Pudarnya Pelangi Destina | Bagian Empat

Lanjutan Bagian IV

Enam bulan berlalu. Sore satu Muharram 1430 ditahun Hijriah, lelaki perantauan bertubuh tegap itu menginjakkan kakinya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Suara mesin jet pesawat masih mengiang ditelinganya, menderu seiring gemuruh di dadanya. Ia sangat merindukan tanah kelahirannya di kota Cirebon itu. Sebuah kota yang berada diujung Jawa Barat dan perbatasan Jawa Tengah. Sembilan belas tahun sudah ia meninggalkan kenangan yang dialaminya, pahit dan getir pernah ia rasakan di tanah wali itu. Bencana itu telah menikam kebahagiaannya karena telah
merenggut orang-orang yang dicintainya.
“Taksi pak…,mau pulang kemana ? Biar Saya yang antar”, tanya seorang sopir taksi yang menawarkan tumpangannya.

“Tidak mas, terimakasih” , jawab Sudarto secara sambil menenteng tas besar berikut dua kardus bawaan yang ia titipkan di bagasi pesawat sejak berangkat tadi. Bunyi roda-roda dari travel bag seakan mengisyaratkan bahwa hidup itu terus berputar dan tak pernah berhenti. Demikian halnya dengan semangat yang bergelora dalam hatinya bahwa ia harus melanjutkan perjuangan hidupnya di tanah Jawa. Hari itu menjadi awal dari tekad hidupnya untuk kembali ke tanah kelahiran setelah sekian lama merantau hingga ke pulau Borneo, menetap di Kalimantan Tengah hingga Timur. Sebuah propinsi yang luasnya setengah kali pulau Jawa dan Madura. Namun kali ini kepulangannya tidaklah disertai Kardiman, sahabatnya ketika pergi merantau dulu.

Kardiman lebih memilih tinggal selamanya di pulau Borneo. Sulit baginya untuk memboyong keluarganya yang memang penduduk asli Kalimantan. Cintanya telah berlabuh pada seorang perempuan keturunan dayak Basaf di kawasan Sangkulirang. Sebuah kawasan yang berada di ujung pulau Kalimantan, tepatnya wilayah Kalimantan Timur. Ia telah memiliki tiga orang anak hasil dari perkawinannya dengan seorang anak kepala dusun. Bagi Kardiman, yang ia miliki saat ini adalah bahtera kehidupan yang akan ia jalani hingga akhir hayatnya. Pun ketika Sudarto menemuinya menjelang kepulangannya ke tanah Jawa Kardiman berucap ”
Aku tetap disini bersama anak dan isteriku. Kau mungkin harus menemukan jalan hidupmu di tanah Jawa Dar”, ujarnya kala itu.

“Ya kawan, akupun setuju dengan pilihanmu. Karena memang disinilah kau ditakdirkan untuk hidup”, ujar Sudarto
sambil melemparkan sebuah batu kecil ke bibir pantai Sangkulirang yang menghadap langsung ke Selat Makassar.
“Betul. Hidup ini memang pilihan. Dan pilihan itu kita yang buat, sekaligus kita yang menjalaninya”, ujar Kardiman.
“Tapi apakah tidak ada rencanamu untuk membawanya sesekali ke pulau Jawa man ?”
“Membawanya dari sini ?”, Kardiman tersenyum lirih.
“Ya. Setidaknya mereka bisa mengetahui bagaimana kehidupan di tanah Jawa ?”
“Sesekali mungkin bisa. Tapi bila untuk menetap, hmmm…rasanya sulit. Mereka lahir dan hidup disini bersama alam yang bersahabat. Tanah, air, hutan dan cinta mereka ada disini. Aku tak yakin mereka bisa bertahan hidup tanpa ini semua”,ujar Kardiman dengan tatapan jauh kearah laut lepas. Keduanya terdiam sejenak sambil mengulum senyum dan memandang deburan ombak yang menghantam dermaga. Awan putih bergerak perlahan ditiup angin Muson timur, sementara kayuh-kayuh kecil dari sampan nelayan dusun tetap menyibakkan birunya laut. Burung-burung laut pun bernyanyi diantara sekumpulan nelayan sore itu, berharap ada secuil rezeki untuk anak-anaknya yang menanti disangkar jerami kering.

dermaga1
“Kapan kau berangkat ?”, tanyanya sambil menepuk pundak Sudarto.
“Besok pagi aku harus berangkat ke Balikpapan menemui kawanku dulu, dari bandara Sepinggan aku akan naik pesawat yang akan membawaku ke Jakarta”.

