penanganan anak saya ditelantarkan oleh dokter yang telah ditunjuk oleh Rumah Sakit itu sendiri.

Melihat situasi yang tak menentu di ruang ICU saya semakin khawatir dengan kondisi anak kami. Saya terus menanyakan dokter Axl yang
seharusnya menangani secara langsung dan intensif melihat perkembangan anak kami. Maka untuk sekedar menenangkan saya dan keluarga, akhirnya
mereka memanggil dokter DW yang mungkin pada saat itu –mungkin–bertugas di klinik lantai lantai satu. Tak lama dokter DW pun tiba
diruang ICU.

Sayapun menyampaikan keluhan mengenai tidak adanya dokter yang menangani bayi kami. Dokter DW sempat melihat kondisi bayi kami yang tak
menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Saya melihat sepertinya dokter DW tengah berbicara dengan seseorang. Entah siapa ? dokter Axl kah
? Saya tidak tahu. Sayapun keluar ruangan ICU untuk menenangkan diri. Saya khawatir tidak bisa menahan emosi. Diluar ruangan saya mencoba
menarik nafas dalam dan bersabar atas apa yang terjadi. Dalam benak saya hanya terlintas “What’s going on here ?”

Tak lama sayapun kembali ke ruang ICU dan menghampiri dokter DW sambil mengatakan,
“Dokter, bagaimana dengan kondisi anak saya ? mengapa dokter Axl yang ditunjuk itu tidak datang juga. Maaf ya dok, saya membawa anak saya ke
rumah sakit ini menginginkan pelayanan yang baik untuk kesembuhan anak kami. Kami menyerahkan anak kami disini tentu tidak gratis, kami
membayar biaya Rumah Sakit ini. Mengapa okter Axlnya tidak datang-datang ? Bagaimana jika terjadi sesuatu terhadap anak saya”, ucap
saya dengan nada kesal dan gemetaran.

Dokter DWpun nampak terlihat bingung dengan pertanyaan saya. Saya memakluminya karena seharusnya bukan beliaulah yang bertanggungjawab
atas penangangan yang seharusnya dilakukan di ICU. Melainkan dokter Axllah yang seharusnya saya hadapi saat itu. Tapi sayang , entah
dimana dan sedang apa Tuan dokter Axl T tersebut.

“Jika memang dia tidak bisa menangani anak saya, seharusnya dari awal dia menyerahkannya kepada dokter yang siap dong ?”, tanya saya kembali.
Dokter DW hanya terdiam memahami kekecewaan saya.

“Mengapa anak saya dibiarkan tanpa pengawasan langsung begini dok ? Berarti prsoedur disini tidak berjalan dong ?. Maaf dok, ini akan
menjadi catatan buat saya, apalagi jika sampai terjadi apa-apa terhadap anak saya”, sambung saya dengan nada kecewa. Sayapun keluar ruangan
sejenak untuk menenangkan diri dan menyampaikankepada keluarga yang lain tentang tidak datangnya dokter penanggungjawab di ruang ICU. Anggota
keluarga sayapun merasa kecewa dan kesal atas apa yang saya sampaikan.

Kurang lebih pukul sebelasan. Suster ruang ICU kembali memanggil saya ke ruang Perina (depan ruang ICU).

“Bapak, ini ada dokter AG. Karena dari tadi bapak menanyakan terus dokternya”, ujar seorang suster memperkenalkan dokter itu kepada saya.
Saya heran, mengapa dokter AG yang hadir. Yang saya minta adalah dokter AXL, rasanya cukup mudah bagi siapapun untuk membedakan ejaan
nama AXL dengan nama AG. Entahlah.

“Oh ya ?”

“Iya pak. Ini dokter AG. Hmm..beliau juga sama dokter ICU, satu level dengan dokter Axl”, ucapnya memberikan penjelasan. Tanpa mengurangi
rasa hormat kepada dokter AG, sayapun siap mendengarkan apa yang akan disampaikan beliau.

“Bapak orang tuanya ?”, tanya dokter AG kepada saya yang kala itu ditemani oleh kakak.

“Iya dok”, jawab saya sambil menjabat tangannya.

“Jadi dokter yang akan menangani anak saya hingga tuntas ?”, tanya saya.

