Pudarnya Pelangi Destina | Bagian Pertama

citra-kirana| Bagian Pertama |

Seperti biasanya, pukul lima lewat lima belas pagi Adrian sudah tiba di stasiun Bogor. Pagi buta yang masih diselimuti udara dingin selepas hujan tadi malam itu tlah membasahi kulit pepohonan hingga pucuk-pucuk daun mahagoni. Sekumpulan semut rangrang yang bersembunyi dibaliknyapun enggan menampakkan diri. Sementara sang mentari masih berbenah diri untuk tampil dihari baru itu.

Usai mengantri di loket. Karcispun ditangan sudah. Adrian segera bergegas untuk mencari rangkaian kereta yang akan membawanya ke kantor. Dirinya sempat bertanya kepada petugas porter masuk untuk memastikan keretanya berada di jalur berapa.
“Ekspres tujuan Kota jalur berapa pak ?”, tanya Adrian.
“Jurusan ke Kota jalur tiga mas”
“Terimakasih”, ujar Adrian kepada petugas pintu masuk.

Nampak sejumlah Kereta rangaian listrik (KRL) tengah parkir menunggu jadwal keberangkatan. Persis mirip film kereta anak Thomas & Friends di pulau Sodor. Mereka siap menerima perintah dari kepala stasiun. Sesekali, rangkaian kereta itu menghembuskan nafas mesinnya. ”Pesssss…” persis ban kempis yang berbarengan dari ujung ke ujung.

Adrian berlari kecil menuju jalur tiga. Beberapa pengasong koran mulai menyambutnya dengan ramah.
“Koraan, koraannya..mas. Trend Pejabat negara beradegan mesum“, ujar para penjaja menawarinya sebuah harian ibu kota.
“Akh,..ga penting pak!”. Ada koran Republika ?” ujar Adrian.
“Ada mas. Ini”
”Berapa ?”
”Tiga ribu mas”
Mau kemana ? jurusan Kota atau Tanah Abang ?”
“Kota pak”
“Kereta ke Kota jalur tiga mas!”, tunjuknya.
“Oke. Ini uangnya. Terimakasih”, Adrian segera berlari menuju jalur tiga. Dua bentangan rel dilalui dengan langkahnya yang panjang.
”hup…!”
Diatas KRL, nampak beberapa orang yang sudah berada di dalam kereta gerbong pertama. Ia berjalan terus hingga menyusuri gerbong tiga. Didapatinya kursi yang masih tersedia di rangkaian tiga, segera ia duduk dengan manisnya. Sementara itu, lalu lalang orang-orang disekitar peron mulai terlihat. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Menyesuaikan karcis dan jenis kereta yang akan dinaikinya. Beberapa petugas Sentinel nampak sibuk dengan peluitnya memberi peringatan kepada penumpang yang hilir mudik di lintasan. Pun demikian dengan Announcer berulangkali mengumumkan jadwal keberangkatan kereta yang parkir di jalur satu hingga delapan.

Sementara nun jauh disana, keangkuhan gunung Salak yang samar terlihat namun berdiri kokoh bak piramida di selatan kota hujan itu. Seakan ia menjadi saksi bisu suasana stasiun di pagi yang sibuk. Di stasiun tua peninggalan jaman menir, stasiun Bogor, stasiunnya kota hujan.

Deretan kursi sebelah kiri telah terisi beberapa orang penumpang. Adrian mengambil posisi bersebelahan dengan seorang pria berkacamata tebal yang terlihat serius dengan koran harian Pos Kota dari Jakarta, harian yang diasuh oleh Bung Harmoko dalam kolom Kopi Paginya, sejak jaman Orde Baru. Wajahnya nampak miring dengan tatapan serius membaca sambungan kisah dari halaman satu. Tak ketinggalan bibirnyapun ikut terlihat mendukung keseriusannya. Adrian tersenyum melihat stylenya.
”Hmm pasti kolom Nah Ini Dia, berita kesukaan pria dewasa, hehehe”, tebak Adrian dalam hati.
”Permisi pak, maaf boleh geser dikit ?”
”Hmmm….”
”Terimakasih ya pak”,
”Boleh sedikit lagi pak ?”, pintanya karena merasa kurang.
”Hmmmm…iya..iya..”, jawabnya kesel karena dia membaca ulang paragraf yang sama.