“Okelah kawan. Tolong kabari aku kalau kau sudah sampai di Cirebon”, pesannya.
“Insha Allah. Namun rencanaku sebelum berangkat ke Cirebon, aku akan mengunjungi adikku yang di Jakarta dulu man”, ujarnya.
“Oh ya. Kau masih punya famili di Jakarta ?
“Ya. “, jawabnya.
“Baguslah. Paling tidak kau masih punya Saudara yang bisa kau singgahi”, kata Kardiman. Sudartopun tersenyum.
“Kalau begitu, aku minta malam ini kau menginap di rumahku dulu. Sebelum kepulanganmu ke Jawa. Masih banyak yang ingin kubicarakan denganmu”, pinta Kardiman.
“Baiklah, kalau aku tidak merepotkan keluargamu”
“Tentu tidak. Kau sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri Dar”, timpal Kardiman. Merekapun beranjak dari dermaga itu menuju perkampungan dimana Kardiman beserta anak isterinya tinggal. Sebuah kampung dengan penduduk yang ramah dan unik. Rumah-rumah kayu yang berjejer serta jalanan kampung yang ditopang dan beralaskan kayu terbaik di pulau itu semakin menggambarkan betapa kebersamaan penduduk itu masih terjaga. Rukun dan damai. Kardiman tetap tinggal disana.

***

Ia masih belum menentukan taksi mana yang akan ia minta untuk mengantarnya, meski beberapa orang sopir telah menawarkan diri. Sejenak Tatapannya tertuju kearah dua orang yang berdiri di dekat pintu keluar. Sepertinya mereka tengah menanti kedatangan seseorang. Secarik kertas di tangan kanannya bertuliskan sebuah nama yang ” Welcome Michele from New Zealand – your G’M & F”
sementara tangan kirinya tak lepas menggenggam lengan isterinya.

Mereka adalah sepasang kakek dan nenek, Keduanya seperti tengah menanti kedatangan seorang cucunya.
Sudarto tersenyum melihat pasangan itu. Sangat menyentuh, betapa rasa cinta mereka masih dapat dipersembahkan disaat kedatangan sang cucu. Berkali-kali mereka membalas senyum dari para penumpang yang baru saja keluar dari pintu bandara. Sebuah senyum tulus yang mereka lemparkan kepada orang-orang yang baru saja tiba setelah lelah dalam perjalanan. Ringan, namun menyejukkan.

“Andaikan semua orang yang ada di Jakarta itu bisa bermurah hati dengan melemparkan senyum yang tulus, tentu langitpun akan tersenyum pula”, ujarnya dalam hati.
sudarto
Tak lama kemudian, tiba-tiba seorang sopir taksi menghampirinya dan berucap dengan logat khas Cirebon. “Sing Cirebon tah pak ?”, sapanya. Ia heran, darimana ia tahu kalau dirinya pasti akan menjawabnya dengan bahasa Cirebon pula.
“Iya”, jawab sudarto spontan.
“Arep mulih mendi pak, isun anter tah?”., tanyanya lagi.
“Lho..sampean sing endi ?” ujar Sudarto heran.
“Isun sing Cirebon”
“Weruh sing endi isun wong Cirebon ?”
“Lha, wong isun deleng tulisan ning kardus jeh..”Sing Kalimantan to Cirebon-with love”
“Oh iya. Sira bener.”, Sudarto baru menyadari bahwa kardus oleh-oleh yang diberikan kardiman bertuliskan bahasa Cirebon. Iapun tersenyum.
“Ya wis. Antar enang isun ning Jakarta Selatan, kawasan Tebet”, pinta Sudarto.
“Baik pak”, taksi itupun melaju meninggalkan terminal bandara.

