Pudarnya Pelangi Destina | Bagian Tiga

Lanjutan Bagian Ketiga

”Aku tidak mau menikah dengan lelaki itu. Dia tak pantas buatku, dan Aku tak mencintainya”, seru Destina.
”Tidak bisa!. Papa tidak memberi kamu pilihan. Kamu harus menuruti
perintah Papa”, hardik Papanya.
”Aku tidak mau pah!, Aku sudah punya pilihan sendiri”
”Harus!”
”Kenapa aku yang harus menuruti Papa?”
”Aku sudah membesarkanmu dengan kecukupan. Semua keinginanmu, Papa penuhi. Sekarang giliranmu untuk menuruti perintah Papa”.
”Tapi untuk permintaan ini aku tidak bisa pah!”
”Papa tidak memberikan kamu pilihan. Buat apa kamu pacaran sama Adrian, yang masa depannyapun belum jelas!”
”Mamaaaa…..Aku tidak mau maaaah!”, Destina menubruk mamahnya dan memeluk erat diiringi tangisannya yang pecah hingga kesudut-sudut ruangan.

”Sabar sayang. Mama akan bilang sama Papamu. Mama juga tak setuju..tapi sabar ya sayang, Papamu sangat keras”.
”Tapi aku mau menikahnya sama Adrian. Aku tidak mau menikah dengan lelaki itu. Tolong maaah”, Destina semakin erat memeluk ibunya. Isak tangis ibunya menambah keharuan dua gadis itu.
”Pah, kenapa harus memaksakan sih ? biarkan Neng memilih jodohnya sendiri. Dia khan sudah dewasa”, ujar Mamanya.

”Pokoknya tidak ada yang boleh menentang perintahku. Sekalipun mama!”, bentak Hendratmo sambil membanting pintu dengan keras. Tinggal mereka berdua yang menangis tersedu-sedu.

***
Hendratmo Subagja, Ayah Destina. Adalah seorang sosok yang keras dalam memimpin keluarganya. Dulu ia adalah seorang pengusaha sukses yang banyak memiliki kekuasaan atas perusahaan yang dipimpinnya. Sikap otoriter yang dijalankan dalam perusahaannya bias kedalam aturan rumah tangga. Meski hidup berkecukupan bahkan berlebih, akan tetapi Destina merasakan kekurangan dalam hidupnya. Seperti ada yang tak lengkap dalam hidupnya. Hendratmo menikahi Desi Soesilawati sejak tiga puluh lima tahun yang silam. Pertemuannya berawal ketika ia menjadi seorang kepala cabang sebuah perusahaan untuk wilayah Kota Bogor.

Singkat cerita, siang itu Hendratmo harus melakukan presentasi mengenai prospek pasar kota Bogor dalam rangka launching produk otomotif terbaru. Ia harus bisa memaparkan strateginya dalam meningkatkan kuantitas penjualan mobil produk Jepang. Hendratmo telah mempersiapkan materinya dengan baik, bahkan dua hari sebelumnya materi tersebut telah rampung dikerjakannya. Segala kemampuan dikerahkannya untuk menganalisis segala persoalan yang berkaitan dengan pemasaran produk otomotif. Komponen bauran pemasaran (marketing mix) dianalisis dan dikombinasikan seperti aspek produk, harga, sistem distribusi dan promosi sejalan dengan karakter kota hujan sebagai sebuah kota kecil metropolitan. Hendratmo merasa optimis dengan strategi yang akan dijalankannya. Hingga menjelang tiba saatnya ia harus melakukan presentasi didepan para pimpinan dari kantor pusat. Beruntung sekali, Hendratmo mampu meyakinkan pimpinan dengan persentasinya yang luar biasa. Kepercayaan perusahaan tumbuh kepada Hendratmo. Iapun mulai menjalani karirnya dengan gemilang. Kesuksesan demi kesuksean diraihnya dengan cepat. Ia mampu menaikkan omzet penjualan dengan baik. Tak segan-segan, perusahaanpun banyak memberikan apresiasi kepadanya. Hendratmo semakin sukses di dunia karirnya. Kesuksesan karirnya itulah yang mempertemukan ia dengan salah seorang anak gadis pimpinannya itu.

Apa pasal sehingga Hendratmo begitu ngotot memaksa putri semata wayangnya untuk dikawinkan dengan lelaki yang dijodohkannya, Baskoro. Ya, Baskoro, seorang anak pengusaha kaya raya yang hidup penuh kemewahan. Usianya sudah menginjak kepala tiga, tepatnya tiga puluh tujuh tahun. Sebuah perbedaan usia yang cukup jauh untuk disandingkan dengan Destina yang cantik jelita dan masih berusia dua puluh tiga tahun. Baskoro bertubuh gempal, kulitnya tidaklah seterang Adrian. Rambutnya selalu klimis dan disisir rapi menghadap kekiri. Perutnya terlihat lebih subur dan buncit dari pria kebanyakan, mungkin efek dari nafsu makannya yang tinggi .

Warna baju kesukaannya adalah ungu dan kancing atas selalu dibiarkan terbuka. Pakaiannya selalu ia padukan dengan stelan celana warna hijau. Batu akik warna merah hati seukuran biji mata kerbau selalu setia di jari telunjuk kanannya. Untaian kalung emas duapuluh empat karat dengan bandul hati bertuliskan Mr. Juragan selalu tergantung dilehernya. Kalung warna kuning terang itu kontras sekali dengan warna latar kulitnya yang agak gelap. Gaya bicaranya khas, yakni selalu diiringi dehem-dehem yang sebetulnya tidak perlu. Bibir kirinya terkadang mengerenyit berulang, persis anak kerbau yang hidungnya diklitikin gembala iseng. Duh, musibah apa yang akan dialami Destina andaikata ia jadi dipersunting dan menjadi permaisurinya. Hendratmo tidak peduli dengan semua itu, yang ia lihat hanyalah harta kekayaan orang tuanya yang berlimpah dan bisa menjamin hidup. Apalagi hidup dijaman seperti ini, materi adalah segalanya.

Basko, begitu nama panggilannya. Ia selalu ditemani dua orang bodyguardnya. Satu orang sebagai sopirnya dan satu lagi sebagai ajudan khususnya. Keduanya bertampang sangar. Badannya besar dan berotot kekar. Satu orang yang selalu dipanggil Jack Gempur memiliki tato kalajengking di lengan kanannya dan bertuliskan “Kill” di dadanya. Kawan satunya lagi memiliki panggilan Black Man. Ia selalu berkacamata hitam dan memiliki tato gambar laba-laba merayap di lehernya. Selain itu di dadanya terpampang tato yang bertuliskan “Jagal”. Ia selalu patuh mengantar Baskoro dengan Jaguar seri XF hitam metalixnya kemanapun majikannya mau.

***

8

Suatu ketika, Hendratmo kedatangan tamu penting bagi perusahaannya. Dia adalah salah seorang pengusaha kaya. sebagai seorang mitra sekaligus pelanggan penting, dia termasuk pelanggan prioritas karena pengusaha itu pernah membeli empat belas unit mobil kepada dealernya. Tentu saja penjualan yang lumayan banyak dalam satu waktu menjadi prestasi Hendratmo sebagai seorang kepala Cabang. Hubungan itu berlanjut lebih akrab.

Ketika itu Hendratmo tengah memberikan pengarahan terhadap para manajer sales dan salesman yang baru direkrutnya itu. Tiba-tiba, Riska sekretarisnya mengetuk pintu ruang training dan meminta waktu Hendratmo sejenak.

“Maaf pak, mengganggu sebentar. Ada telpon dari pak Baskoro. Beliau masih menunggu”, ujar gadis asal Yogyakarta itu.
“Pak Baskoro ?”
” Iya pak”, jawab Riska. Seketika, tanpa dikomando tatapan peserta training tertuju pada sekretaris yang berparas cantik itu, Riska Ayu Selasih.
hendratmo memang berpesan pada sekretarisnya itu bila ada customer prioritas harus diutamakan. Sekalipun dia sedang meeting, pokoknya harus dikonfirmasikan kepada dirinya.

Hendratmo mencoba mengingat kembali dari sekian banyak klien potensial yang pernah dikunjunginya. Ya, baskoro adalah salahsatu klien yang dikunjunginya minggu lalu. ia adalah seorang pengusaha yang memiliki jaringan yang luas. Dengan segera ia langsung menuju ruang kerjanya. Riska mengikutinya.