“Hmm..Saya hanya visit saja”, jawabnya diplomatis.

“Begini pak, dokter AG ini juga bertugas di ruang ICU. Jadi samalah seperti dokter Axl”, sela suster yang mendampinginya. Sayapun semakin
heran. Apalagi yang akan terjadi ? Entahlah.

“Jadi sakit anak saya itu apa dok ?”

Beliau tidak langsung menjawab namun meminta data catatan medis terakhir dan hasil rontgen yang sudah dilakukan. Sambil memasangkan photo rontgen beliaupun menjelaskan kondisi rontgen perut anak kami.

“Sekali lagi, kami bingung dok. Sebetulnya anak saya itu sakitnya apa ?”, tanya saya.

“Kami perlu melakukan observasi dari sampel darah anak bapak. Dari situ bisa diketahui jenis bakteri apa yang ada dalam tubuh anak bapak
sehingga bisa ditentukan obat yang tepat untuknya. Kondisi sakit anak bapak tergolong berat”, jelasnya.

“Berapa persen kemungkinan bisa sembuh dok ?”, tanya saya.

“Saya tidak berani memprediksi kemungkinan. Banyak berdoa saja”, jawabnya dengan tenang.

“Jadi bagaimana dok ?”

“Untuk observasi ini paling tidak seminggu hasilnya bisa diketahui”, jawabnya.
“Seminggu ??????”,
“Iya”
“Bagaimana mungkin anak saya bisa bertahan selama itu dok ? sedangkan saat ini saja kondisinya sudah memprihatinkan”, ucap saya. Tidak ada
jawaban yang pasti atas hal ini. Ketika kami tengah berbicara, tiba-tiba dari ruang ICU memberitahukan bahwa kondisi jantung anak saya menurun.
Keadaan menjadi semakin kritis. Dokter AG beserta lainnya langsung menghampiri dan memompa jantung anak kami. Saat itu kami hanya menunggu
dibalik pintu kaca dan memandang apa yang sedang terjadi pada anak kami.

Setelah kejadian itu, kamipun menunggu diluar ruang ICU. Tentu dengan perasaan yang tak menentu. Dan sayapun tak menjumpai lagi dokter AG.

Selepas pukul 14 an siang, kami terus menunggu perkembangan yang lebih baik. Berharap ada perubahan atas anak kami, meski harapan itu semakin
tipis. Suster yang merawat saat itu memberitahukan bahwa perlu dilakukan infus pada bagian lain karena pembuluh darah yang sudah pecah. Sehingga infus dikedua tangan sudah tidak berfungsi, begitupun infus pada bagian kaki sebelah kanan. Hanya satu tersisa yang masih bisa dimasuki infus,kaki kiri.

“Dimana lagi harus dilakukan infus ?” tanya saya bingung.

“Tangan dan kakinya sudah tidak bisa mengalirkan infus lagi pak. Jadi kami harus melakukan infus lagi dijaringan yang lebih kuat dan besar”,
ujarnya.

“Bagaimana mungkin anak saya harus diinfus ditempat yang lain lagi, sedangkan di pergelangan tangan, lengan dan kakinya saja sudah pada biru
dan pucat begitu ?”, ucap saya mempertanyakan.
“Kami akan lakukan didaerah jaringan vena, sebelah sini dan sini”, jelasnya sambil menunjukkan kearah kedua ketiak.
“Lalu ?”, tanya saya.

“Untuk melakukan infus dilokasi itu, maka harus dilakukan bedah kecil”, tambahnya lagi.

“Bedah ???”, tanya saya kaget. Terbayang oleh saya, lengan mungil itu harus dibedah. Saya hanya bisa menarik nafas panjang dengan perasaan
yang tak menentu.

“Posisi jaringannya agak sedikit didalam. Jadi harus dibedah sedikit”, ucapnya lagi.
“Siapa yang akan melakukannya ?”, tanya saya lagi.
“Nanti akan ada dokter bedahnya pak. Biar kami yang rawat ade bayinya pak, silakan bapak ibu menunggu diluar saja”, jelasnya.