Lima belas menit telah berlalu, perjalanan kala itu lumayan lama, pasalnya Jakarta baru saja diguyur hujan. Tak ayal lagi, sebagian jalan tergenang yang mengakibatkan kemacetan. Jam telah menunjukan pukul 15.30, sesaat alunan suara Adzan Ashar terdengar dari radio di mobil taksi itu. Sesekali, suara adzan menghilang berganti suara mendesis tanda kehilangan sinyal. Lalu muncul dan menghilang lagi seiring rintik-rintik hujan yang masih menemani perjalanan keduanya.
“Biarkan saja mas. Saya ingin mendengar suara adzannya”,pinta Sudarto manakala si sopir hendak memindahkan channelnya. Iapun urung melakukannya. Keduanya menyimak dengan hening, Sudartopun terdengar menjawab setiap ucapan adzan yang dilantunkan hingga menutupnya dengan doa seusai adzan itu.
“Banyak diantara kita sudah mengabaikan suara panggilan yang mulia ini. Padahal jika kita tahu keutamaan dari panggilan ini, niscaya kitapun akan segera berlomba-lomba mendatanginya, meski harus merangkak sekalipun”, ujarnya.
“Maksud sampean ?”, tanya si sopir.
“Anda seorang muslim khan ?”
“Betul”, jawabnya mantap.
“Bila kita hayati dengan sepenuh hati, suara adzan merupakan pembuka bagi lembaran kehidupan kita. Ia juga merupakan suara penutup bagi lembaran akhir hayat kita. Diantara pembuka dan penutup itulah masa hidup kita. Didalam masa kehidupan kita itulah, harus di tegakkan ajakan adzan itu, yakni Sholat”, Papar Sudarto sambil menatap gerakan wiper yang mengibaskan air hujan dikaca mobil. Sementara sopir itu tetap khusyuk dengan kemudinya.
“ Mas Martono sudah punya keluarga ?” tanyanya. .
“Sudah pak. Alhamdulillah”, ujarnya sopir yang namanya tertera pada dashboard itu.
“Alhamdulillah. Keluarga tinggal di Jakarta juga ? ”
“Tidak pak. Keluarga saya tinggal di Cirebon. Dua minggu sekali saya pulang”
“Syukurlah”, timpal Sudarto sambil tersenyum. Merekapun terdiam. Hanya alunan suara piano “L for Love”nya Richard Clayderman yang terdengar samar dari speaker kecil yang menempel disudut-sudut mobil.
“Pak?”
“Ya. Kenapa ?”
“Boleh dijelaskan lebih detail lagi maksud bapak tadi ?”
“Yang mana ?”
“Tentang makna suara panggilan adzan tadi”, tuturnya.
“Ooh”, timpalnya singkat lalu terdiam.
“Ooh bagaimana pak?” tanyanya lagi penasaran.
“Begini, panggilan adzan adalah seruan untuk mendirikan sholat fardhu berjamaah di mesjid atau surau-surau. Sedangkan sholatnya adalah perkara wajib bagi setiap orang beriman. Mengapa diwajibkan ? Karena Allah memerintahkannya melalui berbagai ayat dari Al-Quran, diantaranya dalam surat An-Nisa ayat 103 yang artinya kurang lebih begini “Maka dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.
Rasulullah Salallahu Alaiyhi Wassalam juga mengabarkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, beliau bersabda “Islam dibangun diatas lima hal, yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, haji ke baitullah dan puasa bulan ramadhan”. Dengan demikian wajibnya sholat dapat kita pahami melalui firman Allah dan Hadist RasulNya ini”, urai Sudarto.
“Jadi hukumnya wajib toh pak?”
“Betul. Sesuatu yang mutlak dan harus dikerjakan. Bila ditinggalkan maka akan mengakibatkan dosa besar”, jawab Sudarto.