“Halo. Selamat siang Pak baskoro. Apa kabar ?”, jawabnya ramah.
“Baik pak!” jawab Baskoro diujung telepon.
“Pak Hendratmo, saya perlu empat belas unit kendaraan pick up seri terbaru yang bapak tawarkan kemarin” ujar seorang lelaki diujung telepon.
“Oh ya?” Hendratmo kaget.
Saya butuhkan untuk usaha Saya yang baru. Mohon segera dikirim Kamis besok”
“Empat belas ? Kamis besok ?” hendratmo hampir tak percaya mendengarnya.
“Iya. Empat belas unit. Kenapa pak ? bisa ? ”
” Tttentu..saja bisa pak !. sebentar pak, saya catat dulu”, jawab hendratmo sambil memberikan isyarat agar Riska siap mencatat pembicaraannya. Riskapun tanggap.
“Warnanya pak ?”
” Hitam”
“Baik pak, Saya akan urus secepatnya” ujar Hendratmo.
“Pembayarannya akan diurus oleh sekretaris saya. Termasuk surat-surat kendaraan dan lainnya. Saya minta dipastikan sudah bisa beroperasi dalam waktu singkat”
“Siap pak. Akan saya urus segera”, Janji Hendratmo.
Untung saja, pak Baskoro meminta warna hitam. Kalau warna lain tentu perlu waktu lebih” ujarnya kepada Riska.
Riskapun tersenyum.
“Yes!” Hendratmo mengepalkan tangannya tanda sebagai simbol kegembiraan.
“Ris, Untuk kebersamaan, kalian aku traktir makan siang. Kamu cek restoran jepang dan booking segera”
“Oke pak”, Riskapun mengontak sebuah resto jepang yang ada di jalan Pajajaran.
***
Disebuah resto jepang.
“Ayo donk sikat lagi, kalian kutraktir sampai puas”,ujar Hendratmo kepada anak buahnya.
“Iya bos. pengennya sih, tapi udah ga bisa nampung lagi nich”, ujar Pramono yang tak kuat lagi berdiri karena perutnya semakin buncit.
“Hahahaha….baru saja mulai masa sudah KO. Payah nich..” ledek Hendratmo.
” Iya bos, lihat aza mukanya dia..dari mulai wajah berwibawa, lalu jadi bloon, berwibawa lagi..lalu jadi terlihat tambah bloon seperti sekarang. Saking kenyangnya”, ledek Sudarso, pria tambun asal Surabaya ini yang disambut gelak tawa rekan-rekannya.
“Dasar wong edan..”, balas Pramono.
“Kamu juga ris, makannya imut banget”, ledek Sudarso lagi kepada Riska.
“Maklum harus jaga penampilan. Takut menggelembung badannya”, sindir Hendratmo.
“Hihihi..Bapak bisa aza”, kilahnya sambil tersipu malu. Hampir saja ia keselek jus jeruk.
“Hehehe..bener bos, kalo menggelembung nanti disangka ikan mas koki. Cantik tapi gemesin, alias geboy sana geboy sini, Kalo lewat di depan euleuh-euleuh…eta meni gubal-gabel”, celetuk Eman Sulaeman, bujang lapuk asal Ciwidey Bandung itu.
“Hahahaha..kekekekeke..xixixixixixi..”, Semuanya terbahak-bahak saking gelinya melihat tingkah polah eman yang memperagakan gaya sicepot, rahang naik turun dan mata membelalak.
“Husss…itu sih pacar loe man. Kalo Riska sih tetap seksi, cantik dan imut”, bela Hasan Marbun, pemuda kelahiran tanah batak yang pernah tiga kali menyatakan cintaya, namun Riska telah menolaknya hingga empat kali. Walhasil, Hasan merasa mati langkah untuk menyatakan sekali lagi. Skak mati.

Lain hal bila yang merayu itu Hendratmo, Riska hanya mampu mesem-mesem sambil tersipu malu, kadang salah tingkah. Pernah suatu hari ia dirayu ketika diminta lembur hingga pukul sembilan malam untuk membuat satu laporan oleh Hendratmo. Saat itu kantor terlihat sepi karena sebagian karyawan sudah pulang, tinggal mereka berdua di ruangan. Hendratmo memanfaatkan kesempatan itu untuk lebih dekat dengan sekretaris kesayangannya itu.
“Ris, biaya promosi kita bulan ini berapa persen ya kenaikannya dibandingkan dengan bulan lalu?”, sambil wajahnya didekatkan dengan kuping riska, kurang lebih sepuluh sentimeter. Pasalnya Hendratmo mengambil kesempatan itu sekalian memandang layar monitor yang dioperasikan Sekretrisnya itu. Riskapun merasa kikuk dengan sikap bosnya itu, namun ia bingung harus bagaimana. Karuan saja, Riska mencium aroma bau rokok setiap kali Hendratmo berbisik. Sedangkan Hendratmo merasa beruntung dengan situasi ini karena bisa mencium aroma wangi tubuh Riska, Hendratmo mulai menjadi bajingan kecil.

beauty secretary
“Saya print kan saja ya pak. Maaf saya nyalakan dulu printernya”, ujarnya sambil beranjak karena mulai merasa risih dengan tatapan nakal bosnya itu. Pasalnya berkali-kali ia harus menurunkan roknya yang semakin naik kala ia duduk di kursi kerjanya.
“Kamu cantik sekali Ris”, bisik Hendratmo melancarkan serangan saat ia menyerahkan hasil print outnya.
“Ah Bapak. Laporan kita belum selesai lho pak”, tukas Riska mengalihkan pembicaraan secara halus, karena bagaimana mungkin ia bersikap keras kepada bosnya itu. Hendratmo sangat memperhatikan Riska, gaji yang lumayanpun didapatinya atas kebaikan Hendratmo. Tentu bukan tanpa alasan Hendratmo memberikan kenyamanan bagi Riska untuk tetap menjadi sekretarisnya. Baginya, sayang sekali bila gadis secantik dan seseksi riska harus pindah ke tempat yang lain. Paling tidak, setiap pagi Hendratmo bisa memandang kecantikan Riska yang aduhai. Sebagai seorang lelaki normal tentu wajar bila ada ketertarikan dari dirinya kepada seorang wanita cantik sekelas Riska. Tapi untuk seorang Hendratmo, tentu terlihat janggal karena bagaikan Bapak dan anak. Pasalnya, usia Riska tak jauh berbeda dengan Destina, anak semata wayang Hendratmo.

6

Sore itu, sekira pukul tigaan disaat mentari mulai beranjak ke barat jauh dan meninggalkan jejaknya dihamparan kota Palangkaraya, Adrian baru saja terjaga dari tidurnya disebuah hotel kecil. Ia merasa capek sekali hari itu, badannya terasa tak bertenaga, otot-otot terasa pegal dan ngilu.

Memang, tugas pertama survei dari perusahaan yang dilakukannya kemarin sangat menguras energi. Bayangkan saja, setibanya dari Jakarta dan mendarat di bandara kecil Tjilik Luwut kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, ia harus langsung mendatangi kantor Bapeda untuk mendapatkan data pendukung seperti kecamatan dalam angka, peta lokasi dan lainnya.

Sejak Adrian tiba di pulau kayu itu langsung disambut guyuran hujan yang cukup meriah sehingga membuat Adrian kerepotan ketika pintu pesawat Merpati Nusantara Airlines Fokker F-28 yang ditumpanginya landing di bandara kecil itu.

Minggu ini Adrian ditugaskan untuk melakukan pendataan di tiga wilayah Kalimantan. Ia ditugaskan untuk mendatangi daerah di Kalimantan Tengah tepatnya di Sampit kecamatan Parenggean untuk kemudian meneruskan ke Kalimantan Selatan dan Timur. Entah, belum terbayang sedikitpun keadaan disana. Tapi yang pasti, saat ini Adrian telah menginjakkan kakinya dipunggung pulau Borneo, pulau yang kaya raya dengan kandungan bumi dan kayunya. Sekaligus wilayah yang pernah menuai bara dan konflik antar etnis. Menyedihkan. Adrian bersama dua orang rekannya melakukan pendataan di pulau Borneo itu, namun ketiganya berbeda lokasi. Kedua kawannya itu meneliti mengenai kondisi tanah dan air, sedangkan ia lebih fokus pada masalah-masalah sosial, budaya dan ekonomi.

Kala itu, handphonenya berdering.
“Cause you are not alone
i’m always there with you
and we’ll get lost together
until the light comes pouring through”.

Klik!
”Hallooo ?”, sapanya
”Halloo Ad ?”, balas seseorang.
”Halo juga say…!”
”Sudah ada dimana nech ? ”
”Sekarang masih di penginapan”
”Hotel bintang berapa ? hehehe..”
”Bintang berkedip…hahaha…”
”Hahaayy….!”
”Jam berapa berangkat ke Sampit ?”
”Mungkin lebih pagi”
”Ooo. Oh ya gimana keadaaan kota Palangka…..tuuuuuuuutttttt!”, pembicaraan terputus.
”Halo…halo ? yaa putus dech!”
Tak lama kemudian. Handphonenya kembali berdering.