Tak berapa lama kemudian, seseorang menghampiri dan menyapa Adrian.
“Maaf ya mas, ini kereta tujuan Jakarta Kota ya ?” tanya seorang gadis yang tiba-tiba berdiri disamping kirinya. Adrian menoleh refleks. Tatapannya beradu. Cessss…! terdiam sesaat. Pause mode on.
“Betul, betul mba. …mba mau turun dimana ?”
“Saya turun di Gambir”
“Oh, sama. Saya juga turun di Gambir koq”
“Oo…”, jawabnya singkat. Dengan sigap Adrian menangkap isyarat permohonan duduk disebelahnya.
”Boleh geser dikit lagi pak ?”, pinta Adrian kepada bapak itu tuk ketiga kalinya.
”Hmmm….”
Terimakasih pak”
”Hmmmm…”, dehem lelaki itu.
”Terimakasih mas”, ujar gadis itu.
“Iya…iya. Sama-sama”, jawab Adrian telat, karena masih terpana.
Keduanya saling lempar senyum.
”Berangkat kerja mbak ?”, sebuah pertanyaan basa-basi.
”Iya”
”Oh sama”
”Oh”, jawabnya datar. Keduanya saling lempar senyum kembali.
Sejenak tak ada pembicaraan karena terasa urusan sudah usai.
Sepuluh menit berlalu, seketika pengeras suara berbunyi mengumumkan jadwal keberangkatan kereta.
“Selamat pagi para penumpang yang kami hormati. Saat ini anda berada didalam kereta ekpress tujuan Jakarta Kota dengan jadwal keberangkatan pukul 05.57 menit. Kereta ini akan berhenti di stasiun Cilebut, Bojong Gede, Depok, Manggarai, Gondangdia, Gambir, Djuanda dan mengakhiri perjalanannya di stasiun Jakarta Kota. Karcis yang berlaku adalah sebelas ribu rupiah. Pastikan Anda tidak salah naik. Mohon dijaga karcis dan barang bawaan Anda. Terimakasih atas perhatiannya. Semoga selamat sampai tujuan”.

Adrian mencoba duduk santai dengan koran Republika ditangannya. Ia mendadak grogi, entah berita mana yang harus dibacanya lebih dulu.
Ada headline persiapan Timnas Garuda yang semakin optimis, meski kalah berulang kali. Berita kasus koruptor, mafia kasus pajak, penyelewengan proyek pemerintah yang semakin melebar dan melibatkan pejabat negara. Hingga berita klarifikasi Iran dengan program damai nuklirnya. Lipatan demi lipatan koran dibukanya, namun tak satupun berita yang dibacanya hingga tuntas. Hanya judul dan paragraf satu hingga dua saja. Selebihnya ia tinggalkan. Senyum gadis itu tlah membuat angannya melayang. Sementara sang gadis sesekali melirik salah tingkahnya sambil tersenyum kecil. Harum wangi parfum chanel tercium dikibaskan putaran fan yang tergantung dilangit-langit gerbong.