“Lalu bagaimana hukumnya bagi orang yang meninggalkan Sholat seperti saya ini ?”, tanyanya lagi lebih serius.
“Lho, sampean memang tidak pernah sholat ?”
“Mmmm…jujur saja pak. Saya sudah lama tidak pernah melakukannya. Terakhir saya sholat ketika saya masih SD”, ucapnya jujur.
“Astagfirullahaladziim…,Masya Allah!”, Sudarto heran. Martono jauh lebih heran.
”Mas, sholat itu diwajibkan oleh Allah kepada setiap orang beriman karena Allah memerintahkannya melalui berbagai ayat dari Quran, seperti yang tertuang dalam surat An-nisa ayat ke seratus tiga yang berbunyi”…maka dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu adalah fardhu yang ditentukan atas orang-orang yang beriman”.

Martono terdiam. Sudarto tetap melanjutkan.
“Selain itu juga, sholat merupakan sarana untuk mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar. Hal ini tercantum dalam surat Al-Ankabut surat ke empat puluh lima yang berbunyi ”…dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”.
“Selama ini saya tidak tahu pak, kalau perintahnya seperti itu”
“Untuk bisa tahu, ya harus rajin mengikuti pengajian, membaca buku-buku keislaman dan kegiatan positif lainnya”.
“Lalu bagaimana saya bisa menutupi kewajiban Saya yang sudah berlalu ?
“Lakukan taubatannasuha untuk meminta ampun kepada Allah SWT. Dia maha pengampun, selanjutnya jaga baik-baik kewajiban kita yang lima waktu itu. selebihnya lakukan sholat-sholat sunnah, seperti sholat tahajud, dhuha, hajjat dan lainya”, urai Sudarto. Martonopun menyimak dengan khusyuk.

***
Taksipun telah tiba dikawasan Tebet, Jakarta Selatan. Bebrapa kelokan lagi, Sudarto tiba di rumah familinya. Meski sempat membingungkan, karena banyak perubahan yang terjadi sepeninggal Sudarto. Beberapa kali ia mesti menanyakannya kepada orang-orang yang ada dipinggir jalan. Untung saja, ia masih mencatat alamat yang diberikan keponakannya dulu. Akhirnya iapun tiba di gang yang menuju rumah familinya itu. Tak lama, nomor rumah yang dicarinyapun nampak dihadapannya.

“Ini rumah nomor delapan belas pak”, seru sopir taksi itu.
“Mudah-mudahan ini benar rumahnya”
“Semoga tidak salah pak!”
“Mampir dulu mas ke rumah saudara saya mas?” tawarnya kepada Martono, sopir taksi itu.
“Terimakasih pak. Saya mau langsung saja”
“Ini ongkosnya pak”, ujar Sudarto sambil melihat argo.
“Oh ya pak. Tunggu sebentar pak”, balasnya sambil merogoh kantong celananya.
“Ambil saja kembaliannya”
“Waduh, matur nuwun pak”
Terimakasih ya sudah mengantarkan saya”
“Sama-sama pak. Terimakasih juga pak sudah menasihati saya”
“Ya, itu sudah kewajiban kita untuk saling mengingatkan. Sampai jumpa lagi. Salamualaykum”, balas Sudarto sambil melambaikan tangan.
“Wa’alaykumsalaam”, jawabnya sambil meninggalkan lelaki perantauan itu.

Didepan rumah yang ditujunya itu, Sudartopun mencari bel yang mungkin ada disela-sela pagar. Rumah asri dan besar. Sentuhan gaya rumah minimalis nampak hingga disetiap sudut rumah itu.
“Alamatnya sudah betul, tapi rumahnya sudah jauh berbeda dengan yang dulu. Hmm…mudah-mudahan tidak salah alamat nih”, pikirnya dalam hati.