“Cause you are not alone
i’m always there with you
and we’ll… Klik!.

”Halo, ya say!. Koq bisa putus ya ?”, sapa Adrian
”Ya nech. Aku pikir hapemu low bat”
”Oh ya, aku pikir juga hapemu yang low bat …hehehe”
”Kamu dah makan ?”
”Sudah!”
”Jangan sampe telat ya. Ntar kamu sakit kalo telat makan. Jaga kondisi badan kamu ya! ”
”Baiklah tuan puteri”
”Yeeeeee…dikasih tau malah ngeledek!”
”Iya say. Makasih ya, kamu perhatian banget sama aku”
”Ya dong. Aku khan sayang sama kamu Ad”
”Iya. Makasih ya!”
”Kamu jaga diri baik-baik ya Ad!”
”Ya non…, kamu juga ya!”
”Ok Ad, eh…jangan lupa ya oleh-olehnya…hihihihi”
”Tentu dong say!. Nanti aku bawa kejutan buat kamu hehehe”
”Thanks ya Ad. Okay, take care yourself. I miss you Ad!”
”Thanks honey. Me too!
”Bye Ad!”
”Bye Destina!”

Beberapa quesioner sudah ia siapkan untuk diberikan sebagai sampel penelitian besok hari. Untuk menuju lokasi, mereka harus melalui perjalanan darat. Palangkaraya-Sampit kurang lebih ditempuh selama enam jam perjalanan darat dengan bus atau sejenis mobil carteran. Kota Sampit diapit oleh Palangkaraya dan Pangkalan Bun. Memang, secara geografis Sampit akan lebih dekat dicapai dari Palangkaraya.
”Berapa ongkos untuk carter sampai ke Sampit pak ?”, tanya Adrian.
”Kenalin dulu pak, Saya Sudarto”, ujarnya sebelum menjawab tentang tarif. Pak Sudarto, sopir taksi yang sepertinya sudah terbiasa melalui jalur tersebut.
”Oh ya, Saya Adrian. Jadi berapa tarifnya pak ?”, tanya Adrian lagi.
”Empat ratus ribu mas ?”, ujar pak sopir.
“Bisa kurang pak ?”, tawar Adrian
“Maaf mas, itu juga sudah murah. Maklum perjalanannya jauh”, terangnya.
”Okelah pak. Ayo kita berangkat”, ajak Adrian.
“Ayo mas!”, sahutnya.
“Berapa lama kita bisa sampai di lokasi pak ?”
“Bisa sampai lima atau enam jam ?”
“Selama itukah ?”, Adrian termenung.
”Ya begitulah”
“Apa nama lokasi yang akan dituju mas ?”, tanya pak Sudarto.
”Kawasan perkebunan kelapa sawit pak”
”Berapa lama ?”
”Paling lama satu minggu pak “
”Selanjutnya kemana lagi ?”
”Banjarmasin”,
“Berarti pulangnya bisa saya jemput minggu depan?”, tanya pak Darto
“Iya pak. Berapa nomor handphone Bapak ?”
“Ini mas”, pak Darto meyerahkan secarik kertas yang berisi nomor handphonenya.
”Rencana perjalananan ke Banjarmasinnya bagaimana ?” tanyanya lagi.
Mudah-mudahan ada ada maskapai yang menuju Banjarmasin”, jawab Adrian.
”Dari Tjilik Ruwut ada mas!”.
“Oh ya. Baguslah kalau begitu “, Adrian senang.
”Mari kita berangkat sekarang!”, ajak pak Darto.
”Ayo pak”. Keduanyapun berangkat.

***
Kurang lebih empat puluh lima menit perjalanan berlangsung, ketika sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba mobil terasa oleng karena jalanan yang kurang bagus.
”Duk!”…aduuuh….”, kepala Adrian terbentur mobil.
”Maaf mas, Saya tidak lihat ada lobang”
”Hati-hati pak”,
”Iya mas!”

Jalanan semakin tidak bersahabat. Berkali-kali mobil dibuat oleng. Jalanan yang belum tersentuh aspal itu dipenuhi kubangan air sisa hujan semalam. Perjalanan sudah ditempuh kurang lebih enampuluh kilometer. Mereka sudah memasuki kawasan hutan lindung.

Tiba-tiba,“Ciiittttt…ciiiittt…Bruuukk!!”. “Astaggfirulllaahaladziimm…,Allahu Akbar…!, pak Darto berteriak refleks
“Aaaahhhhhhhh”, teriak Adrian.
Mobil pak Darto terjerembab kedalam lubang. Keduanya terombang-ambing gerakan mobil.

Adrian terpental kedepan, nyaris mencium dashboard mobil. Sedangkan sang sopir membentur stir mobil. Mesin Toyota kijang warna merah maroon itupun langsung mati seketika. Tangan Adrian terasa sakit karena menahan badannya yang terpental kedepan.
“Mas tidak apa-apa ?” Tanya pak Darto.
“Tidak apa-apa pak. Cuma tangan saya terasa sakit, sepertinya terkilir. Bapak sendiri gimana ?”
“Saya tidak apa-apa. Mari saya periksa tangan mas”, mereka segera turun.
“Yang ini terasa sakit pak, aduuuhhh..”, ujar Adrian meringis.
“Tahan mas!”, pak Darto langsung menarik membetulkan siku Adrian yang terasa sakit.
“Aaaaahhhhhh…….” Adrian mengerang keras karena kesakitan.
“Nanti juga baikan mas. Maafin Saya ya, tadi lubangnya tidak kelihatan”, ujar lelaki itu karena merasa bersalah.
“Tidak apa-apa pak”
Pak Darto masih memijit tangan Adrian. Perlahan rasa sakitnya berangsur hilang.
“Bapak pintar memijat juga”
“Mengobati yang keselo atau kecengklak, saya bisa mas”
“Oh ya”, ujar Adrian sambil menahan rasa sakitnya.
“Mas istirahat dulu saja. Saya mau cek mobilnya.

***
Pak Darto mencoba untuk memperbaiki mobilnya. Kap mesin dibukanya disusul gumpalan asap yang keluar dari karburator mobil. Berjam-jam ia mencoba memperbaikinya, namun tak kunjung usai.
“Wah,..sepertinya ada kerusakan mesin. Kita harus menunggu sampai besok pagi, sekarang sudah mulai gelap sekali”, ujar pak Darto.
“Jadi gimana dong pak ?”
“Untuk sementara kita istirahat disini dulu”
“Maksud Bapak, kita bermalam ditengah hutan begini?”, tanya Adrian bingung.
“Maaf Mas. Besok pagi mudah-mudahan bisa selesai”
“Bapak pernah mengalami hal seperti ini ?”
“Pernah. Alhamdulillah aman-aman saja. Mas Adrian takut ?”, Tanya pak Darto sambil tersenyum.
“Sedikit pak. Hmm..apa tidak ada binatang buas yang berkeliaran pak ?”
“Hehehe, tenang saja mas, paling-paling babi atau orang utan. Oh ya, sudah jam 18.40 kita belum sholat maghrib”, ujar pak Darto.
“Bagaimana mau sholat pak, air untuk berwudhu saja tidak ada”, sela Adrian,
“Lho, kita kan bisa bertayamum. Disini ada tanah, Insya Allah bisa mensucikan”
“Oh ya”
“Bagaimana kalau kita sholat bareng saja ?”, ajak pak Darto.
“Baik pak. Tapi ajari Saya bertayamum pak, saya lupa lagi caranya”, pinta Adrian
”Mas sudah lupa ?”, Adrian hanya tersenyum tak menjawab
“Begini caranya, pertama kita baca basmallah, lalu niatkan dalam hati agar boleh mengerjakan sesuatu karena tayamum. Lalu, kita letakkan kedua telapak tangan bagian dalam diatas tanah atau batu, tanah pasir dan sebagainya. Selanjutnya mengusap muka sekali dengan kedua telapak bagian dalam. Mudah khan ?”, jelasnya. Adrianpun mengangguk.
Merekapun meneruskan dengan sholat berjamaah. Pak Darto yang menjadi imamnya.