Waktu terus berjalan. Entah apa yang terjadi, rencana pembedahanpun urung dilakukan tanpa informasi yang jelas. Mungkinkah tim dokter
bedahnya yang tak ada ? entahlah. Saya semakin tak mengerti.
Sayapun bersama isteri, memantau perkembangan anak kami. Isteri saya sempat menanyakan tentang rencana pembedahan dibagian ketiak.

“Suster, katanya akan ada pembedahan dibagian ketiak untuk infus”, tanya isteri saya.
“Hmm..begini bu. Kami masih menunggu dokter bedahnya”, jawabnya. Lagi-lagi jawaban tak jelas kami peroleh.

Saya hanya bisa memelas dada atas penanganan yang semakin tak konsisten dan tak menentu ini. Bahkan muncul rencana pembedahan pada leher bagian
kanan dan kirinya. Nampak sekali penanganan yang tak dikomandoi secara langsung. Lalu bagaimana mereka bekerja untuk mengambil tindakan ini dan itu ??

Kekhawatiran kami semakin memuncak tatkala ada perubahan informasi bahwa ada rencana infus yang akan dilakukan pada bagian kepala. Kami tak dapat memahami penjelasan perawat saat itu. Tak lama akhirnya dokter DW menemui kami.

“Bapak, Ibu. Perlu saya jelaskan…infus dibagian kepala tidak dilakukan seperti itu. Melainkan seperti ini”, ujar dokter DW memperagakan
posisi infus yang horisontal, bukan vertikal seperti menancapkan suntikan. Kamipun sedikit tenang.

“Apakah tidak ada jalan lain dok ?”

“Saat ini hanya itu yang bisa kita lakukan. Bagaimana ?”, tegasnya meminta persetujuan kami. Setelah berfikir tanpa pilihan, kamipun
mengiyakan.

“Bila memang itu harus dilakukan. Silakan dok”, ujar kami. Jam ruangan ICU saat itu menunjukkan pukul 15.10, datanglah seseorang
berbaju putih. Saya pikir dialah dokter Axl yang kami tunggu. Ternyata bukan, yang datang adalah dokter AD. Iapun berbicara dengan dokter
DW dan sempat menanyakan catatan dan tindakan yang sudah dilakukan oleh perawat. Sesaat, dokter AD meminta senter kepada perawat.
Namun tiba-tiba handphonenya berdering, beliaupun menerima panggilan itu. Senter yang semula dimintanya masih dipegang suster. Saya tak
mengerti, entah siapa yang meneleponnya. Dalam kondisi menghadapi pasien kritispun ia masih menerima panggilan dan berbicara. Entah siapa ?
Axlkah ? Wallahu’alam. Sayang sekali, saya tak memahami pembicaraannya karena sulit bagi saya untuk membaca gerakan bibir sang
dokter. Terlebih dengan gaya bicaranya yang khas. Entahlah.

Kami masih berada diruangan menyaksikan kondisi yang semakin tak jelas. Tidak ada gerakan apapun dari bayi kami selain irama nafas yang terlihat diperutnya. Tak lama kemudian, kondisi buruk terjadi kembali. Angka pemantau jantung menurun. Dari monitor pantau jantung terlihat angka 30an, 29..27 lalu terdengar bunyi tiiiiiiiiiiitttt dan garis lurus.
Entah apa artinya itu ?. Ada perasaan yang saya tak mengerti. Seolah ada sesuatu yang hilang dalam genggaman tangan saya. Padahal saat itu saya
tak memegang benda apapun. Mungkinkah ia telah pergi ? mungkinkah bayi kami sudah meninggal ??. Saya terus berusaha untuk menyangkal firasat
itu dan berharap kesembuhan pada bayi kami. Saya lihat jam diruangan menunjukkan 15.47 an.

Ketiganya terlihat sibuk, sementara kami yang menanti disitu semakin cemas. Dokter DW memompa alat yang dipegangnya, sang suster menekan
dada dengan aba-aba satu dua tiga. Sementara dokter AD memantau dan memberikan instruksi. Angka “dinaikkan” kembali menjadi 90an. Naik
dan turun menjadi 95-88an.

Kedua dokter itu berbincang kecil dengan percakapan yang tak kami mengerti. Dokter AD nampak memeriksa fisik bayi kami kembali. Tak
lama iapun menghampiri kami.