“Assalamualaykum. Permisi!”, ucapnya agak keras. Tak ada jawaban. Iapun mengulanginya. Tiga kali ia mencobanya, barulah ada seseorang yang menghampirinya.
“Maaf, Anda siapa dan mau ketemu siapa ya ?”, ujar seorang lelaki tua itu.
“Saya Sudarto. Mau bertemu dengan Pak Sumarno ada ?” ujar Sudarto.
“Ada. Tunggu sebentar saya bilang dulu sama tuan,” jawabnya sambil meninggalkan Sudarto yang masih berdiri di depan pagar.
“Baik, terimakasih”

Selang beberapa lama, lelaki tua itu kembali bersama seorang majikannya.
“Ini orangnya tuan”, tunjuk lelaki tua itu.
Majikannya itu menatap lekat wajah Sudarto. Ada keheranan yang mendalam ketika menatap erat wajah sudarto.
“Kang Darto ?”, tanyanya.
“Iya” jawab Sudarto sambil tersenyum. Lelaki itupun segera menarik pintu pagarnya.
“Masya Allah, Saya pikir bukan kang Darto”, keduanyapun saing berangkulan.
“Apa kabar kang ?”
“Alhamdulillah baik.
“Kamu sendiri gimana ?”
“Alhamdulillah baik juga kang”
“Kemana saja tidak ada kabar setelah sekian lama. Ayo masuk”, ajak sumarno kepada Sudarto.
“Tolong bantu bawakan barang bawaannya pak “, pintanya kepada lelaki yang menjadi pembantunya itu.
“Baik tuan”
“Terimakasih pak, yang ini saja”, ujar sudarto sambil menunjuk barang bawaan yang lebih riungan dikardus itu.
Merekapun akhirnya segera masuk kedalam rumah.
“Kapan kang Darto singgah di Jakarta?”
“Baru tadi sore. Maklum jalan dari bandara menuju kesini lumayan macet”
“Betul kang. apalagi kalau musim hujan seperti sekarang ini.”
“Iya, lumayan bikin jenuh berada di jalan”
“Ya begitulah kang kondisi Jakarta”, timpalnya lagi. Sementata suara adzan maghrib mulai terdengar samar-samar dari luar sana.
“Silakan duduk. Tunggu sebentar kang”
“Baik”
Sumarnopun berlalu dari ruang tamu. ia menghampiri pembantunya agar menyiapkan makan malam segera untuk menjamu kedatangan saudaranya itu.
“Baik tuan. Sebentar lagi semuanya siap”, ujar pembantu diumahnya itu. iapun kembali menghampiri sudarto yang tengah menatap foto keluarganya yang menempel didinding itu .

“Bagaimana kabarnya kang ?”
“Alhamdulillah baik”
“kenapa tidak kabari aku, kalau mau datang kesini. Setidaknya aku bisa jemput kang darto di bandara”
“Ah, tak usah. Takut merepotkan”
“Bukan begitulah kang. Aku kan masih saudaramu juga. Masa akang datang dari jauh tidak aku jemput sih”,
“Terimakasih mar”, ujar sudarto.
“Aku dengar kabar terakhir tentang akang, sekitar satu tahun yang lalu. itupun Warsito yang mengabarkanku”
“Betul. aku pernah menelepon dia sewaktu aku masih di Samarinda.
“Ya. akupun bertemu dia diacara di Bogor”
“Oh ya. Dia masih tinggal di Bogor toh”
“Iya”
“Bagaimana kabar keluargamu mar”, tanya sudarto.
“Alhamdulillah semuanya baik-baik saja”
“Oh ya. Itu siapa yang mengenakan toga wisuda?”, tanya Sudarto sambil menunjuk sebuah foto di dinding.
“Oh itu Tania, puteriku sulungku”
“Tania Larasati. Gadis kecil yang dulu sering mimisan itu ?”, tegas sudarto.
“Betul kang. Itu Tania. Dulu akang sering menyarankan aku untuk menutupnya dengan daun sirih kalau dia sedang keluar darah dari hidungnya”.
“Hahahha..iya…iya.. aku ingat. Sekarang dia sudah menjadi seorang gadis yang cantik”, puji sudarto.