***

Usai sholat dan berdoa keduanya lantas duduk lalu mengobrol.
Untung sekali cuaca malam ini sejuk dan cerah” ujar pak Darto.
“Iya pak, langit terlihat lebih terang meskipun kita ditengah hutan begini”
“Ya, Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan terangnya bulan dan gemerlapnya bintang-bintang” puji pak Darto. Adrian tersenyum.
“Waduh, ga dapet sinyal nih”
“Hehehehe. iya mas, kita agak jauh kedalam sih posisinya”.
“Mungkin”
“Oh ya, kebetulan saya masih punya perbekalan di jok belakang mobil. Sebentar, saya ambilkan dulu”, ujarnya sambil menuju kebagian belakang mobil.
“Brukk”!
Pak Darto menutup pintu bagasi mobil. Seketika tangannya menjinjing satu kantong plastik berisi sesuatu.
“Mas, ini ada roti dan kue kering, lumayan buat ganjal perut. Ini air aquanya”, tawar pak Darto.
“Terimakasih pak”
“ Ayo sambil ngobrol kita makan apa yang ada”
“Iya pak”
Merekapun larut dalam kebersamaan dan keheningan malam itu.
“Pak Darto, boleh saya Tanya sesuatu ?’
“Silakan”
“Bapak sudah lama bekerja sebagai sopir taksi disini ?”
“Sudah dua belas tahun. Saya merantau sejak lima belas tahun yang lalu”
“Oh ya. Sudah lama sekali pak”
“Dulu sebelum saya ke Kaltim ini. Saya pernah menjadi petani di Cirebon. Namun karena satu hal, saya terpaksa mencari pekerjaan lain hingga kesini. Sebelum jadi sopir, dulu saya pernah bekerja di perusahaan kayu”
“Bapak sendiri kesini ?”
“Tidak. Saya justeru diajak teman. Sekarang dia menjadi sopir pribadi seorang bos pengusaha kayu. Namanya Kardiman”,
“Oh ya. Bagaimana dengan isteri Bapak ?”
“Hmmm. Pak Darto terdiam tak menjawab. Tiba-tiba ia berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Mas, ayo rotinya dimakan lagi”, tawar Pak Darto. Ada sesuatu yang tak ingin pak Darto ceritakan. Adrian cukup mengerti untuk tidak menanyakan lagi tentang isterinya.
“Ok pak. Terimakasih”
“Mas sendiri bagaimana. Sudah berkeluarga ?“tanyanya.
“Saat ini masih sendiri pak..hehehe, “ gurau Adrian.
“Ah, mas Adrian ini bisa-bisanya bercanda. Wong mas ini ganteng. Mana mungkin gadis-gadis tidak jatuh hati “, timpal pak Darto.
“Hehehe..,”
“Tipe seperti apa yang mas Adrian cari ?”
“Akh…bisa saja pak Darto ini “
“Lho, saya kan pernah muda juga lho mas. Jadi tahulah apa yang saya pikirkan seusia mas ini”,
“Mas Adrian tinggal di Jakarta ?”
“Tidak pak. Saya tinggal di Bogor. Kenapa pak ?”
“Akh…tidak. Saya dulu punya kawan dekat. Menurut kabar terakhir sekarang ia tinggal di Bogor juga. Tapi Saya tidak tahu di kawasan mana”
“Sayang sekali, Bogor kota kecil koq pak, jadi mudah saja mencari seseorang kalau ada alamatnya”
“Iya. Seandainya…”, pak Darto tarik napas panjang sambil menatap kelangit.
“Kenapa pak ?”
“Kawan saya punya anak gadis. Mungkin usianya tidak berbeda jauh dengan mas Adrian”
“Maksud Bapak ?” , Adrian penasaran.
“Hehehe…siapa tahu bisa saya kenalkan”
“Hahaha…bisa saja pak Darto ini”
“Kali aza mas, jodoh bisa saja datang dari arah yang tidak disangka-sangka”
“Iya sih pak. Terimakasih, tapi sebetulnya Saya sudah dekat dengan seseorang koq”, jelas Adrian.
“Oooh…baguslah, jangan lama-lama. Cepat aza dilamar”
“Hahaha…iya pak, kalo waktunya sudah tepat!”
Tak terasa hari sudah memasuki waktu Isya, keduanya segera menunaikan sholat Isya bersama-sama. Usai sholat Isya, keduanya langsung istirahat untuk tidur sebisanya di dalam mobil.
“Kita pasang penerangan kecil ya pak ?”, tanya Adrian yang kala itu membawa senter kecil recharge.
“Sebaiknya jangan mas!”
“Kenapa pak ?”
“Kita ditengah hutan dan malam pula. Bila ada cahaya, maka akan mudah menarik perhatian hewan disekitar”
“Oh ya ?”
“Begitulah mas”, jawab lelaki itu sambil tersenyum.
“Baiklah pak. Saya tidur ditengah ya pak”
“Ya mas. Saya didepan saja”
Sementara rembulan menampakkan senyumnya diatas langit yang cerah. Suara-suara binatang malam mulai terdengar saling bersahutan. Nyanyian alam semesta tengah dimainkan seiring suara pepohonan yang dibelai angin. Lukisan pepohonan semakin nyata diujung pandangan. Hutan belantara yang sepi berselimutkan kegelapan dan dingin perlahan menembus waktu malam yang semakin kelam.
Adrian tertidur pulas dibagian tengah, begitupun pak sang sopir yang terlelap dibelakang kemudi. Sementara itu jarum jam tangan pak Darto telah menunjukan pukul tiga pagi, namun tiba-tiba ia terjaga karena mendengar lolongan segerombolan anjing hutan dari kejauhan. Lolongan itu muncul lalu tenggelam ditelan hening. Tak lama muncul lagi dan semakin jelas.
Suara-suara itu semakin mendekati posisi kendaraan yang mereka tumpangi. Pak Sudarto siap siaga dengan sebilah kunci inggris diamond ukuran besar.
Adrian terperanjat karena suara lolongan anjing hutan itu semakin ramai. Sepertinya sekelompok anjing hutan itu berjumlah lebih dari dua belas ekor.
“Ada apa pak ?”
“Anjing hutan mas”
“Membahayakan kita ga pak ?
“Kalau masih komplotan anjing tidak apa-apa mas, selama kita didalam mobil. Tapi kalo komplotan orang utan, saya agak khawatir”, jelasnya.
Tak lama kemudian.
“Grrrrrrrrrrr…….grrrrr….auuuuuuuuu…..auuuuuu…guk….guk…guk…!”
Tiba-tiba sesuatu menyeruak dari semak-semak tepi jalan.
“Grussaaakk…..Grookk…groookk….Bruuukkk!”, grookk…grook….grookk….!, sesuatu menabrak pintu depan mobil. Adrian semakin kaget.
“Guk…gukk…gukk….gukk…kaing….kaing…”Grrrrrrrrrrrrrr………….Grrrrrrrr….!
“Sshhh……Grrrrrr….Grrrrrr….guuukk…guuukk….Grooook….grookk…groookk….”
“Tenang mas!”
“Sepertinya anjing-anjing itu sedang berburu ya pak ?”
“Iya mas. Mereka sedang berburu babi hutan”
“Dibawah mobil kita pak?”
“Iya!”
Suasana perburuan semakin tegang. Berkali-kali benturan tubuh babi hutan mengenai bagian bawah mobil yang memang bersembunyi di bawah mesin. Sementara sekawanan anjing pemburu itu terus menyerang seekor babi hutan yang terpengkap dalam kepungan hewan pemburu liar itu. Sebagian lagi masih mengitari sekeliling mobil. Perburuan berlangsung lama karena sang babi hutan melawan untuk mempertahankan diri.
“Dua jenis hewan haram sedang beraksi mas !”
“Iya pak”
“Hmmm..semoga bukan pertanda yang buruk buat kita”
“Mudah-mudahan pak!”
Hampir setengah jam drama perburuan itu terjadi. Namun karena tak seimbang jumlah yang dihadapinya itu, akhirnya sang babi hutan itu tak berkutik dan menyerah disantap sekawanan pemangsa liar itu.
“Grrrrrr…….grrrrrrrr……..guuuk….guukkk…guukk….aauuuuuuu…..Grrrrr…grrrr…”
grookk…groookk……!
Suara riuh pesta pembantaian pagi buta sangat mengganggu penghuni mobil naas itu. Sekawanan itu tengah berpestapora berebut tubuh hewan buruannya.
“Sialan!”
“Kenapa pak ?”
“Anjing-anjing itu memangsanya dibawah mobil kita. Kita harus usir mereka supaya membawanya pergi dari sini!”
“Gimana caranya pak?”
Sudarto tak menjawab namun ia langsung membuka kaca jendela mobilnya dan menepuk pintu sekerasnya.
“Woooooiii dasar anjing kalian! Pergiii jauh sana!!! bruukk…brukkk…bruuk…husssh…husssshh…”, teriak pak Darto. Adrianpun tertawa kecil.
Walhasil sekawanan pemburu liar itu kaget mendengar suara yang ditimbulkan pak Darto. Sebagian lari tunggang langgang karena kaget, namun sebagian lagi langsung menyeret daging buruannya itu kesemak-semak. Sementara dua ekor betina anjing liar itu enggan pergi bahkan malah menatap ke arah suara, seolah ia merasa diganggu kenyamanannya saat santap makan malam bersama komplotannya.
“Guukkk…guuukk…guukkk…grrrrrrrr…grrrrrr….”
“Eehh nantangin…hussshh…husssh….brruukk..bruukkk…!”
Adrian langsung mengambil senternya menyorotkan kearah anjing-anjing. Spontan kedua anjing liar itu merasa silau dan perlahan mengikuti komplotannya diantara semak-semak gelap.
“Fiiiiuuuhh….banyak juga ya pak…!”, ujar Adrian sambil menarik nafas dalam.
“Ya begitulah mas, namanya juga dihutan!”
“Hehehe…betul pak”
“Itu sudah menjadi hukum alam. Artinya rantai makanan tetap berjalan dan keseimbangan alam tetap terjaga”, tuturnya menggali pembicaraan.
”Betul pak!”
”Perlu mas tahu, letak geografis Indonesia yang unik membuat hutan kita menjadi rumah bagi satwa endemis atau tidak ditemukan di belahan dunia lainnya. Bila kita rinci, mulai dari mamalia karnivora, herbivora hingga jenis burung ada di hutan kita. Namun sayang mas. Alam kita tidak selamanya menjadi surga bagi para satwa itu. Mereka terancam eksistensinya dari berbagai sudut, seperti interaksi dengan manusia serta kondisi habitat dan genetika yang makin menurun. Selain itu tingginya rasio perburuan liar, degradasi hutan, penambangan liar, dan pembanguna infrastruktur yang merambah habitat satwa hutan kerap menjadi ancaman mematikan. Pada akhirnya bila keadaan sudah tidak seimbang lagi, maka aktivitas babi hutan itu merambah perkebunan warga”, urainya dengan cerdas.
”Maksudnya merusak tanaman ?”, tanya Adrian yang semakin kagum dengan kecerdasan seorang sopir.
”Betul mas. Ada beberapa kawasan perkebunan yang pernah diserang hama babi hutan”, ujarnya.
”Banyak babi hutannya ?”
”Banyak mas, maka dari itu dinamakan hama. Kalau hanya satu dua mungkin belum bisa dikatakan hama…hehehe”, ujarnya lagi.
”Hehehehe, terus bagaimana menanggulanginya pak ?”
”Masyarakat belajar dari pengalaman. Tidak mungkin mereka berdiam diri dengan gangguan hewan babi itu”
”Caranya ?”
”Waduh, pagi-pagi buta pembicaraan kita sudah serius sekali..hahaha…”
”Hahaha…iya pak. Tapi ga apa-apalah pak, toh Sayapun sudah tidak mengantuk lagi”, timpal Adrian.
”Hehehe. Begini, ada beberapa cara yang digunakan warga dalam melindungi serangan hama babi. Pertama, menggunakan jerat kawat. Caranya kawat ukuran kecil dibuat jadi melingkar lalu dipasang disekeliling kebun. Jika si babi itu lewat maka akan terkait dan jerat lubang bakalan mengecil hingga mencekik leher babi. Kalo bahasa kita, mungkin bisa dibilang jerat ini simpul nelayan atau simpul ala koboi Amerika untuk menangkap anak sapi, rodeo atau sejenisnyalah”, jelasnya.
”Hahaha, cerdik juga ya pak”
”Cara kedua dengan memberikan umpan. Biasanya umpannya jagung, singkong, ubi atau yang lainnya. Tentu setelah diberi racun dulu. Bila babi itu datang tengah malam dan memakannya, maka besok pagi pasti sudah menggelepar”, jelasnya. Adrian semakin tertarik mendengar cerita pak Darto.
”Cara ketiga dengan perangkap. Misalnya dibuat sebuah lubang atau kotak jebakan di jalur yang biasa dilewati. Nah disinilah uniknya babi, kebiasaannya adalah selalu melewati rute yang sama untuk pulang dan pergi. Jadi sangat mudah untuk membuat jebakan”
”Cara keempat ?”, balas Adrian sambil manggut-manggut.
”Keempat adalah dengan memberi bahan-bahan halus seperti potongan rambut atau bulu-bulu binatang disekitar pagar tanaman. Karena babi selalu mengendus tanah maka bahan halus yang ditaruh itu akan masuk kehidungnya dan membuatnya tidak nyaman sehngga tidak jadi merusak tanaman”
”Hahaha…lucu juga ya pak”!
”Betul mas!”
”Hehehe”
”Yang terakhir, biasanya warga membuat jaring-jaring dari benang nylon disekitar kebun. Dengan begitu babi akan merasa ketakutan karena dikira itu adalah perangkap”
”Hahahaha….”, keduanyapun tertawa ditengah kegelapan pagi itu.
***