Ingin rasanya Adrian berkenalan dengan gadis yang ada disampingnya itu. Namun urung ia lakukan, karena tiba-tiba ia teringat wasiat dari sohib kuliahnya dulu. Sabroni Taksin bin Khidmat, pemuda berambut kriting dan berkulit hitam manis asal Tebu Ireng Jawa Timur.
”Inget pesen aku Ad, kalo kamu ingin gadis yang kamu taksir itu bisa luluh hatinya. Resep pertama, jangan kau tanya namanya dulu. Bersikaplah agar kau tak perlu tau siapa dia, tapi ikatlah hatinya”
”Semprul juga resepmu Sab. Gimana caranya ?”
”Ajak bicara dengan penuh kelembutan dan lugas”
”Nah lho, bagaimana juga bisa ngobrol lugas tanpa kenal namanya ?”
”Hidup ini tidak seperti Black or Whitenya Michael Jackson kawan”, kilahnya mengilustrasikan sambil menggoyangkan bokongnya yang seksi.
”Taelaa. Maksudmu Sab ?”
”Pertemuan pertama, buatlah kesan baik. Fokuskan pada pembicaraan yang menarik. Jangan kau tanyakan tentang asal-usul dia, apalagi kisah utang piutang dan mantan pacarnya dulu. Pantang untuk kau tanyakan!”
”Lalu, apa yang harus aku obrolkan Sab ?”, tanyanya makin penasaran.
”Apapun yang bisa menarik perhatian”
”Contohnya ?”
”Suatu ketika engkau bertemu seorang gadis di bandara”.
”Lalu ?”
”Maka bicaralah tentang indahnya perjalanan. Jangan engkau bicara tentang Pemilihan Kepala Daerah atau Program Transmigrasi dan reboisasi pemerintah. Dijamin ga akan menarik”, paparnya bak motivator ulung.
”Hahaha. Kalau bertemu di dalam bioskop ?”
”Sebaiknya engkau diam!”
”Hahaha. Lalu ?”
”Pertemuan kedua, ciptakan situasi agar engkau bertemu dengannya seolah-olah tak disengaja”
”Selanjutnya ?”
”Disinilah letak seni sesungguhnya. Semakin hal itu terlihat alami, maka akan semakin mantab!”
”Mantap, Sab!”
”Ya, mantap”.

Adrian tersenyum mengingatnya. Tak lama para penumpang lain mulai memenuhi kursi yang masih kosong, sebagian berdiri dan memasang kursi lipat ciri khas penumpang kereta. Keretapun mulai dipenuhi penumpang. Menit demi menit berlalu, pintu otomatis mulai menyibakkan keangkuhannya, tanda kereta akan melaju. Seiring dengannya komando dari pemantau memberikan sinyal jalur aman untuk keberangkatan kereta jalur tiga.

“Jalur tiga aman. Masinis, kereta ekspres tujuan Jakarta Kota silakan berangkat”.

Klakson berbunyi dan roda-roda besipun mulai berputar perlahan meninggalkan peron. Laju kereta perlahan semakin cepat dan mulai bergoyang-goyang. Suara-suara bel pintu lintasan mulai terdengar menandakan KRL sudah melaju jauh meninggalkan stasiun Bogor yang dibangun sejak tahun 1881 itu.

Kurang lebih satu jam lama perjalanan kereta dari stasiun Bogor hingga Gambir. Gesekan roda-roda baja dan suara mesin berpadu ria bak irama orkestra klasik tak beraturan.
Meski lumayan lama, setidaknya Adrian tetap berterimakasih kepada para pekerja rodi yang berjasa karena telah membentangkan rel pada tahun 1869-an di era Gubemur Jenderal Hindia Belanda P. Myers itu. Tentu tidak sedikit pekerja paksa yang mati dan terkapar disepanjang rel. Lintasan KRL itu dibangun diatas cucuran air mata dan darah.

Konon, jalur kereta api Jakarta – Bogor dulu dikenal dengan jalur Batavia-Buitenzorg. N.I.S atau kepanjangan dari Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij adalah sebuah perusahaan kereta api swasta yang mulai membangun jalur pada 15 Oktober 1869. Kala itu, sang Gubernur Jenderal Rochussen mempertimbangkan bahwa jalur Batavia-Buitenzorgh juga merupakan jalur penting untuk mengangkut hasil kopi dan teh selain juga sebagai pusat pemerintahan kolonial. Konon pula, dari hasil penelitian tim Kerajaan Belanda, jalur Batavia-Buitenzorgh terbilang rawan, khususnya rawan terhadap perlawanan dari para tuan tanah dan anak buahnya. Akhirnya jalur itu terealisasi pada tahun 1869 dan memerlukan waktu selama empat tahun untuk menyelesaikan bentangan rel sepanjang lima puluh delapan kilo meter atau kurang lebih setara dengan lima puluh delapan ribu meter. Jarak yang lumayan jauh kala itu. Tentunya pembangunan itu diprakarsai pemerintahan kolonialisme Belanda, masa kejayaan para kompeni dan kompeniwati, namun masa menyakitkan bagi pribumi.

