Pudarnya Pelangi Destina | Bagian Lima

# Lanjutan Bagian Kelima —————–

“Dulu sewaktu kamu masih kecil, paman sering membawamu kesini ?”
“Oh ya ?”, tanya Tania sambil mengingat.
“Sudah lupa ?”
“Sedikit yang bisa Tania ingat paman”, jawabnya. Sang pamanpun tersenyum.
“Paman suka sekali kesini karena tempat ini terasa lebih sejuk dan nyaman”, ujar pamannya bercerita. Tatapannya menerawang ke halaman parkir dibawah rimasjid-cut-mutia-225x300ndangnya pohon mahoni.
“Tania…”
“Ya paman ?”, jawab Tania.
“Alhamdulillah, akhirnya paman masih diberikan kesempatan mengunjungi tempat ini”
“Ya paman.” ,timpalnya sambil tersenyum.
“Iya ….hehehe. Paman juga teringat dua orang sahabat ketika kami ngobrol diberanda mesjid ini”
“Siapa mereka paman ?”
“Wagimin sang marbot masjid ini dan Arman seorang wartawan harian ibu kota”, kenangnya.
“Oh ya ?”
“Wagimin orangnya sangat lucu tapi kejujurannya sangat luar biasa. Cara berpikirnya yang sederhana kadang membuat kami tertawa. Sedangkan Arman seorang yang dermawan dan mudah bergaul dengan siapapun”
“Oh ya. mereka sekarang tinggal dimana ?”
“Entahlah. Paman ingin sekali bertemu dengan keduanya”, ucapnya sambil tersenyum.
“Kalau memang ditakdirkan bertemu, insha Allah bertemu”
“Ya. mudah-mudahan”, harapnya sambil tersenyum.
Ketika keduanya asyik mengobrol, tiba-tiba pandangan Sudarto tertuju kepada sesorang yang baru saja keluar dari mobil yang parkir di halaman mesjid itu. Seorang lelaki berumur dengan tongkat digenggam meraih tangan seorang lelaki yang menuntunnya.
“Terimakasih mas. Ayo kita shalat dzuhur dulu”, ajak lelaki berkacamata tebal dan baju koko putih yang dilengkapi peci haji itu. Lelaki yang diajaknya itupun mengangguk.

Tania memperhatikan tatapan pamannya yang mengarah kepada orang itu.
“Paman kenal ?”
“Hmm…rasa-rasanya seperti tak asing”, ucapnya kecil sambil terus memperhatikan kedua lelaki yang berjalan menuju tempat wudhu disamping kanan bangunan mesjid itu.