“Bapak orang tuanya ?”
“Iya dok”, jawab saya. Sambil memeriksa ia berkata “Sakitnya berat pak. Pembuluh darah diotak sudah pecah”, ujarnya.
“Masya Allah”, kamipun terdiam. Pembicaraan kami dengan dokter AD tidak banyak.
Tak lama kemudian, dokter DW memberitahu kepada kami bahwa rencana infusnya ditunda dulu.
“Kita tunggu dedenya stabil dulu ya”, ujarnya sambil menenangkan. Dan keduanyapun berlalu dari hadapan kami. Tinggalah kami berdua yang hanya
bisa menahan kesedihan. Menatap tubuh bayi kami yang diam tak berdaya. Bibir membiru dan mengering, kelopak mata dengan airmata yang nampak
mengering disela-sela bibir mata. Hari ini Selasa, 15 Februari, tak ada lagi tangis bayi kami yang terdengar. Padahal kemarin sore masih bisa
menangis dan meronta dengan kencang.

Jam diruangan menunjukan pukul 15.50. Tak lama seseorang datang lagi dengan mengenakan baju seragam dokter. Saya berpikir, dokter siapa lagi
yang diutus. Namun salahseorang suster yang ada disitu memberitahukan bahwa itu adalah dokter Axl.

Tak ada salam sapa kepada kami yang sedari tadi berdiam tak jauh dari bayi kami itu. Dokter yang bernama Axl itupun hanya bertanya kepada
suster yang berada disitu, menanyakan ini dan itu. Lalu memeriksa keadaannya. Kurang lebih hitungan sepuluh menit dokter itu memeriksa.

Tuan dokter Axl menghampiri saya dan berkata, “Bapak orang tua bayi ?”

“Iya”, jawab saya.

“Maaf pak. Kondisi anak bapak berat sekali dan perlu saya sampaikan bahwa anak bapak sudah tidak ada”, ucapnya ringan.

“Apa ??? “, saya kaget mendengar ucapan seperti itu. Seperti petir yang menghunjam dada saya.

“Anak bapak sudah meninggal. Lebih baik saya segera sampaikan, daripada berlama-lama. Kasihan sama keluarganya”, ucapnya lagi.

“Dokter bagaimana sih ? itu anak saya masih bernafas”, ujar saya tak percaya sambil menunjuk anak kami yang masih bernafas dan monitor
pemantau jantung masih menunjukkan angka 88 (delapan puluh delapan).
Selain itu gerakan perutnya masih terlihat turun naik. Kondisinya tidak berbeda ketika masih ada dokter AD dan dokter DW. Bahkan ketika
keduanya meninggalkan ruanganpun, monitor jantung bayi kamipun masih menunjukan angka delapan puluh delapan. Hal ini diperkuat ketika dokter
DW menyampaikan untuk penundaan bius dikepalanya hingga bayi kami benar-benar stabil, rentang waktu yang belum lama.

“Maaf pak. Itu mesin yang bekerja, alat pemompa jantung. Kalau saya copot maka akan berhenti”, sambungnya lagi. Saya turut berduka cita”,
ucapnya.

“Innalillahi wa’inna ilayhi rajiunn….”, ucap saya pelan. Mendengar penjelasan seperti itu isteri saya langsung menangis. Sayapun terkulai
lemas menerima kenyataan itu. Pupus sudah harapan akan kesembuhan dan membawanya pulang kerumah.

Dokter Axl masih ada didepan saya. Namun apa yang diucapkannya seolah tak bisa masuk kedalam hati saya.. Kedatangannyapun tak berarti buat
kami. Bagi kami, ia telah menganggap sepele perawatan anak kami hingga ia menghembuskan nafas terakhir. Wahau tuan dokter Axl T, dimana rasa
tanggungjawabmu sebagai dokter I.N.T.E.N.S.I.V.E C.A.R.E U.N.I.T ?. Apakah kami yang awam ini perlu mengajari Anda tentang ICU, tentang I
Care to U. Bukan I Call to U.
img756
img824
img839
Photo0143

Jakarta, 11 Maret 2011

Wassalam.

Ujang Hidayat
Isty Komara Sari

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s