***
Tak lama, KRL memasuki sebuah terowongan. Berarti stasiun Cawang sudah di depan mata. Persinggahan stasiun berikutnya Tebet dan Manggarai. Sejumlah penumpang sudah bersiap-siap untuk turun di stasiun besar itu. Pintu otomatis terbuka dan sebagian penumpangpun bergegas turun. KRL sudah tiba di stasiun besar Manggarai.

“Sudah sampai Manggarai Mba!”, Adrian membuka pembicaraan sekedar berbasa-basi.
“Iya mas”, seraya tersenyum. Suasana tetap kaku.
Adrian bersiap-siap untuk turun setelah keretanya berhenti di stasiun Gondangdia karena pemberhentian berikutnya Gambir.
“Ayo mba, kita siap-siap. Sebentar lagi sampai di Gambir”
“Terimakasih mas”, ujar gadis itu sambil merapikan kabel earphone yang tersambung ke handphonenya.
Kereta berhenti dan mulai mengeluarkan isi badannya di stasiun hijau itu. seiring Seiring penumpang lainnya, keduanyapun berjalan menuruni anak tangga stasiun besar itu.

“Mas, Saya duluan ya”, ujar gadis itu sambil melempar senyum. Adrianpun membalasnya.
“Eh, iya..iya..oh, hati-hati ya..”
”Terimakasih”
”Mmm..”
”?”
”Oh ya..Hati-hati..”, jawabnya kikuk.
”Daagh..”, lambainya sambil tersenyum.

Maksud hati ingin menanyakan nama sang gadis itu, namun apalah daya. Adrian seolah dibentengi doktrin Sabroni yang membelenggu lidahnya. Ia hanya mampu membalas senyumnya dengan lekat.

Senyumnya terlihat manis. Bibirnya merah indah merekah bagaikan kelopak bunga rose di pagi hari. Rambutnya terurai indah mengkilat bak bidadari yang turun dari langit keempat. Dihiasi hidungnya yang mancung berdiri kokoh bagaikan piramida mesir, angkuh namun mengesankan. Barisan bulu halisnya nampak rapat menghitam bagaikan semut jambu air berpelukan. Kulitnya kuning langsat laksana buah pir matang yang ranum nan manis. Ditambah postur tubuhnya yang ideal, tinggi semampai dengan betis berisi bak padi menguning. ”Ohh…nyaris sempurna”, puji Adrian.

Gadis itu langsung menghampiri taksi yang parkir. Perlahan taksi itu meninggalkan Adrian yang masih berdiri disana. Postur tinggi semampai itu berlalu dan hilang dari hadapannya.
“Duh, siapa namanya ya dia ?? “, gerutunya sambil berharap teori Sabroni Taksin bin Khidmat bakal mujarab dan esok bisa berjumpa lagi. Senyum tersungging dibibirnya. Ruang hatinya mendadak full color, bak taman bunga dipagi hari yang cerah selepas hujan sore kemarin.

| Bagian Kedua |

Rabu pagi Adrian ingin segera tiba di stasiun Bogor. Hatinya berharap bisa berjumpa lagi dengan gadis yang bareng bersamanya kemarin. Sebuah Kawasaki Ninja 250R merah mulai menggeliat di halaman rumahnya. Pagi yang dingin itu tak membuatnya mengkerut. Semangat dan harapan bergelora dalam hatinya semakin tumbuh. Berharap ia kembali bertemu dengan seseorang yang telah menawan hatinya itu. Gadis kereta, yang baru ia jumpai kemarin. Entah siapa namanya.

“Bu, Adrian berangkat dulu”
“, Hati-hati Ad”
“Ya bu”
“Sudah sarapan ?”
“Nanti sarapan di kantor saja bu”
”Kenapa ?”
”Takut tertinggal kereta bu”
”Ya sudah. Hati-hati di jalan, Jangan ngebut bawa motornya”, pesan Ibunya sambil mengulurkan tangannya. Adrian menciumnya.
“Iya bu”, iapun berlalu.