Pagi berangsur tiba, suara suara adzan shubuh terdengar sayup sayup dari kejauhan. Entah dari mana suara itu berasal. Bisa jadi puluhan kilometer suara adzan shubuh itu di kumandangkan, jauh dari lokasinya ditengah hutan.
“Jangan heran mas, biarpun kita ditengah hutan begini, suara adzan tetap terdengar”, ucap pak Darto. Pukul empat pagi waktu Indonesia bagian tengah saat itu, sekelilingnya masih nampak gelap.
“Sehabis shalat shubuh, saya akan coba lihat kembali kondisi mobilnya”
“Iya pak. Mudah mudahan tak masalah.
“Semoga mas”
Lantas keduanya menunaikan shalat shubuh berjamaah di area yang lebih bersih karena khawatir dengan najis yang ditimbulkan oleh kejadian beberapa jam yang lalu.

***
Setelah hari mulai terang keduanya mulai memperbaiki mobilnya.
“Tolong bantu saya mas, saya akan coba pasang dongkrak ini”
“Oke pak”, ujar Adrian.
Pak Darto mengecek keadaan mesin yang ada dibawahnya. Hampir satu jam mereka berusaha memperbaiki mobilnya yang mogok.
“Ok kita coba nyalakan, tapi tolong bantu dorong dulu sedikit ya mas, ” pinta pak Darto.
“Siiip pak, tenang aza, hup…satu..dua..tigaaa…”, Adrian memberikan komando.
“Ulang lagi mas!”, seru pak Darto demi melihat mobilnya yang tak bergerak sedkitpun.
” Ayo kita dorong lagi pak, …satuu…duaaa…tigaaaa….!” , mobilpun bergerak.
“Alhamdulillah…”,ucap pak Darto. Dirinya lantas mulai menstarter mobil itu. Tak berapa lama setelah mencobanya akhirnya mesin mobil itupun menyala. keduanya tersenyum.
“Alhamdulillah”
“Iya pak. Akhrinya nyala juga”
“Jam berapa sekarang mas ?”
“Tujuh empat lima pak”
“Ok, berarti kita ada waktu tiga jam perjalanan lagi, sebelum dzuhur tiba”
“Ayo pak kita lanjutkan” ajak Adrian setelah mengecek semuanya.
***