Tak lama, seorang pembantu membawakan minuman dan kue-kue kecil untuk tamu tuannya itu.
“Silakan tuan”, tawarnya.
“Terimakasih mbok. Ayo kang diminum dulu”, tawar Sumarno.
“Terimakasih”
“Usia Tania sekarang sudah dua puluh tiga tahun kang. Tapi saya sendiri belum pernah melihat ada teman prianya yang mampir kesini”,
“Maksudmu?”
“Layaknya anak muda jaman sekarang. Biasanya khan seusia mereka sudah punya kawan dekat atau bisa disebut pacarlah kang”
“Ya, tapi mungkin Tania lebih memilih untuk tidak pacaran. Itu kan lebih baik. Dia bisa menjaga diri dengan baik”, ujar Sudarto sambil memegang gelas berisikan jus jambu.
“Alhamdulilah…segarnya”, ucap Sudarto. Sumarnopun tersenyum melihat saudaranya itu.
“Koq dari tadi aku tak melihat anak-anak dan isterimu?” tanya Sudarto.
“Oh mereka bertiga sedang pergi jalan-jalan ke Plaza Semanggi. Tania minta diantar mama dan adiknya untuk beli buku. Mungkin sebentar lagi juga tiba”
“Oh”.

Tak beberapa lama kemudian, sebuah mobil memasuki halaman rumahnya.
“Nah sepertinya mereka sudah datang. Sebentar ya kang “, iapun bergegas memberitahukannya kepada Riani Larasati, isterinya.
Sesaat kemudian, keempatnya menuju ruang tamu.

“Wah ada tamu jauh nih”, sapa Riani yang sudah diberitahu suaminya
“Eh, apa kabarnya dik ?”
“Alhamdulillah baik. Sebaliknya bagaimana kang ?
“Alhamdulillah baik juga”
“Ini Tania ?” ujar Sudarto.
“Betul”, wajahnya menampakkan keheranan karena tak kenal siapa lelaki tua didepannya itu.
“Kamu masih ingat siapa beliau ?”
“Hmm…siapa ya…duhh maaf ya pah, aku ga inget”, ucap Tania sambil melirik ke mamanya.
“Dia paman Darto dari Cirebon. Dulu pernah tinggal disini sewaktu kamu masih kecil. Kalo ga salah waktu itu kamu masih usia lima tahun”, ujar Mamanya.
“Oo, Apa kabar paman?”, sapa Tania sambil mencium tangannya. Begitupun adiknya.
“Ini anakmu juga ?”
“Iya kang. Ryan namanya”,
“Wah. Sudah besar sekali’
“Waktu itu adikmu juga belum ada. Oh ya, sekarang sekolah dimana ?
“Aku baru saja lulus SMU. Sebentar lagi masuk kuliah.
“Oh ya , kuliah dimana ?
“Di IPB”
“Fakultas apa ?
“Aku mengambil MIPA”, jelas Ryan.
“Oh, baguslah”
“Paman tinggal disini saja ” , pintanya.
“Hehehe…”, Sudarto hanya tersenyum sambil mengelus kepala Ryan.

“Gimana kabarnya Kang ?” tanya Mama Tania.
“Alhamdulillah sehat dik”
“Kalian sendiri gimana kabarnya ?”
“Alhamdulillah kami baik-baik saja.”
“Paman kemana saja ? kami sudah lama tidak dengar kabarnya ?”, Tanya Tania.
“Saya selama ini tinggal di Kalimantan. Waktu itu kalian masih kecil”
“Oh, jauh sekali. Sekarang tinggalah bersama kami paman?”
“Ya kang. tinggalah bersama kami lagi”, pinta Sumarno.
“Terimakasih atas tawaran kalian. mungkin untuk beberapa hari bisa, tapi saya akan pergi ke Cirebon”
“Akang mau pergi ke Cirebon lagi?”
“Betul. Saya ingin menata hidup lagi di Cirebon.”

Malam itu mereka larut dalam kebersamaan. Sudarto merasa bahagia bertemu dengan familinya yang begitu hangat. Suasana menjadi lebih hidup dengan berbagai cerita dan pengalaman Sudarto selama merantau di luar pulau Jawa itu. Tak terasa malam semakin larut.
“Oke, Ryan, Tania. Pamanmu perlu istirahat, kasihan harus bercerita terus”
“Tidak apa-apa mar, batrenya masih penuh koq”, kelakarnya.
“Hahahaha….”

——- Bersambung ——-

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s