Adrianpun beranjak dari rumahnya menuju stasiun. Keluar dari pintu gerbang perumahan Graha Yasmine, ia langsung tancap gas. Ninja Passion Red dengan tipe mesin empat-stroke dua cylinder itupun mulai berlari. Dari rancy panel terlihat jarum speedometer mulai beranjak mendekati angka seratus kilo meter per jam. Adrian ingin menancapnya lebih kencang lagi, namun ia teringat pesan Ibunya agar jangan ngebut. Kembali ia urungkan untuk menarik gas itu. Cukup dua belas menit untuk sampai didepan stasiun. Segera ia parkirkan kuda besi yang telah mengadopsi mesin DOHC itu.
Sesampainya di dalam KRL Ia berusaha untuk duduk ditempat yang tak jauh beda dengan kemarin. Berharap moment kemarin terulang kembali, begitu Sesuatunya pertemuan kala itu. Menit demi menit berlalu. yang ditunggu tak kunjung tiba. Perlahan, gerbong KRL mulai dipenuhi penumpang. Adrian gelisah. Berulangkali wajahnya menengok ke kanan dan kekiri.

“Duh, where is she ? Koq ga ada?”, gerutunya dalam hati. Seolah-olah ia sedang menunggu seseorang yang sudah pasti akan menghampirinya. Sejenak kesadarannya muncul.
“Hmm..mana dia tahu kalau aku menunggunya disini ?”. Bisa saja dia sudah berada di gerbong satu atau dua. Bisa pula di gerbong empat, lima, enam bahkan delapan. ”Akh,…”, Adrian garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.

Ia tarik napas dalam-dalam, sambil tersenyum kecil. Ia lihat disekelilingnya tak nampak sosok yang dinantinya. Sementara orang-orang mulai mengisi bagian kursi yang masih kosong.

”Maaf dik, geser sedikit dong”, ujar seorang perempuan tua yang nampak kerepotan dengan tas travel besarnya. Adrian tersenyum dan membantunya. Harum semerbak balsem cap lang yang berkolaborasi dengan minyak angin cap kapak menyapa hidung Adrian dengan ramahnya.
”Terimakasih dik”
”Sama-sama nek”, balasnya.
”Adik turun dimana ?”, tanyanya.
”Gambir nek !”
”Ooh…Sama dong. Saya juga turun di Gambir koq”,
“Ooooh yaaa ?”, balas Adrian telat, karena terpana. De-ja-pu, eh deja vu, pikirnya.

Tak lama KRL pun mulai meninggalkan stasiun.
Hari itu Adrian gagal bertemu dengannya. Mungkin esok atau lusa masih ada kesempatan. Diantara goyangan nakal gerbong kereta, perempuan tua itu mulai terlihat mengantuk. Entah sudah berapa kali ia menguap. Dengan sigap, Adrian sempat menahan nafas. Seiring waktu, sesekali perempuan tua itu menyandarkan badannya ke bahu Adrian. Dua, tiga kali Adrian maklum. Keempat dan ketujuh kalinya, Adrian sempat membalasnya.
***

Rabu tak berjumpa, Kamis tak beruntung. Jum’at pagi itu berharap ada kesempatan untuk bersua. Seperti biasanya ia sudah berada diatas KRL gerbong tiga. Yang ditunggu belum kunjung tiba. Sementara itu tiga orang pengamen beraksi dengan alat musik seadanya. Satu gitar akustik, satu gitar bass betot sebesar anak sapi dibelai mesra dan satu lagi alat perkusi minimalis. Meski mirip parade tanjidor asuhan Pak Tile ala betawi, but the show must go on. Nyanyianpun mulai terdengar. Nyaris sempurna nada-nada yang dimainkan. Sebuah alunan lagu Iwan Fals mengalun kompak diatas rangkaian kereta tujuan Jakarta Kota itu.

Adrian hafal betul nyanyian itu, bahkan ia tahu dari kunci D lagu itu dimainkan, tepatnya nada kedua dalam skala C mayor. Liriknya seakan mewakili perasaannya.
“Kumenanti seorang kekasih, yang tercantik yang datang di hari ini. Adakah ia kan selalu setia…bersanding hidup penuh pesona.
Andai, kau tak datang kali ini …musnah harapanku”, Adrian terhanyut dibelai mesra lantunan para pengamen. Dua kali lantunan reff lagu itu menghiburnya. Namun, belum usai lagu itu dimainkan, sesaat pandangannya tertuju pada seseorang. Tiba-tiba sekelilingnya nampak bergerak lamban dan tak bersuara. Bagaikan disetting slow motion and mute. Warna sephiapun merubah objek-objek seisi kereta hingga kepojokan.