7

Satu jam perjalanan telah berlalu. Keduanya tengah asyik mengobrol ngalor-ngidul.
“Bapak lahir dan besar di Cirebon, berarti tahu dong tentang sejarah Sunan Gunung Djati ?”, ucap Adrian memulai topik pembicaraan baru.
“Sedikit”
“Bisa diceritakan pak ?”
“Hehehe…Saya bukan sejarawan mas”
“Tapi paling tidak Bapak pasti tahulah”
“Sedikit mas”, jawabnya sambil tersenyum kecil.
“Ga apa-apa pak”, pinta Adrian.
”Yang saya ingat begini ringkasan ceritanya, Sunan Gunung Djati memiliki nama Syarif Hidayatullah. Beliau adalah putra dari Maulana Sultan Muhammad atau yang dikenal dengan Syarif Abdullah. Kakek beliau merupakan keturunan dari Banu Hasyim putra Nurul Alim. Bila dilihat dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Syarif Hidayatullah ini adalah Wali Sanga yang menduduki generasi ke duapuluh dua keturunan dari Nabi Muhammad SAW.
”Lalu ?”, jawab Adrian nampak serius.
”Sedangkan ibunda beliau bernama Nyai Lara Santang atau dikenal dengan Syarifah Murdain. Kakek dan nenek beliau dari garis keturunan ibunya memiliki hubungan dengan para tokoh pewayangan. Kakeknya bernama Raden Pamanah Rasa yang merupakan putra dari Prabu Anggolarang. Sedangkan neneknya bernama Nyai Subang Larang. Garis keturunan Sunan Gunung Djati bila dilihat dari sisi ayah merupakan silsilah dari para alim ulama di Timur Tengah”
“Oohhh, lalu ?”
“Suatu perpaduan yang unik pada sosok Sunan Gunung Djati ini. Beliau menyebarkan ajaran Islam di tataran Sunda, Cirebon hingga Banten. Tentu dengan penuh hikmah dan cara-cara yang sangat lembut, sehingga masyarakat yang pada saat itu belum mengenal Islam mampu menerimanya dengan baik. Padahal kondisi pada saat itu masih kental dengan budaya animisme”, urai pak Darto.
“Ooo begitu ceritanya “, Adrian mengangguk. Pak Sudarto tersenyum.
“Saya pernah berkunjung ke lokasi pemakaman Sunan Gunung Djati di Cirebon lho pak”
“Oh ya ?”
“Waktu itu sekedar berkunjung aza pak”, ujar Adrian.
“Lalu apa yang mas Adrian peroleh dari kunjungan itu ?
“Terus terang saya juga bingung pak”, ujarnya.
“Bingung kenapa ?”
“Karena sewaktu saya kesana, koq area pemakamannya seperti lokasi wisata, bahkan ada yang menetap disana. Maksudnya tinggal dan tidur disana “, heran Adrian.
Pak Darto tersenyum sambil sesekali membunyikan klakson, khawatir kalau ada pejalan kaki yang tidak melihat mobilnya melintas.
“Bahkan pada saat masuk saja harus daftar dulu dan sempat ditawari biaya sejenis infaq”, jelas Adrian.
“Uang masuk ?”
“Begitulah”
“Hehehe…betul sekali mas. Mungkin kondisi serupa juga terjadi di lokasi pemakaman tokoh lainnya. “, tutur pak Darto sambil tersenyum.
“Lalu pendapat Bapak gimana ?”
“Begini, kita kembalikan dulu kepada esensi dari ziarah. apa sih yang disebut ziarah? untuk apa dan ziarah seperti apa yang diperbolehkan ?
“Betul pak. itu yang saya maksud”, Adrian mengiyakan
“Ziarah kubur adalah suatu perbuatan yang dianjurkan oleh nabi. Tujuannya adalah untuk mengingat mati”, jelas pak Darto.
“Lalu bagaimana dengan praktek yang terjadi disana ?”,tanya Adrian.
“Tugas kita bersama untuk meluruskan penyimpangan yang ada. Tentu saja dengan cara-cara yang hikmah, namun tegas.”
“Tegas bagaimana ?”
“Sampaikan yang haq dengan baik dan benar. Dalam hal ini juga Pemda setempat beserta kaum ulama harus berperan lebih aktif lagi dan konsisten”, urai pak Darto sambil sesekali menyeka keringat dikeningnya.
“Bila masih belum berubah ?”
“Pembinaan tetap harus dilakukan. Seperti yang saya bilang tadi, ya harus konsisten. Berikan pemahaman terhadap masyarakat, bahwa tata cara berziarah harus dikembalikan pada apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Itu saja , mudah khan ?”
“Betul pak!”, Adrian mengiyakan.
“Kembali lagi kepada esensi sesungguhnya bahwa ziarah itu mengingatkan kita pada kematian”, jelas pak Darto.
“‘Apakah kita harus selalu ingat pada kematian itu pak ?”, pancing Adrian.
“Ya secara positif”,
“Maksudnya ?”, Adrian ingin lebih menggali lagi.
“Mengingat dalam artian untuk membangkitkan semangat hidup. Justeru dengan mengingat kematian itulah setiap kita dapat menghargai hidup dengan sebenarnya ”
“Maksud Bapak ?
“Ada nasihat yang mengatakan “Bekerjalah sebaik-baiknya seolah-olah engkau akan hidup selama-lamanya. Namun beribadalah seolah-olah engkau akan mati besok pagi!”
“Artinya ?”
“Itu adalah sebuah pesan cinta dari seorang rasul. Paling tidak bisa kita pahami dengan permikiran kita bahwa dalam hidup kita harus bekerja sebaik mungkin dengan cara sungguh-sungguh. Begitupula dengan beribadah. Lakukanlah amal kebajikan secara baik dan benar disertai kesungguhan atau mujahadah. Dua hal ini tidak bisa kita pisahkan karena di alam dunia inilah kita hidup dan kealam akhiratlah kita akan kembali menuju sang kholik yang telah menciptakan kita. Itu adalah suatu ketetapan yang mutlak dan pasti”, urai Pak Darto. Adrianpun mengangguk.
“Mas Adrian, boleh minta tolong ?
“Boleh, kenapa pak ?”
“Saya haus sekali. Maaf ya mas, tolong bukain tutup botol minum saya. Maaf ya mas”, pintanya.
“Tidak apa-apa pak. Ini pak, silakan”, ujar Adrian sambil memberikannya kepada pak Darto. Sementara tangan kanan pak Darto tetap pada kemudi.
“Terimakasih mas”, Adrian tersenyum. Butiran keringat sebesar biji jagung nampak di kening pak Darto.
“Lanjutkan lagi pak”, pinta Adrian.
Oh ya, sampai dimana tadi ?
kembalinya kita pada sang kholik,” tukas Adrian.
“Ya, sejatinya kita semua memang harus sadar bahwa kita berasal dariNya, lalu menjalani kehidupan yang memang menjadi milikNya dan pada akhirnya akan kembali kepadaNya. Tiga hal itulah yang harus dijawab oleh kita semua”, ujar pak Darto. Adrian bertambah khusyu mendengarkan penjelasan demi penjelasan yang disampaikan oleh pak Darto. Seorang sopir biasa yang memiliki konsep hidup yang luar biasa. Pak Darto melanjutkan
” Kehidupan ini adalah fana. Segala sesuatu yang ada dalam dunia ini akan berakhir pada satu titik, yaitu kematian. Seluruh manusia, hewan, tumbuhan dan segala sesuatunya akan musnah”, jelas pak Darto. Boleh tanya sesuatu mas ?”, pak Darto balik bertanya.
“Boleh pak, silakan ?”
“Apa tujuan hidup mas ?
Adrian merenung sejenak. Ia mulai merangkai kata demi kata dalam pikirannya sehingga menjadi kalimat yang akan ia sampaikan. Pak Darto tersenyum melihat Adrian yang tengah berpikir.
“Hmm…pertanyaan Bapak mudah dan sederhana, tapi susah jawabannya”.
“Jadi ?”
“Begini pak, setelah banyak mendengarkan uraian Bapak tadi, pikiran saya mulai terbuka.
“Lalu?” timpal pak Darto.
“Jika tujuan hidup saya hanya untuk sebatas mencapai kesenangan semata atau materi saja, rasanya belum lengkap”.
”Betul, lalu ?”
“Maaf pak Saya potong”, timpal Adrian.
“Ya?”
“Wawasan Bapak sangat luas. Dulu Bapak pernah nyantri juga ?, tanya Adrian.
“Hehehe…, tidak. Saya tidak pernah nyantri. Tapi punya beberapa guru yang mengajari saya sejak kecil. Setelah remaja saya banyak merantau. Dari perantauan itulah saya bertemu seorang yang alim”
“Ohhh”
“Jadi tujuan hidup mas itu apa ?”, tanyanya lagi.
“Hidup bahagia pak…hehehe”
“Bahagia yang bagaimana ?”
“Dunia akhirat lah pak”
“Hehehhe…amiin”
“Oh ya, orang alim itu siapa pak ?”
“Seorang yang memiliki ilmu agama yang cukup mendalam.”
“Lalu ?, tanya Adrian.
“Saya diminta tinggal bersamanya. Kurang lebih tujuh tahun saya ikut dengannya. Saat itu saya masih berusia dua belas tahun.
”Kedua orang tua Bapak dimana ?
“Bencana yang memisahkan kami. Kedua orang tua saya meinggal pada saat musibah menimpa keluarga Saya.
“Bapak punya saudara ?”
“Saya masih punya adik laki-laki. Sekarang dia tinggal di Jakarta bersama keluarganya”, urai pak Darto nyaris berkaca-kaca.
“Maaf pak. Saya jadi membuat Bapak sedih”, sesal Adrian.
“Ga apa-apa koq mas”, ujar pak Darto sambil mengedipkan matanya karena tak kuasa menahan air mata.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang.
“Kita istirahat dulu saja pak “, ajak Adrian.
“Oke mas”
“Kita sudah sampai mana nich pak ”
“Sudah mendekati Sampit”
Oh ya. kawasan ini dikenal dengan apanya pak ?
“Kabarnya terkenal dengan buayanya mas”
“Buaya ?
”Betul mas”, sahut pak Darto sambil tersenyum. Keduanyapun singgah disebuah kedai ditepi jalan.