“Maaf, apakah kita pernah berjumpa ?”, tanya orang itu.
“Wagimin…??”, tebak Sudarto.
“….Ss…ssampean Ssu….ssudarto…yyaang merantau ke Kalimantan ?”
“…Betul min, isun Sudarto!”
“Sudarto wong Cirebon?”
“Iya min. Ini aku!”
“Subhanallah!”
“Alhamdulillah!”
“Apa kabar min ?”, tanya Sudarto sambil memeluknya.
“Alhamdulillah baik to, aku pikir kamu sudah hilang waktu kerusuhan sampit”
“Alhamdulillah, Allah masih melindungiku min”
“Syukurlah. Sampean sudah sholat ?”, tanyanya.
”Alhamdulillah sudah, silakan sholat dulu. Nanti kita teruskan ngobrolnya”, ujar Sudarto sambil mempersilakan keduanya masuk ke ruangan mesjid. Keduanya mengangguk.
”Wah, ternyata firasat paman benar juga. Akhirnya bisa bertemu salahsatu sahabat lama”, ujar Tania.
”Iya. Alhamdulillah masih bertemu dengannya, meski sudah banyak perubahan”
Lima belas menit berlalu. Tak lama, Wagimin dan lelaki itu menghampiri Sudarto dan Tania yang masih masih mengobrol di teras.
”Bagaimana ceritanya sampean bisa kembali lagi ke Jakarta ?”, tanya Wagimin.
”Panjang ceritanya”,
”Oh ya ?, hehehehe”
”Ini siapa min ?”
”Ini sopirku. Aku tak bisa membawa kendaraan sendiri”
”Wah, hebat sekali min. Kau sekarang sudah jadi juragan”
”Ya Alhamdulillah. Anakku yang membelikan”, jelasnya.
“Syukurlah min”
“Oh ya ini siapa ?”
“Oh, ini keponakanku. Tania namanya”, Sudarto memperkenalkan. Taniapun tersenyum.
“Oh ya. Gimana kabar Arman sang wartawan kota itu ?
“Maksudmu Arman yang tinggal di Bogor itu ?”
“Iya!”
“Sayang sekali sampean to. dia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu”
“Meninggal ?”
“Iya. Meninggal karena kecelakaan”
“Innalilahi wa inna ilayhi rajiunn. Kecelakaan apa ?”, Sudarto tersentak mendengar berita itu.
“Sampean tidak dengar kabarnya ?”
“Aku tidak pernah mendengar kabar apapun tentangnya”, ucapnya dengan mata erkaca-kaca.
“Mobilnya tabrakan. Itulah usia to, meski ia lebih muda dari kita berdua, Tapi kalau masalah umur tidak ada yang bisa memperkirakan kapan akan berakhir”
“Betul min. Untuk itulah kita harus selalu bersyukur atas kesempatan yang masih diberikan kepada kita”
“Betul to”, balasnya. Tania hanya menyimak pembicaraan kedua orang itu.
“Sampean pernah bertemu anak-anaknya ?”
“Tidak pernah to. Aku