Seseorang nampak berjalan dari pintu gerbong dua. Sosok yang dinantinya itu hadir. Tatapannya tak lepas, dag-dig-dug rasanya, persis hierarki verb1-verb2-verb3 dalam tatabahasa inggris. Ia datang menyihir hati Adrian dan sekitarnya. Seketika deretan penumpang yang sedang duduk seolah-olah berubah menjadi rumput alang-alang hijau yang dipenuhi bunga indah. Sementara para penjaja koran pagi terlihat bak kupu-kupu lucu dan belalang nakal yang bertebaran kian kemari. Gadis itu berjalan dengan senyum merekah segar. Sesegar embun pagi. Rambutnya melambai bagai dikibaskan angin pegunungan, meski sebetulnya berasal dari kipas angin yang tergantung dekat langit-langit gerbong. Adrian menyambutnya dengan riang. Dirinya serasa melayang, “Selamat datang gadis yang kunanti”, ucapnya dalam hati.
Gadis impiannya itu melangkah dengan santainya. Langkahnya anggun. Senyum Adrian semakin sumringah, lebih sumringah dari seorang mahasiswa yang sukses memperbaiki nilai D mata kuliahnya. Tatapannya tak berkedip sama sekali. ”Yes, She’s coming!”, riangnya dalam hati. Jemari-jemarinya mendadak dingin. Pucuk dicinta, buah pun tiba. Bagaikan cinta pertama yang menggoda. The first love is the eternal love and the only one’s turn up from the people heart. Berbagai ungkapan seakan cocok menggambarkan apa yang dirasakan Adrian pagi itu. He falling in love.
Tiba-tiba…

”Dreeett….Dreeeet !!…..”
“Tsamina mina zangalewa
Cause this is Africa
Tsamina mina eh, eh
Waka waka eh, eh
Tsamina mina zangalewa
This time for Africa…..”

Ringtone Waka-waka-Shakira nyaring terdengar dari saku celana penumpang sebelah mengaburkan hayalannya. “Klik!”. Adrian segera tersadar dan kembali ke dunia nyata.