***

Selepas dzuhur perjalanan dilanjutkan. Hampir dua jam telah berlalu. Pak Darto menancap gasnya melewati jalanan yang terlihat sepi. Hanya beberapa rumah panggung dari kayu milik suku pedalaman yang nampak dari jalan, itupun jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya cukup berjauhan. Ditengah perjalanan pak Darto melihat ada sebuah mobil yang melaju kencang dibelakangnya. Nampak dari kaca spion, mobil jenis land rover itu memberikan kode dengan cara menyalakan lampu yang dikedip-kedipkan dan klakson yang berulang-ulang.

“Kenapa mereka pak?”, tanya Adrian heran.
“Tidak tahu mas, sepertinya mereka ingin mendahului kita. Tapi bagaimana mungkin, jalanan ini setapak. Kita kasih kesempatan di depan sana saja mas”, ujar pak Darto
“Ya pak, mereka kelihatannya sudah tak sabaran pak”
“Biarkan saja mas”
“Tiba-tiba salah seorang dari mereka nongol dari jendela mobil sambil berteriak kasar.
“Hey, bangsat…minggir kalian!. Mau mampus ya…!”,teriak seorang yang berambut cepak sambil mengepalkan tangannya.
Pak Darto tetap melaju dengan tenangnya.
“Bagaimana mungkin kita meminggir dengan jalan sekecil ini. Dasar berandalan!
“Berandalan ?”, Adrian langsung menoleh kepada pak Darto.
“Mereka seperti anak buah seorang cukong di kawasan ini”
“Bapak tahu siapa mereka?”
“Tahu mas”
“Siapa sebenarnya mereka ?”
“Mereka-merka inilah yang melakukan kegiatan illegal logging”
“Maksud Bapak?”Adrian makin penasaran.
“Mereka melakukan penebangan hutan secara liar, alias tanpa izin”, ujar pak Darto.
“Oh ya ?”
“Hasil hutan yang mereka jarah diselundupkan melalui kapal”
”Mengapa tidak ditangkap saja mereka ?” tanya Adrian.
“Sulit mas, banyak pihak yang terlibat dalam praktek illegal ini”, pak Darto terdengar sinis.
“Bagaimana dengan aparat yang ada disekitar sini ?” , tanya Adrian
“Aparat ?”
“Iya!. Bukankah mereka bisa bertindak tegas ?”
“Kalau itu dilakukan, mengapa sampai saat ini masih banyak penebangan liar ?”
“Betul juga pak”, Adrian mengiyakan.
“Mas bisa bayangkan, berapa besar kerusakan yang terjadi akibat penebangan hutan secara membabi buta. Kerusakan ekosistem yang tentunya secara langsung akan merusak habitat yang ada disana. Belum lagi dampak negatif lainnya terhadap pemanasan global! parah khan ?”, urainya.
Adrian cukup salut dengan kekesalan yang ditumpahkan pak Darto. Meski hanya seorang sopir, namun analisisnya sangat tepat sesuai dengan keadaan yang terjadi.

Belum usai pak Darto bercerita, klakson mobil yang berada dibelakangya berbunyi berulang-ulang lagi.
Tiba-tiba.
“ Praaaannnkkkkk….!brruuukkk….”
“Astagfirullahaladziim…, apaan tuh ??, Pak Darto dan Adrian terperanjat. Dilihatnya kaca mobil bagasi telah pecah.
“Bagaimana ini pak ?”, Adrian tak mengira mereka akan berbuat kasar seperti itu.
Kaca mobil Toyota Kijang Super Commando yang dikendarai pak Darto pecah. Sebuah botol minuman dilemparkan kearah mobil pak Darto. Serpihan kaca bertebaran didalam jok mobil. Sebagian mengenai kepala keduanya. Adrian merasa takut, khawatir mereka berbuat lebih dari itu.
“ Kurang ajar!!…, mereka pikir Saya takut apa ?? ”, pak Darto geram dan menginjak rem dengan segera.
“Cciiiiiiiitttt……..!!”, Mobilnya terhenti mendadak, nyaris ditabrak land rover hitam dibelakangnya.
“Bapak mau melayani mereka ?? “ Adrian ketakutan. Pasalnya ia tidak tahu berapa orang yang ada didalam mobil mereka. Satu lawan satupun belum tentu ia menang. Apalagi satu lawan dua.
“Kali ini Saya akan beri mereka pelajaran, biar nyaho!!”, matanya memerah sambil mengepalkan tangan.
“Celaka..!! Bagaimana jika mereka bergerombol?.,,!” guman Adrian.

Adrian segera mengikuti pak Darto, ia berdiri dibelakangnya. Tidak ada pilihan lain kecuali harus menghadapinya bersama-sama. Ia sudah pasrah atas apapun yang terjadi. Keberaniannya muncul. pak Darto yang membentak mereka disambut dengan tiga orang preman yang langsung berhamburan dari mobil.
“Keluar kalian ?”, tantang pak Darto.
“Huuahahahha”, mereka tertawa
“Huahahahaha……cari mampus kau”, ledek salahseorang diantara mereka.
“Hey,..kalian harus ganti atas perbuatan kalian”
“Ganti? hahahaha”
“Ganti sekarang juga atau kalau tidak…”
“Kalau tidak apa hey pak tua ?”, sela si rambut cepak itu.
“Kalian harus kuberi pelajaran!”, pak Darto bertambah geram.
“Kau berani melawan kami? hahahaha..” ledek mereka bertiga.
“Jack, Ambil uang ganti ruginya”, ujar si rambut cepak menyuruh temannya.

Teman si rambut cepak yang bertato kalajengking dilengan kirinya itu lantas mengambil sesuatu dari dalam mobilnya. Kini ia kembali dengan sebuah batang besi, mirip sebuah linggis.
“Loe mau ganti ?” ledeknya.
“Hahahahaaha…”, dua kawannya mentertawakan aksi temannya.
“Nih gua ganti…! ” praaaannkk….praaannkk..prankkk..!. tiga kaca mobil pak Darto dipecahkan.
“Kurang ajar..!” pak Darto tak bisa menahan amarahnya.
“Ciiiaattt….!”, Pak Darto menarik tangan kiri si cepak. Dia kaget, ketika melihat siapa yang menarik lengannya. Sekonyong-konyong tinjuan telak mendarat telak diwajah si cepak. “Buukk!…, si cepak terjungkal. Besi yang digenggamnya terlepas, dengan sigap pak Darto langsung meraihnya.
“Ayo kalian maju kalau berani”, tantang pak Darto.

Satu orang maju dengan pukulan keras, pak Darto mengelak. tinjuannya hanya mengenai angin.
“Buzzzz….., mampus kau!, teriaknya
“Kamu yang mampus” , timpal pak Darto.
“Buukkk….plak..plak…tinjuan dan tamparan mengenai dada dan wajah si jack. Dia terhuyung-huyung dan mukanya menubruk bemper baja land rover. Hidungnya berdarah.
“Kurang ajar loe”, sungutnya. Seketika, ia menubruk pak Darto dan mendorongnya. Keduanya berguling kesemak-semak tepi jalan.
Pak Darto menahan serangan dari posisi bawah. Pukulan keras mengenai pelipis pak Darto.
“Deezziiggh!!…rasakan nich,” sungutnya.
Ketika pukulan kedua hendak mengenai pipi kiri pak Darto, dengan cepat pak Darto menangkis dengan tangannya. Seketika kaki pak Darto berhasil menedang dengan keras punggung si Jack. “Buuukkkk…….aaaaawwwww…..”, si Jack menjerit kesakitan, wajahnya melenguh keatas. Kesempatan itu digunakan pak Darto untuk menghajar dagu si jack.

“Dezzziiigh…,aaaarrggghhhh….”, si Jack mengerang untuk kedua kalinya. “Brruuukkkk……,dia jatuh terpental ke belakang. Dua orang tak berkutik menghadapi lelaki tua itu. Tinggal satu orang kawannya lagi yang siap menyerang pak Darto.
”Heh, kurang ajar loe!”, teriaknya.
”Hey Jagal. Bunuh lelaki tua ini!…Bedebah! fuuiihhh!”, ujar si Jack yang terhuyung-huyung menahan sakit.