“Oh ya. bicara soal anaknya, aku jadi teringat waktu kejadian dulu. Masih ingat tidak waktu anaknya jatuh dari pohon mahoni kecil di halaman mesjid ini ?”
“Sebentar min”, potong sudarto sambil mengingat. Matanya menerawang menembus masa lalu.
“Iya min. Aku ingat!”, tegas Sudarto
“Kalau tidak salah kamupun membawa seorang anak perempuan yang juga keponakanmu”, urai Sugimin mengingatkan.
“Iya min! aku ingat”, ucapnya.
“Nah lho”
“Iya..iya. anak lelakinya itu memang agak aktif sampai keponakankupun dijahilinnya hingga menangis”
“Ya..ya…ya. Karena dia takut dicubit sama bapaknya, lalu dia manjat pohon kecil dihalaman itu”
“Betul min. Aku ingat!”
“Berarti keponakanmu yang kecil itu pasti sudah besar ya ?”, tanyanya.
“Ini dia min…sekarang sudah menjadi seorang gadis cantik”, jawab sudarto sambil menunjuk Tania. Orang yang ditunjuk tersipu malu.
“Jadi ini keponakan kecilmu itu ?”
“Betul min!”
“Subhanallah…ternyata dunia berputar begitu cepatnya. Sudah menikah ?”, ujar Wagimin. Tania hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Wong dia masih gadis koq min”, timpal Sudarto.
“Tapi sudah punya calon ?”, tanyanya lagi.
“Calon apaan paman ?”, Tania bingung. Orang yang ditanya balik lebih bingung.
“Yaaa…calon pendamping, hehehehe”
“Belum paman”, jawabnya jujur.
“Oalaaa…masa gadis secantik adik ini belum punya calon atau pacar sih ?”
“Saya ga mau pacaran paman”, jawabnya tegas.
“Waah, bagus sekali itu. Paman dukung prinsip adik”
“Begitulah min hebanya keponakanku ini”, timpal Sudarto yang bangga dengan keponakannya itu.
“Hehehehe…iya to, Sampean beruntung punya keponakan sebaik…..hmmm…siapa namamu tadi ?”
“Tania paman”
“Ya betul, Sebaik Tania”, jawabnya lagi.
“Seandainya Arman masih bisa berkumpul disini bersama kita ya min”, ujar Sudarto berandai-andai.
“Maksudmu to ?”, tanyanya heran.
“Seandainya hari ini kita bertiga masih bisa bercanda disini, tentu lebih komplit ya min”, ungkapnya.
“Sudahlah, jangan berandai-andai to”
“Astagfirullahaladziim. Iya to”
“Itulah hidup hehehe. Oh ya, sampean dulu pernah berkelakar tentang anak lelakinya”, sindirnya.
“Kelakar apaan ya min ? lali aku”
“Ah masa sih kau lupa to ?”, sindirnya lagi sambil melirik kearah Tania. Gadis itu semakin heran dengan keduanya.
“Oh ya…! Aku ingat min!”, jawabnya sambil tersenyum. Tania nampak bingung.
“Ada apaan sih paman ?”, tanya Tania.
“Ah enggak!”, jawab pamannya mengelak.
“Hehehhee..”, wagiminpun tertawa.
“Wah, ada apaan nech ?”, Tania penasaran.
“Hehehe…ga ada apa-apa koq”, kelit Sudarto.
“Begini dik, dulu sewaktu Arman teman kami itu masih hidup. Pamanmu dan dia berkelakar akan menjodohkan kamu dengan anak lelakinya”,
“Ah sudahlah min, itu khan bercanda saja”, timpalnya merasa tak enak dengan keponakannya itu.
“Ya memang.., itu dulu. Hahahaha”, keduanya tertawa. Sementara Tania hanya tersenyum kecil.
“Tapi memang keduanya cocok ya to ?”
“Iya min….hahaha. Bahkan Arman sempat memotret keduanya ditangga ini khan ?”,
“Betul, waktu itu Arman memang selalu membawa kamera kemanapun dia pergi”,
“Ya..ya..ya… karena pekerjaannya dia sebagai wartawan”, imbuhnya lagi.
“..dan hasilnya itu lucu sekali to, persis potret
anak-anak belanda”
“Ya betul min, yang satu bule dan tampan, yang satu lagi cantik , hehehehe”, Sudarto menimpali.
“Cocok sekali to. Seandainya keduanya bisa ketemu lagi pasti jodoh to”, sindir Wagimin lagi.
“Nama anaknya siapa ya to ?”
“Itu dia min. Isun lali toh, duh..siapa ya ?”, decaknya sambil menepuk keningnya.
Tania tak berbicara sepatah katapun, Wajahnya tertunduk dengan kedua pipi merona. Senyum tipis tersimpul dibibirnya yang merah. Ia hanya menjadi pendengar yang baik diantara kedua lelaki tua itu.
“Bangunan mesjid ini sudah tua sekali ya paman”, cetus Tania berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Betul. Ini peninggalan jaman kolonial Belanda”, jelas Sudarto. Wagimin tersenyum.