Gadis itu berlalu dihadapannya. Acuh berjalan dengan santainya menuju gerbong empat, Adrian bimbang. Tetap stay on atau bergegas mengikutinya. Keputusan singkat diambil, Ikuti bro!, kesempatan ini terlalu indah untuk dilewatkan. Meski nyaris lupa mengambil tas yang ia simpan di kabin atas KRL itu.
Ia tak ingin kesempatan untuk berjumpa dan kenalan dengannya kandas lagi seperti dua hari kemarin. Teori Sabroni bin Khidmat pantang untuk dilanggar, namun improvisasi kadang diperlukan. Finally, Ia dapati gadis itu telah duduk di deretan kursi yang masih kosong. Dengan pura-pura cuek namun meyakinkan Ia hampiri gadis itu dan duduk disebelahnya.
“Pagi Mba ?”, gadis itupun menoleh.
“Eh pagi juga”. Sejenak bengong. Adrian tersenyum.
“hmmm…Ini mas yang waktu tempo hari itu ya ?”, seolah memastikan
“Iya mba…”,jawab Adrian.
“Ini mba yang kemarin juga ya ?”,tanya Adrian berpura-pura ragu. Padahal sudah berhari-hari gadis itu dinantinya.
“Iya. Apa kabar mas ?”
“Baik. Mba sendiri ?”,
“Baik juga”
“Boleh duduk disini?”, tunjuknya basa-basi.
“Bolehlah mas, bukan punya saya koq”
“Hehehe..syukurlah. eh, upss.. maaps”
“Hmmm”, sambil mendelik.
“Oh ya, boleh kenalan ?”
“Boleh”, jawabnya.
“Hmm..Ss…Sa..saya..Ad..”
Tiba-tiba handphone sang gadis berbunyi.
“Sebentar ya mas”, pintanya. Adrian mempersilakan, meski sempat dongkol.
“Hallo…, eh Rin. Gue di gerbong empat. Loe dimana?. Dua. Oooh.. ya udah. Loe kesini cepetan, sebelah gw kosong koq”
“Kosong?”, Adrian bengong.
Tak lama. “Rin…Gue sebelah sini…halo-halo…..oooii..oiii…”, serunya sambil melambaikan tangan, yang dipanggilpun tertawa saat melihat lambaian sang gadis itu. Walhasil, temannya itu bergegas menghampiri. Adrian hanya terbengong ria menyaksikan keduanya.
“Lo disini toh? Ngumpet aza kayak speaker hape”, ledek Riensi Tampubolon yang posturnya persis Tika Panggabean itu. Berbadan dan berjiwa besar.
“Loe kalee..”
“Eh, maap ya bang. Boleh geser dikit?” pintanya jutek kepada Adrian. Adrian hanya bengong melihat keduanya.
“Eh, ups…hmm …boleh..boleh…”, jawab Adrian yang nyaris kejepit paha si perempuan besar itu. Mata Adrian mendelik, ia merasa seolah-olah menara Pagoda berada disampingnya.
“Makasih”
“Hmmmm..iya..iya”, jawabnya menirukan lelaki tempo hari itu. Sebuah sinyal tak rela. Gatot Asli, alias gagal total ada sabotase lagi. Kini ia terpisahkan dengan gadis yang baru didekatinya itu. Ia merasa menyesal telah melanggar pesan keramat dari Sabroni.
“Eh, kerja dimana loe rin?”
“Jakarta”
Dah lama?”
“Baru setaon setengah. Loe sendiri?”
“Gue baru juga seminggu”
“Oo..berarti loe baru dong jadi penghuni kereta”
“Gitu dech”
“Enak sih naek kereta. Lebih cepat dan nyaman”
“Oh ya?”
“Tapi ya tetep harus hati-hati juga”
“Maksud loe?”
“Ya hati-hati aza. Pas naeknya kek, pas turunnya kek. Pas milih jurusan keretanya kek. Dan yang lebih penting, kalo kereta dah jalan jangan coba-coba dikejar. Gue jamin, dia gak akan nungguin loe. Dia akan tetap melaju dengan pendiriannya..hehehe”
“Gila loe!”
“Eh rien. Gue mo ngomong?”
“Apaan?”
“Ssstt…sini kuping loe”.
“Bujug dah. Nape sih pake minta kuping gue segala ?
“Gini…hhmmm..”
“Apaan sih?”
“Mmm itu..cowok diseb..
“ Hahahahaha..!”
“Hussstt…belom selesai gue ngomong!”, potong Destina sambil nginjek kaki Riensi yang keras mirip bambu betung itu.
“Iya..iya…apaan?”, sambil mendekatkan kupingnya.
“Cowok disebelah loe itu…mmm..tadi..”
“Akh lama loe…be-be-em aza cepetan”
“Iya..iya. Tumben loe cerdas”
“Et’dah…ni anak belum pernah keselek knalpot kereta kalee ya. Udah cepetan!”
“Iya, nech gue ketik”.
“Ting, Tong”. Tak lama.
“Huahahahahaha”
“Husstt..berisik. malu-maluin loe, ketawa persis preman kuburan”
“Hihihihihihi……emang enak!”, sindirnya sambil melirik kearah Adrian.
“Husss!”
Walhasil acara perkenalan Adrian dengan sang gadis itu urung terlaksana. Tak lama KRL pun melaju. Keduanya semakin asyik mengobrol ngalor ngidul, berbagi cerita dan pengalaman. Bahkan semakin seru menggosipkan sahabat-sahabat mereka dulu. Mulai dari kisah si Rehani Tembagawati yang tigakali dilamar duda kaya raya asal Tanjung Redeb hingga kisah malang Sohiman Katrol pemuda asal Sleman yang menelan sendok bebek alumunium . Mereka nampak seperti sedang syuting acara pertemuan tali kasih seorang anak dan ibunya yang terpisah selama tujuh tahun.
“Coba loe bayangin nasib si Rehani, dia dijodohin paksa sama orang tuanya”
“Jodohin paksa?”
“Iya…dipaksa!”
“Masa sihh??”
“Iya, gue ga bohong. Ntu anak sesegukan dipojok kamar gue.”
“Dijodohin sama siapa?”
“Duda kaya?”
“Ganteng ga?”
“Bujug dah. Si Rehani bilang, Cuma beda tipis sama kuda nil”
“Hihihihi..Jahat loe!”.
“Beneran. Sumpeh dah gue ga bohong. Biar gue disumpain mirip puteri salju , gue ikhlas”!
“Et’ dah.”
Riensipun semakin heboh menceritakan sosok duda kaya itu. Ya, Baskoro, seorang duda kaya raya yang hidup penuh kemewahan. Usianya sudah menginjak empat puluh tujuh tahun. Tepatnya empat puluh tujuh tahun koma enam bulan dua belas hari. Sebuah perbedaan usia yang cukup jauh untuk disandingkan dengan Rehani Tembagawati yang cantik jelita dan masih berusia dua puluh tiga tahunan. Baskoro bertubuh gempal dan warna kulitnya bagaikan sore menjelang maghrib. Rambutnya selalu klimis dan disisir rapi menghadap kekiri, berkat minyak rambut Tancho yang mujarab. Perutnya terlihat lebih subur dan buncit dari pria kebanyakan, mungkin efek dari nafsu makannya yang tinggi.