Adrian lebih waspada karena melihat situasi yang kurang berimbang terhadap sopir yang menjadi kawannya itu. Lelaki berbaju hitam yang dipanggil si Jagal itu langsung menyerang dengan tendangan ala Chong Li dalam film laga American Karate. Namun Adrian sigap, ia langsung memotong serangan itu dengan terjangan kilatnya. Tendangan memutar gaya Bruce Lee diperagakannya dengan menghantam wajah si Jagal. “Buuukkkk..”, si Jagal kaget dengan tendangan yang mendarat tepat dimukanya itu. Dia terpental beberapa langkah ke belakang. Tendangan keras Adrian semakin membuat si Jagal geram. Kali ini Adrian yang menjadi perhatiannya. Si Jagal berdiri sambil membuang ludah.
“Fuuuiiihhh, mati kau bedebah. Dasar keparat!”, sumpahserapahnya.
Adrian tak mau kalah dengan sumpah si Jagal.
“Verdomseh. Dasar tukan jagal dekil, bau, pencuri kayu, penjahat negara, gue ga takut. Ayo maju lagi loe!”, tantang pemuda yang pernah belajar Tae Kwon Do ini. Pak Darto tertawa mendengar ledekan Adrian yang terlihat tak gentar.

“Ciiiiaaatttt,…buukk,..plaaakkk,…plaaakkk,…deeezziigghh!”, si Jagal melayangkan pukulannya kearah dada Adrian. Tapi secepat kilat tangan Adrian menangkis dan melipat lengan si Jagal. Dia menguncinya, seketika upper cut tangan Adrian tak dapat diduga oleh si Jagal. dalam hitungan detik, kepalan keras tangan Adrian menghantam pipi kiri si Jagal. “Deezziighhh….,aaarrrrrggghhhh…,wajah si Jagal berputar terkena pukulan kerasnya. Dia terhempas dan tersungkur ke tanah dan ambruk untuk kedua kalinya. Kali ini bibirnya berdarah.

“Masih mau lagi ?”, bentak Adrian
“Aahh,..banyak bacot loe!”, si Jagal mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Adrian lebih waspada. Pak Darto siaga, takut terjadi sesuatu atas Adrian.
“Hati-hati mas”, tukas pak Darto.
“Tenang saja pak”, ujar Adrian.
“Mampuusss loe..” si Jagal menyerang dengan pisaunya kearah dada kanan. Adrian dengan cekatan langsung mengelak dan berputar kearah kiri. Tikamannya hanya mengenai angin. Kali yang kedua tikaman diarahkan ke perut Adrian. Ia langsung memotongnya dengan teknik menjatuhkan badan kebelakng disertai tendangan kaki kanan melingkar seratus delapan puluh derajat.

“Buuukkk….!”, tendangan kilat kakinya memotong tangan si Jagal. Pisau lipat dalam genggamannya terpental ke tanah. si Jagal makin geram.
“Kurang ajaarrr…!”, Dia memburu Adrian. pak Darto tetap mengawasi.
Si Jagal menyuruduk bak seeokor banteng ke arah Adrian. ia terdorong dan terpelanting ke tanah. Keduanya ambruk dan bergulingan diatas. Adrian membalikan badannya dengan sekuat tenaga. Si Jagal terdorong dan berguling ke arah kanan. Disitu ia menemukan pisau lipatnya yang terjatuh tadi. Kesempatan itu digunakan untuk meraih kembali senjatanya.
“Hehe..kali ini loe mampus ditangan gue!”, sambil memain-mainkan pisau tajamnya.
Adrian memasang kuda-kuda dengan tetap bertumpu pada kaki kanannya, memutar sedikit kekiri tubuhnya seraya menurunkan kepalan-kepalannya diagonal kekiri depan. Hal ini dilakukannya guna menyerang dan menundukan lawannya.
Si Jagal menyerang kembali. Bahkan lebih ganas. Dia mengarahkan pisaunya ke tubuh Adrian. Dengan cepat ia memutar tubuh seraya memindahkan berat badannya ke kaki kiri. Nyaris beberapa centi pisau tajam itu melukai tubuh Adrian. Posisi sudah terbuka untuk menyerang lawan. Tangan kanannya serta merta langsung mencengkram erat lengan si Jagal. Adrian langsung memitingnya disusul dengan pukulan tangan kirinya yang sangat keras. Dia langsung terhuyung. Belum sempurna si Jagal berdiri. Adrian langsung menyambarnya dengan tendangan bal chagi yang mematikan. Tendangan vertikalnya tepat mengenai bahu si Jagal. “Aaaaarrgggghhh…..!”, “Bruukkkk….!, Diapun tumbang dan mengerang kesakitan.

“Kali ini gua kalah, lain kali loe yang mampus!”, sungut si Jagal. Adrian hendak menghempaskan pukulannya lagi namun pak Darto mencegahnya.
“Cukup mas!”, larang pak Darto.
“Tapi pak,…”, sela Adrian. Pak Darto langsung memberi isyarat dengan tangannya. Adrian mengerti.
“Hey, kalian sudah pecahkan kaca mobilku dengan besi ini. Sekarang apa perlu kupecahkan kepala kalian dengan besi ini juga sebagai gantinya…?”, bentak pak Darto sambil menunjukan batang besi yang digenggamnya.
“Siapa bos kalian hah ?”, Adrian menimpali.
si Jack, si rambut cepak dan si Jagal saling bertatapan tak berani menjawab. Adrian semakin sewot.
“Ayooo jawab!”, bentaknya kembali.
Pak Darto menarik si Jagal dan memelintir tangannya hingga ia mengerang kesakitan.
“Ayooo jawab!!!. Siapa bos kalian?”, desak pak Darto.
” bb…bbb..bos besar..pak ” jawab si Jagal gemetaran.
“Siapa bos besarmu itu pengecut..?!”
“JJJ….jj..jjuragan Baskoro pak…aaaaarrgghhh..”, pak Darto memelintirkan dan mendorongnya. si Kribo tersungkur, entah untuk keberapa kalinya.
“Baskoro?”, tanya Adrian dalam hati. Serasa nama itu tak asing baginya.
“Sekarang kalian harus ganti kaca mobil saya!”, pak Darto membentak keras. Ketiganya mengeluarkan isi dompet masing-masing.
“Berapakira-kira biaya untuk mengganti kaca yang baru, wahai anak-anak manis ? ” tanya pak Darto dengan nada rendah sekaligus meledek tiga komplotan itu.
“Kira-kira dua jutaan pak” ujar si Jack.
Si Jack menguras dompetnya yang berisi tujuh ratus lima puluh ribu. Si rambut cepak enam ratus duapuluh ribu dan si Jagal lebih besar, satu juta tiga ratus enam puluh lima ribu empat ratus lima puluh rupiah.
“Nich yang lima ribu empat ratus lima puluh rupiah saya kembaliin”, si Jagal mengambilnya dengan gemetaran.
“Sekarang kalian boleh pergi” bentak pak Darto. ketiganya langsung bergegas masuk ke mobilnya. Dan pergi meninggalkan kedua lelaki itu dengan ketakutan.

Keadaan menjadi terbalik. Ketiga komplotan itu tak berkutik melawan pak Darto dan Adrian. Apa pasal ?. Ternyata pak Darto pernah menjadi seorang guru silat tradisional sekaligus pengembang ilmu tenaga dalam atau bisa disebut juga kanuragan sewaktu ia masih tinggal di Cirebon dulu.
“Bapak guru ilmu tenaga dalam juga ?”, tanya Adrian.
“Dulu, sudah lama sekali. Tapi jika dalam keadaan terdesak ilmu itu bisa muncul dengan sendirinya”
“Maksudnya ?”
“Untuk pertahanan diri dan kebaikan saja”
“Pantas saja, sewaktu mereka melawan Bapak, pukulannya seperti menghantam tembok, hahaha”, Adrian kagum.
“Hahaha. Mas Adrian juga hebat, belajar kungfu dimana ? ” , sindir pak Darto.
“Pernah belajar sedikit sama kawan saya pak”, ujarnya.
“Hehehehe…lumayan bagus”, ujar pak Darto sambil menepuk bahu Adrian. Iapun tersenyum.
“Ayo kita lanjutkan”
“Ayo pak!”. Keduanya pun menuju lokasi dimana Adrian akan melakukan penelitian di wilayah Sampit kecamatan Parenggean.

Seminggu sudah Adrian melakukan penelitian di pulau terbesar di nusantara itu bahkan di kawasan Asia tenggara. Usai
menyelesaikan tugasnya, Adrianpun sempat berpamitan kepada Pak Sudarto.
“Pak, saya akan kembali ke Jakarta. Terimakasih atas bantuan dan pengetahuan yang bapak berikan pada saya”, ujar Adrian.
“Sama-sama mas. Semoga selamat sampai tujuan. Hati-hati ya!”, balasnya sambil menjabat tangan. Keduanyapun saling berpelukan.
“Oke selamat jalan mas. Insha Allah kita dapat berjumpa lagi bila masih ada umur”
“Semoga pak. Terimakasih. Salamualaykum!”
“Wa’alaykum salam!”

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s