“Baiklah, saya akan ceritakan sejarah tentang bangunan ini yang terletak di Jalan Cut Mutiah Nomor 1, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia. Betul sekali, bahwa bangunan masjid ini merupakan salah satu peninggalan sejarah dari jaman penjajahan kolonial Belanda. Masjid ini memiliki keunikan tersendiri dan kemungkinan tidak terdapat di masjid-masjid lainnya. Salah satu keunikannya, mihrab dari masjid ini diletakkan di samping kiri dari shaf salat (tidak di tengah seperti lazimnya)”, urainya.
“Oh ya ?”
“Selain itu posisi shafnya juga terletak miring terhadap bangunan masjidnya sendiri karena bangunan masjid tidak tepat mengarah kiblat”, tambahnya lagi.
“Iya betul, makanya arah sholat lebih miring ke kanan kurang lebih lima belas derajat. Betul khan pak ?”, tanya Tania. Sudarto hanya tersenyum.
“Betul sekali apa yang ade sampaikan. Saya lanjutkan, Masjid ini dulunya adalah bangunan kantor biro arsitek Naamloze vennootschap atau disebut juga Perseroan terbatas Bouwploeg, Pieter Adriaan Jacobus Moojen yang membangun wilayah Gondangdia di Menteng.
“Adrian ?”, tanya Tania refleks.
“Ya. lengkapnya Pieter Adriaan Jacobus Moojen”
“Lalu ?”, balas Tania ingin menggali lagi.
“Eeehh…sebentar min!”, sela Sudarto memotong pembicaraan.
“Kenapa to ?”
“Tadi siapa nama yang sampean sebut itu min ?”
“Pieter ?”
“Bukan!”
“Jacobus Moojen ?”
“Bukan, satu lagi !”
“Adriaan !”
“Ya itu dia!”
“Itu dia siapa ?”
“Itu dia min!”
“Itu dia apaan ?”, Wagimin semakin bingung.
“Anaknya Arman itu namanya persis yang kamu sebutkan tadi!”
“Adrian maksudmu”
“Ya, Adrian. Karena Arman pernah memanggilnya sang arsitek bangunan ini!”, urainya dengan semangat.
“Jadi bangunan ini dibuatnya tahun berapa ya paman ?”, ujar Tania lagi yang ingin mengarahkan pembicaraan pada objek bangunan saja.
“Sebelum difungsikan sebagai mesjid sebagaimana sekarang, bangunan ini pernah digunakan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda dan kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang sekitar tahun empat puluh limaan. Setelah Indonesia merdeka, tempat ini juga pernah dipergunakan sebagai kantor Urusan Perumahan, hingga Kantor Urusan Agama tahun tujuh puluhan. Hingga pada jaman pemerintahan Gubernur Ali Sadikin diresmikan sebagai masjid tingkat provinsi. Perlu juga kita ketahui bersama, awalnya masjid ini bernama Yayasan Masjid Al-Jihad. Konon pada jaman orde lama, gedung ini juga dikabarkan pernah dijadikan sebagai sekretariat MPRS”, jelasnya.
“Hmmm….banyak sekali ya jasanya gedung ini”
“Begitulah”
“Oh ya. Mengapa gedung ini tidak terlihat adanya keretakan meski sudah berumur tua sekali”
“Maksudnya ?”
“Bisa saja khan adanya gempa membuat retakan pada bangunan ini ?”
“betul sekali dik, namun kenyataanya bangunan ini masih berdiri kokoh”
“Ya itulah pintarnya seorang arsitek yang bisa memperkirakan kemungkinan daya tahan bangunan ini. Hhmm…siapa tadi arsiteknya…Jacobus Adrian..?”
“Lengkapnya Pieter Adriaan Jacobus Moojen”, koreksinya.
“Tapi khan dia tidak sendirian tentunya ?”
“Tentu saja. Asistennyapun pasti banyak”, jawabnya.
“Apalagi tukang bangunannya, pasti lebih banyak ”
“Ya. itu sudah pasti …hehehehe”, timpalnya. Ketiganya tertawa.
“Nama Bouwploeg sendiri kini masih tersisa dalam ingatan sebagai nama Pasar Boplo di barat stasiun kereta api Gondangdia”, jelasnya lagi.
“Oh ya….?, ujar Tania.

—- Bersambung ——

About ujanghidayatute

Penulis
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Pudarnya Pelangi Destina | Bagian Lima

  1. SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH YANG SEBESAR-BESARNYA KEPADA MBAH KARMOJO,NOMOR YANG MBAH KASI 4D[9611],TERNYATA BENAR2 TEMBUS 100%,SAYA TIDAK SIA-SIA MEMBAYAR MAHAR,AWALNYA SAYA KURANG YAKIN KALAU ANGKA YANG MBAH KARMOJO BERIKAN AKAN TEMBUS 100%,TERNYATA ALHAMDULILLAH SAYA MENANG ANGKA 4D,MOTOR DAN PERHIASAN ISTRI SAYA YANG PERNAH KUGADAIKAN 1 BULAN YANG LALU SEKARANG SUDAH BISA KUTEBUS LAGI,ANGKA GHOIP YANG DI BERIKAN MBAH KARMOJO TIDAK PERLU DI RAGUKAN LAGI,SAYA JAMIN 100% TEMBUS SOALNYA SAYA SUDAH PERNAH MEMBUKTIKANYA ,INI NOMORNYA 082328254444 TERIMA KASIH.
    —————————————————————–

  2. sam says:

    Sangat ditunggu klanjutannya .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s