Warna baju kesukaannya adalah ungu dan kancing atas selalu dibiarkan terbuka. Pakaiannya selalu ia padukan dengan stelan celana warna hijau. Batu akik kecubung warna ungu seukuran biji mata kerbau selalu setia di jari telunjuk kanannya. Untaian kalung emas duapuluh empat karat dengan bandul hati bertuliskan Mr. Juragan selalu tergantung dilehernya. Kalung warna kuning terang itu kontras sekali dengan warna latar kulitnya yang agak gelap. Gaya bicaranya khas, yakni selalu diiringi dehem-dehem yang sebetulnya tidak perlu. Bibir kirinya terkadang mengerenyit berulang, persis anak kerbau yang hidungnya diklitikin gembala iseng. Duh, musibah apa yang akan dialami Rehani Tembagawati andaikata ia jadi dipersunting dan menjadi permaisurinya. Ayah Rehani tidak peduli dengan semua itu, yang ia lihat hanyalah harta kekayaan orang tuanya yang berlimpah dan bisa menjamin hidup. Apalagi hidup dijaman seperti ini, materi adalah segalanya.

Juragan Basko, begitu nama panggilannya. Ia selalu ditemani dua orang bodyguardnya. Satu orang sebagai sopirnya dan satu lagi sebagai ajudan khususnya. Keduanya bertampang sangar. Badannya besar dan berotot kekar. Satu orang yang selalu dipanggil Jack Gempur memiliki tato kalajengking di lengan kanannya dan bertuliskan “Kill” di dadanya. Kawan satunya lagi memiliki panggilan Black Man. Ia selalu berkacamata hitam dan memiliki tato gambar laba-laba berkaki tujuh merayap di lehernya. Selain itu di dadanya terpampang tato yang bertuliskan “Jagal”. Ia selalu patuh mengantar Baskoro dengan Jaguar seri FX hitam metalixnya kemanapun majikannya mau.

“Duh kasihan temen kita ya Rien”,
“Iya. Kita harus menyelamatkannya dari belenggu penjajahan baru ini”
, sungutnya berapi-api.
“Tapi bagaimana juga caranya ?”
“Iya ya ??”. Keduanya berfikir keras mencari solusi. Sejenak terdiam. Tiba-tiba.
“Naaah!! Gue ada ide!”
“Apaan Rien ?”
“Gimana kalo kita culik aza si Rehani !”
“Kebalik dong akh!. Seharusnya yang kita culik itu duda nil itu ?”
“Emang loe berani ?”
“Ya enggak lah!”
“Brrrrrrrttttt….”

Keduanya kembali berpikir keras. Namun tak ada satupun solusi jitu yang ditemui. Hingga akhirnya keretapun berhenti di stasiun tujuan.
=============== to be continue ==================================================

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Pudarnya Pelangi Destina | Bagian Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s